Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Hukum Karma


__ADS_3

"Selamat malam pak Hambali"


Rindra menyapa pak Hambali yang berdiri di teras rumahnya.


"Malam juga Rindra, mari masuk.."


Pak Hambali pun mempersilahkan masuk Rindra.


"Silahkan duduk Ndra, tunggu sebentar ya.."


Setelah mempersilahkan duduk, pak Hambali pergi ke belakang.


5 menit kemudian dia kembali membawa 2 cangkir kopi.


"Waduh, jadi ngrepotin pak Hambali nih.."


"Yaaa...begitulah, entah kenapa setiap tamu yang datang kesini selalu merepotkanku..."


"Haaahaaa...."


Mereka tertawa bersama..


"Bercanda Ndra, jangan dimasukin hati"


"Hehe iya pak..Sani jarang kesini ya pak?"


"Yaa, semenjak dia punya usaha, dan memang usahanya sedang berkembang, dia jadi sangat sibuk, jarang kesini..bahkan latihan pun selalu di rumah"


"Dia sangat mandiri ya pak, pola pikirnya luas, dan semangatnya luar biasa"


"Dia memang anak yang membanggakan, aku sangat menyayanginya, seperti anakku sendiri"


"Oh iya..diminum Ndra kopinya, keburu dingin.."


"Terima kasih pak"


"Ngomong-ngomong, ada perlu apa kamu kesini? Sepertinya mendadak banget, tidak memberitahu dulu"


Pak Hambali bertanya sambil menarik sebatang rokok dari bungkusnya, lali menyulutnya.


Rindra pun demikian, sebelum menjawab pertanyaan pak Hambali, dia mengambil rokok dan menyalakannya.


"Ini tentang masalah tempo Hari pak"


"Ow ..bagaimana akhirnya?"


Rindra menghisap rokoknya, lalu menghembuskan kepulan Asap..


"Aku katakan pada Gadis itu, jika dia hamil, maka aku akan menikahinya, jika tidak maka aku meminta maaf padanya, dan aku juga meminta dia melupakan kejadian itu"


Rindra kembali menghisap rokoknya..


"Menurut bapak bagaimana? Apakah yang aku lakukan sudah benar?"

__ADS_1


"Tidak ada kebenaran dalam perbuatanmu Rindra..!!"


Pak Hambali menjawab ringkas dan tegas.


Rindra sedikit kaget dengan jawaban tegas pak Hambali.


"Kau Arogan, kau juga sangat Egois, kau akan menikahi jika dia Hamil, dan hanya meminta Maaf jika dia tidak Hamil, apakah menurutmu Harga Diri seorang Wanita sudah cukup kau tukar dengan permintaan Maaf?"


Rindra terdiam, dia menelaah perkataan pak Hambali.


"Hamil atau tidak, jika kau berani mengambil meniduri seorang Wanita, dan terlebih lagi kau sudah mengambil keperawanannya, maka Pernikahan adalah tebusannya"


Pak Hambali kembali menghisap rokoknya.


"Tapi sisi baiknya, kau berkenan meminta maaf secara terbuka, itu setidaknya menunjukkan keberanianmu, meskipun sebenarnya masih belum cukup"


"Dan terlebih jika dia berkenan memaafkanmu, sepertinya itu sudah menyelesaikan masalahmu"


Rindra pun terdiam dan mengangguk.


"Tapi ada 1 hal yang masih membayangiku pak..."


Pak Hambali menatap Rindra sambil mengerutkan keningnya.


"Dia mengatakan kepadaku, bahwa sekalipun dia telah memaafkanku, ada Hukum yang tak bisa kutawar dengan Maaf..."


"Hukum Karma..!!"


Dia langsung terdiam karena pak Hambali sudah memahami apa yang akan dia sampaikan.


"Hukum itu berlaku sepanjang jaman, dan bisa menimpa siapa saja"


"Lalu aku harus bagaimana pak, jika dia sudah memaafkanku, tapi aku tetap menerima Hukuman, aku bingung harus bagaimana lagi..."


Pak Hambali menghela Nafasnya..


"Tidak ada cara untuk menebus Hukum Karma, itu sebuah Hukum mutlak dari alam semesta ini.."


Rindra sedikit menunduk, dia merasa ada beban berat yang menimpa dirinya.


"Satu-satunya cara untuk mengurangi beratnya Hukuman itu, adalah memberatkan timbangan kebaikanmu..."


Rindra terhenyak kaget, dia kurang mengerti dengan kalimat pak Hambali.


"Apa maksudnya pak?"


