Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Hambali bag. 1


__ADS_3

"Dan pemenangnya adalah, dari sudut biru Hambaaalliiiii...."


"Yeeeee....."


"Huuuuh......."


"Menaaaaang..."


Suara riuh penonton pun langsung bergemuruh.


Mereka sudah bisa menebak hasil dari pertandingan ini.


Hambali tidak terlalu bereaksi, hanya sedikit maju dan mengangkat kedua tangannya.


Dia sendiri sudah sangat percaya diri sejak awal.


Dia bersikap sedikit sombong saat itu, kesombongan yang melekat pada sifatnya anak remaja saat itu.


Saat tim lawan datang mendekati untuk mengucapkan selamat, Hambali menyalaminya, tapi memberikan pandangan yang sengaja meremehkan lawan.


Pertandingan mereka pun tidak terlalu seru, sebab Hambali menang di ronde pertama.


Pertandingan di hentikan setelah Hambali berhasil menjatuhkan lawannya 5 kali.


"Selamat ya, kamu menang lagi.."


Salah satu tim official ya memberikan ucapan selamat kepada Hambali.


"Haaah...itu sudah bisa dipastikan, kenapa semakin lama lawannya justru semakin mudah, ini bahkan jauh lebih mudah dibandingkan tahun lalu..."


"Bukan lawanmu yang mudah, kau memang sudah jauh berkembang dibanding tahun lalu"


Ucap pelatih Hambali.


"Kau memang Hebat Li, tapi seiring kehebatanmu, ternyata kesombongan mulai menyelimuti sifatmu juga"


Lanjut pelatihnya.


"Aku tidak sombong, memangnya aku salah jika bangga dengan kemampuanku? Aku begini juga karena mu, aku bersikap seperti ini untuk menunjukkan betapa hebatnya pelatihku, kenapa kau malah menuduhku sombong?"


Hambali merasa tidak terima jika dianggap sombong oleh pelatihnya sendiri.


Pelatihnya pun hanya tersenyum.


"Bahkan sekarang sudah banyak bicara kepadaku, ini tidak seperti kau yang dulu pendiam dan rendah hati"


Hambali pun diam, dia merasa jengkel dengan pelatihnya sendiri.


Semua hidupnya merasa diatur oleh pelatihnya.


"Setelah lulus SMA, aku tidak akan mengikutimu lagi"


Batin Hambali yang merasa mulai tidak nyaman dengan pelatihnya sendiri.


Sang pelatih pun tahu jika Hambali memiliki Ego yang besar, dia sangat ingin diistimewakan, dianggap anak emas, serta dituruti semua yang ia inginkan.


Wajar saja, Hambali selalu menjuarai semua Pertandingan yang ia ikuti, sejak kelas 2 SMA, Hambali setidaknya sudah memiliki 7 piala tingkat pelajar.


"Mungkin dia sudah besar kepala, dan lupa kalau diatas langit masih ada langit"


Ujar salah satu asisten pelatih kepada pelatih Hambali.


"Yaaa ..maklum, anak muda memang banyak seperti itu"


Jawab pelatih itu sambil memperhatikan Hambali yang saat itu berjalan menuju podium kemenangan untuk menerima Hadiah dan Piala.


"Kau bisa mengatasinya kan?"


Tanya asisten pelatih itu.


"Akan ku coba mendekati dia dengan lebih lembut, mungkin itu satu-satunya cara.."


"Bagaimana jika tidak berhasil?"


Aku yang meninggalkan dia, atau dia yang akan ku buat tidak krasan di dalam latihan yang ku pimpin.

__ADS_1


Pelatih itu merasa sedikit kecewa dengan sikap Hambali yang semakin berani membantah pelatihnya.


Bukan tidak ingin dibantah, tetapi pelatihnya ingin Hambali tetap menjadi orang yang rendah hati, meskipun sudah berada di atas.


Hambali kembali mendekati timnya setelah menerima Hadiahnya, dia mendapat uang pembinaan, Sertifikat serta Piala.


"Kita akan makan bersama kan?"


Hambali bertanya kepada timnya.


Mereka pun saling pandang, lalu..


"Haaahaaahaaa...."


Mereka pun tertawa bersama..


"Kau mau makan dimana Li?"


Tanya pelatihnya.


"Aku ingin menu bebek goreng yang pakai lalapan"


"Hah...kenapa kau tidak mengajak ke restoran, biasanya kau menolak jika diajak ke tempat makan yang kau bilang kurang bersih itu?"


"Sepertinya itu tidak seburuk aku katakan, lagi pula aku sangat lapar sekarang, kita cari warung yang sepi.."


"OK lah...kita berangkat sekarang..."


Mereka pun pergi bersama seluruh timnya menuju tempat yang diinginkan Hambali.


