Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Janji Pak Haris


__ADS_3

"Aku benar-benar tidak menyangka, penjualannya jauh melampaui target, anak itu benar-benar pandai mencari pelanggan"


Pak Haris menggumam sendiri, dia sangat senang melihat kinerja Sani.


"Jono, kesini..!!"


Pak Haris memanggil Jono...


"Iya pak, ada apa?"


"Hubungi Sani, apakah dia dirumah sekarang"


"Baik pak"


Jono pun segera menghubungi Sani.


Dan setelah beberapa saat,


"Pak Haris, Sani sedang dirumah sekarang, apa yang harus saya kerjakan?"


"Kamu pergi ke rumah Sani ya Jon, jemput dia, bawa kesini..!!"


"Untuk apa ya pak, kalau boleh tau?"


Jono penasaran...


Tapi pak Haris tidak menjawab, dan hanya menatap Jono dengan pandangan yang penuh arti..


"B..baik pak, Jono berangkat..."


Pak Haris adalah orang yang ramah, tapi sangat tidak suka apabila ketika perintahnya masih di pertanyakan, itulah alasan kenapa dia tidak menjawab pertanyaan Jono tadi.


Yang dia inginkan adalah Jono segera berangkat mengerjakan apa yang ia perintahkan, bukan kepo dengan perintahnya.


Sebelum berangkat, Jono menyempatkan mengirim pesan kepada Sani supaya dia bersiap-siap.


"Mas Sani, saya disuruh pak Haris untuk jemput mas Sani sekarang juga, mas Sani siap-siap sekarang ya, biar nanti langsung berangkat, ini saya berangkat sekarang"


Setelah itu Jono berangkat.


Sani pun tidak membalas pesan Jono, karena ia tau Jono sudah dalam perjalanan, dia langsung bersiap-siap menunggu kedatangan Jono.


Tak berselang lama, Jono sampai di depan rumah Sani.


"Ayok mas Sani, langsung saja.."


Sani pun langsung ikut Jono tanpa banyak pertanyaan.


Baru setelah berjalan, Sani menanyakan keperluan Jono menjemputnya.


"Kira-kira ada apa ya, kok saya dijemput?"


"Saya juga nggak tau mas, tadi sempat nanya, tapi pak Haris malah menatap saya dengan pandangan ngeri, ya sudah saya langsung berangkat saja"


Sani berfikir,


"Apa ada yang salah ya...? Kok kayak mendadak banget.."


Setelah beberapa menit, Jono dan Sani sampai di pelataran rumah pak Haris.

__ADS_1


Dan terlihat pak Haris sudah menunggu kedatangan Sani disana.


"Selamat siang pak Haris.."


Sani menyapa terlebih dahulu dan menjulurkan tangannya


"Siang juga dek Sani, apa kabar..?"


"Kabar baik pak, pak Haris sendiri bagaimana?"


"Saya juga dalam keadaan baik dek.."


Pak Haris menjawab pertanyaan Sani disertai senyum ramah dan Hangat.


"Kalau boleh tau, ada perlu apa ya pak? Kok saya dijemput kesini, dan sepertinya agak mendadak?"


"Alangkah enaknya kalau kita ngobrol di dalam sambil ngopi.."


Lalu pak Haris menuju ruang tamu, dan diikuti Sani dibelakangnya.


Setelah seorang pembantu menyuguhkan 2 cangkir kopi,


"Silahkan diminum dek kopinya.."


"Terima kasih pak.."


Setelah meminum beberapa seruput kopi, pak Haris mengambil rokok dari sakunya, setelah mengambil 1 batang, pak Haris menyodorkannya ke Sani.


"Ini pasangannya kopi.."


Sani melihat rokoknya juga 234


Sani tanpa malu-malu langsung mengambil sebatang rokok milik pak Haris.


Setelah keduanya menyulut rokok masing-masing, pak Haris pun mulai membuka percakapan.


"Begini dek Sani, seperti yang saya janjikan beberapa waktu lalu, kalau dek Sani mampu menjual dagangan memenuhi target yang saya terapkan, maka saya akan meminjami motor sebagai Inventaris dek Sani..."


Pak Haris menghentikan kalimatnya sejenak, beliau menghisap rokoknya lalu melanjutkan


"Ternyata dek Sani malah melampaui yang saya targetkan, bahkan jauh melebihi targetnya, jadi saya harus menepati janji, untuk menyerahkan motor itu hari ini"


Mata Sani langsung berbinar, wajahnya langsung terlihat sumringah..


