
"Maas, jangan lupa bekalmu dibawa.."
"Iyaaa, sudah aku masukkan kantong tadi"
"Hati-hati ya..."
"Iya, mulai sekarang kamu biasakan panggil aku "Pak" ya, dan aku panggil kamu "Bu", supaya anak-anak tau panggilan untuk orang tuanya".
Nanik muda tersenyum mengangguk mendengar ungkapan suaminya.
"Aku berangkat dulu ya, kamu jaga anak-anak dirumah"
"Iya, hati-hati, pulang dengan selamat"
Hartoyo pun mengangguk tersenyum kepada Istrinya.
Dia melangkah keluar sambil palu besar yang ia gunakan untuk mengais rejeki.
"Udah sarapan mas?"
Hartoyo bertanya kepada Damar, kakak kandungnya yang sudah menunggunya diatas motor.
"Ya sudah to Haarrr Har, mau kerja kalau nggak sarapan bisa pingsan aku"
"Haahaa mas bawa bekal?"
"Bawa, tadi juga sudah disiapkan sama Wiwik"
Mereka pun berangkat menuju Proyek tempatnya bekerja.
Damar sebagai tukang, dan Hartoyo sebagai kuli khusus pemecah batu.
Meskipun tingkat pekerjaan mereka berbeda, namun upah yang mereka terima tidaklah terlalu beda jauh, karena Hartoyo adalah kuli dengan kemampuan khusus.
Upah kulo pemecah batu sedikit lebih tinggi dibanding kuli pada umumnya, karena tidak semua orang memiliki kemampuan itu.
"Mas, buka bekal dimana?"
Hartoyo bertanya kepada Damar saat jam istirahat sudah tiba.
"Ke pinggiran sawah itu saja Har, biasanya makan di sekitar sawah itu nikmatnya luar biasa"
"Ayok lah, airnya jangan lupa"
Merekapun berjalan menuju tepian sawah dekat proyek tempat mereka bekerja.
Masing-masing membawa kantong yang berisi bekal, sekaligus air minum yang mereka bawa dari rumah juga.
Sebenarnya air minum sudah di sediakan oleh Mandornya, tapi mereka takut itu air mentah, makanya mereka memilih membawa air sendiri dari rumah, yang sudah pasti di masak hingga mendidih.
"Laukmu apa Har?"
"Hmm...tempe goreng yang di penyet sama sambal, mau coba?"
"Enggak ah, nggak berani sama yang pedas, lambung tidak aman"
"Haaahaaa....laki-laki kok takut pedas Maasss mas"
"Bukannya takut Har, mulutku mau-mau saja, perutku yang menolak, ini ada telur dadar, kamu mau?"
"Nggk ah, ini aja sudah cukup"
Mereka pun menikmati bekal yang dibuat oleh istri mereka masing-masing.
__ADS_1
Kakak beradik itu dari dulu sering bekerja bersama-sama.
Mereka hanya 2 bersaudara, dan orang tua mereka pun sudah lama tiada.
"Aan sudah lancar Har bicaranya?"
"Sudah mas, sudah lancar, tapi masih cadel, belum bisa ucapin huruf R, tiap ketemu huruf R, bacanya jadi L melulu"
"Haaahaa ...namanya juga anak kecil, kalau dia menuruni sifat kamu, harusnya dia cerdas juga Lo"
"Ckckck sepertinya dia tidak menuruni itu mas, dia lebih mirip ibunya, jadinya agak lemot kalau diajarin sesuatu"
"Haahaa...tapi ya tetep harus di syukuri, kamu sudah punya 1 anak, dan istrimu sudah mengandung lagi, aku saja sudah 10 tahun menikah, belum dikasih rejeki momongan"
Damar berbicara sambil menatap langit, dia berharap Tuhan mendengar keluh kesahnya.
"Sabar ya mas, momongan itu nggak bisa kita minta"
"Hmmmh..."
Damar menjawab kalimat Hartoyo dengan senyuman tipis saja.
"Mas, aku minta tolong ya"
"Ada apa?"
"Jangan bilang-bilang ke Nanik soal nominal upah yang aku terima"
"Memangnya kenapa Har?"
"Sebagian upahku, aku berikan ke Janda di ujung kampung kita, dia hidup sendiri dan sudah tidak bisa bekerja karena stroke, sebagian tubuhnya lumpuh, jadi dia hanya bisa berjalan saja, itu pun pake bantuan tongkat"
"Haarr....kamu nggak aneh-aneh kan?"
