Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Orang ini Lebih Baik daripada Aku


__ADS_3

"Hallo, San...kamu masih terus latihan kan?"


Suara dari seberang berbicara dengan Sani.


"Iya donk pak, kan waktunya sudah dekat juga"


Sani menjawab pertanyaan dari pak Hambali.


"Owh..baguslah, jangan lupa spiritual juga diasah"


"Pastilah, ini bentar lagi mau mulai latihan, kebetulan semua persiapan jualan besok udah beres".


"Baiklah, jangan lupa, sekali-kali main kesini, sekedar nongkrong sama ngopi, udah sebulan lebih kamu nggak kesini, jadi sepi suasananya"


Sani terdiam, dia merasa bersalah juga ketika pak Hambali mengatakan jika dia merasa kesepian.


"Ya udahlah, nanti selesai latihan aku kesana, jangan lupa bikinin kopi murni yang mantab haahaa"


"Pastilah..."


"OK, aku mulai latihan dulu, biar cepet selesai".


"OK deh, aku tunggu nanti malem"


"Siaaappp Komandan.."


Sani pun mengakhiri obrolannya dan memulai latihannya.


Setelah hari gelap, ada mobil yang berhenti di depan rumah Sani.


Ibu Sani keluar melihat siapa yang datang.


Setelah seseorang keluar dari mobil, Ibu Sani merasa tidak mengenalnya.


"Siapa orang itu..aku belum pernah melihatnya.."


Dia bergumam.


"Selamat malam Bu, Sani nya ada?"


"Iya mas, Ada, dengan siapa ya?"


"Saya Rindra Bu, teman SMA Sani"


"Oh..silahkan duduk mas, saya panggilkan dulu"


"Iya Bu, terima kasih"


Rindra duduk di kursi teras rumah Sani, sementara Ibu Sani masuk menuju halaman belakang.


"Sani, ada temanmu yang datang, namanya Rindra"


"Suruh tunggu Bu, sebentar lagi selesai"


Sani menjawab singkat sambil melanjutkan latihannya.


Kemudian Ibunya kembali kedepan.


"Mas Rindra, Sani nya masih menyelesaikan latihan, tunggu sebentar ya..atau mau kebelakang menemani Sani?"


"Eh..anu..jangan panggil Mas Bu, hehe nggak enak saya...kalau boleh saya mau lihat Sani latihan saja Bu"


"Ow..baiklah, saya panggil Nak saja kalau begitu...ayok, Ibu anterin ke belakang"


Kemudian mereka pun kembali masuk rumah, menuju tempat Sani latihan.


"Ibu tinggal dulu ya Nak Rindra"


"Iya, makasih banyak Bu"


Ibu Sani mengangguk tersenyum kemudian meninggalkan Rindra yang mengamati Sani sedang latihan.

__ADS_1


Rindra sedikit kaget melihat tingkat latihan Sani, dia berbicara lirih


"Seperti itu latihannya, itu kalau nonjok gw sekuat tenaga, bisa langsung selesai gw"


Selang beberapa menit, Sani sudah selesai latihan, dia menghampiri Rindra.


"Woy...tumben kesini..ada apa?"


Sani bertanya dengan nafas yang masih ngos-ngosan.


"Benerin dulu tuh nafas lu"


"Hehe ...gw keringin keringat dulu ya"


Setelah keringatnya kering, Sani meminta ijin untuk Mandi,dan menyuruh Rindra menunggu di ruang Tamu.


"Ada apa Ndra?"


Sani yang baru selesai mandi menuju ruang tamu.


"Kita bisa nggak, ngomong empat mata, kita keluar sebentar..."


Sani sedikit kaget, dia tau ini serius, tapi dia juga ingat janjinya dengan pak Hambali.


"Ndra, sebaiknya jangan empat mata, ada seseorang yang lebih baik dari gw, dan gw yakin dia bisa bantu menyelesaikan apapun masalah lu"


"Tapi San...."


"Percaya sama gw, orang ini lebih baik dari dalam segala Hal"


Sani memotong kalimat Rindra yang belum selesai.


Rindra sendiri sedikit ragu-ragu karena apa yang akan dia omongkan adalah aib.


Dia takut orang yang dimaksud Sani malah akan menyalahkannya saja.


Lalu Sani mengeluarkan sepedanya.


"Nebeng mobil gw aja, nggak usah bawa sepeda"


"Nggak usah, entar lu pulangnya bisa langsung aja, tanpa harus nganterin gw lagi"


"Ya udah deh"


Lalu Sani mengayuh sepedanya cepat supaya Rindra tidak terlalu pelan menyetir.


