Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Apa yang kau Ingat ??!!


__ADS_3

Setelah beberapa hari kemudian.


"Sayang udah pulang?"


Ayu menghubungi Sani melalui WhatsApp menanyakan kabar Sani saat ini.


Setelah menunggu hampir 20menit, akhirnya Sani membalas pesan dari pacarnya itu.


"Sudah dek, maaf ya, nggak bisa langsung bales chat kamu, tadi harus bersihin gerobak dulu soalnya"


"Iya sayang, nggak apa-apa, sudah makan?"


"Sudah, kamu bawa bekal kan?"


"Iya mas, selalu bawa, lebih suka masakan dari rumah daripada beli di warung"


"Iya sayang, itu malah lebih terjamin kebersihannya, Mas dulu malah cuma singkong bekalnya hehe"


"Hehe bekal singkong, tapi otaknya jenius, Ayu tiap hari makan bergizi, nggak pinter-pinter juga wkwkwk"


"Pinter kok, kamu pinter merebut perasaanku wkwkwk"


"Uluh-uluuuh....gombal...emmm udah kangen sama aku belum?"


Ayu bertanya sambil memberi emot menutup mulut.


"Hehe nanti malam mau jalan-jalan lagi?"


"Ya maulaaaaah...akunya kan udah kangen beraaaatttt wkwkwk"


"Hmm...kangen jalan-jalan, atau kangen yang lain? Hihihi"


"Iiiihh...mas apaan sih...ya kangen semua lah wkwkwk"


"Ya udah, nanti malam aku kesana ya"


"Iya sayang, kan ku tunggu kedatangan pangeranku...ciieeeee....wkwkwkkwk"


"Prreett ah...Mas istirahat dulu ya sayang"


"Iya mas"


Ayu memberi emot senyuman dan ciuman kepada Sani.


"Belajar yang rajin ya,, I Love U..."


"I Love U too"


Mereka pun mengakhiri percakapan mereka dengan kata cintanya.


Sore hari, saat Sani mempersiapkan sayur dagangannya bersama pakde, bude dan Ibunya, Sani meminta ijin meminjam motor pakdenya


"Pakde, nanti malam nggak keluar kan, motornya mau Sani pinjem"


Sambil nyengir Sani memandangi pakdenya.


"Hmmm...ambil sendiri"


Pakde merespons sambil tersenyum.


"Ehem....kerjanya yang rajin, kelihatannya sudah ngebet aja"


Bude Wiwik meledek Sani.


"Hmmmmh....sepertinya bakal cepet punya menantu ini"


Ibunya Sani pun menimpali.


"Haaahaaahaa"


Mereka bertiga terbahak-bahak, sedangkan Sani hanya senyum sambil garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.



"Kemana Sayang, kok tumben dandan rapi, wangi pula?"


Bu Sulastri bertanya pada anaknya yang kelihatan beda dari biasanya.



"Kamu bilang belum punya pacar?"


Pak Jaya pun berusaha mengkonfirmasi Rindra.



"Hmm...Rindra belum punya pacar, dan Rindra dandan Rapi...itu berarti Rindra ingin mencari kekasih haaahaa"


Rindra menjawab pertanyaan kedua orang tuanya dengan sedikit candaan.



"Jangan jadi playboy kampungan..!!


Tiba-tiba pak Jaya menusuk Rindra dengan kata-kata.


Sedangkan ibunya hanya tersenyum.



"Oh...No, Rindra tidak akan menjadi playboy kampungan, karena lebih baik jadi Playboy perkotaan ckckckck"



"Dasar anak nakal..!!


Pak Jaya jengkel dengan bahasa anaknya.



"Dah ah, Rindra berangkat dulu"

__ADS_1



"Hati-hati Nak, jangan pulang larut malam"



"Enggak kok Ma, paling juga pulang pagi"



"Haaahaaahaa"


Pak Jaya malah terbahak-bahak mendengar jawaban anaknya itu.



"Kamu ini yaaa..!!"


Bu Sulastri terlihat melotot ke arah Rindra.



Kemudian Rindra keluar rumah lalu melaju dengan Mobilnya.



"Jangan sampai Rindra hobby main Wanita, Mama nggak suka dia seperti itu"



"Iyaaa...besok pagi kalau sudah pulang Papa nasehatin tu anak"



"Apa dia beneran pulang pagi ?!!!"



"Ya nggak tau juga"



"Haaah...ini bapak sama anak nggak ada bedanya"


Bu Sulastri terlihat kesal dengan suaminya, dan masuk ke kamar.



"Ting Ting Ting"


Hp pak Jaya menerima pesan masuk.



"Rindra bakal pulang pagi Pa"


Membaca pesan itu, sebenarnya pak Jaya sedikit kesal juga, tapi ia tidak mau menasehati anaknya melalui pesan handphone.



Begitulah balasan pak Jaya.



Sani dan Ayu sudah berada di kafe pinggir pantai, mereka berjalan gandengan tangan di tempat yang sebelumnya pernah mereka kunjungi.


"Sayang, apa yang kamu ingat dari tempat ini?"


Sani bertanya kepada Ayu yang saat itu digandeng tangannya.


"Emmm...Mas dulu, apa yang diingat?"


"Kalau aku siiiiih...Emmm...kamu pernah nggak bisa bernapas, padahal nggak di dalam air"


Sani bicara sambil menahan senyumnya.


"Iiiihh....apaan sih"


Ayu mencubit perut Sani.


"Aduuhh....ckckckck"


Sani mengaduh sambil terkekeh, lalu Sani menarik Ayu ke dalam pelukannya...