Hartoyo menatap Damar dengan pandangan penuh arti.
Hartoyo sedikit membentak kakaknya.
"Lha itu, kenapa upah kamu berikan ke dia?"
"Mas, kita itu laki-laki, langkah kita bisa jauh lebih panjang daripada wanita, aku memberikan sebagian upah itu secara sukarela, dan tidak mengharap imbalan apa-apa"
Damar sedikit tersentuh dengan kalimat adiknya.
"Yaa, aku nggak akan beritahu Nanik, itu urusan kamu, cuma satu pesanku, jangan sampai menduakan Nanik Har, hidupmu bakal banyak musibah kalau kamu mengkhianati Istri sebaik Nanik"
"Aku bukan lelaki seperti itu mas, mungkin masa mudaku dulu sering minum dan judi, tapi setelah menikah semua itu benar-benar aku tinggalkan, dan sejak muda pun aku tidak pernah main perempuan"
"Aku nggak sudi punya saudara yang Hobby main perempuan Har, aku benar-benar benci orang semacam itu"
"Tenanglah Mas, aku bisa jamin soal kesetiaan"
"Hehe...kamu orang baik, kalau kamu tidak bisa menjadi orang kaya selama hidupmu, pasti anak-anakmu yang akan menuai tanaman kebaikan yang kamu tancapkan selama hidupmu"
"Aku berharap juga begitu, nggak masalah aku tidak sekolah, tapi kalau bisa anakku nanti bisa sekolah yang tinggi, dan juga aku terima saja kalau tidak menjadi kaya, tapi aku harap anak-anakku nanti bisa sukses".
"Yaahh...semoga saja...ayoklah, sudah jam 1, sudah waktunya kerja lagi"
Mereka pun mengemasi wadah bekalnya, dan bangkit menuju tempat kerjanya.
Mereka memeras keringat dibawah terik matahari untuk menghidupi keluarga mereka.
Kakak beradik yang penuh semangat juang itu tidak pernah mengeluh sedikitpun dengan keadaan mereka yang masih kekurangan.
__ADS_1
Hingga sore hari menjelang, mereka membereskan semua peralatan yang baru saja mereka gunakan.
"Har, Tembakaumu masih ada?"
"Masih mas, mau nglinting dulu?"
"Iya yuk, buat sambil jalan nanti"
"Ayok lah, mau bikin lintingan yang gedheee"
"Haaahaa...hati-hati, jangan sampai membakar kandang orang"
"Haaahaa....biar puas kok"
Mereka pun melinting bersama, setelah selesai merekapun segera menuju motor untuk pulang ke Rumah.
Sampai di depan rumah Hartoyo, Damar berhenti untuk menurunkan adiknya.
"Nggak mampir dulu Mas?"
"Nanti aja Har, kalau nggak capek aku main kesini, ngopi sama ngobrol gitu"
"Baiklah, nanti aku tunggu"
"Ya udah, aku pulang dulu"
"Iya mas"
Damar pun berlalu, dan saat berada di teras, Nanik setengah berlari menjemput suaminya.
"Pak, Aan demam panas sekali...!"
Nanik berbicara dengan kepanikan.
Hartoyo pun menaruh pakunya dan berlari ke dalam kamar untuk menengok anaknya.
"Astaga, kok panas sekali ya, kamu kenapa Nak, kok sampai seperti ini..."
Hartoyo pun terlihat panik.
"Nghhhh...nghhhh..."
Hanya itu yang keluar dari mulut Aan.
"Bu, Carikan Handuk kecil buat mengompres keningnya Bu"
Nanik pun segera pergi mencari Handuk yang diminta suaminya, kemudian mempersiapkan air hangat dalam baskom.
"Ini pak, sudah aku siapkan"
"Kamu kompres keningnya ya Bu, aku mau mandi dulu"
"Iya pak .."
Kemudian Hartoyo segera pergi ke kamar Mandi, dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan anaknya.
Setelah mandi, dia langsung ganti baju dan menuju kamarnya, menemani istrinya yang sedang mengompres kening Aan.
Dia mengusap-usap rambut anak sulungnya itu, dia tidak ingin terjadi apa-apa pada anaknya.
"Tok Tok Tok..."
"Har..."
__ADS_1
"Itu Mas Damar..."
Hartoyo segera bangkit dan menuju pintu depan untuk menyambut kakaknya itu.