
"Ini undangan pernikahan kalian, untuk tanggal 14 Mei yah, ini kakak nyuruh orang aja buat sebarin sekarang," Sean menaruh tumpukkan undangan akad nikah Adam dan Dikta diatas meja tepat dihadapan Adam dan Dikta sendiri.
Adam mengambil satu undangan dan melihatnya sejenak sebelum tersenyum melihat surat undangan itu. "Designnya bagus, aku suka, makasih yah kak Sean."
Sean mengangguk kemudian ikut mengambil satu buah undangan akad nikah Adam dan Dikta. "Kalian undang Robby?"
Adam dan Dikta saling menatap, pertanyaan retoris Sean membuat mereka mengangguk perlahan. "Gak enak aja kalau gak undang Robby kak."
Sean mengangguk atas pernyataan Adam, Adam kemudian mengambil surat undangan tersebut dari tangan Adam. "Ini biar kami aja yang ngantar kak."
"Yakin mau antar sendiri?" tanya Sean memastikan.
"Iya Kak, biar kami aja," jawab Dikta mengiyakan ucapan Adam.
"Baiklah, kalau gitu kakak bawa ini dulu buat kasih ke orang yang bagiin," Sean mengangkat tumpukan undangan tersebut kemudian meninggalkan Dikta dan Adam di ruang tamu.
"Kita antar sekarang yah?" Adam mentap Dikta yang tengah menggendong Akta.
"Iya Mas, aku nitipin Akta ke Aurel dan Mama Reni dulu yah," Dikta berdiri kemudian berjalan ke dapur dimana ada Aurel dan Mama Reni disana.
Dikta berjalan pelan dan masuk ke dapur, yang membuat Mama Reni dan Aurel membalikkan badan menatapnya. "Rel, aku titip Akta dulu yah, soalnya aku sama Mas Adam ada urusan bentar."
__ADS_1
Aurel mengangguk dan berjalan ke arah wastafel untuk mencuci tangannya, suara keran air yang perlahan memudar seiring Aurel yang mengeringkan tangannya menjadi latarnya.
"Sini," Aurel mengambil Akta dari gendongan Dikta. "Tapi kalian pulang gak lewat jam dua belas kan? Aku ada kelas soalnya."
"Tenang aja, cuma bentaran kok," jawab Dikta memberikan jempol kepada Aurel. "Aku pergi dulu yah, Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Mama Reni dan Aurel serempak.
Dikta kemudian kembali berjalan menuju ruang tamu untuk menemui Adam yang sudah menunggunya. "Yuk Mas, kita berangkat,"
Adam mengangguk kemudian berdiri dan berjalan keluar dari rumah disusul oleh Dikta.
•
•
Wajahnya pucat pasi, tidak ada yang tahu kondisinya karena Robby merasa dirinya sudah tidak pantas di kasihani sehingga biarlah dia yang menanggung ini sendiri.
"Argh!" Robby meringis menahan sakit yang dia alami sampai setetes air mata jatuh dari pipinya melebur langsung dengan segala penyesalannya. "Sepertinya Allah sedang menghukumku atas karma di masa lalu."
Kini Robby hanya terbalut dalam penyesalan mendalam, niat hatinya ingin berubah namun takdir berkata lain, ia kemudian berdiri perlahan hendak mengambil pereda rasa nyerinya di nakas.
Bruk!
__ADS_1
Baru saja Robby berdiri ia sudah ambruk ke lantai dengan keadaan tengkurap sehingga dirinya sudah tidak bisa apa-apa lagi, bahkan untuk berdiripun dirinya sudah tidak mampu.
Sementara itu Adam dan Dikta yang baru sampai di teras rumah Robby mendengar suara berisik yang membuat Adam dan Dikta saling melempar tatapan.
"Robby kenapa?" tanya Adam.
Mereka berdua mengetuk pintu rumah tersebut namun tidak ada jawaban sedikitpun. "Mas dobrak aja coba."
Adam mengangguk, ia kemudian mengambil ancang-ancang dan mendobrak pintu tersebut, secara logika di percobaan pertama Adam gagal namun yang kedua sukses membuat pintu tersebut amblas.
Brak!
"Robby!" Adam berteriak kaget mendapati Robby dalam kondisi sudah tidak bisa apa-apa lagi di lantai rumahnya sendiri.
Robby menatap Adam dan Dikta sekilas sebelum dirinya kehilangan kesadaran.
•
•
•
TBC
__ADS_1
Mampir yah