Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Sani, Dimana kamu..?????


__ADS_3

Sani lebih menuju rumah pakdenya, dan segera mengembalikan motornya.


"Bagaimana San, lancar kah?


Bude Wiwik bertanya


"Sudah bisa dilihat dari wajah sumringahnya"


Sahut pakde Damar


Sejak tadi Sani memang lebih sering tersenyum.


Hal itu tidak lepas dari kejadian dirumah Ayu yang mana hubungan mereka sudah direstui orang tua Ayu.


"Begitulah pakde, sepertinya tidak seperti yang Sani takutkan hehe"


"Sekarang tinggal meminta Restu dari Ibumu"


Sani terperanjat, Ibunya memang tidak pernah melarang hubungannya dengan siapapun, tapi dia juga belum mendapat Restu yang pasti dari Ibunya.


Sani masih sangat ingat dengan kebencian Ibunya terhadap seseorang bernama Galih, dan Sani sangat yakin bahwa orang yang dimaksud adalah ayahnya Ayu.


"Sepertinya ini tidak akan mudah"


Sani berbicara sangat pelan


"Ada apa San, kok mendadak wajahmu berubah jadi tegang?"


Selidik pakde Damar yang memang melihat wajah Sani berubah dengan cepat, dan beliau sempat mendengar Sani berbicara pelan


"Dan tadi kamu bilang apa?"


"Ah tidak pakde, Sani pamit pulang dulu ya"


"Lhoh, nggak mau ngopi dulu?"


Bude Wiwik bertanya


"Enggak usah Bude, besok-besok saja"


Sani langsung berlalu, setengah berlari menuju rumahnya.


Sesampainya dirumah, ternyata Ibunya sudah menunggu di teras rumahnya


"Kenapa lari-lari Nak?"


"Eh..nggak ada apa-apa Bu, kenapa Ibu duduk di luar?"


"Ibu nungguin kamu pulang, Ibu ingin mendengar ceritamu"


Sani tersenyum,


"Kita masuk saja Bu, Sani ceritain di dalam"


Kemudian mereka masuk rumah dan menutup pintunya.


"Bu, orang tua Ayu sudah merestui hubungan kami, tinggal Restu Ibu yang belum aku dapatkan"


Sani menatap Ibunya dengan penuh harap.


"Nak, jika gadis itu baik, dan layak untuk menjadi istrimu nanti, Ibu pasti merestui, Ibu tidak ingin mempersulit hubunganmu dengan siapapun, jika sudah menjadi pilihanmu, seharusnya itu juga menjadi pilihan Ibu"


"Terima kasih ya Bu"


Sani memeluk Ibunya dengan penuh kasih sayang dan rasa khawatir, saat mereka melepas pelukan, Ibunya hendak ke belakang


"Bu..!!!"


"Ada apa?"


Ibunya melihat tatapan mata Sani yang berubah dengan cepat.


"Ada yang ingin aku jelaskan pada Ibu"


"Tentang apa?"


"Tapi ibu harus berjanji, ibu tidak akan marah"


"Apa yang akan kamu katakan Nak, selama ini kau hampir tidak pernah membuatku marah"


"Ayu....Ayu adalah anaknya pak Galih, orang yang Ibu ceritakan tadi sore"


Bagai petir menyambar telinganya, Ekspresi Ibu Sani langsung berubah menjadi menakutkan dan penuh kebencian.


"Katakan sekali lagi..!!"


"Ayu adalah anaknya pak Galih, orang yang Ibu ceritakan tadi sore Bu"


"Kembalilah ke rumah pacarmu sekarang dan putuskan hubunganmu dengannya saat ini juga..!!!"


Ibu Sani berteriak kepada Sani, dan Sani pun sangat kaget dengan keadaan ini.


Ibunya menatap Sani dengan penuh amara dan kebencian dan menyala-nyala.


"Tunggu dulu Bu, Sani bisa menjelaskan semuanya, selama ini Ibu salah paham"


"Menjelaskan? Salah Paham? Kau akan mengajariku tentang hal telah ku lalui dan belum pernah kau jalani?"


Sani diberondong pertanyaan yang akan sulit dia jawab oleh ibunya yang sudah dikuasai amarah


"Memangnya tau apa kau ini..??!!!!"


Sani benar-benar kaget dengan bentakan Ibunya, dia tidak pernah melihat kemarahan seperti ini.


"Bu, Ibu sudah salah paham, ada hal yang tidak ibu ketahui, dan Sani bisa menjelaskan semuanya Bu"


"Baru sesore kau datangi rumah pacarmu, dan kau sudah berani mengajari Ibu ya?"


