
"Masa Iddah bagi seorang wanita yang ditalak dalam kondisi hamil itu bagaimana?" tanya Dikta kembali.
Ustadz Zaky mengusap bulu halus yang ada di dagunya sekali lagi. "Tiga quru'."
"Tiga quru'?"
"Iya sebagaimana dijelaskan dalam QS Al Baqarah ayat 228 yang artinya: “Para istri yang diceraikan wajib menahan diri (menunggu) mereka selama tiga kali quru'." jawab Ustadz Zaky.
"Tiga quru' itu ibarat tiga bulan jika kau bertanya," lanjut Ustadz Zaky. "Tapi karena dirimu dalam kondisi hamil, maka Masa Iddah bagimu adalah sampai dirimu melahirkan."
"Terima kasih, atas penjabarannya Ustadz," ujar Dikta yang merasa yakin sekarang untuk membuka hatinya.
Sean mengode Dikta untuk berdiri sehingga kini mereka berdua akhirnya berdiri. "Ustadz Zaky, kalau begitu kami pamit dulu, Assalamu'alaikum."
Ustadz Zaky tersenyum kepada Sean dan Dikta.
"Waalaikumsalam," jawab Ustadz Zaky. "Jika ada waktu berkunjunglah kemari lagi."
Sean dan Dikta membalas anggukan tersebut, Sean menjabat tangan Ustadz Zaky sedangkan Dikta hanya menyatukan kedua tangannya dalam posisi menangkup kepada Ustadz Zaky
Sean dan Dikta segera keluar dari rumah Ustadz Zaky dimana Ustadz Zaky mengantar mereka sampai di depan halaman rumah.
Sean masuk kedalam mobil disusul oleh Dikta, mereka berdua kemudian melambaikan tangan kepada Ustadz Zaky sembari menjalankan mobil tersebut menjauh dari sana.
"Lantas sekarang bagaimana?" tanya Sean mengendarai mobilnya dengan ekor mata yang melirik Dikta.
__ADS_1
"Aku masih belum selesai menata hati, tapi Mas Adam sudah cukup banyak berjuang untukku, tidak ada salahnya aku menerima dirinya sebagai pengganti," jawab Dikta memantapkan hatinya.
Sean tersenyum, Akhirnya Dikta dapat benar-benar membuka lembaran baru dalam hidupnya setelah kepergian Robby dan segala kisah kelam kehidupannya.
Crtt!
Sean membanting setir, ia yang awalnya menjalankan mobilnya menuju rumah segera membelokkannya menuju rumah sakit.
"Kita mau apa?" tanya Dikta pada Sean.
"Mendatangi Adam dan kau harus memberinya kepastian," jawab Sean.
Dikta tersentak, ini terlalu cepat tapi Sean ingin kebahagiaan untuk adiknya sehingga dia menjadi bersemangat begini.
Dikta hanya mengangguk sejenak, dia tidak ingin membantah kakaknya yang sudah sangat bersemangat untuknya.
Dikta menghembuskan napas panjang. "Bismillah."
Sean dan Dikta keluar dari mobil dan berjalan masuk kedalam rumah sakit dengan langkah pasti, mereka tidak perlu bertanya dimana ruangan Adam, karena mereka sudah tahu tentang itu.
Adam sendiri baru saja memeriksa pasien dan duduk di kursi nya sebelum Sean dan Dikta datang dan mengucap salam kepada dirinya.
"Waalaikumsalam, Kak Sean? Dikta? Ada apa?" tanya Adam berdiri.
Sean menarik tangan Dikta dan membawanya ke hadapan Adam, kini ketiga pasang mata itu saling bersinggungan, sebelum Dikta memilih memutus kontak mata dengan mereka.
__ADS_1
"Adam? Apakah kau serius mencintai adikku?" tanya Sean tiba-tiba.
Adam yang mendapat pertanyaan seperti itu hanya terdiam, kenapa Sean mempertanyakan hal seperti ini disaat yang begini.
"Sejujurnya, perasaan lima tahun lalu yang kusimpan masih terus ada walaupun aku sadar bahwa dulu Dikta sudah milik orang lain," jawab Adam pelan.
Dikta mengangkat kepalanya, Sean meliriknya kemudian mengode Dikta untuk berbicara. "Dikta katakan.".
"M-mas Adam? Jika aku menerima, apakah Mas Adam mau menerimaku juga atas segala kekurangan ku?" tanya Dikta ragu.
"Aku mencintaimu karena Allah bukan karena fisik, tahta bahkan dirimu sendiri," jawab Adam.
"Tapi apakah berniat meminangnya sekarang sedangkan dirinya masih dalam masa Iddah itu sah?" Adam sedikit ragu.
Sean berjalan ke arah Adam dan menepuk bahunya. "Aku bukan orang baik, tapi Ustadz Zaky pernah berkata padaku bahwa ada hadist yang mengatakan, Dan tidak boleh meminang secara jelas perempuan yang sedang dalam masa iddah, namun boleh meminangnya dengan cara sindiran dan menikahinya setelah selesainya masa iddah. Jadi kalau kau hanya berniat terlebih dahulu lewat kata-kata itu sah-sah saja," jawab Sean yang mengingat kalimat Ustadz Zaky.
Mendengar penuturan Sean, Adam berbinar dia menatap Dikta sekali lagi. "Jika aku meminangmu secara sindiran sekarang, apakah kau mau? Aku akan menunggumu menyelesaikan masa Iddahmu."
Dikta terdiam kemudian menganggu k kan kepalanya. "Aku mau."
•
•
•
__ADS_1
TBC