Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Kita Semua Mengaguminya !!!


__ADS_3

Dini hari, setelah Sani mempersiapkan semuanya, pak Bandung pun tiba.


Lalu Sani segera memasang pengait ke motor pak Bandung.


Setelah beres, mereka pun berangkat menuju kios Sani bersama-sama.


"Pak Bandung, Kemarin jualan Sani kan sudah lumayan laris, Nanti pak Bandung terima ya uang dari Sani"


"Tidak usah Nak Sani, uangnya ditabung saja"


"Baiklah kalau Nak Sani memaksa, kita buat kesepakatan, mulai sekarang Nak Sani harus bayar saya 50ribu per bulan, jadi Nak Sani cukup bayar sekali dalam sebulan, gimana?"


"OK deh, Sani setuju!!"


"Nah...begitu kan lebih enak, biar nggak tawar-menawar terus"


"Hehe iya pak"


Setelah sampai di kiosnya, Sani segera menata semua dagangannya, dan membuka kiosnya.


Lalu dia menyulut sebatang rokoknya sambil menunggu pembeli datang.


Dan benar saja, tidak lama kemudian ada sesorang pedagang keliling yang berhenti.


"Itu kan..." Sani bergumam.


Pedagang itu turun dari motornya, lalu mendekat ke arah Sani..


"Mas, Saya minta maaf ya atas kejadian kemarin, saya sengaja mau curang"


"Owh..iya mas, nggak apa-apa, kan sudah ditengahi sama bapak yang kemarin"


Ternyata itu adalah pemuda yang kemarin hendak berbuat curang, dia datang lebih awal untuk meminta maaf, agar belum banyak pedagang yang datang.


"Iya mas, makasih ya...ini saya boleh belanja lagi disini?"


"Ya bolehlah, kemarin juga masnya belum sempat saya kasih bonus"


"Wah, terima kasih banyak ya mas, sudah ketahuan berbuat curang, masih dikasih bonus"


"Sudahlah mas, lupain saja, asal nggak diulang lagi"


Pedagang itupun tersenyum mengangguk, dan tiba-tiba...


"Hei... kamu mau curang lagi ya, datang kesini lebih awal, jangan aneh-aneh kamu..!!"


Ternyata bapak yang kemarin menegur itu juga sudah datang.


"Enggak kok pak, masnya sudah minta maaf tadi"


Sani berusaha menengahi agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara mereka.


"Naaah...begitu bagus, cari rejeki yang baik-baik dong, jangan curang"


"Hehe iya pak, sudah, nggak usah dibahas lagi, silahkan pak mau belanja apa, semuanya masih segar ini"


Ucap Sani.


"OK, mungkin sebentar lagi yang lain juga pada datang, bapak juga sampaikan kepada yang lain soal jualanmu ini, gampangnya, bapak bantu promosikan lah hehe"


"Waahh...terima kasih banyak ya pak, sudah dibantu, jangan khawatir, nanti ada bonus lagi untuk bapak"


"Walah, ndak usah setiap hari dikasih bonus, nanti profitnya berkurang ckckck"


Ucap bapak itu sambil terkekeh.


"Nggak masalah pak, berkurang cuma hari ini pak, besok bisa tambah karena pelanggan saya pasti bertambah, soalnya udah dipromosikan"


"Kalau mempromosikan bisa dapat bonus, aku juga mau mempromosikan"


Pedagang muda itupun menyahut.


"Ya Harus donk, itung-itung buat Nebus dosa kamu yang kemarin"


Timpal bapak pedagang yang satunya.


"Haaahaaahaa..."


Mereka pun tertawa bersama.


Setelah selesai berbelanja, mereka berdua pergi, tak lama kemudian para pedagang yang lain juga berhenti di kios Sani.


Tak kurang dari 9 pedagang yang berbelanja di lapaknya Sani.


Dan dari kejauhan, sepasang mata sedang memperhatikan keadaan kios Sani, dia adalah pak Haris.


"Baru beberapa hari buka, sudah sedemikian larisnya, sepertinya bakal bagus jangka panjangnya"


Pak Haris bergumam sendiri.


Setelah puas mengamati keadaan kios Sani, pak Haris pun pergi, kembali ke rumah untuk menata rencana kerjasama dengan Sani.


"Sepertinya ini akan menjadi jalan baru pengembangan usahaku dan usaha anak itu, aku harap anak itu benar-benar jujur seperti yang dikatakan pak Bandung"


Pak Haris berbicara sendiri sambil mengendarai motornya.


"Aku bisa memberi fasilitas lebih kepada anak itu, agar semuanya menjadi lebih mudah dan lebih baik"


__ADS_1



Sore saat Farhan hendak dibawa pulang.



