
"Ayu, kamu tetap pergi dengan Sani besok?" Bu Indri bertanya kepada Ayu.
"Enggak..!!" Jawab Ayu singkat dan tegas.
"Naaak, tujuan Ibu melarang adalah demi kebaikanmu juga, tapi jika kamu bisa menjaga diri, ibu nggak akan melarang."
Bu Indri mencoba meluluhkan Hati Ayu yang sedang mengeras.
"Nggak apa-apa Bu, Ayu juga ngerti kok, Ayu nggak jadi pergi..!"
Jawaban Ayu masih memperlihatkan kekecewaannya kepada Ibunya.
"Naaak, bukan maksud Ibu membatasi, tapi Ibu tidak ingin terjadi apa-apa denganmu." Bu Indri berusaha menahan Emosinya karena sikap Ayu terlihat sudah tidak mau tau dengan Ibunya.
Bukannya merespon, Ayu justru melangkah menjauhi Ibunya, dan Hendak pergi ke Kamarnya..
"Ayu..!!! Mau kemana kamu, Ibu belum selesai bicara..!!" Bu Indri yang melihat Ayu pergi tanpa kata, menjadi sangat marah, hingga membentak Anak sulungnya itu.
Mendengar bentakan yang begitu keras, Ayu sangat kaget, dia tidak menyangka Ibunya akan membentaknya begitu keras.
Dia berdiri dan terdiam, tak terasa air matanya meleleh, karena ini pertama kali dibentuk Ibunya sendiri.
Kemudian Ayu perlahan membalikkan badannya ke arah Ibunya.
"Sekarang Nissa dimana Bu? Ibu tau dia pergi kemana? Hampir setiap malam dia keluar dengan alasan belajar dirumah teman, dan Ibu selalu mengijinkan, tanpa mendetail kemana perginya Nissa..!!"
"Apakah ibu Yakin dia pergi belajar di rumah temannya, setiap malam, dan hampir setiap hari..!!"
Ayu berbicara sambil menangis.
"Kalau Ayu mau, Ayu juga bisa Bu mencari alasan yang lain, bohong kepada Ibu, hanya supaya mendapat ijin dari Ibu, tapi...tapi Ayu nggak mau bohong, Ayu hanya ingin Jujur, tapi Ibu malah membentak Ayu dengan keras?"
Ayu justru mencecar pertanyaan kepada Ibunya, sedangkan Bu Indri kebingungan menjawab semua Argumen Ayu.
"Apa sekarang Ibu bisa pastikan dimana Nissa sekarang? Di rumah teman yang mana dia sekarang? Teman cowok atau cewek? rame-rame atau hanya berdua? Ibu bisa memastikan?"
Ayu masih belum berhenti mencecar Ibunya.
"Selama ini, pernahkan Ayu mencoba bohongi Ibu ataupun Ayah? Pernahkan Ayu keluar hanya karena urusan Belajar bersama atau urusan tidak penting lainnya? Atau ...atau karena selama ini Ayu selalu menurut, lantas Ibu selalu bersikap tidak adil kepada Ayu?"
"Andai saja aku pandai berbohong, hal ini tidak akan menjadi masalah Bu, tapi justru aku memilih Jujur kepada Ibu dan Ayah, Ibu malah menghakimi Ayu hingga seperti ini"
Ayu sudah benar-benar hilang kendali, dia melepaskan semua uneg-uneg yang selama ini ia pendam.
"Bukan begitu Nak, bukan maksud Ibu bersikap tidak Adil.."
Bu Indri pun menangis mendengar semua kalimat Ayu, dia merasa bersalah karena telah memarahi Ayu, bahkan dia selama ini telah lupa, bahwa bisa saja Nissa memang berbohong kepadanya.
__ADS_1
"Ibu takut terjadi apa-apa denganmu Nak..."
Bu Indri berbicara sambil menangis.
"Lantas, dengan cara membentak dengan keras, Ibu pikir aku akan baik-baik saja?" Ayu pun berbicara dengan suara serak karena tangisannya.
"Itu benar-benar menyakiti perasaan Ayu Bu."
"Ayu, pergilah ke Kamar sekarang..!!"
Pak Galih segera menengahi perdebatan itu, dia tidak ingin semua menjadi tambah parah.
Ayu pun segera berlari menuju kamar dengan menahan tangisannya.
Sedangkan pak Galih segera mendekati istrinya, meraih pundak dan mendudukkannya di kursi.
"Kenapa bisa seperti ini, apa yang telah kamu lakukan?"
Pak Galih bertanya kepada Istrinya dengan Nada bicara yang sangat halus, agar keadaan Istrinya bisa lebih tenang.