"Waah...saya nggak nyangka juga pak hehe..."


"Ayook..sambil diminum lagi kopinya"


"Iya pak.."


"Saya sangat puas dengan kinerja dek Sani, bahkan sayur yang dek Sani jual, itu sudah mencapai seperlima jumlah yang saya setor ke pasar, bukankah itu luar biasa, 1 kios berbanding 1 pasar".


"Teman-teman pedagang yang ngambil sayur dari kios saya, semuanya membantu menyebarkan informasi kok pak, makanya sekarang pelanggannya sudah lumayan banyak"


"Terlepas dari itu, pelanggan juga selalu menilai cara penjual melayaninya, kalau tidak memuaskan, ya pasti kapok, kalau masih mau balik lagi, bahkan menyebar info, berarti mereka puas"


Lagi-lagi pak Haris menghisap rokoknya..


"Artinya, cara dek Sani melayani mereka pun pasti memuaskan.."

__ADS_1


"Hehe...mungkin iya pak.."


"Itu bukan lagi Mungkin, tapi sudah pasti, saya sudah berkecimpung di dunia jual-beli sayur hampir 20 tahun kok, sudah lumayan hafal sama karakter pedagang ataupun pembeli..."


Setelah kopi mereka habis, pak Haris mengajak Sani keluar, menuju motor itu disimpan.


"Ini kuncinya dek, ini STNK nya, semoga bermanfaat ya, dan jualannya semakin laris"


"Pasti bermanfaat pak, dan pasti akan saya manfaatkan semaksimal mungkin..."


Ujar Sani sambil tersenyum lebar.


Setidaknya, dia sudah memiliki pegangan motor sendiri, meskipun bukan miliknya, tapi pak Haris memberi kewenangan untuk menggunakannya.


"Buka cuma untuk jualan saja, ini juga boleh Lo digunakan untuk kegiatan sehari-hari, atau dipakai untuk bonceng pacar ..hehe...bebas, yang penting dijaga dan dirawat dengan baik"


"Hehe iya pak, terima kasih, kalau boleh, saya pamit ya pak.."


"Oh..baiklah, seperti biasa, sayurnya nanti biar diantar Jono"


"Iya pak, saya pamit, mari..."


"Sebentar dek.."


Pak Haris menahan Sani, Sani menghentikan langkahnya.


Pak Haris mendekat, dan menepuk pundak Sani..


"Kalau dalam satu tahun ke depan dek Sani tetap konsisten, atau bahkan semakin naik penjualannya, motor ini akan saya berikan sepenuhnya untuk dek Sani"


"Haaa....serius pak ??"


Sani seakan tidak percaya dengan kalimat pak Haris.


"Apa saya kelihatan bercanda?"


"Wah...terima kasih banyak pak Haris, terima kasih banyak"


Sani kegirangan, dia berkali-kali mengucapkan terima kasih sambil menjabat tangan pak Haris.


Sani pun pamit, dan Haris mengiyakan sambil tersenyum kepada Sani.


Dalam perjalanan, Sani merasa sangat bahagia karena mendapat Inventaris motor yang masih sangat bagus.


Motor matic jeni V*rio itu masih berumur 3tahun di rumah pak Haris.


"Jangankan dipake boncengin Sayur, dipake Boncengin Ayu aja masih sangat layak ini..ckckckck"


Sani cekikikan sendiri di jalan, sambil membayangkan dia membonceng pacarnya menggunakan motor itu.


Setelah sampai di rumah, Sani memarkirkan motornya di halaman samping rumah.


Dia segera mengambil air, sabun dan Lap untuk mencuci motor itu supaya terlihat lebih mengkilap dari sebelumnya.


Setelah Sani selesai mencuci motornya, Jono pun sudah sampai membawa dagangan untuk Sani.


Bersamaan dengan itu, pakde Damar dan Bude Wiwik juga datang ke rumah Sani untuk membantu Sani mempersiapkan semua keperluan untuk berdagang.


Pakde Damar kaget ada motor bagus di samping rumah Sani, dia ingin menanyakan hal itu, tapi dia menghargai Sani, ia menunggu Jono pergi untuk menanyakan hal itu kepada Sani.

__ADS_1


Karena pakde Damar takut Sani tersinggung kalau bertanya langsung di depan orang lain.


__ADS_2