
Setelah berada di dalam GOR, Panitia menunjukkan barisan kelas berdasarkan berat badan mereka.
Lalu Sani dan pak Hambali menuju ke tempat yang sudah di tunjuk.
"Jadi kalian berada di kelas yang sama." Ucap mas Dio kepada Sani sambil tersenyum.
Sani sedikit kaget karena tidak tahu bahwa mas Dio sudah berada di sana.
"Lhoh ..mas Dio sudah disini, Wawan juga."
"Sepertinya akan terjadi perang saudara lagi." celetuk pak Hambali.
"Ckckckck....semoga saja." Ucap mas Dio menimpali.
"Semoga benar-benar terjadi Final Ideal di kelas ini." Pak Hambali kembali berbicara
"Final Ideal? apa maksudnya?" Sani kurang mengerti.
"Kalau kau bertemu Wawan di Final, itu artinya ada 2 Pendekar dengan 1 muara ilmu yang bertanding, menurutku itu adalah Final Ideal." Pak Hambali menjelaskan kepada Sani.
"Dan sudah pasti, sang Guru akan sangat bangga dengan hal itu, karena ilmunya mampu mendominasi di kelas tertentu." Ucap Mas Dio.
"Haaahaaa....."
Mereka pun tertawa.
Dan tak berselang lama, Opening Ceremony pun dimulai.
Pembukaan, menyanyikan Lagu Nasional, Sambutan-sambutan hingga Do'a untuk penutupan.
Akhirnya Pertandingan pun dimulai.
Puluhan pendekar berkumpul di dalam GOR itu.
Mereka datang dari berbagai Perguruan dan Organisasi Pencak Silat.
"Deg..!!"
Sani tiba-tiba sedikit gemetar.
Wajahnya mendadak Panik.
"Ada apa?" selidik pak Hambali.
"Aku tidak tau, tiba-tiba saja aku merasakan Firasat buruk."
"Tenanglah, coba tenangkan dirimu dengan cara yang dulu pernah ku ajarkan."
Kemudian Sani langsung menarik Nafas dalam-dalam, dan menghembuskan pelan.
Setelah mengulang hingga 3x, kekhawatiran Sani sedikit mereda.
"Bagaimana sekarang?" Pak Hambali bertanya kepada Sani.
"Sedikit mereda, tapi belum benar-benar Hilang."
"Lakukan sekali lagi, mungkin kamu gugup."
"Bahkan aku tak melihat lawan yang membahayakan disini, seharusnya aku tidak gugup, ini bukan kegugupan di pertandingan, tapi...."
"Lakukanlah..!!" Pak Hambali memotong kata-kata Sani yang belum selesai.
Setelah mengulangi beberapa kali, akhirnya kekhawatiran Sani berangsur menghilang.
Meskipun tidak sepenuhnya hilang, tapi Sani sudah bisa menguasai dirinya.
Setelah menunggu hampir 1 jam, akhirnya nama Sani disebutkan saat pertandingan ke 4 akan dimulai.
Dia diberitahu untuk segera mempersiapkan diri.
__ADS_1
"Bagaimana sekarang, kita lanjutkan, atau pulang?" Pak Hambali mencoba mengkonfirmasi Sani.
"Sudah terlanjur, aku tidak ingin mempermalukan namamu."
Sani menjawab dengan mantap.
"Itulah Sani yang ku kenal."
Akhirnya tiba saatnya giliran Sani bertanding.
Dia berada di sudut merah.
"Aku percayakan semua padamu..!!"
Begitulah pesan terakhir pak Hambali sebelum Ronde 1 dimulai.
Saat Wasit memanggil, dan memberi sedikit intruksi, akhirnya Ronde 1 pun dimulai.
Sani yang sempat berfikir jika pertandingan tingkat Provinsi sangat sulit, ternyata dia salah.
Di pertandingan pertamanya, dia hanya bertanding 1 Ronde, karena lawannya berkali-kali dijatuhkan, Hingga Tim Officialnya melemparkan Handuk tanda menyerah.
Dia kembali kepada pak Hambali dengan raut bahagia dan senyum hangatnya.
"Aku pikir akan sulit, ternyata kau hanya butuh 1 Ronde."
"Sepertinya aku sudah bisa mengembalikan seluruh kepercayaan diriku." Ucap Sani.
"Ya, itu sangat penting, karena pertandingan berikutnya pasti lebih sulit, jika sampai kehilangan kepercayaan dirimu, kau sudah pasti kalah."
Sani tersenyum mendengar kata-kata pak Hambali, lalu mereka pun keluar, dan kembali ke Kamarnya untuk menunggu pertandingan berikutnya yang di jadwalkan jam 4 sore.
"Sekarang tidurlah, saat makan siang, aku akan membangunkan mu."
"Tapi aku sama sekali tak ngantuk..!! Bahkan keringat pun belum banyak keluar." Sani mencoba menolak perintah pak Hambali.
