Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Kehidupan Baru


__ADS_3

Sani pulang dan menyampaikan semuanya pada pakde Damar,


"Begitulah alasan pemilik tanah melarang kita menyewa tanah itu"


"Ada untungnya juga sih San, kita bisa menghemat pengeluaran, tapi kalau sewaktu-waktu disuruh pindah, padahal pelanggan belum banyak, itu juga bisa jadi masalah nanti"


"Iya pakde, tapi Sani udah keliling kemana-mana, dan cuma tempat itu yang paling strategis, soalnya jalan itu jalan alternatif yang menghubungkan pusat kota"


"Ya sudahlah kalau begitu, kita ambil saja, soal nanti kita pindah kemana ketika diminta pergi, dipikir sambil jalan saja"


"Iya pakde"


Pungkas Sani.


Mereka memutuskan untuk membangun lapak non-permanen di pinggir jalan yang telah dipilih.



"Ki, temanmu Sani itu kuliah juga?"



"Sepertinya tidak pak, beberapa waktu yang lalu aku sempat tanya, katanya dia pilih buka usaha kecil-kecilan"



"Kenapa nggak mau kuliah, padahal pakdenya kan mampu membiayai kuliahnya?"


Ayah Uki terlihat heran



"Banyak hal yang dipertimbangkan, salah satunya, dia nggak bisa jauh-jauh dari ibunya, dia ingin terus bisa mendampingi ibunya"


Uki menghela nafas sejenak



"Sani bukan seperti anak kecil yang ingin selalu berada di gendongan ibunya, tapi yang paling dia takutkan adalah kehilangan Ibunya, itu alasan utama dia gak mau Kuliah"



"Hmmm.....dia memang anak yang berbakti"


Ayah Uki menanggapi sambil manggut-manggut.



"Rindra, kalau kamu memang ingin kuliah di luar negeri, Ayah mendukungmu, tapi kamu harus serius menjalani pendidikanmu, jangan sampai mengecewakan ayah dan ibumu"


"Baik Yah, Rindra janji akan sungguh-sungguh, dan berjuang mendapatkan yang terbaik"


"Tadi malam temanmu, Sani datang kesini untuk meminta ijin akan mendirikan lapak di tanah kosong milik ayah yang berada di dekat jalan Raya"


"Sani ???, Jadi benar, dia tidak kuliah...."


"Kamu tau alasannya kenapa dia tidak kuliah?"


"Aku kurang paham Yah, hanya tau dari Uki kalau Sani ingin membantu Ibunya bekerja, dan memilih tidak melanjutkan pendidikannya"


"Bukankah dia lulus dengan nilai tertinggi?, Dia juga menjadi Juara pertandingan Pencak Silat antar Pelajar kan?, Sangat disayangkan kalau dia tidak kuliah"


"Semua orang pasti punya pilihan beserta alasannya kan Yah ?"


"Kamu benar, mungkin dia punya Alasan yang tepat, kenapa dia tidak melanjutkan Kuliahnya"



"Nissa, kalau belajar yang serius ya, jangan sambil main hape"



"Iya Bu Iyaaaa"



"Hmmmh...kamu ini"


Ucap Ibu Indri sambil geleng-geleng.



"Kamu juga Yu, Sani lulus dengan nilai tertinggi lo, kamu harus bisa seperti dia, kan malu kalau pacarmu dapat Rangking 1, sedangkan kamunya tidak"


Bu Indri meledek Zaiyu sambil tersenyum.



"Ya nggak bisa gitu kan Bu, Ayu udah belajar sungguh-sungguh, tapi kalau harus mendapat peringkat 1 kan gak mudah"

__ADS_1


Gerutu Ayu



"Tapi masih mungkin kan ?"


Sahut ayahnya



"Ya mungkin saja sih Yah, tapi kan gak mudah"



"Sukurin tu, salah sendiri cari pacar orangnya jenius, jadi di banding-bandingin kan..!!!"


Sahut Nissa yang malah nyukurin Ayu



"Memangnya kamu mau, punya pacar O'on ?!!"



"Ya nggak mau juga sih, hehe"



"Haa Haa Haa Haa"


Ayah dan Ibu mereka tertawa bersamaan.



"Hallo Wan, 3 bulan lagi ada pertandingan se-provinsi loh, kamu mau ikutan gak ?"


Tanya Mas Dio yang sedang menelpon Wawan


"Kalau mas Dio merekomendasikan, ya tetap ikutlah"


"Ya pasti donk, yang penting latihan disiplin dan tanding maksimal, soal menang atau kalah kan Bonus"


"Iya mas, besok coba Sani aku kasih tau, siapa tau dia minat ikutan"


"Nah, bagus tuh, biar tambah rame,


Udah dulu ya, lanjut besok ja infonya"


Pungkas Wawan sembari menutup telponnya.