Bu Indri pun menceritakan kronologinya kepada suaminya tanpa menyembunyikan apapun, dan Pak Galih mengangguk tanda mengerti.
"Aku hanya takut terjadi apa-apa dengan Ayu, Apa aku salah?" Ucap Bu Indri masih dalam keadaan menangis.
"Tentu tidak, Orang Tua menasehati anaknya, itu adalah kewajiban, bukan kesalahan...hanya saja, mungkin cara menasehati yang menurut Ayu tidak tepat"
"Ayu adalah anak yang baik, sangat wajar, apabila kita takut jika terjadi sesuatu dengannya, aku pun juga demikian, tapi kita juga tidak perlu memperlakukannya seperti Tahanan."
Pak Galih mencoba memberikan pengertian kepada Istrinya.
"Bukankah sebelumnya kita juga sudah mengijinkan ia pergi dengan Sani? Apakah aku memperlakukannya seperti Tahanan?"
Bu Indri mencoba membela diri.
"Lalu kenapa kali ini kau melarangnya?" Pak Galih pun membalikkan kalimat Bu Indri.
"Tempat itu sangat jauh, butuh 2 jam perjalanan untuk menuju tempat itu, aku takut terjadi apa-apa dijalan, aku tidak tega dengan mereka."
"Hanya itu kah alasanmu?" Pak Galih mencoba menegaskan maksud dari Istrinya.
Bu Indri pun mengangguk pelan, dia memang tak punya alasan lain untuk melarang anaknya pergi ke tempat itu.
"Percayalah, mereka akan baik-baik saja, aku akan menasehati Sani sebelum berangkat besok". Pak Galih mencoba meyakinkan Istrinya.
Bu Indri pun akhirnya menurut dengan kemauan suaminya.
Dia tidak ingin hubungannya dengan Ayu rusak hanya karena ketakutannya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan membujuk Ayu, kamu masuk dulu ke kamar, sepertinya Ayu masih marah kepadamu, jangan sampai masalah ini menjadi besar"
Bu Indri pun bangkit, lalu berjalan menuju kamarnya.
Sedangkan pak Galih pergi menuju kamar Ayu.
"Tok Tok Tok..."
"Ayu, buka pintunya sayang, Ayah mau bicara.."
Mendengar ketukan pintu dari Ayahnya, Ayu pun bangkit dan membuka Pintu kamarnya, lalu kembali duduk di ranjangnya.
Pak Galih mendekat, dan duduk di samping anaknya, lalu membelai lembut Rambutnya.
"Udah ya, jangan nangis, Ayah ijinkan kamu pergi sama Sani, soal Ibumu, nanti Ayah yang urus.." Pak Galih berbicara sambil tersenyum hangat kepada anaknya.
"Bener Yah, serius?" Ayu seakan tidak percaya.
"Bener...tapi ada syaratnya?"
Raut wajah Ayu seketika berubah saat mendengar Ayahnya mengajukan Syarat itu.
"Apa syaratnya?" Ayu menyelidik
"Syaratnya, kalian harus hati-hati, berangkat lalu pulang dalam keadaan sehat dan selamat, dan juga, sebelum berangkat nanti, Ayah ingin menyampaikan pesan kepada Sani, untuk selalu menjaga Putri Ayah yang tercinta ini".
"Emmm.....makasih banyak ya Yah..Ayu sama mas Sani bakal hati-hati.."
"Iyaa...sekarang istirahat ya, jangan nangis lagi, dan satu lagi, besok pagi harus naikkan sama ibumu, nggak baik seorang anak bertengkar dengan Ibunya sendiri" Pak Galih mengingatkan Ayu.
Ayu mengangguk tersenyum, lalu mengusap sisa air matanya.
"Besok Ayu bakal minta maaf sama Ibu.."
"Naah ...anak Ayah emang luar biasa" pak Galih meraih lalu memeluk anak Sulungnya.
"Sudah baik, Pinter, penurut lagi," lalu pak Galih melepas pelukannya dan mengusap kepala Ayu.
"Sekarang tidur ya, Papa mau istirahat juga" Kemudian pak Galih mencium pipi Ayu kiri dan kanan.
Ayu tersenyum lepas, terlihat kebahagiaan terpancar dari matanya.
"Sepertinya pipi ini besok dicium sama Sani" Pak Galih berbicara sambil menahan senyum dan melangkah keluar dari kamar Ayu.
Mendengar hal itu, pipi Ayu seketika merah karena malu.
Dia pun segera tidur dengan perasaan lega.
__ADS_1