
"Mas, pertandingannya tinggal 3 Minggu lagi kan?"
"Iya sayang, aku deg-degannya udah mulai dari sekarang".
"Kenapa, kan sudah pernah menang?"
"Iya, tapi itu kan hanya tingkat pelajar se-Kabupaten, kalau yang ini kan Tingkat Umum se-Provinsi"
"Harus Yakin menang donk, jangan grogi hehe..."
"Yang penting berjuang maksimal aja, menang atau enggak, tergantung rejekinya.."
"Iya...emmm...Minggu depan bisa ketemu kan?"
"Bisa kok, seperti biasa kan?"
"Enggak, Ayu pengen ke pantai yang agak jauh"
"Kemana?"
Ayu menyebutkan pantai yang ia maksud, Pantai yang sudah lama ingin kau kunjungi, namun belum kesampaian.
"Waduh ..itu kan jauh dek?"
"Ayu pengennya berangkat pagi, terus pulangnya sorean"
Sani diam sejenak, dia berfikir, kalau berangkat pagi, artinya dia harus ninggalin pekerjaannya.
"Dek..."
"Kalau nggak bisa, nggak usah dipaksain juga.."
Ayu seperti tau apa yang dipikirkan Sani.
"Nunggu dulu ya, kalau pakde, Bude sama Ibu sanggup gantiin jualan, Mas bisa kok"
"Iya, tapi nggak usah dipaksain"
"Enggak kok, semoga aja mereka udah bisa gantiin, ya udah istirahat dulu ya"
"Iya..I Love U mas"
"Hehe I Love U too dek"
Mereka pun mengakhiri percakapan yang mereka lakukan via telpon.
Sani langsung kepikiran hal itu..
"Kenapa dia tiba-tiba ingin ke tempat itu ya, padahal tempatnya nggak bagus-bagus amat.."
"Ah sudahlah, namanya Betina, kadang susah dimengerti ckckck"
Sani bicara sendiri sambil terkekeh, dia sedang menikmati masa bahagianya dengan sang kekasih.
Apapun yang diinginkan pacarnya, berusaha ia turuti, toh selama ini dia nggak pernah minta yang aneh-aneh.
Hari demi Hari berlalu, pakde Damar dan Bude Damar, serta Ibunya sudah mulai lancar berjualan.
Bahkan 2 hari terakhir, Sani benar-benar nganggur di kiosnya, dia menyerahkan pekerjaannya kepada 3 orang tuannya itu.
"Besok Minggu, Sani mau keluar sama Ayu, dia ngajak berangkat pagi, itu artinya malam minggunya aku sudah tidak berangkat ke kios".
"Boleh saja, kita sudah bisa kok menjalankan kios ini, asal kamu ngasih tau harga-harganya, semua lancar kan?"
Pakde Damar merespons penyampaian Sani.
__ADS_1
"Kamu mau kemana San, kok berangkat pagi"
Ibu Sani menanyakan hal itu..
Sani pun menjawab secara terus terang tentang rencananya.
"Yang penting hati-hati, soalnya tempat itu lumayan Jauh"
Bude Wiwik berpesan kepada Sani.
"Iya Bude"
"San, kamu sudah punya uang yang cukup kan, untuk kepentingan seperti itu?"
"Sudah donk pakde, kan sekarang sudah kerja ckckckck"
Sani menjawab pertanyaan pakdenya sambil terkekeh.
"Jangan boros-boros, ingat pesan Bude tempo hari"
"Tenang aja Bude, Aman kok, Sani nggak pernah buang-buang dwit untuk urusan yang nggak perlu"
Mereka tersenyum mendengar jawaban Sani.
Setelah beres-beres, seperti biasa, mereka menyisakan 2 ikat sayur yang akan diberikan kepada pak Hambali dan Nenek diujung kampung itu.
Saat sampai rumah, pakde Damar tidak langsung pulang, dia membantu Sani membersihkan gerobaknya.
Ibu Sani pun menyiapkan 2 cangkir kopi untuk mereka berdua.
Setelah selesai, mereka ngobrol santai di teras rumah Sani.
"San, kalau boleh tau, kenapa kamu selalu memberi Sayur Gratis kepada pak Hambali? Kan dia masih kuat bekerja sendir?..."
"Eh pakde bukan bermaksud melarang, hanya ingin tau saja alasan kamu".
