
Acara aqiqah dari anak Dikta kini sedang berlangsung setelah drama Mama Reni yang harus memarahi kedua anak lanang-nya Adam dan Sean karena mereka telat membawa belanjaan yang di suruh oleh Mama Reni.
Kini rumah Sean tempat aqiqah tersebut berlangsung sudah sangat rame setelah acara pengajian dan pembacaan doa kini waktunya pemotongan rambut untuk anak Dikta.
"Bismilah," ujar Ustad Zaky yang memotong rambut anak Dikta.
Dikta mendekap bayinya dengan erat saat prosesi tersebut sementara Mama Reni, Aurel, Adam dan Sean tampak berada di sampingnya menyaksikan prosesi pemotongan rambut itu.
"Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahirabbil'alamin.
Allahumma nurus samawati wa nurusy syamsyi wal qamari,
Allahumma sirrullahi nurun nubuwwati Rasulullahi Shallallahu'alaihi wassalam walhamdulillahi Rabbil 'alamin."
[Dengan menyebut asma ALlah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala Puji bagi Allah, Tuhan Semesta alam, Ya Allah, cahaya langit, matahari, dan rembulan. Ya Allah, rahasia Allah, cahaya kenabian, Rasullullah SAW, dan segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam]
Suara dari Ustad Zaky yang melafazkan doa saat memotong rambut anak Dikta terdengar mendayu disertai serangai merdu dari bibirnya memberi angin segar pada acara Aqiqah tersebut.
Setelah memotong tersebut Ustad Zaky meletakkan helaian rambut anak Dikta pada sebuah nampan yang di pegang oleh Aurel sebelum melanjutkan membaca doa setelah memotong rambut anak Dikta.
"Allahumma inni u'idzuha bika wa dzurriyyataha minasy syaithanir rajim."
__ADS_1
[Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan untuk dia dan keluarganya dari setan yang terkutuk]
"Alhamdulillah," Ucapan hamdalah terdengar serentak dari bibir mereka semua yang hadir dalam acara tersebut.
"Terimakasih Ustad," ujar Dikta tersenyum kepada Ustad Zaky.
Ustad Zaky membalas senyuman tersebut kemudian mengangguk. "Harus kau ketahui, seorang anak yang baru lahir tergadai dengan aqiqahnya, disembelih darinya kambing, pada hari ketujuh kelahirannya, dicukur rambutnya dan diberi nama. Setelah mencukur rambut bayi, disunahkan untuk bersedekah seberat rambut yang dicukur dengan emas atau perak,"
"Insha Allah," jawab Dikta.
"Jangan Insha Allah, tapi harus, lakukan itu jika memang dirimu dalam kondisi mampu," ralat Ustad Zaky.
"Jadi sekarang, siapa nama anakmu itu?" tanya Ustad Zaky yang membuat Dikta menatap sekilas anaknya yang berada dalam dekapannya.
"Adinata Akta Dreantama," jawab Dikta yang membuat semuanya bernapas lega akibat rasa penasaran yang terbayar lunas. "Seorang Pria berdedikasi tinggi dalam dunia maupun akhiratnya."
Dikta sengaja menambahkan Adinata di depan nama anaknya sebagai bentuk penghargaan kepada kedua orang tuanya yang sudah tiada, dan Dreantama karena itu adalah nama keluarga besar Robby yang mau bagaimanapun Robby adalah ayah biologis dari Baby Akta.
"Nama yang bagus, semoga apa yang kau siratkan dalam nama tersebut bisa Allah suratkan dan kabulkan kepadamu, sertakan disetiap jengkal sujudmu doamu itu, dan rebut syafaatnya dalam sepertiga malam mu, Insha Allah, apa yang kau harapkan akan diijabah," ujar Ustad Zaky.
Setelah semuanya selesai Sean tampak menyenggol bahu Adam yang membuat Adam menatap Sean. "Kau kenapa?"
"Katanya kau ingin melakukan itu, kau bagaimana sih? Ayo lakukan sekarang," jawab Sean menatap malas Adam.
__ADS_1
"T-tapi,"
"Bismillah saja Pak Dokter, kau menangani pasien yang diradang maut bisa tapi konsultasi hati sendiri tidak bisa," Sean mendesak Adam.
Adam mengeluarkan sebuah kotak cincin dari saku kemejanya dan menggenggamnya erat, sebenarnya ini sudah dia persiapkan bahkan setelah Dikta baru saja melahirkan.
"Bismilah," gumam Adam berjalan ke arah Dikta.
Dikta yang melihat Adam berada dihadapannya bingung dan mengangkat alisnya. "Ada apa Mas?"
Adam tidak menjawab dia segera berlutut dihadapan Dikta dan mengeluarkan kotak cincin tersebut. "Aku tidak tahu aku imam yang baik bagimu atau tidak, aku juga tidak tahu apakah aku bisa membawamu ke surga atau tidak, tapi aku yakin Allah sudah menorehkan namamu sebagai makmum dalam sholat ku dan istriku dalam lauhul mahfudznya."
"Dikta Adinata, aku tidak peduli dengan statusmu, dengan dirimu bahkan apapun itu, aku ingin, Menjadi suami bagimu. Menjadi ayah dari anakmu dan menjadi Imam dalam setiap sujud sholatmu dan pendamping dalam sepertiga malam mu, maukah kau menjadi istriku?"
Deg!
Dikta terdiam, dia belum menjawab sedangkan tidak jauh dari sana kembali ada hati yang remuk yaitu Robby yang menyaksikan kejadian tersebut dengan hati yang sudah benar-benar patah.
•
•
•
__ADS_1
TBC