Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Namanya Rindra Hakimi Jaya !!!


__ADS_3

Sayur yang ditanam Sani sudah hampir memasuki masa Panen.


Bayam, Cabe, Kacang Panjang, Gambas serta Pare sudah berbuah dan layak untuk dijual.


Meskipun pekarangan Sani tidak terlalu luas, tapi dia mampu mengakali dan memaksimalkan tanah itu sedemikian rupa.


"Sepertinya beberapa hari lagi sudah bisa dipanen Nak"


Ibu Sani mendekati Sani yang dari tadi mengamati Tanaman hasil kerja kerasnya ini.


"Iya Bu, Sani harap bisa mendapatkan Hasil maksimal"


"Kamu sudah menemui orang-orang yang mau kamu borong Sayurannya?"


"Sudah Bu, kemarin dapat Kangkung, daun singkong, Sawi, daun pepaya serta daun bawang dari 3 orang berbeda"


"Lalu, untuk harganya bagaimana?"


"Sani akan menyetarakan dengan Harga pasar Induk Bu, Sani sudah punya informan yang bekerja di pasar Induk"


"Siapa Nak?"


"Pak Bandung Bu"


"Pak Bandung? Pak Bandung tukang becak itu?"


"Betul Bu, beliau bahkan siap membantu membawakan dagangan Sani dari rumah ke lapak Sani"


"Hmmmm...."


Bu Nanik menatap Sani yang masih terus mengamati tanaman sayurnya dari belakang.


"Kamu benar-benar membanggakan Ibu Nak, sepertinya sifat Ayahmu menurun semuanya kepadamu"


Bu Nanik berbicara sangat pelan, Sani pun tidak mendengar Ibunya berbicara demikian.


"Ibu masuk dulu ya Nak"


"Iya Bu"


Tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki mendekat ke arah Sani, saat Sanj menoleh


"Pakde, Bude...mau kemana?"


"Ya mau kesini, mau lihat tanaman Sayuranmu"


Jawab pakde Damar


"Kami penasaran dengan hasil kerjamu, dan ternyata hasilnya Bagus"


Bude Wiwik memuji hasil kerja Sani.


"Hehe semoga hasil jualannya nanti juga memuaskan Bude".


"Aamiin..."


Pakde Damar dan istrinya mengamini ucapan Sani secara bersamaan.


"Pakde, besok Sani pinjam motor lagi ya?"


Sani meminta ijin sambil tersenyum malu


"Eheemmm...ada yang mau menyambangi Ayah barunya nih"


Bude Wiwik menggoda Sani..


"Hehe"


Sani hanya nyengir saja sambil mengusap-usap belakang kepalanya.


"Bawa aja, pakde juga nggak kemana-mana besok malam"


"Jangan sering-sering kerumahnya ya Nak, kasihan pacarmu, dia masih sekolah"


"Iya Bude, besok rencana mau Sani ajak jalan-jalan, soalnya setelah ini, Sani juga mau Fokus jualan, dan mengurangi keluar malam, jadi sepertinya bakal agak lama gak ngapelin Ayu"


"Kamu bener, fokus dulu dengan usahamu, kalau sudah jalan, soal apel mah gampang"


Pakde Damar menimpali.


"Ya sudah, Bude sama Pakde balik dulu ya"


"Iya, makasih Bude, Pakde"


"Sama-sama Nak"


Mereka menjawab Sani secara bersamaan.



"Plok Plok Plok Plok"



Terdengar langkah 2 pasang kaki berjalan diantara karyawan yang sedang sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing.



Sesaat ketika semua mata karyawan menatap ke arah sumber suara tersebut, langkah itu terhenti.



"Semuanya, perkenalkan, ini Anakku, Rindra Hakimi Jaya, suatu saat, Anak inilah yang akan memimpin Perusahaan ini"



Pak Jaya berbicara sambil memegang salah satu pundak anaknya.


Sedang Rindra malah tertunduk, merasa malu dengan kalimat Ayahnya yang terkesan terburu-buru itu.



"Anaknnya agak pemalu ya Boss?"



Celetuk salah satu Karyawan yang diikuti senyum karyawan lain.



"Oh itu tidak benar, ini hanya pencitraan, karena waktu SMA, dia sangat nakal, menjadi preman sekolah yang Hobby membully dan menjahili teman-temannya"



"Haahaahaa"

__ADS_1



Hampir semua karyawan tertawa mendengar jawaban pak Jaya.



"Papaaaa, kau sungguh tidak menjaga nama baik anakmu sendiri......"



Rindra berguman sambil terus menunduk.


Pak Jaya yang mendengar keluhan Rindra menjadi tersenyum.



"Baiklah, saya kira cukup begitu saja perkenalan ini, setidaknya kalian sudah tau Anakku, sekarang kalian bisa melanjutkan pekerjaan kalian masing-masing"



"Baik paak"



Para karyawan itu menjawab secara bersamaan.



Pak Jaya dan Rindra pun keluar dari ruangan itu dan berlanjut menuju ruangan Direktur Utama.



"Papa seharusnya tidak membuka Aib Rindra semasa SMA, itu membuatku malu saja"



"Hhhhh aku ingin melatih mentalmu juga Nak"



Pak Jaya menjawab sambil terkekeh



Lalu tiba-tiba handphone Rindra berdering karena ada panggilan masuk



"Sani..??? Tumben dia menelponku, ada apa ya?"



Rindra bertanya-tanya



"Kau angkat dulu, siapa tau itu sangat penting"



"Iya Pa"



"Hallo San"




"Emmm...enggak juga, ada apa, tumben kamu nelpon?"