"Semua kebutuhan dan bahan untuk membuat lapak sudah siap kok Bu, besok Sani bawa lokasi sekaligus kita bangun lapaknya, pakde Damar juga bantuin kok"



"Iya Nak, mulai besok, kamu bakal menjalani kehidupan baru yang lebih berat dari sebelumnya, kamu harus lebih bertanggung jawab atas apa yang kamu kerjakan sendiri"



"Iya Bu, Sani tau, asalkan ada Ibu, Pakde dan Bude yang selalu mendidik dan menasehati Sani, pasti Sani bisa melewatinya"



"Ya sudah, sekarang kamu Istirahat dulu, besok kan harus bangun pagi-pagi, supaya nggak terlalu panas waktu bekerja disana"



"Iya Bu"



Disisi lain, pak Hambali yang hidup sebatang kara, terkadang mampu melewati hari-hari dengan mudah, tapi tak jarang dia merasa kesepian dan berharap bisa memiliki pendamping hidup lagi.


Beliau sudah lebih dari 20 tahun menduda, menjalani hidupnya sendirian, mendekati usianya yang semakin tua, ada rasa khawatir kalau suatu saat sudah tidak bisa apa-apa namun tak ada seorangpun disampingnya.


Semenjak Istrinya meninggal, pak Hambali merasa hancur, dan tidak mungkin perasaannya bisa disatukan lagi.


Kekosongan yang telah ia lewati, membuat dirinya merasa enggan memikirkan pernikahan lagi, apalagi di usianya yang sudah tidak muda lagi, beliau berfikir tidak gampang mencari pendamping yang sesuai dengan keinginannya.


"Hartiiii Harti, kenapa kamu meninggalkanku duluan, sudah berpuluh-puluh tahun aku lewati hidup ini sendirian tanpa kamu, andai saja kamu masih hidup, mungkin hidupku pun akan lebih berwarna"


Gumam pak Hambali seorang diri.



Keesokn harinya


__ADS_1


"Hallo San, 3 bulan lagi ada pertandingan kelas unum se-Provinsi loh, kamu ikut gak ?"


Wawan mencoba memberi informasi pada Sani melalui telpon



"Mungkin enggak Wan, akhir-akhir ini intensitas latihanku sudah mulai menurun, sepertinya skill dan kecepatanku juga menurun drastis"



"Tapi kan masih ada waktu untuk latihan lagi ?"



"Iya juga sih, nanti aku pertimbangkan lagi deh"



"OK, kabari aku ya misalnya jadi ikut"



"Siaaappp, udah dulu ya, ada yang mau aku kerjakan sekarang"



"OK"


Pungkas Wawan sambil menutup telponnya.



"Siapa San yang telpon?"


Pakde Damar membuka obrolan sambil mengerjakan pembangunan lapak Sani,



"Wawan pakde, lawan Sani pas pertandingan di sekolahan kemarin, ngasih tau Sani, akan ada pertandingan kelas Umum se-Provinsi"



"Kamu mau ikut?"



"Nggak tau pakde, sepertinya banyak pekerjaan dirumah, jadi kurang minat ikut pertandingan"



"Kan sore hari tetap bisa latihan?, Toh sekarang kamu sudah menguasai semua gerakan bela diri, jadi kalaupun tidak sempat ke rumah pak Hambali, kamu masih bisa latihan sendiri di rumah"



Sani terdiam sejenak, dia pikir apa yang dikatakan pakde Damar ada benarnya, masih ada kesempatan jika mau berlatih secara disiplin dirumah, tanpa harus datang ke rumah pak Hambali.



"Coba nanti aku minta ijin sama Ibu, sekaligus tanya ke pak Hambali, kalau mereka mengijinkan, Sani bakal ikut.



Pakde Damar menanggapi jawaban Sani dengan senyuman.



"Bu, Sani boleh ikut pertandingan lagi?"


"Pertandingan silat maksudmu?"


"Iya Bu, tadi dapat informasi dari Wawan, katanya ada pertandingan kelas Umum se-Provinsi"


Ibu Sani terdiam, tiba-tiba ada perasaan yang mengganggu terkait permintaan Ijin Sani.


"Coba kamu minta ijin ke Gurumu saja, kalau beliau mengijinkan, Ibu juga mengiyakan"


"Baik Bu, Sani ke rumah pak Hambali sekarang ya"


"Iya, Hati-hati nak, kalau sudah tidak ada keperluan, segera pulang ya"


"Iya Bu"


Ibunya merenung, entah kenapa, ada rasa khawatir pada Sani, ada perasaan tidak rela jika Sani berangkat bertanding.


"Kenapa ini, apakan akan terjadi sesuatu?, Tiba-tiba pikiran dan perasaanku tidak setuju jika Sani berangkat.


Ibu Sani bergumam sendiri dan berusaha menghilangkan kekhawatirannya.


"Ah mungkin karena aku tidak mau ditinggal jauh-jauh oleh anakku"

__ADS_1


Lalu ia bergegas ke kamar dan beristirahat.


__ADS_2