
Sani bangun dari tidurnya, dia melihat jam di dinding kamarnya, menunjukkan jam 7.
Dia segera bangkit dan bergegas Mandi, selesai mandi ia mencari pak Hambali, rupanya beliau sedang merokok di depan kamarnya.
"Boleh aku lihat hapeku sebentar, aku hanya ingin melihat balasan Ayu saja."
Dia mencoba meminta hapenya.
"Tidak..!!! Selesaikan dulu pertandingannya, atau kita pulang sekarang..!!"
Pak Hambali menjawab dengan tegas dan terlihat serius.
"Ckckckck.....anjiirr...sadis amat, bilang nggak boleh gitu aja Napa, orang aku juga nggak maksa."
"Haahaa...sarapanku sudah ku siapkan, dan kau boleh ngopi, rokok 1 batang, tidak boleh lebih."
"Kalau ngopi sih, masih bisa kutahan, tapi kalau setelah sarapan nggak ngrokok, bisa kecut nih bibir."
"Haaahaaa....makanya, aku memperbolehkan ngrokok, tapi 1 batang aja, kalau banyak-banyak, takut nanti mempengaruhi kekuatan nafasmu."
"Memang seperti itu?" Sani merasa tidak percaya.
"Sebenarnya tidak juga, karena latihanmu sangat berat, bahkan sudah pasti lebih berat dari pertandinganmu, jadi itu tidak akan mempengaruhi mu, tapi aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa nanti."
"Baiklah, aku sarapan dulu."
Setelah selesai sarapan, Sani langsung duduk di samping pak Hambali, dia menyulut sebatang rokoknya.
"Jadwalnya jam berapa?" Sani membuka obrolan
"Opening Ceremony jam 9, dan kamu ada di pertandingan ke 5, mungkin jam 10 atau 11."
"Masih cukup waktu untuk mempersiapkan diri."
"Benar, tapi saat opening, kita harus datang juga."
"Yaaah....masih cukuplah untuk satu batang rokok."
"Bagaimana perasaanmu sekarang?"
Pak Hambali mencari tahu tentang pikiran dan perasaan Sani saat ini.
"Sepertinya aku lebih tenang, aku lebih siap daripada kemarin."
"Baguslah, itu akan membuatmu menjalani pertandingan dengan mudah."
"Semoga saja begitu, Aku ingin bertanding dengan maksimal."
Pak Hambali tersenyum, meskipun apa yang dirasakannya berbanding terbalik dengan apa yang di rasakan Sani saat ini.
"Sepertinya aku sudah tau jawaban dari Firasat ini, tapi aku berharap ini tidak benar, meskipun aku tidak pernah meleset sebelumnya, tapi aku harap kali ini salah..Bagaimana nanti dengan Sani..aku tidak akan tega melihatnya."
Pak Hambali berbicara dalam Hatinya, ada Rahasia besar yang ia sembunyikan dalam hatinya.
"Kenapa mendadak kau melamun? Apakah ada sesuatu?"
Sani tiba-tiba membuyarkan lamunan pak Hambali.
"Eh...tidak, aku hanya teringat masa laluku...melihat dirimu, sama semangatnya dengan diriku saat masih muda dulu."
"Hmmm....tapi menurutku, kau memang hebat, dan jika aku bisa juara disini, itu artinya kau benar-benar hebat."
"Kenapa bisa begitu?" Selidik pak Hambali.
"Jika kau mengalahkan orang lain dengan kemampuanmu, itu hal yang biasa kan? Tapi jika kau mengalahkan pendekar lain dengan ilmu yang kau ajarkan pada muridmu, itu berarti kau telah berhasil, dan Ilmu darimu yang membuat muridmu menjadi Hebat."
"Haaahaaa....kau mengingatkanku dengan cerita pewayangan, dimana Guru Drona mengalahkan Raja Daripada melalui Arjuna, karena Raja Daripada pernah menghina Ilmu yang dimiliki Guru Drona."
"Kau menyukai pewayangan?"
"Tentu saja, aku menyukai karena banyak ilmu yang bisa diambil dari ceritanya."
"Sepertinya akan butuh waktu yang sangat panjang jika aku memintamu menceritakan disini."
__ADS_1
"Haaahaaahaaa....lain waktu saja, setelah pertandingan ini selesai."
"Baiklah..aku akan segera bersiap-siap."
Mereka pun mengakhiri obrolan dan segera mempersiapkan diri.
"Hp Sani tidak bisa dihubungi..!!" Rindra menunjukkan hp nya yang sedang memanggil nomor Sani, namun tidak tersambung.
"Ada apa ya, apa jangan-jangan terjadi sesuatu?" Farhan terlihat panik.