Jarak rumah Sani dengan pak Hambali juga tidak terlalu jauh, tidak sampai 1km.


"Dia bener-bener orang yang nggak mau merepotkan orang lain, bahkan saat dirinya sedang direpotkan"


Rindra berbicara sendiri sambil menyoroti Sani yang mengayuh sepeda dengan lampu mobilnya.


Kemudian Sani berhenti di sebuah halaman rumah kecil, dan Rindra pun memarkinkam mobilnya di pinggir jalan.


Ternyata pak Hambali sudah menunggu kedatangan Sani saat itu.


"Kamu bawa teman?"


"Emm...bisakah kita nanti bicara di dalam saja, aku merasa dia ada masalah"


"Baik, boleh saja"


"Kenalin Ndra, ini Guru silat gw"


"Rindra pak"


Rindra memperkenalkan dirinya sambil menjulurkan tangannya.


"Hambali"


Pak Hambali pun menyalami Rindra.,lalu mengajak mereka masuk rumah.

__ADS_1


"Ayuk, masuk"


"Tunggu sebentar ya, saya buatin kopi dulu"


"Wah, nggak usah repot-repot pak"


Rindra berbasa-basi..


"Ya harus repot donk, tuan rumah, aku yang agak kental ya kopinya"


Sani ngerocos saja


"Haaahaaahaa...."


Lalu mereka tertawa, dan pak Hambali pun menuju dapur.


Selang beberapa menit, pak Hambali membawa 3 gelas kopi sekaligus singkong gorengnya, serta rokok 234 kesukaan Sani, lalu meletakkannya di meja.


"Ohhhh.....ini benar-benar lengkap dan nikmaaattt"


Sani seperti melihat kabahagiaan besar di atas meja itu.


Setelah itu mereka berbasa-basi, pak Hambali lebih sering bertanya tentang Rindra, karena merasa belum saling mengenal, lalu pada saat moment tertentu...


"Ndra, lu sepertinya ada masalah, lu bisa ceritain disini, kalau gw nggak bisa, orang ini pasti tahu solusinya".


Ucap Sani sambil menunjuk pak Hambali dengan kedua tangannya.


Rindra sedikit ragu-ragu, dia takut dengan jawabannya nanti, dia takut tak sesuai dengan yang dia harapkan.


"Orang ini bisa dipercaya, dia lelaki, dia ksatria, dia bukan wanita"


Sani meyakinkan Rindra.


Lalu Rindra menghisap rokoknya, lalu menghembuskan aspanya..dan dia mulai bercerita tentang dirinya dan Anita.


"Gw tau dia ngejar-ngejar gw, tapi dia seperti itu karena harta, bukan karena cinta"


Rindra kembali menghisap rokoknya, lalu melanjutkan ceritanya.


"Gw pun memanfaatkan kesempatan itu, gw ajak dia nginap di Hotel, Dan...."


Rindra berhenti sejenak..


"Kalian pasti tau apa yang terjadi, ketika cowok dan cewek berada dalam satu kamar, dan itu sudah gw rencanakan"


"Lalu sekerang masalahnya apa?"


Pak Hambali bertanya.


"Papa saya marah besar mengetahui hal itu, dia seperti takut akan ada Karma untuk saya di masa depan"


Rindra menarik nafas sejenak


"Papa juga sangat takut kalau orang tua Gadis itu tau kenyataannya, dan tidak terima, Papa takut saya akan diadili secara paksa jika tidak mau bertanggungjawab".


"Yaaah...memang, satu-satunya Hukum yang tidak bisa dihindari di dunia ini adalah Hukum Karma, karena jika Hukum Negara, mungkin masih bisa di akali, tapi tidak dengan Hukum Karma, jadi ketakutan Papamu sangatlah Wajar"


"Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang pak? Apakah ada penyelesaian dalam masalah ini?"


"Semua masalah, harusnya bisa diselesaikan"


Pak Hambali menyruput kopinya, lalu mengambil sebatang rokok di meja.


Rindra dan Sani menunggu dia menjawab pertanyaan itu.


"Apa kamu mencintainya?"


"Sama sekali Tidak"


"Kamu berfikir sanggup menjadi suaminya?"

__ADS_1


"Bagaimana mungkin saya menikahinya jika saya sama sekali tidak mencintainya?"


"Jadi begitu...berarti satu-satunya cara adalah...."


__ADS_2