Pak Hambali tidak menjawab, tapi hanya menatap Sani dengan Tatapan penuh arti.
Sani pun mengerti arti dari tatapan mata pak Hambali.
Saat Sani tidur, pak Hambali diam dan menatap jauh kedepan.
Dia mencoba memperjelas jawaban dari Firasatnya.
Sepertinya dia sudah tau dengan apa yang akan terjadi.
Kemudian dia menoleh ke arah Sani tertidur.
"Apakah harus seperti ini jalan hidupmu?"
Pak Hambali berbicara sangat pelan, dan matanya mendadak berkaca-kaca.
"Aku harap kau sanggup menahan rasa sakit itu, Aku harap kau mempu mengendalikan dirimu, Aku harap kau benar-benar mampu melewati sulitnya jalan hidupmu."
Pak Hambali kemudian keluar kamar.
Dia menyalakan sebatang rokok di depan kamar Sani.
Pikirannya tidak pernah terlepas dari Sani, dia tidak tega jika harus melihat murid kesayangannya itu bersedih.
Tak Terasa sudah masuk waktu makan Siang, Pak Hambali pun membangunkan Sani untuk makan Siang.
Mereka tak banyak bicara saat itu.
Tak lama kemudian, acara makan siang pun selesai.
"Merokoklah, sebatang saja, dan jika perlu ke WC, merokoklah disana, kemudian kau harus tidur lagi."
Sani sebenarnya kaget dengan pola yang diberikan padanya, tapi kali ini dia tak memprotes.
__ADS_1
"Apa yang ia perintahkan, pasti itu yang terbaik..sebaiknya aku tak perlu mendebat."
Sani pun menuju WC, buang hajat sekaligus merokok disana.
Setelah selesai, ia kembali tidur lagi.
Saat dirasa sudah cukup, pak Hambali membangunkan Sani, memerintah untuk segera Mandi, dan bersiap-siap.
"Kau baik-baik saja?" pak Hambali menanyakan keadaan Sani.
"Sebenarnya aku masih mendapat Firasat buruk, tapi aku mencoba menekannya...bawalah hp mu, jika ada telfon yang penting."
"Ya, aku akan bawa, tadi Rindra mengirim pesan padaku, menanyakan lokasi tempatmu bertanding, dan aku sudah mengirim lokasi ini."
"Oh ya ..kapan mereka berangkat kesini?"
"Dia bilang berangkat malam Minggu, jadi kau harus sampai ke Final, agar mereka tidak membatalkan keberangkatannya."
"Aku akan berjuang."
"Apapun yang kau rasakan, kau harus benar-benar menekannya, jangan sampai hal itu mengalahkan ketenangan mu."
Sani mengangguk, tanda mengerti dengan maksud pak Hambali.
Kemudian mereka berjalan menuju GOR dengan perasaan mantab dan tegar.
"Wawan dan Dio ada di sebelah sana." Pak Hambali menunjuk keberadaan mereka berdua.
"Sepertinya aku dan Wawan memang akan bertemu di Final."
"Semoga saja begitu, itu akan menjadi kebanggaan ku, dan akan lebih lengkap, jika kau yang menjuarainya..Aku berdo'a untukmu."
Sani tersenyum ke arah pak Hambali.
"Semoga do'amu dikabulkan."
Tak lama kemudian, nama Sani disebutkan dan di persilahkan mempersiapkan diri.
"Sudah tenang kan perasaanmu?" Pak Hambali kembali menanyakan tentang hal itu kepada Sani.
"Tenang atau tidak, akan kupaksa untuk Tenang."
"Bagus...aku harap tidak ada hal apapun yang menggoyahkanmu."
"Aku harus mengalahkan semuanya dalam 3 hari ini."
"Benar..sekarang bersiaplah, sudah saatnya."
Sani pun di panggil untuk memasuki Arena.
Didampingi pak Hambali, Sani kembali mendapatkan tempat di Sudut merah.
Dan ketika Wasit memanggilnya ...
"Kau Pasti bisa, Berjuanglah..!!"
Begitulah pesan pak Hambali.
Saat Ronde pertama dimulai, Sani sedikit kesulitan, lawannya cukup cepat.
Namun Sani masih sigap dan tidak sampai dijatuhkan, meskipun dia sendiri gagal menjatuhkan lawannya.
Dan saat Ronde pertama selesai, Sani segera menuju pak Hambali.
Lalu pak Hambali memberi arahan kepada Sani, berkat pengamatannya di Ronde pertama, pak Hambali menemukan kelemahan Lawan.
Dan saat Ronde ke 2 dimulai, Sani langsung menyerang sejak awal Ronde dengan mengikuti arahan pak Hambali.
Dan akhirnya Sani berkali-kali menjatuhkan Lawannya.
__ADS_1
Dan Pertandingan pun dihentikan di Ronde ke 2.