Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Janji sebagai Laki-Laki


__ADS_3

"Sekarang cepat katakan, apa yang kau inginkan..!!"


Anita segera memerintah Rindra ketika melihat makanannya sudah habis.


Rindra kemudian mengambil minumannya, lalu dengan santainya mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.


Anita terlihat sangat jengkel melihat kelakuan Rindra.


"Baiklah, aku akan memulainya..."


Anita menunggu dengan perasaan sedikit penasaran, apa yang sebenarnya ingin dia katakan.


"Anita, tentang kejadian di Hotel itu, Aku ingin Meminta Maaf padamu..."


Kemudian Mereka terdiam cukup lama.


"Aku mengaku bersalah kepadamu, aku memanfaatkan dirimu dalam kesempatan ini"


"Maaf kau bilang? setelah kau hancurkan aku dalam satu malam, kau hanya meminta Maaf, kau pikir itu hal kecil, kau pikir itu urusan yang ringan?"


"Aku tau Anita, lalu...jika kau tidak menerima permintaan maafku, apa yang kau inginkan?"


"Owh...kau menanyakan keinginanku, apakah jika aku mengatakan keinginanku kau akan sanggup memenuhinya?"


Anita menarik nafas panjang..


"Apakah kau benar-benar akan menyanggupi semua penebusanmu yang aku kehendaki, jaga bicaramu Tuan Rindra, jangan kau berbicara seolah-olah kau bisa melakukan apapun yang kau di dunia ini"


Rindra sebenarnya sudah mulai emosi mendengar suara yang keluar dari mulut Anita, tetapi dia menahannya.


"Lantas, apakah masalah ini bisa dianggap selesai tanpa aku harus meminta maaf padamu?"


Rindra sedikit melotot ke arah Anita.


"Kau yang seharusnya menjaga bicaramu, karena jika aku mau, aku bisa saja melupakan masalah ini semauku, karena bukan aku yang rugi, tapi sebenarnya kau lah yang dirugikan dalam hal ini"


Rindra semakin menunjukkan Emosinya


"Tidak perlu berlagak seperti orang hebat, Nona Anita, aku bisa saja pergi ke luar negeri untuk meninggalkan masalah ini, dan kau, kau bisa benar-benar hancur jika benih yang kutanam di rahimmu itu benar-benar tumbuh"


Anita bagaikan disambar petir, matanya langsung berkaca-kaca, dia sendiri tidak pernah membayangkan jika dirinya sampai hamil dan Rindra benar-benar pergi.


"Ndra...jangan Ndra...jangan pergi, aku tidak tahu apakah benih ini berbuah atau tidak, tapi aku mohon jangan pergi, kalau sampai ini benar-benar terjadi, dan kau benar-benar pergi, Aku....Aku bisa..."


Anita tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, dia sudah menangis tersedu-sedu.


Rindra yang awalnya Emosi, mendadak luluh melihat tangisan Anita.


"Mungkin pak Hambali benar, jika cinta itu bisa tumbuh bersama jalannya waktu"


Rindra membatin, karena saat itu dia sangat kasihan melihat keadaan Anita yang sedang menangis.

__ADS_1


Kemudian Rindra memindahkan tempat duduknya disamping Anita, dia meraih kepala Anita dan memeluknya.


"Tenanglah Anita, itulah alasanku mengajakmu bertemu disini, aku ingin menyelesaikannya..."


Anita merasa nyaman berada dalam pelukan Rindra, dia masih menangis sesenggukan di dada Rindra.


Setelah dia bisa mengendalikan diri, Anita melepaskan diri dari pelukan Rindra.


"Lalu..lalu apakah penyelesaian mu hanya sebatas minta maaf?"


Rindra mengerutkan keningnya,


"Lantas, apa yang kau mau?"


"Pernikahan..!!"


Bagai disambar petir, Rindra terperanjat kaget mendengar hal itu, mulutnya menganga tanda ia tak percaya.


Kemudian dia menjauhkan dirinya dari Anita.


"Kau meminta pernikahan? Apa kau yakin kau pasti hamil karena kejadian itu?"


"Apakah jika aku tidak hamil, kau bisa meninggalkanku semaumu sendiri? hah?"


Anita mulai emosi, matanya mulai berkaca-kaca lagi.


Sedangkan Rindra mencoba untuk tenang..


Rindra balik menyerang Anita.


"Apakah datang kepadaku dengan niat baik? Apa kau mendekat dengan membawa ketulusan?"