"Ehhh...Ndra, gw mau tanya dikit aja bisa kan?"



"Bisa, soal apa San?"



"Lu tau nggak, cafe yang bagus buat kencan, yang tempatnya di dekat pantai?"



Mendadak Rindra tertawa, namun ditahan.


Pak Jaya yang melihat itu, hanya mengerutkan keningnya karena tidak tau apa yang dibicarakan.



"Bentar, lu jawab dulu San, lu mau kencan sama siapa?"



Rindra bertanya sambil menahan tawanya.



"Ya sama Zaiyu lah, emang siapa lagi..!!"



Jawab Sani dari seberang yang terdengar sedikit ngotot.



"Ckckckck gw kira lu mau kencan sama wanita sewaan Haaahaaahaa"



Rindra sudah tidak mampu menahan tawanya.



"\*\*\*\*\*\* Lu, lu kira gw Playboy kek lu..udah cepetan kasih tau"



Rindra lalu menyebutkan nama dan alamat cafe yang diinginkan Sani.



"Disana tempatnya romantis, lu bisa peluk cium cewek lu tepat di tepi pantai, kalau mau mesum juga bisa ckckckck"

__ADS_1



"Li emang bangsat Ndra, kelihatan lu pengalaman banget mesum disana"



"Haahaa sialan lu, dah ah, gw masih di kantor bokap gw nih"



"OK deh, thanks ya infonya"



"Yo'i, jangan lupa mesumnya yak wkwkwkwk"



"Dasar anak Bejad..!!!"



Sani langsung menutup telfonnya.



Setelah itu Rindra menceritakan percakapannya dengan Sani kepada Papanya



"Haaahaaahaaa itu anak benar-benar lugu ya"



Pak Jaya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.



"Tau tuh, otaknya Jenius tapi kurang piknik"



"Haaahaaahaaa"



Ayah dan anak itu tertawa bersama sambil melangkah menuju ruangan yang dituju.



"Aaaargh....."


"Braaakkkk...."


Terdengar suara teriakan disertai suara benturan keras dari jalan Raya.


Tak lama berselang, orang-orang lari ke tengah jalan Raya dan melihat yang terjadi


"Aaargh, kakiku..."


Ternyata ada kecelakaan yang melibatkan 2 sepeda motor, seorang wanita paruh baya yang sedang menyebrangz ditabrak oleh pemuda yang sedang melaju cukup kencang, karena jarak mereka sudah terlalu dekat, kecelakaan pun tak bisa dihindari.


"Bantu dia, segera bawa ke Rumah Sakit terdekat..!!


Teriak seseorang yang saat itu sedang berada di tempat kejadian.


"Aaaaargh...pak kakiku sakit sekali pak, tolong agak lelan paaak"


Pemuda itu meringis menahan rasa sakit di kakinya.


Setelah diangkat ke sebuah mobil pick up milik warga yang kebetulan berada di dekat lokasi tabrakan, dia langsung dibawa ke Rumah Sakit terdekat.


Sedangkan Ibu yang menyeberang tadi tidak terluka, dia cuma jatuh dari motor karena posisinya berhenti tepat ditengah jalan Raya.


Hanya roda depan motornya saja yang rusak karena dihantam cukup keras oleh pemuda yang menabraknya tadi.


"Aaargh...kakiku, sakit sekali paaaak"


Pemuda itu merintih sambil menangis di atas pick up.


"Sabar ya dek, sebentar lagi sampai di rumah sakit"


Jawab seorang warga yang sedang memangku kepala pemuda itu.


Dan ternyata pemuda itu adalah Farhan, yang tadi sedang buru-buru karena sudah janjian sama Uki untuk menyelesaikan tugas kuliahnya.


"Dek, ada nomor keluarga yang bisa dihubungi?"


"Hmmh...hmmh.."


Farhan tidak menjawab dengan jelas, rasa sakit di kakinya membuat pikirannya mendadak gelap dan akhirnya dia pingsan di pangkuan lelaki yang tak dikenalnya itu.


Uki yang menunggu hampir 2 jam mulai gelisah..


"Kemana sih nih anak, kok belum sampai juga sih, mana gw udah laper banget lagi"


Uki menggerutu sendiri karena sudah cukup lama menunggu Farhan.


"Kalau gw makan duluan, kasihan dia nanti nggak ada temennya makan, tapi nih perut udah perih banget lagi"


Uki ngomel-ngomel semakin nggak jelas


Lalu mengambil telponnya dan mencoba menghubungi Farhan.


Setelah lama menunggu, akhirnya telpon itu diangkat..


"Lu kemana aja sih Bangkeeee....gw udah nunggu hampir seharian disini, gw udah laperrrrr"


Uki langsung melampiaskan emosinya ketika tau telpon sudah diangkat


"Hallo, ini mas Uki ya"


"Hah..???"


Uki sedikit kebingungan mendengar jawaban dari seberang, jelas itu bukan suara Farhan, dan dia merasa takut karena sudah terlanjur ngomel-ngomel.


"I..i...iya, ini siapa ya? Kok hp Farhan ada di anda?"


"Mas Uki, ini temannya baru saja kecelakaan, sekarang dia sedang pingsan, dan saat ini kami membawanya ke Rumah Sakit **** Medika"


Orang itu berbicara sambil napafnya ngos-ngosan karena efek gugup


"Kalau mas Uki kenal dengan anak ini, tolong segera di susul kesini untuk membantu"


"Astaga, Farhan, baik pak, saya akan segera kesana..!!!

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Uki langsung buru-buru pergi menuju rumah Sakit yang telah disebutkam bapak itu.


Seketika itu pula rasa laparnya hilang karena kepanikannya.


__ADS_2