
"Kamu yang nyetir," Sean melempar kunci mobilnya kepada Adam.
Adam yang baru menyentuh engsel pintu mobil menangkap kunci yang di lempar Sean sesaat setelahnya Sean masuk ke kursi penumpang sedangkan Adam di kursi pengemudi.
"Ini kita beli apa aja?" tanya Adam memperbaiki posisi duduknya.
Sean mengambil kertas berisi daftar belanja dari Mama Reni, yang mereka berdua kira hanya sedikit tapi nyatanya sangat banyak.
"Serius kita beli ini semua?" tanya Adam tidak percaya.
"Yah semua, kamu mau di blacklist jadi anak Mama Reni? Aku sih ogah," jawab Sean menggulung kembali daftar belanja itu.
"Yaudahlah," Adam memijit setir mobil berbalut kulit berwarna coklat itu dan segera menancap gas menuju pasar tradisional terdekat.
Didalam perjalanan mereka berbincang sejenak tentang pernikahan Adam dan Dikta nantinya.
"Kira-kira, kapan kau ingin melamar Dikta?" tanya Sean menatap Adam.
"Secepatnya Kak," jawab Adam fokus menyetir. "Tapi aku bingung."
"Kau bingung apalagi? Kau tidak ada modal? Tenanglah aku bisa memberikan mu pinjaman," Sean menjawab yang membuat Adam mendelik.
__ADS_1
"Bukan itu, kalau masalah biaya aku sudah punya, tapi yang aku ingin ketahui ialah Posisiku kelak sebagai Ayah sambung atau Ayah tiri dan apa saja kewajibanku, jika aku menikahi Dikta," ujar Adam menatap fokus kedepan.
"Aku mengerti perasaanmu, lebih baik kir ke rumah Ustad Zaky untuk menanyakan ini lebih jelas kepada ahlinya," jawab Sean memberikan solusi.
"Belanjanya?"
"Kita masih punya lima jam, acara aqiqah mulai jam tiga sore dan kita kembali ke rumah sebelum jam satu, sedangkan sekarang baru jam delapan pagi, masih sempat," jelas Sean mengecek arlojinya.
Adam kemudian mengangguk atas saran Sean dan akhirnya memilih menyambangi rumah Ustadz Zaky untuk berkonsultasi lebih lanjut.
Tak butuh waktu lama bagi mereka berdua sampai disana, Sean dan Adam keluar dari mobil dan sangat kebetulan Ustad Zaky sedang berada di teras rumahnya.
"Assalamualaikum," ujar Sean dan Adam.
"Ada apa kian, kemari?" tanya Ustad Zaky mempersilahkan Adam dan Sean untuk duduk.
Sean menarik kursi dan duduk di kursi teras tersebut. "Begini Ustad, calon adik ipar saya ingin bertanya sesuatu yang berkaitan dengan agama, dan ada baiknya bertanya langsung kepada ahlinya."
Ustad Zaky mengangguk kemudian mengisyaratkan Adam untuk mempertanyakan hal yang ingin dia tanyakan.
"Begini, saya kan akan menikahi sosok Dikta yang telah memiliki anak dari pernikahan sebelumnya, yang membuat saya bimbang, bagaimana posisi saya sebagai seorang ayah sambung atau ayah tiri dalam islam, ketika menikah kelak, dan bagaimana kedudukan saya bagi anak tiri saya?" tanya Adam menatap Ustad Zaky dalam.
__ADS_1
Ustad Zaky mengelus dagunya perlahan dan mengangguk atas pertanyaan Adam.
"Jadi begini, dalam hukum Islam orang yang terikat akad nikah dengan ibu kandung, maka secara hukum ia menjadi ayah dari anak-anaknya. Sehingga kedudukan ayah baik disebabkan karena keturunan atau pertalian akad nikah, tidak ada perbedaan hukum dalam mendidik dan berinteraksi dengan anak-anaknya," jelas Ustad Zaky. "Hal ini sudah Allah tegaskan dalam al-Qur’an Surat An-nisa: 22-23."
Mendengarkan penjelasan Ustad Zaky tentang kedudukannya kelak yang tidak memiliki perbedaan dengan ayah kandung membuat Adam mengangguk paham.
"Lantas apa saja kewajiban saya kelak?" tanya Adam yang membuat Ustad Zaky tersenyum.
"Ada delapan kewajiban seorang ayah sambung kepada anak tirinya,"
"Apa saja Ustad?" tanya Adam antusias.
Ustad Zaky tersenyum dan berdiri. "Akan saya jawab nanti, lebih baik saya buatkan dulu kalian minuman, tidak enak rasanya menerima tamu dalam keadaan begini."
Adam menghela napas menatap Ustad Zaky masuk kembali ke dalam rumah.
•
•
•
__ADS_1
TBC