"Mudahnya, kau telah membuat kesalahan, dan jika diibaratkan timbangan, maka satu-satunya solusi untuk mengurangi beban dari kesalahanmu adalah dengan cara kau memberatkan timbangan kebaikanmu.."


"Aku masih kurang mengerti pak.."


"Baiklah, begini saja, selama sisa hidupmu, teruslah berbuat baik, kepada siapapun dan kepada apapun, jika berusahalah untuk mengurangi segala perbuatan yang tidak benar..."


Pak Hambali menarik nafasnya..

__ADS_1


"Jika suatu saat, kau sudah banyak melakukan kebaikan selama hidupmu, mungkin itu bisa menjadi alasan semata ini untuk meringankan Hukumanmu"


"Dan lagi pula, Gadis itu sudah memaafkanmu, maka tugasmu sekarang adalah meminta maaf kepada pencipta alam semesta ini dan menebus dengan semua perbuatan baikmu..."


"Dan kau tidak berhak menawar hal itu..!!!"


Rindra mengerri dengan kalimat penegasan dari Pak Hambali, tapi masih ada yang dia pertanyakan..


"Berbuat baik kepada siapapun dan kepada apapun, apa yang dimaksud berbuat baik kepada apapun?"


Pak Hambali kembali mengambil sebatang rokok, lalu menyulutnya, kemudia ia memberi penjelasan kepada Rindra.


"Berbuat baik kepada siapapun, jelas itu kepada manusia lainnya, dan berbuat baik kepada apapun, itu yang terkadang sulit bagi kita..."


"Manusia terkadang memiliki sifat serakah dan Egois, mau mendapatkan semuanya, memiliki segalanya, dan ingin selalu menang sendiri..."


"Jika kau berbuat baik kepada apapun, kau harus menghargai apa saja di alam semesta ini, saat kau membuang sampah pada tempatnya, itu juga salah satu kebaikan, dengan begitu, kau sudah berupaya mencegah pencemaran lingkungan, tapi jika kau sembarangan membuang sampah, selain mencemari lingkungan, itu bisa mengakibatkan datangnya banjir, dan ini akan sangat luas jika aku menjelaskan semua..."


"Itu tadi hanyalah contoh kecil kebaikan kepada apapun.."


"Saat kau melihat tanaman yang akan mati, lalu kau menyiraminya setiap hari hingga segar kembali, itu juga salah satu kebaikan terhadap apapun"


"Menyelamatkan semut yang sedang tenggelam dalam air juga merupakan kebaikan, jika aku menjelaskan semuanya, tidak cukup waktu semalaman ini"


Rindra manggut-manggut, tanda mengerti..


"Aku sudah paham dengan semua yang kau sampaikan, intinya, Hukum Karma itu tetaplah berlaku sekalipun sudah dimaafkan, dan untuk mengurangi beratnya Hukuman itu, aku harus melakukan banyak kebaikan selamanya, begitu bukan?"


"Dan kau juga harus mengurangi perbuatan jahatmu Rindra, jahat terhadap siapapun, jahat terhadap apapun, atau bahkan jahat terhadap dirimu sendiri..."


"Jahat terhadap diri sendiri? Apalagi maksudnya?"


"Haaahaaa....tenanglah Rindra, minum sisa kopimu, hisaplah rokokmu, kita berbicara dengan santai saja, tidak perlu tegang..."


Rindra pun meminum sisa kopinya, lalu mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.


"Kau mau kubuatkan kopi lagi?"


"Eee...sepertinya tidak perlu, aku takut tidak bisa tidur nanti"


"Kau yakin, ketika kita mulai membahas tentang ilmu kehidupan, kau akan menikmati dan tidak ingin segera mengakhirinya..."


Rindra pun terdiam, waktu masih menunjukkan pukul 19.36, dan jika butuh waktu lama, jelas kurang lengkap jika tidak ada kopi.


"Sudahlah, tunggu sebentar, aku buatkan lagi, aku sendiri juga ingin menambah untuk diriku sendiri, karena aku juga tidak ingin menjahati diriku sendiri"


Dengan tersenyum, pak Hambali membawa cangkir bekas kopi mereka ke dapur untuk membuat kopi lagi.


Rindra pun menunggu sambil memikirkan kata-kata "Jahat terhadap diri sendiri", dia benar-benar tidak mengerti dengan maksud pak Hambali.


"Sepertinya ini akan menjadi ilmu baru, aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini, meskipun aku bisa sewaktu-waktu menemui pak Hambali, tapi belum tentu dia mau memberikan ilmu kehidupan semacam ini"


Rindra berbicara sendiri sambil menunggu pak Hambali yang sedang membuatkan kopi untuknya.

__ADS_1


__ADS_2