
"Assalamualaikum," Dikta membuka pintu rumah setelah sampai dari menemui Bianca.
"Waalaikumsalam," jawab Sean dan Aurel kompak yang rupanya dari Dikta pergi belum beranjak dari posisinya. "Eh Bundanya Akta. Pulang."
Dikta tersenyum kemudian mencuci tangannya di wastafel sebelum mengambil Akta dari gendongan Aurel. "Kalian berdua masih disini aja? Ngapain? Ngobrolin hari H yah?"
Dikta sengaja menggoda Aurel dan Sean dikarenakan dirinya ingin sekali kakak dan sahabatnya itu segera sah didalam agama.
"Aamiin, lagi ngobrol aja sama Aurel, dia diajak ngobrol seru banget dan Kakak gak nyangka pemahaman agamanya luas," jawab Sean menatap Dikta. "Kamu darimana Ta?"
Dikta terdiam, mendapat pertanyaan seperti itu membuat Dikta bingung harus menjawab apa. "Hm? Tadi ada urusan hari ini kan aku ada seminar pernikahan jadi harus aktif lagi ngecek organisasi."
Dikta sengaja berbohong agar Aurel dan Sean tidak khawatir dengan konflik kecilnya bersama Bianca.
"Wih, udah comeback jadi Motivator adek kakak," ujar Sean memuji.
"Eh tadi kalian ngobrolin apa sih kayaknya seru banget," Dikta menatap Aurel dan Sean secara bergantian.
Aurel dan Sean saling melempar pandangan dan senyum sebelum Aurel buka suara atas pertanyaan Dikta pada mereka.
"Kak Sean nanya, ciri-ciri suami baik dan sayang sama istrinya itu kayak apa? Katanya mau memantas kan diri," jawab Aurel melirik Sean.
Pipi Sean memerah yang membuat Dikta mengangkat alisnya sejenak."Kalau itu mah gampang banget."
__ADS_1
"Bener tuh," timpal Aurel pada Dikta.
"Seorang suami yang sayang sama istrinya bakal nanya empat hal ini sama istrinya, pertama, Udah Sholat Belum?" lanjut Dikta.
"Kedua, Udah Makan Belum?" Aurel melanjutkan. "Yang Ketiga, Capek Gak?"
"Dan yang terakhir, Uang Belanja Masih Ada?" ujar Aurel dan Dikta serempak pada kalimat terakhir itu.
Sean menaikkan alisnya dengan tatapan bingung dan masih belum mengerti.
"Gini loh kak, Istri itu ibarat kota yang memiliki cuaca yang kadang berubah-ubah, sedangkan seorang suami ibarat penduduknya yang harus tahan akan cuaca tersebut." ujar Dikta pada Sean.
"Istri yang terdidik lahir dari suami yang baik, kalau suaminya sholeh berarti istrinya bakalah sholehah juga seorang suami ibarat nahkoda dalam sebuah rumah tangga," timpal Aurel yang membuat Sean mengangguk.
"Eh Ta? Hari ini ngisi seminar aku ikut yah," ujar Aurel pada Dikta.
"Kakak juga ikut yah, kakak gaada kerjaan dan kakak mau liat bagaimana kamu ngisi seminar," Sean mengangkat tangannya.
Dikta mengangguk dan mengiyakan permintaan keduanya. "Boleh sekalian pesan katering buat pengajian kematian Bang Robby nanti malam."
Sementara itu ditempat lain Bianca berjalan masuk kedalam sebuah ruangan kerja miliknya dan menghempaskan punggungnya ke kursi dengan raut wajah kesal.
"Kamu kenapa lagi Ca?" tanya seorang pria kepada Bianca.
__ADS_1
Bianca menatapnya kesal. "Ternyata Dikta bukan lawan yang sepadan bahkan dia berhasil mempermalukanku tanpa menguras habis tenaganya, itu benar-benar membuatku kesal."
"Kan sudah aku bilang dia wanita yang berbeda, kalau kau masih mau aku ada rencana bagus," jawab pria tersebut mengutak atik keyboard laptopnya.
"Apa?"
Pria itu tersenyum miring kemudian membuka sebuah laman web menampilkan brosur seminar pernikahan yang akan di bintang tamu oleh Dikta dan menunjukkannya ke Bianca.
"Bagaimana?"
"Aku mengerti maksudmu," jawab Bianca tersenyum miring.
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like Agar Semakin semangat Update
__ADS_1