Selepas Kata Talak

Selepas Kata Talak
BAB 72. Biar Allah Menjadi Saksinya


__ADS_3

"Dimana Adam?" tanya Bianca yang membuat Dikta tersenyum lebar.


"Mas? Ada yang nyariin nih?" ujar Dikta pada Adam. "Eh kamu nyariin suami aku buat apa? Mau nyoba lagi yah? Semangat!"


Bianca memutar bola mata malas, sementara itu Adam yang di panggil langsung keluar menuju istrinya dan mengernyitkan dahi melihat Bianca.


"Ca? Ngapain kamu disini?" tanya Adam yang membuat Bianca ingin memegang tangan Adam tapi Adam langsung menepisnya. "Bukan mahram."


Melihat itu Dikta langsung mengangkat satu jarinya tepat di belakang Adam yang Bianca sendiri tidak tahu apa maksudnya.


"Dam? Kamu kenapa ga ke rumah sakit hari ini? Apa kamu ngambil cuti?" tanya Bianca pada Adam.


"Aku ngambil libur," jawab Adam yang membuat Bianca berdecak kesal.


"Kok kamu ngambil cuti sih?" kesal Bianca yang membuat Adam menaikkan alis.


"Lah kok kamu yang marah, kita kan gak ada apa-apa," jawab Adam yang membuat sontak menahan tawa dan mengangkat dua jari.


Wajah Bianca memerah seperti kepiting rebus mendengar itu. "Aku mau ngajakin makan siang."


"Gak bisa?"

__ADS_1


Dikta kini mengangkat tiga jari, Bianca semakin kesal karena tidak tahu apa maksud Dikta.


"Kenapa?" tanya Bianca pada Adam.


"Masakan istri aku lebih enak, lagipula aku mau quality time sama keluarga aku, kalau kamu gaada keperluan mendadak mending kamu cari kesibukan lain," jelas Adam yang membuat Dikta mengangkat jarinya menjadi lima.


"Terus kenapa kamu blok nomor aku?" tanya Bianca yang kali ini Dikta sendiri tidak tahu apa maksudnya.


"Aku blok orang yang menganggu aja kok, aku sadar ada hati yang sudah ku perjuangkan dan aku harus jaga dengan baik," final Adam berjalan masuk kedalam rumah.


Sebelum Adam benar-benar masuk ke dalam rumah, Adam terlebih dahulu menoel hidung Dikta dan berbisik. "Jangan kamu pikir suami mu ini tidak tahu."


Dikta tersenyum pada Adam setelahnya Adam berjalan masuk kedalam rumah meninggalkan Dikta dan Bianca disana.


Mendengar itu Bianca memilih pergi dari sana dengan wajah kesal karena sudah di permalukan habis-habisan.




__ADS_1


Setelah acara pengajian kematian Robby selesai, kini Adam dan Dikta sudah berada didalam kamarnya, Akta sudah tertidur di box bayi yang membuat Adam kini bisa meminta hak-nya sebagai seorang suami.


"Udah siap?" tanya Adam pada Dikta.


Bau parfum yang dipakai Dikta memenuhi ruangan tersebut karena mereka menjalankan hal ini atas dasar syariat dan Dikta melakukannya untuk menyenangkan suaminya.


"Dikta? Mas melakukan ini atas dasar sebuah hak jika kamu tidak siap kamu bisa menolak,"


Dikta tersenyum. "Aku mau kok Mas, Kebahagiaan suamiku adalah hal yang paling aku impikan."


Adam tersenyum kemudian mencium puncak kepala Dikta dan berdoa terlebih dahulu.


Setelah berdoa, Adam kemudian segera mendatangi Dikta dan menindih tubuhnya sebelum mereka melakukan hubungan yang sepantasnya mereka lakukan dan selanjutnya.


Wakafa Billahi Syahida, Biar Allah yang menjadi Saksinya.


Sementara itu di kamar Sean, dia kini tengah bersiap menuju kantornya lengkap dengan seragamnya, rutinitas Sean memang adalah meminum pil vitamin sebelum bekerja namun entah bagaimana dia keliru, Pil peran*sang yang dititipkan temannya malah tertukar dengan pil vitaminnya secara Sean tidak sadari.



__ADS_1



TBC


__ADS_2