"Sepintar apa keluarga pacarmu itu, hingga bisa merubah cara berfikirmu yang selama ini aku bangga-banggakan? Hah...?"


"Sekarang juga, kembali ke rumah pacarmu dan putuskan hubunganmu dengan keluarganya, sekarang juga..!!"


"Bu...tolong dengarkan Sani Bu, ijinkan Sani menjelaskannya Bu"


Sani memohon sambil menangis karena keadaan sudah semakin kacau


"Ibu perintahkan sekali lagi Sani, pergi ke rumah pacarmu dan putuskan semua"


Ibu Sani berbicara dengan nada Rendah namun penuh dengan penekanan.


"Pergi..!!!!!"


Kali ini Ibu Sani berteriak sangat keras.

__ADS_1


Sani sangat terkejut dengan teriakan Ibunya.


Saat itu, Pakde Damar dan Bude Wiwik mendengar teriakan "Pergi" itu dari rumah, dan sangat yakin itu suara Ibunya Sani.


Mereka berduapun bergegas menuju rumah Sani dan melihat yang terjadi.


Saat sampai di rumah Sani, pakde Damar langsung membuka pintunya, mereka melihat Ibu dan Anak itu berdiri berhadapan, dan keduanya menangis.


"Ada apa ini?"


Mereka tidak menjawab pertanyaan pakde Damar.


"Sani, jelaskan, ada apa ini?"


Sani tidak menjawab, hanya tertunduk sambil menangis.


Saat pakde Damar mengalihkan pandangannya ke arah saudara iparnya itu. . . .


"Perintahkan keponakanmu itu untuk kembali ke rumah pacarnya sekarang juga, dan memutuskan semua hubungan dengan keluarganya"


"Aku tidak akan melakukannya Bu"


Sani menjawab dengan tetap tertunduk


"Jika kau tidak mau menuruti perintah Ibu, lebih baik keluarlah dari rumah ini sekarang juga..!!!"


"Nanik..!!!"


Pakde Damar membentak Ibunya Sani, karena merasa sudah keterlaluan.


"Sani akan pergi sekarang juga..!!"


Lalu Sani berlari keluar dari rumah.


Pakde Damar mencoba mengejarnya hingga ke Jalan, tapi Sani berlari sangat kencang, dan seketika hilang ditelan kegelapan malam.


Pakde Damar yang sudah kewalahan, memilih kembali ke Rumah Bu Nanik.


"Sudah puas sekarang?"


Pakde Damar langsung menyerang Bu Nanik dengan pertanyaan.


"Sabar dulu pak, kita belum tau masalah sebenarnya seperti apa"


Bude Wiwik menenangkan emosi suaminya.


"Mau seperti apapun masalahnya, Sani sudah benar-benar pergi, bagaimana sekarang?"


Pakde Damar menatap Bude Wiwik


"Kalau sampai Sani benar-benar minggat, aku tidak akan pernah memaafkanmu, dan tidak akan menganggapmu sebagai saudara lagi..!!!"


Pakde Damar mengucapkan kalimat itu sambil melangkah pergi dari rumah Bu Nanik.


Sampai di rumah, pakde Damar seperti orang linglung, bingung harus apa yang dilakukan, apa dia harus mengejar Sani, tapi kemana?


Beliau berdiri sangat lama di halaman rumahnya, dia benar-benar tidak tau apa yang harus dilakukan.


Sementara Bu Nanik menangis meratapi perbuatannya, dia sangat menyesal atas ucapannya, dia sadar dengan yang terjadi, bagaimana kalau Sani benar-benar tidak pulang.


Dia menangis semalaman hingga tertidur di samping kursi di ruang tamu.


Sedangkan pakde Damar benar-benar tidak terlelap sedetikpun sampai matahari menampakkan diri.


Dia mencari ke rumah Uki, Sani pernah menceritakan Uki kepada Pakde Damar, dari situ pakde Damar berfikir Uki tau keberadaan Sani saat ini.


"Sani minggat ?"


Uki sangat kaget dan merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari pakde Damar.


"Semalam ada kejadian, Sani dan Ibunya bertengkar karena masalah yang kami sendiri belum paham akarnya"


"Terakhir saya berhubungan dengan Sani kemarin sore, dia mengirim gambar lapaknya yang baru jadi, setelah itu kami belum berkomunikasi lagi"


"Nak Uki, maukah kamu bantu pakde untuk mencari Sani?"


