
Sean yang tidak sadar meminum obat tersebut langsung berjalan keluar dari kamar seperti kebiasaan nya sebelum berangkat tugas, pasti Sean akan mengobrol dengan Aurel yang akan membuatkannya kopi.
"Kak? Mau berangkat?" tanya Aurel saat Sean keluar dari kamar.
Sean mengangguk dan berjalan duduk di kursi meja makan dia merasakan hawa panas disekujur tubuhnya akibat pengaruh obat tersebut, namun dia mengira ini hanya hawa panas biasa.
Pengaruh obat tersebut membuat Sean lebih banyak diam, sementara kini Aurel tengah mengaduk sendok di gelas yang membuat Sean mendengar dentingan gelas yang beradu.
Entah kenapa Sean menjadi bernafsu sendiri melihat Aurel apalagi dalam hati Sean, dia sangat mencintai wanita ini.
"Nih, kak, diminum dulu," ujar Aurel memberikan kopi kepada Sean.
Sean mengangguk dan dengan sengaja memegang tangan Aurel ketika menarik gelas kopi tersebut, Aurel tersentak karena Sean yang dia tahu tidak akan mungkin bersikap seperti ini.
"Kamu cantik loh Rel, saya jadi pengen," guman Sean tidak sadar.
Sean mengernyitkan keningnya, nada bicara Sean seperti bukan Sean, merasakan ada sesuatu yang berbeda, Aurel yang biasanya akan berbincang banyak dengan Sean memilih masuk duluan ke kamar.
__ADS_1
"Aku ke kamar duluan yah kak, nanti kunci aja pintunya," Aurel berdiri dan hendak ke kamarnya sebelum Sean menarik tangannya dan terduduk kembali dengan Sean yang menatapnya berbeda.
"Mau kemana sayang? Temenin aku dulu," bisik Sean yang membuat Aurel bergidik.
"Kak? Istigfar!" tegur Aurel yang tidak di dengar oleh Sean.
Sean yang sudah terpengaruh langsung mengunci pergerakan Aurel yang membuat Aurel membulatkan mata sempurna dan merasa sah bahwa Sean memang bukan Sean yang dia kenal.
Sean yang dia tahu tidak akan mungkin mau menyentuhnya dengan dalih bukan mahramnya, Sean yang sudah terbawa langsung membungkam mulut Aurel yang ingin berteriak dan mengunci diri nya yang memberontak, Aurel yang tidak bisa berkutip terus memberontak saat dirinya diseret paksa masuk ke kamar Sean dengan keadaan yang salah.
Didalam sana Aurel benar-benar kehilangan tenaga karena perlawanan yang tidak sebanding dengan Sean.
Sean yang sudah sadar dari pengaruh obat langsung mengucap istigfar dan mengambil baju nya dan memakainya, sementara itu Aurel yang juga sudah berpakaian lengkap tampak menangis.
Dia menatap Sean yang sulit menjelaskan kondisinya karena dia sendiri tidak tahu. "Maafin Kakak Rel, kakak gatau kenapa jadi begini, Kakak bakal bertanggung jawab."
Aurel menatap Sean dalam. "Aku benci sama kak Sean."
__ADS_1
Sang pemilik kehormatan itupun berjalan keluar dari kamar Sean ditengah dinginnya subuh setelah malam penuh penyesalan itu Aurel memilih mengemasi bajunya dan pergi.
Setelah selesai berkemas, Aurel segera menemui Sean dan memberinya satu tamparan telak. "Aku kira kak Sean beda, ternyata sama aja."
"Tapi aku bersyukur, Allah masih ads bersamaku, Allah tahu apa yang aku pikirkan dan Allah yang sudah menjadi saksi atas ini, Terimakasih kak, setidaknya dari kakak aku belajar banyak hal, jangan jatuh cinta pada seseorang yang tidak bisa menjaga martabat diatas syariat dan agama," lanjut Aurel berjalan pergi keluar dari rumah.
"Rel, ini gak seperti yang kamu pikirkan dek!" panggil Sean yang tidak di pedulikan Aurel.
Adam yang bangun untuk mengambil wudhu sholat subuh, terkejut melihat tampang berantakan Sean yang membuat dirinya bertanya-tanya.
•
•
•
TBC
__ADS_1
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like