
Sepulang dari pertandingan, Sani mendapati Ibunya belum tidur, dan masih menunggu kepulangan Sani di teras rumah.
Tidak hanya Ibunya, tapi pakde Damar dan Bude Wiwik juga ada disana, mereka semua menunggu Sani, karena sejatinya mereka belum tau kalau Sani pulang dengan membawa Kemenangan.
"Ibu...lhoh pakde dan bude juga disini?"
"Gimana pertandingannya Nak, Lancar kan?"
"Lancar Bu, Sani mendapat kemenangan Bu"
"Syukurlah Nak, Ibu bangga sama kamu"
Ucap ibunya sambil terbata-bata sambil memeluk Sani
"Sani, selamat ya Nak"
Bude Wiwik mendekat lalu memeluk Sani
"Makasih banyak bude"
Sani kembali terisak karena merasa terharu
Setelah melepas pelukan budenya, Sani mendekati pakde Damar
"Kamu memang benar-benar Keponakanku"
Ucap pakde Damar sambil memeluk Sani.
"Terima kasih banyak Pakde, ini karena do'a kalian semua"
Setelah itu, pakde Damar dan Bude Wiwik berpamitan pulang.
Sani dan Ibunya pun masuk rumah untuk istirahat.
Sani juga ingin segera tidur, karena sebelum pulang tadiz Kepala sekolahnya menyuruh Sani untuk datang ke sekolahan besok pagi, beliau ingin memberi Sani Hadiah tambahan, karena berhasil membawa nama Baik sekolahannya.
Saat sampai di sekolahan, Sani bertemu dengan Uki lalu duduk dibawah pohon yang teduh dan bercanda berdua.
Lalu mereka melihat Rindra dan teman-temannya mendekat.
"Selamat ya San, sorry semalam gaj sempat ngucapin, karena gw liat lu repot kesana kemari"
Rindra memberi ucapan selamat sambil menjabat tangan Sani
"Hehe nggak apa-apa, walaupun ngucapin sekarang, nggak terlambat juga kok".
Lalu Tijar, Odi dan Farhan masing-masing juga memberikan ucapan selamat kepada Sani.
"San, lu ternyata seorang pendekar yang Hebat, kalau saja dari awal Lu mau menghajar gw, mungkin gw udah habis dari dulu"
"Tapi ilmu bela diri itu tidak digunakan untuk berantem sembarangan, apalagi sama teman sendiri, itulah alasannya kenapa selama ini gw memilih diam"
"Kamu memang Lelaki San, aku harus belajar banyak dari kamu"
"Tapi tetap saja, aku hanya remaja yang sama seperti kalian, kalau aku bener-bener udah menjadi Lelaki, seharusnya gw nggak pernah mukul Lu"
"Haahaaahaa"
Mereka berenam tertawa bersamaan.
Sepulang dari sekolahan, Sani segera pergi ke rumah pakde Damar
"Pakde, hari ini Sani boleh minta ijin untuk istirahat?"
"Boleh San, pakde juga sudah mendapat rumput lumayan banyak tadi pagi".
"Baik, makasih ya pakde, Sani pamit pulang dulu"
"Iya, segera istirahat ya".
__ADS_1
"Saniiii, nggak nunggu bude buatin kopi dulu?"
Bude Wiwik memanggil Sani dari dapur dan berjalan keluar menemui Sani
"Kapan-kapan aja deh Bude, Sani pengen cepetan Istirahat"
"Ya sudah"
Jawab Bude Wiwik sambil tersenyum.
Sani bangun dari tidurnya jam 4 sore, dia bergegas mandi, lalu menaiki sepedanya menuju area persawahan.
Ditengah persawahan itu terdapat Gubuk yang berada di pinggir jalan.
Sani singgah di Gubuk itu, lalu menelpon Uki untuk datang ke Gubuk itu, dan menikmati Senja yang indah dari Gubuk itu.
"Wuih..tumben lu beli rokok ini"
Uki mengambil rokok Sani yang ditaruh di Gubuk itu.
Rokok kesukaan Sani yang tertulis 234.
"Haahaa, mumpung dapat hadiah, sekali-kali beli rokok kan gak apa-apa wkwkwk"
"Mantab daaahh...ckckck emang hadiahnya berapa San?"
"Hadiah pertandingan 3juta, lalu Hadiah khusus pemberian kepala sekolah tadi pagi 2juta"
"Anjiirrr gedhe juga Hadiahnya,, rencana mau buat apa tu uang?"