"Katakan sejujurnya, kamu kangen aku, atau cuma kangen dengan bibirku?"


Sani bertanya sambil melekatkan kedua dahi mereka, bahkan hidung merekapun saling bersentuhan.


"Maaassss, jangan gitu donk, jangan bikin Ayu malu..."


"Kenapa malu, kamu memang menginginkannya bukan?"


Ayu menghela nafas sejenak,


"Hmmmh...apakah setiap orang pernah kecanduan dengan sebuah ciuman?"


"Mungkin tidak, tapi yang pasti kamu adalah salah satu orang yang ketagihan itu, dan juga aku"


Ayu tersenyum, kemudian ia memejamkan matanya, dan Sani pun tau dengan maksud Ayu..


Perlahan, Sani mendekatkan bibirnya ke arah bibir Ayu, namun ia berhenti saat sudah berada tepat di depan bibir Ayu.


"Aku mencintaimu, Zaiyu"


"Aku juga mencintaimu, Sani"


Kalimat itu terucap sangat pelan dari bibir mereka, sebelum akhirnya bibir mereka bertemu.


Mereka saling memagut pelan, seperti orang yang belum pernah berciuman, mereka hanya saling berciuman di area luar bibir.


Sani menghentikan sejenak moment itu, dia mundur, lalu memandang mata Ayu.

__ADS_1


"Kamu benar-benar cantik"


Begitulah kata-kata Sani sebelum akhirnya ia kembali melekatkan bibirnya ke bibir kekasihnya itu.


Semakin lama, mereka semakin terbawa suasana.


Cinta, kasih sayang, kerinduan serta nafsu sudah mulai mengendalikan pikiran mereka.


Lidah Sani mulai mencoba menerobos bibir Ayu, dan Ayu pun menyambutnya.


Akhirnya lidah mereka saling terpaut.


Mereka benar-benar sudah dikuasai oleh nafsunya.


Tidak ada seorangpun di sekitar mereka, hanya suara deburan ombak yang menyaksikan pelepasan rindu dua insan ini.


Tangan Ayu mencengkeram kuat jaket Sani, karena suasana sudah sangat memanas, dan keduanya sudah terlalu menikmati.


Lalu tanpa sadar, tangan Sani menyentuh gumpalan di dada kekasihnya itu, dia meremas secara perlahan.


Ayu awalnya sangat menikmati moment itu, namu sesaat kemudian dia mundur dan mendorong tubuh Sani menjauh.


"Mas, jangan melampaui batas mu..!!


Ayu berkata sedikit memelas, wajahnya terlihat marah sekaligus menyesali keadaan itu.


"Maaf sayang, aku nggak sadar, aku...aku...aaargh"


Sani berbalik arah dan berlari menjauhi Ayu.


"Mas..!!"


Ayu berlari mengejar Sani.


Kemudian Sani berhenti dan duduk di sebuah papan ada disana.


Dia menunduk, lalu menangis.


"Maasss..."


"Maafin aku Yu, aku khilaf, aku terbawa Nafsu"


Tangisan Sani terdengar oleh Ayu.


"Maaassss....maafin Ayu ya kalau menolakmu dengan kasar, Ayu hanya takut kita kebablasan.."


Ayu mencoba menenangkan Sani, karena Ayu mendengar cara bicara Sani sudah berubah.


Dia mendekat lalu memeluk kepala Sani.


"Ayu bukan nggak mau, tapi hanya takut kalau kita benar-benar lepas kendali"


"Kita pulang saja, aku nggak mau terjadi apa-apa denganmu"


Ayu lalu melepas pelukannya, dia mendongakkan wajah Sani lalu mengusap air mata Sani.


"Tenangin perasaanmu dulu mas"


"Aku nggak mau mengecewakanmu"


"Kalaupun terjadi sesuatu, itu pasti juga salahku, karena aku juga menikmatinya"


Sani terdiam, lalu Ayu menarik Sani agar bangun, lalu memeluknya.


"Berjanjilah, kita tidak melebihi ini?


Lalu Sani mengangguk.


Kemudian Ayu yang duluan menempelkan bibirnya ke bibir Sani sejenak, lalu melepasnya lagi.


"I Love U"


Ucap Ayu.


"I Love U too"


Lalu merekapun berciuman dengan ganasnya.


Kemudian Ayu menarik tangan Sani, dan meletakkan di Dadan, tepat di gumpalan itu tadi sambil berbisik.


"Jangan sampe kelewat batas"


Sani pun mengangguk lalu meremas pelan gumpalan itu, namun semakin lama semakin kuat.


"Ahsssh..."


Ayu mendesah, melepaskan ciuman itu, lalu mereka berdua memandangi tangan Sani yang berada di dada Ayu, kemudian mereka beradu pandang.


Lalu mereka melanjutkan ciuman itu dalam keadaan semakin panas, hingga mereka benar-benar lupa dengan keadaan.


Mereka baru menghentikan moment itu ketika ada ombak yang menyapu kaki mereka.


"Mungkin sudah saatnya kita pulang, ini sudah ada yang mengingatkan"


Ucap Sani sambil memandangi ombak yang kembali ke tengah laut.


Ayu tersenyum, lalu berkata..


"Mas nggak marah kan?"


Sani hanya menggelengkan kepalanya, kamulah yang seharusnya marah.


Ayu segera memeluk Sani,


"Aku mencintaimu"


"Aku pun demikian"


Begitu jawaban Sani.


Lalu merekapun bergegas menuju motornya terparkir, dan segera kembali ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2