Sebelum menjawab pertanyaan pakdenya, Sani terlebih dulu menghisap sebatang rokok yang baru saja ia linting sendiri.
"Pak Hambali itu Guru Sani, bukan cuma Guru Silat, tapi beliau juga sering menasehati Sani, tentang Adab, Tata Krama dan pesan-pesan kehidupan yang sangat penting.."
Sani kembali menghisap rokoknya, lalu melanjutkan..
"Pelajaran semacam itu, harusnya memerlukan biaya cukup mahal jika aku mencarinya di dalam pendidikan Formal, tapi pak Hambali selalu memberikanku hal itu secara cuma-cuma, jadi sayur itu hanya sebagai bentuk balasan Bhaktiku kepada beliau"
"Itu tidak sebanding dengan apa yang telah ia ajarkan kepadaku selama ini"
Pakde Damar pun manggut-manggut tanda mengerti dengan penjelasan Sani.
"Kamu beruntung memiliki Guru seperti beliau"
Sani hanya tersenyum menanggapi pernyataan pakdenya.
"Tapi...dia juga beruntung memiliki murid yang baik sepertimu"
Sani menunduk sambil tersenyum, dia malu dipuji oleh pakdenya itu.
Dia merasa sangat beruntung hidup diantara orang-orang baik seperti pakde dan budenya, dan juga pak Hambali.
"Dia akan mendampingi mu kan saat bertanding nanti?"
"Tentu saja, tidak ada orang lain yang pantas melakukan hal itu, dan aku juga harus mempersiapkan semuanya, persiapan ini sudah mencapai tahap akhir, aku harus benar-benar tampil maksimal".
"Selama ada beliau mendampingimu, pakde Yakin kamu akan mendapatkan yang terbaik"
"Semoga saja, ini adalah event terakhir yang akan Sani ikuti, jadi Sani ingin benar-benar berjuang semaksimal mungkin".
__ADS_1
Mereka pun menikmati kopi yang sudah di suguhkan ibu Sani.
Dan setelah merasa ngantuk, pakde Damar pun berpamitan untuk istirahat.
"Aku beritahukan kepadamu, aku tidak hamil, kau bisa bernafas lega sekarang..."
Anita berbicara dengan Rindra melalui ponsel nya.
"Bukankah aku sudah berjanji, bahkan seandainya kau hamil, aku akan menikahimu, kau pikir aku tak serius?"
"Yaa, aku percaya, dan kenyataannya tidak seperti itu kan, bukankah kau merasa lega saat ini, kenapa kau tak mengakuinya.."
Rindra diam, dia merasa disudutkan oleh Anita dengan kata-katanya.
"Rindra, aku memaafkanmu atas semua yang terjadi, mungkin ini salahku sendiri...tapi bukan berarti kau bisa berbuat semaumu..."
Rindra masih terdiam, dia bingung mau bicara apa, satu sisi dia memang benar-benar lega dengan kenyataan bahwa Anita tidak hamil.
"Aku hanya ingin berpesan kepadamu Rindra, tidak selamanya kau menemui keberuntungan dalam urusan yang seperti ini, maka sebaiknya kau tak melakukan hal seperti ini lagi kepada orang lain.."
Anita menarik nafas lalu melanjutkan kalimatnya..
"Kau bisa selamat dari aku, tapi suatu saat, bisa saja sebaliknya yang terjadi, dan ingat Hukum Karma itu berlaku sepanjang jaman"
"Tuuuut tuuut tuuut..."
Anita langsung menutup telfonnya, dan Rindra pu terdiam.
Kata-kata Anita yang terakhir telah memukul mental Rindra hingga dia benar-benar diam.
Rindra kembali mengingat pesan pak Hambali tempo hari, bahwa Hukum Karma itu adalah Hukum yang tidak bisa ditawar.
Siapa yang menanam perbuatan, entah itu baik atau buruk, dia pula yang akan menuainya.
Dan yang lebih menyakitkan jika anak atau cucunya yang harus menerima ganjaran dari perbuatan orang tuanya.
__ADS_1
"Ini pelajaran yang berharga, ini tidak akan aku lupakan seumur hidupku, dan aku rasa, aku tidak perlu mengulangi hal bodoh ini"
Rindra berbicara dan berjanji dengan dirinya sendiri tentang apa yang telah ia lakukan sebelumnya.