"Nak Rindra, terima kasih banyak ya Nak, sudah menolong kami sekeluarga...."



"Bapak bingung mau ngomong apa lagi..."



"Sudahlah pak, tidak perlu dipikirkan...mobil Rindra sudah saya bawa masuk, Farhan pulang dengan mobil Rindra hari ini"



"Astagaaa...Nak, bapak nggak mau merepotkan terus, jangan..."



"Ini kemauan Rindra kok, jadi tidak repot"



Rindra memotong kalimat Ayahnya Farhan, dan berbicara sambil tersenyum.



"Wuih ..horang kayah mah bebas, bebas langsung pegang mobil ckckckck"


Farhan menyahut dari dalam.



"Bisa aje lu wkwkkwk"



"Dah lah, gw bingung gimana mau ungkapin, pokoknya terima kasih banyak Ndra, lu udah bantu gw sebanyak ini"



"Heheh....Lu masih temen gw kan ?"



"Wkwkwkwkwk anjiirrr....dah, bantu gw yuk, pengen cepet sampe rumah gw"




Farhan pun dibawa pulang, dalam perjalanan pulangnya, Rindra menceritakan Sani yang sudah memulai usahanya kepada Farhan.



"Gw udah kalah beberapa langkah dibandingkan Sani"



"Emang lu doank, gw juga Han, gw malah ketinggalan ribuan langkah dibandingin dia..!!"



"Haaahaa, kita masih harus kuliah, mikirin tugas, bayar pula, Eh dia malah udah kerja, usaha sendiri lagi"



"Tau deh, tuh anak otaknya kapasitas berapa ya kira-kira, bisa seluas itu pemikirannya"



Mereka berdua sangat salut dengan langkah yang diambil oleh Sani, mereka selalu memuji Sani atas apa yang Sani kerjakan selama ini.



"Kata dokter, butuh berapa bulan kaki lu bisa pulih total?"



"Mungkin 6 sampe 8 bulan"



"Terus, kuliah lu?"



"Bodo amat Ndra, kalau udah kek gini, gw fokus penyembuhan dulu, kalau gak memungkinkan, gw mau minta diajarin Sani buat buka usaha sendiri"



"Lu tertarik juga ya, buka peluang usaha sendiri?"



"Iyalah, sekecil apapun itu, kalau usaha sendiri, kita sendiri yang punya kewenangan penuh mengatur jalannya usaha"

__ADS_1



"Gw sebenernya juga gitu Han, pengen buka usaha sendiri, tapi kan gak mungkin, karena udah ada perusahaan bokap yang harus gw lanjutin nantinya"



Rindra menghela nafas sejenak,



"Lu kalau butuh kerja, bilang ke gw aja nanti, bisa kok gw atur"



"Haaahaaa okelah, gw nggak perlu kuliah kalau gitu"



"Haaaahaaa \*\*\*\*\*\* lu...."



Tak terasa mereka sudah sampai di depan gang masuk ke rumah Farhan, saat hendak masuk ke halaman rumah



"Itukan Uki Ndra, kok sudah ada disini?"


Farhan keheranan.



"Iya tuh, kok tau kalau kita udah pulang"



Uki lari mendekati mobil, membantu Rindra yang hendak menggendong Farhan.


Ayah dan Ibu Farhan juga sudah sampai rumah duluan.


Setelah sampai di dalam rumah, mereka duduk di ruang tamu.



"Ki, kok lu tau gw dibawa pulang Rindra?"



"Gw tadi udah sampe depan ruangan lu dirawat, terus dikasih tau petugas disana kalau lu baru aja dibawa pulang, ya udah gw langsung kesini"



"Haaahaaa...lu nggak nelpon dulu sih"



"Wkkwwk iya juga sih"



"Rokok mana rokoook, gw udah berhari-hari nggak menghisap nih"



"Ckckckkck rasain...nih, mau lu abisin sekalian juga bolah..!!


Rindra melemparkan rokoknya ke arah Farhan.



Mereka bengcengkerama kesana kemari, dan ujung-ujungnya, mereka membahas Sani lagi.



"Kalau boleh jujur sih, gw kagum banget sama dia"


Uki menyatakan kekagumannya pada sahabatnya itu.



"Ya sama donk..!!"


Farhan menimpali.



"Kita semua mengaguminya"


Rindra pun menyatakan hal yang sama.



Menjelang gelap, Rindra dan Uki pamit dari rumah Farhan.


Keluarga Farhan pun menyampaikan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada Rindra yang sudah banyak membantu mereka.



Lalu Uki dan Rindra pun meninggalkan kediaman Farhan.

__ADS_1


__ADS_2