Setelah mereka makan, Hambali diantarkan pulang dengan mobil rombongan mereka.


Saat Hambali turun dari mobil.


"Li, besok kalau masih capek, nggak usah masuk latihan dulu ya, istirahat dulu aja"


"Siap komandan..!!"


Hambali langsung menjawab tegas seraya tangannya Hormat.


"Haaahaaa....dasar kau, dah ya, kita duluan"


Dan rekan timnya berlalu.


Hambali pun masuk ke dalam rumahnya yang tidak terlalu besar itu.


Hambali tinggal berdua bersama Ayahnya, sedangkan ibunya sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya karena penyakit diabetes yang sudah parah.


"Kamu menang lagi?"


Ayahnya bertanya.


"Iya doonk, ini buat bapak"


Sembari tersenyum,Hambali menyodorkan kantong kresek warna hitam kepada Ayahnya.


"Apa ini?"


"Buka saja.."


Setelah dibuka, ternyata bebek goreng beserta nasinya.


Saat makan tadi, Hambali meminta ijin teman-temannya untuk membungkus 1 porsi bebek goreng, yang akan ia jadikan oleh-oleh untuk ayahnya.


"Bapak belum makan kan?"


"Kamu sendiri sudah makan?"


"Sudah pak, itu semua untuk bapak"


"Ini nasinya banyak Li, ini sepertinya nggak habis kalau aku makan sendirian"


"Lhah...aku aja tadi masih minta nambah kok..ckckck"


"Ya beda kan Lii,, kamu masih muda, seusia bapak nafsu makannya sudah tidak sekuat kamu, iso perut juga tidak sebanyak kamu"

__ADS_1


Ayahnya meletakkan bungkusan itu di meja ruang tamu.


Lalu pergi menuju ke belakang.


"Lhah...kok pake piring pak?"


Hambali sedikit kaget karena ternyata Ayahnya mengambil piring.


"Aku makan sebagian saja, nanti sisanya kamu habiskan ya"


"Aku kan masih kenyang pak...."


"Tapi masih mampu menampung kan?"


Tanya ayahnya sambil tersenyum.


"Ya mampu aja sih..ckckckck"


Hambali menjawab ayahnya sambil terkekeh.


Lalu Ayahnya mengambil Nasi, lauk dan sambal yang dibawakan Hambali.


"Sudah pak, itu kan tidak ada setengahnya?"


"Sudah, ini aja bapak sudah kenyang, ini sisanya habisin ya.."


Hambali menatap Ayahnya, dia merasa iba dengan keadaan Ayahnya, setelah siang bekerja di sawah seharian, lalu merumput untuk mencarikan pakan ternak kambingnya, sorenya belum sempat makan karena memang nasi di rumah sudah Habis.


"Ya udah aku makan sekalian aja, kita makan bareng pak"


"Nah, begitu lebih enak kan"


Kata Ayahnya sambil tersenyum.


Mereka pun makan bersama.


Melihat Ayahnya yang lahap memakan Bebek goreng yang ia bawakan, Hambali merasa lega.


"Uang Hadiah ini akan aku ambil beberapa untuk membeli bebek goreng lagi, dan sisanya aku tabung".


Hambali berbicara dalam hatinya.


Setelah selesai makan, mereka membereskan semuanya.


"Kamu mau bapak bikinkan kopi?"


"Ya mau donk pak..hihihi"


Hambali cengengesan mendengar tawaran Ayahnya.


Ayahnya pun menuju dapur, merebus air untuk menyeduh kopi.


Sambil menunggu airnya mendidih, ia sekalian mencuci piring yang ia gunakan sebelumnya.


Hambali pun menuju kamar mandi, badannya yang tadi berkeringat membuatnya tak nyaman.


Akhirnya dia mandi saat itu juga.


Setelah selesai, Hambali kembali ke ruang tamu, Ayahnya sudah menunggu disana.


2 cangkir kopi sudah disiapkan oleh Ayahnya.


"Pak, kita nongkrong di teras saja ya, sambil liat motor lewat"


Ayahnya tersenyum,


"Ayok lah.."


Hambali mengambil tikar, lalu menggelarnya di teras, karena memang mereka tidak memiliki kursi di teras.


Mereka bercengkrama sambil menikmati kopi dan rokoknya.


Melihat hiruk pikuk dunia malam, motor dan mobil berlalu-lalang melintasi jalan depan rumahnya.


"Biarpun hidup kita pas-pasan, asal kita mensyukuri yang ada, dan tidak banyak keinginan, hidup ini rasanya sudah sangat indah"

__ADS_1


Ayah Hambali tiba-tiba berbicara sambil tersenyum lebar.


Hambali yang menatap ayahnya dari samping, merasa trenyuh hingga meneteskan air matanya.


__ADS_2