"Tentu saja mau, dan harus mau, kalau tidak mau, maka aku sendiri yang akan memerintahkannya"


Tiba-tiba pak Maman, ayah Uki menjawab pertanyaan pakde Damar.


Ayahnya Uki, mendengar percakapan mereka dari dalam, lalu segera keluar dan merespon.


"Uki, berangkatlah sekarang, cari informasi tentang keberadaan Sani"


"Baik, Uki akan berangkat, pakde Damar disini saja, istirahat dulu, Uki bakal tanya ke semua teman-teman yang mengenal Sani"


"Nak, apakah kamu tau alamat rumah pacarnya Sani?"


Uki sempat terhenyak kaget, tapi akhirnya memberi tau alamatnya.


Pakde Damar pun pamit menuju rumah pak Galih, bersamaan Uki yang berangkat ke rumah teman-temannya.



"Sani pergi dari rumah sejak semalam?"



Pak Galih sangat kaget, Bu Indri pun terkejut.



"Saat keluar dari rumah ini, saya melihat matanya yang sangat bahagia karena kami merestui hubungannya dengan Ayu, jadi kami benar-benar tidak mengerti dengan kejadian ini"



Ibu Indri menyatakan kebingungannya.



"Saya sendiri juga belum paham dengan duduk perkaranya, hanya Sani dan Ibunya yang tau"



Pakde Damar menjawab dengan lesu.



Mereka semua tenggelam dalam kebingungan.



"Kalau begitu saya pamit, tolong jangan ceritakan hal ini kepada Putri anda, kasihan kalau dia mengetahui hal ini, dia pasti sangat sedih dan bingung"

__ADS_1



Pakde Damar berpesan demikian karena saat itu Ayu sedang sekolah.



"Baik pak, kami akan menjaga rahasia ini"



Pak Galih mengakhiri, dan pakde Damar pun beranjak pergi.



Jam 2 sore dirumah pakde Damar.


"Tidak seorangpun yang tau kabar dari Sani"


Uki menyampaikan dengan lesu.


Bude Wiwik sudah tidak bisa menahan tangisnya.


"Sabar bude, kami pasti bisa temukan Sani"


Uki mencoba menenangkan bude Wiwik.


"Tinggal satu orang yang belum kita tanyai tentang Sani"


Pakde Damar berbicara dengan tenang dan tegas.


"Ya, pak Hambali, sepertinya ini yang terakhir, semoga beliau mengetahui keberadaan Sani"


Uki menimpali pakde Damar.


"Kalau begitu, ayo segera kesana nak Uki"


"Baik pakde, kita berangkat sekarang"




"Ada apa dengan anak ini"



Pak Hambali menanggapi dengan tenang, namun tak bisa menutupi kekhawatirannya yang terpancar dari matanya.



"Kalau pak Hambali juga tidak tau, saya bingung harus kemana lagi mencari tau tentang keberadaan Sani"



Pakde Damar tidak bisa menahan air matanya



"Bisakah kita ke rumah Sani sekarang? Aku ingin tau masalah yang sebenarnya"



Pak Hambali mengajak mereka ke rumah Bu Nanik saat itu juga.



Setelah sampai disana, mereka bertanya tentang masalah yang sebenarnya, dan Bu Nanik menceritakan kronologi pertengkaran mereka.



"Hmm...Jadi begitu"



Pak Hambali menggumam.



"Apakah ponselnya masih bisa dihubungi?"



Pak Hambali melontarkan pertanyaan sambil menatap Uki.



"Sudah tidak bisa pak, terakhir online kemarin jam 21.43, telpon standart pun tidak bisa dihubungi"



"Hmmmh"



Pak Hambali menghela Nafas panjang,



"Nak Uki, kamu pulanglah, pakde Damar, Bu Nanik, tenanglah, aku mencari Sani besok pagi-pagi sekali, dan aku tidak akan pulang sebelum menemukannya"



Uki dan pakde Damar pun pamit pulang, dan Bu Nanik sedikit lebih tenang dari sebelumnya.



Lalu pak Hambali pun berpamitan pulang untuk istirahat.



Malam harinya, pak Hambali bermeditasi, menerapkan ilmu pernapasannya, dia berharap mendapat petunjuk dimana Sani berada.



Setelah melakukan meditasi hampir 1jam, beliau mengakhiri meditasinya.



"Istirahatlah Nak, besok kita harus pulang"



Pak Hambali bergumam lalu merebahkan diri di tempat tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2