"Sepertinya tidak begitu, coba kau hubungi pak Hambali, mungkin bisa." Uki memberi saran kepada Rindra.
"Jangan, jika hp Sani dimatikan, itu artinya mereka sedang tidak ingin diganggu, mereka sedang fokus. Lebih baik kau tinggalkan pesan saja kepada mereka." Tijar menimpali.
"Sepertinya lu bener Jar, kalau emang gak bisa dihubungi, mungkin mereka memang ingin fokus." Uki merespon Tijar
"Baiklah, aku akan kirimkan pesan kepada mereka, entah siapa nanti yang akan membalas, yang penting kita harus tau dimana lokasi pertandingannya."
Rindra pun mulai mengetik pesan untuk Sani dan Pak Hambali.
"Minta tolong kirim alamat atau share lokasi pertandingannya ya, nanti kita bakal nonton bareng secara langsung finalnya, malam Minggu kami akan berangkat kesana."
"Nomor pak Hambali aktif, langsung 2 centang, sedangkan nomor Sani tidak, masih 1 centang." Rindra memberitahu teman-temannya.
"Sepertinya itu sengaja, mungkin pak Hambali yang menyuruh Sani untuk menonaktifkan sementara hp nya." Uki berpendapat.
"Bisa jadi begitu, gw tau pak Hambali, dia orang yang teliti, sama seperti Sani." Rindra pun menguatkan pendapat Uki.
"Bisa jadi itu memang keinginan Sani, dia sendiri memang ingin Fokus." Farhan menimpali pendapat Uki dan Rindra.
"Bisa juga seperti itu." Ucap Rindra.
"Nanti kita kumpul dimana Jadinya?" Uki bertanya kepada teman-temannya.
"Gimana kalau di Halte aja, biar sama-sama nggak terlalu jauh."
Tijar mencoba memberi usulan.
"OK deh, lu nanti gw jemput aja Han, nggak usah bawa motor sendiri." Uki menimpali
__ADS_1
"Lhah....nggak apa-apa kok, gw udah bisa bawa motor sendiri." Farhan merasa kasihan jika Uki harus bolak-balik ke rumahnya.
Karena jika ke rumah Farhan, Uki memang lebih dulu melewati Halte yang dimaksud.
"Dah lah, lu nurut aja Napa.." Uki menegaskan.
"Iya Han, gw juga belum tega kalau lu kotoran sendiri, supaya aman, biar dijemput Uki aja." Rindra pun memaksa Farhan.
"Ya udah deh, serah kalian, gw nurut aja."
"Menurut lu, Sani bakal Juara nggak?" Tijar bertanya kepada teman-temannya.
"Kalau gw sih Yakin, dia bakal Juara, soalnya gw pernah lihat dia latihan, gila....keras banget, padahal latihan sendiri." Rindra optimis Sani menang.
"Tapi bukankah semua Pendekar memang begitu?" Tijar kembali bertanya.
"Iya, memang semua Pendekar selalu menjalani latihan keras, tapi kecerdasan Sani diatas rata-rata, itu juga menjadi keunggulannya." Uki memuji Sahabatnya itu.
"Nah..iya..bener tuh Uki, mungkin secara kekuatan bisa seimbang, tapi kalau kalah cerdas, bisa kalah tuh lawannya." Rindra kembali menegaskan.
"Sepertinya Sani bakal menang mudah, memang semua Pendekar seperti itu, tapi selain kecerdasan, kekuatan Sani menurut gw lebih unggul dari yang lain, buktinya, Wawan yang dulu langganan Juara kelas pelajar, di bantai juga sama Sani." Farhan pun optimis dengan kemenangan Sani.
"Bener juga sih, lu aja di pukul cuma dengan seperempat tenaga, udah tumbang." Tijar meledek Rindra dengan mengungkit masa SMA nya.
"Bangkeee...lu juga nggak sanggup berdiri." Rindra mencoba membela diri
"Untung aja Sani waktu itu nggak pakai tenaga yang full, coba kalau mukulnya serius, kek nya hari ini gw nggak disini, tapi di makam kalian untuk menanyakan kabar di alam kubur."
Uki meledek Rindra dan Tijar
"Kabar Kubur Boossss...." Farhan menambahkan ledekan.
"Haaahaaa..."
Mereka pun tertawa bersama.
"Sudah siap?" Pak Hambali bertanya pada Sani yang sedang menatap dirinya melalui kaca di depannya.
"OK, semuanya siap." Jawab Sani mantap.
"Kita berangkat sekarang."
Mereka pun berjalan menuju GOR untuk Opening Ceremony.
__ADS_1