"Mungkin beli motor Ki, soalnya setelah lulus nanti, gw mau jualan sayur, kalau ada motor kan gambar bawa sayurannya"
"Ya belum tau, belum nyari tempat yang strategis"
"Modal lu darimana?"
"Pakde Damar mau minjemin Modalnya"
"Lu gak pengen kuliah San?"
"Kek nya enggak deh Ki, gw pengen cepet kerja aja"
"Lu serius?"
"Iya, udah gw pertimbangkan sejak beberapa bulan yang lalu"
"Hmmmh...lu pengen cepet nikahin Ayu ya?"
"Haahaa ya iyalah pengen, orang dia pacar gw, tp gk secepatnya juga, gw belum mikir soal pernikahan"
"Haaaahh, gw kuliah sendirian donk"
__ADS_1
"Ya kan nanti lu juga bakal dapet temen baru Kii, lagian kek mau gw tinggal minggat aja sih, kan tiap hari juga bisa nongkrong disini"
"3 tahun di SMA, ternyata membawa kenangan tersendiri ya San?"
"Iya Ki, banyak suka duka yang terjadi, salah satunya adalah Zaiyu, perkenalan hingga pacaran, itu bakal jadi kenangan tersendiri di Hati gw, dan gw merasa beruntung punya dia"
"Dia yang beruntung karena punya Lu..!!"
Sani menoleh ke arah Uki karena kaget dengan pernyataannya.
"Maksud Lu?"
"Entahlah, gak penting .haaahaa"
"\*\*\*\*\*\* Lu"
"Haahaahaa"
Mereka pun tertawa bersama.
Sani mulai menggarap tanah pekarangan dekat rumahnya untuk ditanami beberapa sayuran secara bersamaan
Kacang panjang, Cabe serta bayam.
Semua dia kerjakan sendiri di sela-sela waktunya mencari rumput untuk sapi peliharaan pakde Damar.
"Pakde, Sani udah nemu lokasi yang bagus buat jualan Sayur"
"Dimana San?"
"Disekitar Jalan Raya, ada tempat kosong sekitar 5m x 3m pakde, itu sudah cukup luas untuk jualan Sayur"
"Kamu sudah tau siapa pemiliknya?"
"Sudah pakde, tapi belum meminta ijin, rencananya nanti malam mau berkunjung ke rumahnya untuk meminta ijin"
"Baguslah kalau gitu, nanti kalau udah dapat ijin, kita bangun kios kecil non-permanen utuk lapak jualanmu"
"Iya pakde, semoga dapet ijinnya"
"Iya, semoga saja"
Pungkas Pakde Damar.
Setelah mendatangi pemilik tanah itu, Sani meminta ijin pemilik tanah itu, serta menanyakan berapa harga sewanya.
Tapi pemilik tanah melarang Sani menyewanya.
"Tidak usah disewa Nak, kalau mau kamu pakai, ya silahkan, asal bangunan yang didirikan bukan bangunan permanen"
"Tapi saya kan gak enak pak?"
"Gini lo, di tanah itu, suatu saat mau dibangun perumahan, tapi kapan pastinya, saya masih belum tau, kalau kamu sewa tempat itu, dan ternyata tempat itu sudah mulai dibangun sebelum masa sewanya habis, kan saya juga yang nggak enak"
Sani mengangguk tanda mengerti penjelasan dari pemilik tanah itu.
"Sudahlah, gunakan saja kalau memang bisa dimanfaatkan, toh tanah itu sudah lama kosong, tapi kalau suatu saat tiba-tiba ada pembangunan, ya kamu harus langsung pergi dari sana"
"Itulah alasan saya melarang kamu menyewa serta mendirikan bangunan permanen diatas tanah itu, karena saya juga nggak tau kapan Proyeknya akan mulai dikerjakan"
"Ya sudah kalau gitu pak, saya pamit dulu, terima kasih banyak sudah diijinkan memanfaatkan tanah itu secara cuma-cuma"
"Iya, sama-sama Nak, semoga nanti usahanya lancar dan jualannya laris, saya bakal ikut senang"
"Semoga saja pak, Terima Kasih, saya pamit pulang dulu pak"
"Iya, hati-hati ya Nak"
__ADS_1
"Iya pak"
Lalu Sani pun pulang dengan perasaan Gembira.