Selepas Kata Talak

Selepas Kata Talak
BAB 37. Haruskah Merebutmu Dari Tuhanmu?


__ADS_3

Beberapa bulan setelah kematian Glenca, Kejelasan tentang Dikta, Kepastian tentang Adam dan Kepergian Robby.


Kehidupan Dikta dan Sean baik-baik saja dan mereka masih selalu harmonis sebagai kakak dan adik. Bahkan hubungan Dikta dan Adam selalu terjalin dengan baik walaupun mereka tidak ada ikatan pacaran.


"Kamu, mau siapin acara tujuh bulanan? Kamu minta tolong Mama Reni aja gimana? Nanti uangnya kakak transfer soalnya kakak masih di jalan," ujar Sean berbicara di headset yang terhubung dengan ponselnya.


Ia tengah menyetir mobil menuju perjalanan ke rumah disaat adiknya menelepon untuk mempersiapkan acara tujuh bulanan besok, karena kandungan Dikta sudah masuk tujuh bulan.


"Gausah kak, aku juga ada uang tabungan kok buat acara ini," jawab Dikta.


"Dengerin kakak, sampai detik ini kamu masih menjadi tanggung jawab kakak, apapun kebutuhan kamu, kakak akan tanggung, tungguin kakak pulang aja," ujar Sean.


Dikta menyerah dia tidak bisa melawan keinginan kakaknya, ia kemudian mematikan sambungan telepon tersebut sehingga membuat Sean melanjutkan perjalanannya.


Sean melepas headset nya dan kembali fokus menyetir dan terganggu fokusnya saat melihat sosok Aurel dipinggir jalan yang membuat dia menghentikan laju kendaraannya.


"Aurel?" panggil Sean membuka kaca mobil nya


Aurel menatap ke arah Sean. "Ka Sean?"


Sean meraih engsel mobilnya kemudian keluar dari mobil tersebut menemui Aurel. "Kamu ngapain disini?"


Aurel yang didatangi Sean merasakan gugup luar biasa, perasaan beberapa bulan belakangan yang berkembang menjadi rasa cinta itu sangat menganggu dirinya.


"A-aku mau pulang, tapi mobilku mogok jadi nungguin taksi," jawab Aurel membuang muka untuk menyembunyikan pipi nya yang memerah.


"Aku antarin pulang yah!" tawar Sean.


Seketika Aurel menatap Sean sehingga kini wajah mereka dalam keadaan face to face sebelum Sean dan Aurel sama-sama melepas kontak wajah mereka.

__ADS_1


"G-gausah kak, aku nungguin taksi aja," jawab Aurel mencoba bersikap tenang.


Sean tidak menjawab, ia langsung menarik tangan Aurel dan membawanya menuju pintu kursi penumpang dan membuka pintu untuknya.


"Aku gak suka penolakan," jawab Sean membuat Aurel terpaksa masuk ke dalam mobil.


Setelah memastikan Aurel naik, Sean juga ikut masuk kedalam mobilnya dan duduk di kursi pengemudi.


"Jalan yah,"


Aurel mengangguk, Sean memijat setir mobil berbalut kulit coklat tersebut dan menjalankan mobilnya meninggalkan area tersebut.


"Kamu semester berapa sih Rel?" tanya Sean pada Aurel.


Aurel menatap Sean. "Semester akhir, bentar lagi wisuda ahahaha kalau skripsiku gak gagal."


"Pasti bisa,"


"Orang tua kamu dimana sih Rel? Kok aku liat kamu tinggal sendiri?" tanya Sean yang membuat Aurel merubah ekspresi wajahnya. "M-maaf, aku gak bermaksud."


"Gapapa kak, sebenarnya orang tua aku sudah meninggal dua tahun lalu, kedua orang tuaku anak tunggal. Aku juga sama, jadi aku gak ada keluarga lagi," jawab Aurel.


Mendengar penuturan Aurel membuat Sean langsung menarik Aurel ke pelukannya sehingga membuat Aurel tersentak seketika.


"Sabar yah, kamu bisa anggap kakak sebagai kakak kandung kamu sendiri, kan ada Dikta juga," Sean mengusap rambut Aurel.


"Hanya kakak?" lirih Aurel yang membuat Sean menatapnya.


Untuk meredakan keheningan tersebut Sean memutar kan musik dari sound system mobilnya.

__ADS_1


Aku untuk kamu, kamu untuk aku, namun semua apa mungkin, iman kita yang berbeda ...


Lagu yang memutar tersebut membuat Sean dan Aurel saling melempar pandangan sehingga membuat Sean segera melanjutkan perjalanan mereka.


Tak lama kemudian mobil Sean terparkir dihadapan rumah Aurel sehingga membuat Aurel segera keluar dari mobil tersebut.


"Kak? Mau singgah?"


"Gausah Rel," jawab Sean yang membuat Aurel mengangguk.


Sean menutup kaca jendela mobilnya, kemudian menjalankan mobilnya meninggalkan area rumah Aurel.


Didalam mobil Sean mengusap pelipisnya dia sadar perasaannya kepada Aurel sudah semakin besar tapi semuanya terhalang keyakinan.


"Haruskah diriku, merebutmu dari tuhanmu?" gumam Sean.


Seketika Sean teringat sebuah hadist yang menjelaskan tentang ini.


"Wanita itu boleh dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu berpegang teguh cengan perempuan yang memeluk agama Islam, jika tidak, akan binasalah keduatanganmu.”


Apakah yang harus dipilih Sean? Berpisah atau bersama, sedangkan Aurel juga memiliki perasaan yang sama.





TBC

__ADS_1


Halo syang"nya aku selamat hari raya idul fitri yah, Mohon maaf lahir dan batin, terimakasih sudah membaca novel ini.


__ADS_2