
"Bagaimana dengan Robby?" tanya Adam pada seorang dokter yang menangani Robby.
"Kondisi kesehatannya memburuk, dia sekarang harus dirawat inap, karena sudah tidak bisa lagi berjalan akibat infeksi yang dia alami," jawab dokter tersebut. "Ini sudah terlambat, penyakitnya sudah parah dan kita hanya bisa pertolongan dengan pereda rasa sakit, karena hanya Allah saja yang tahu bagaimana akhirnya."
Adam dan Dikta yang mendengar itu tersentak dan terkejut bahwa Robby memiliki penyakit yang seperti ini, Adan kemudian mengangguk pada dokter tersebut dan membuat dokter itu menyerahkan hasil lab sebelum pamit untuk pergi.
"Adam? Dikta? Dimana Robby?" Mama Reni datang dengan tergopoh begitu mengetahui kabar ini dari Dikta.
Mama Reni langsung saja pergi ke rumah sakit ini, karena khawatir dengan kondisi Robby, Dikta dan Adam saling menatap mereka berdua tidak tahu bagaimana menjelaskan ini kepada Mama Reni.
Pasti Mama Reni akan down apalagi beliau memiliki riwayat penyakit jantung, Dikta mencoba menenangkan Mama Reni sementara Adam mencari cara yang halus untuk menjelaskan semuanya.
"Begini Ma, Kondisi Robby sekarang memburuk akibat infeksi saluran kemih yang dia derita, dari hasil yang Adam baca bakteri yang sudah menginfeksi bagian ginjal sehingga menyebar ke tekanan darah, kini kondisi kadar darah Robby benar-benar drop, dan perlu istirahat total, sekarang kita hanya bisa berdoa semoga Allah memberikan kesembuhan padanya," jelas Adam pada Mama Reni.
Mendengar itu Mama Reni langsung mengucap istigfar dan menutup mulut saking terkejutnya, ia kemudian berjalan masuk ke ruangan rawat Robby disusul oleh Adam dan Dikta.
"Nak? Mama datang," Mama Reni langsung memeluk Robby yang kini terbaring lemas tak berdaya.
Selang infus terpasang dengan Robby yang sudah pucat pasi bahkan Mama Reni terkejut saat mereka tangan Robby yang sangat dingin.
__ADS_1
"Ma?" lirih Robby menggerakkan matanya karena kini dia sudah kesulitan menggerakkan anggota badannya yang lain.
"Kenapa nak?" tanya Mama Reni menatap Robby.
Dikta dan Adam hanya bisa tertegun iba, Robby benar-benar dalam kondisi kritis sekarang.
"Maafin Robby Ma, Robby sudah banyak salah sama Mama," Robby terbata-bata dengan air mata yang jatuh mengiringin ucapan kalimat ketulusannya.
"Mama udah maafin kamu, yang penting kamu sehat itu udah cukup buat Mama," jawab Mama Reni memeluk putranya.
Robby kemudian beralih menatap Dikta dan Adam. "Makasih yah sudah mau nolongin aku."
"Untuk apa?"
Adam menatap Dikta meminta undangan yang mereka bawa tadi kemudian menyerahkannya kepada Robby. "Besok kami akan melaksanakan akad nikah, kami sebenarnya berharap kau bisa datang, tapi melihat kondisi kesehatanmu, kau sehat saja sudah cukup untuk kami."
Dikta ikut mengangguk atas jawaban Adam, Adam kemudian menaruh undangan tersebut di atas nakas.
"Dikta? Kayaknya Mama gak bisa hadir dan bantuin acara pernikahan kalian, mengingat kondisi Robby, Mama harus nemenin dia," Mama Reni menatap kepada Dikta.
__ADS_1
Dikta tersenyum kemudian mengangguk. "Gapapa Ma, Mama temenin Bang Robby aja disini, nanti ada Mama Nazwa dan Aurel kok."
Robby yang mendengar itu terdiam, entah kenapa dia benar-benar hancur karena kini orang yang sudah dia sia-siakan dan belakangan ini dia sadar bahwa dia mencintainya ternyata sudah menemukan pria lain.
"Kalau gitu Adam sama Dikta pamit dulu yah, mau ngurusin hal lain lagi," ujar Adam yang membuat Mama Reni mengangguk.
"Assalamualaikum," Dikta dan Adam keluar dari ruangan itu dengan jawaban salam Robby dan Mama Reni.
Cuma bedanya Robby kini menatap dengan tatapan melepas dengan ikhlas.
•
•
•
TBC
mampir yuk
__ADS_1