"Aku ingin bertemu dan menyelesaikan ini dengan kerelaan masing-masing Anita, bukan untuk mencari atau memberi kemenangan di salah satu pihak"


Anita kembali terdiam..dia bingung, dia masih belum bisa membayangkan jika Rindra pergi, dan ternyata dirinya benar-benar hamil.


"Lantas, apa sebenarnya kau inginkan Rindra?"


"Sudah aku katakan, aku ingin meminta maaf padamu.."


"Itu bukan sebuah keadilan untukku..!!"


Anita mulai kembali emosi.


"Baik, kita buat kesepakatan, jika kau benar-benar Hamil, maka aku akan menikahinya, itu janjiku sebagai seorang laki-laki, tapi jika tidak, sebaiknya kau tidak pernah menampakkan dirimu di hadapanku"


"Dengan perbuatanmu yang telah mengambil segalanya dariku, kau akan pergi begitu saja jika aku tidak hamil? Kau pikir dunia ini berada dalam aturanmu? hah?"


"Anita, ingat-ingatlah dulu, siapa yang pertama kali menggodaku, kenapa ini bisa terjadi, dan lagipula, kaulah yang memerintahku untuk melakukan apapun atas dirimu"


"Kau yang memaksaku mengatakannya..!!"

__ADS_1


"Apa kau punya bukti?"


Anita langsung terdiam, dia memang tidak bisa membuktikan apapun, meskipun apa yang dikatakannya adalah kejadian yang sebenarnya.


"Rindra...kau..."


"Aku sudah berusaha berbaik hati padamu, Anita.."


Rindra menghisap rokoknya, lalu melanjutkan..


"Aku tidak bisa melakukan lebih, jika kau tidak sampai hamil, sebaiknya kau lupakan kejadian itu, karena jika bukti rekaman kata-kata perintahmu itu aku sebarkan, kau yang akan malu"


Bagaikan disambar petir, Anita lemas tidak berdaya, dia tidak menyangka bahwa Rindra sudah mempersiapkan rencananya dengan matang.


"Aku kira kau sudah paham maksudku, Aku harus pergi sekarang.."


Rindra melangkahkan kakinya, namun saat berada di depan kafe, ia menghentikan langkahnya


"Kau bisa saja menyuruh pria lain untuk menghamili mu Anita, dan kau bisa menuntut pernikahan yang aku janjikan, tapi jika sampai itu terjadi, kau tidak akan menemukan pernikahan, bahkan kau tidak akan pernah menemukan dimana aku berada..!!!"


Rindra pergi meninggalkan Anita sendirian di kafe itu, dia menangisi keadaannya.


Setelah cukup lama dia menangis, akhirnya dia bisa menenangkan diri, dan pergi dari kafe itu.


Dalam perjalanan pulangnya, Rindra sempat meneteskan air matanya, dia menyesali kejadian ini, dia menyesali apa yang dia lakukan.


Sedang Anita sendiri belum benar-benar bisa menghentikan tangisnya.


Hingga sampai rumah, Anita langsung masuk dan mengunci kamarnya.


Dia menerawang jauh, dan mengingat semuanya.


"Mungkin Rindra ada benarnya, salahku juga kenapa dulu aku menggodanya, salahku sendiri kenapa terlalu terobsesi dengan kekayaannya"


Anita mengucap lirih penyesalannya.


"Dia berjanji akan menikahi ku jika aku hamil, sepertinya dia tidak benar-benar biadab, seperti yang ku katakan, dalam hal ini, setidaknya aku bisa lega"


Dia menarik nafas dan menghembuskannya..


"Dan jika tidak hamil, akan ku anggap ini sebagai akibat dari kenakalanku sendiri"


Anita sudah sedikit tenang, dia berusaha menerima semuanya.


Rindra sangat bersalah, tapi kesalahan Rindra dimulai dari perbuatan Anita sendiri.


"Jika memang berjodoh, dia pasti menikahi ku, dia sudah berjanji sebagai lelaki, tapi jika tidak, aku akan berusaha memaafkannya, aku juga harus memaafkan diriku sendiri"


Ada sebab, ada akibat..itulah yang sedang dialami Anita saat ini, meski dia hancur, tapi dia berusaha mencari kesalahannya sendiri, karena jika bukan karena salahnya sendiri, semua ini tidak akan terjadi.


Dia berusaha tegar dan tenang, hingga ia tertidur dengan kelegaan dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2