Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Buah Jatuh Tak Jauh dari Pohonnya


__ADS_3

Terdengar suara motor dihalaman rumah Farhan.


Dia yang mendengar, segera membuka pintu.


Meskipun dia berjalan menggunakan alat bantu, tapi sepertinya dia tidak terlalu kesulitan.


"Hooeyyy.....apa kabar kawan, apa kamu ingin balap lari denganku sobat ?"


Uki yang melihat Farhan membuka pintu, langsung berteriak dan melambaikan tangannya.


"Dasar Bangkeee Lu Ki..."


Ucap Farhan sambil tertawa.


"Haahaaahaa..."


Uki pun tertawa sambil mendekat ke arah Farhan.


"Udah mendingan kan?"


Uki bertanya serius kepada Farhan.


"Lumayanlah, lumayan cepet, ini sudah bisa berdiri tanpa alat bantu, tapi kalau dipakai jalan masih sakit"


"Sabar yaa, sepertinya ini nggak akan lama"


Terlihat tatapan penyesalan dari mata Uki.


"Haahaa iyalah, emang udah nasib kan, mau gimana lagi..."


Farhan mencoba terlihat tegar didepan Uki.


"Maksud gw, hidup lu yang gak akan lama..haaahaaahaa"


"Anying Lu...!!! B@ngsat..!!"


"Haaahaaa..."


Mereka pun tertawa bersama karena tau itu hanya bercanda.


"Mau minum apa Lu?"


Farhan bertanya kepada Uki.


"Enggak usah, liat cara lu jalan aja gw udah ingin nangis, apalagi lu bikinin minuman ckckckck"


"Eh..bangkeee, emak gw di belakang sono, kalau lu mau minum, gw teriakin dari sini juga kan bisa"


"Owh..ya udah kopi aja...sekalian rokoknya, camilan kalau ada bawa sini juga haahaa"


"Di warung sana kala mau lengkap..!!"


Farhan terlihat jengkel.


"Ckckckk ya kali aja ada camilan gratis"


Kemudian Farhan berjalan menuju dapur.


Tak lama kemudian Farhan kembali ke ruang tamu dan duduk tepat di sebelah Uki.


"Gimana kabarnya Sani? Kelihatanya dia sibuk sekali sekarang"


Farhan membuka Obrolan.


"Begitulah, gw sendiri juga nggak mau terlalu banyak tanya ke dia, sepertinya dia bener-bener dah fokus dengan satu tujuan"


"Yaaah....orang seperti Sani selalu berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan, soalnya dia pejuang keras & nggak ada nyerahnya"


"Hmmh...mungkin beberapa hari kedepan gw mau temuin dia, katanya kan dia mau ikut pertandingan se-Provinsi, gw mau dampingin dia nanti"


Farhan terdiam sejenak, menarik nafas dalam...


"Apa emang dia mau jadi Atlet Pencak Silat?"


"Enggak, dia bilang, setelah pertandingan ini, dia nggak mau ikut lagi, soalnya dia punya tujuan lain yang lebih penting"


"Tujuan? Tujuan apa?"


"Yang pertama jelas, ia ingin usahanya lancar dan bisa merubah keadaan ekonominya, yang kedua dia ingin mensejahterakan Ibunya, dan yang ketiga, tujuannya adalah Ayu, Gadis cantik itu"


"Heehhh....keren ya sahabat lu itu"


"Cuma dia yang bisa kek gitu, kalau gw keknya nggak sanggup"


Saat mereka bercengkrama, ibu Farhan datang membawa 2 cangkir kopi untuk mereka.

__ADS_1


Sambil tersenyum Ibu Farhan menyapa Uki,


"Sudah lama nak Uki?"


"Baru aja kok Bu, kenapa musti repot-repot sih"


"Cuma kopi aja, nggak repot kok"


"Alah..bacooott Lu Ki, coba gak disuguh kopi, paling besok-besok lu ngolok-ngolok gw"


Farhan tiba-tiba menyahut.


Uki melotot kearah Farhan,


"Anjiiiing..!!"


Uki mengucapkan kata itu tanpa suara, dan hanya bibirnya yang terbuka.


"Diminum Nak Uki, ibu ke belakang dulu"


"Iya, makasih banyak Bu"


Mereka pun melanjutkan percapakan sambil menikmati kopinya, serta tak lupa rokok sebagai pelengkapnya.




"Rindra, papa mau bicara empat mata sama kamu, nanti siang jika kuliahmu kosong, datang ke kantor dan langsung ke ruangan papa..!!"



Pak Jaya berucap tegas tanpa menoleh sedikitpun ke Arah Rindra, dia kelihatan sangat serius kali ini.


Rindra sendiri sedikit merinding mendengar cara bicara papanya.



Siang hari saat Rindra kembali dari kampus, dia langsung menuju kantor Papanya, dan langsung menuju ruangan Papanya.



"Tok tok tok"


Rindra mengetuk pintu ruangan.



Pak Jaya merespon dari dalam.



"Ceklek..."


Rindra membuka pintu, lalu menutupnya kembali dan berjalan menuju meja Kerja Papanya.



"Ada apa Pa?"


Rindra bertanya sambil duduk di kursi yang berseberangan dengan kursi Papanya.



Lalu pak Jaya malah berdiri sambil bertolak pinggang.


"Rindra..mungkin kamu sudah tau jika masa muda Papa lebih buruk darimu, tapi itu bukan untuk kau tiru"



Rindra hanya menunduk, dia mengerti maksud dari Papanya.



"Kemana kau kemarin? Anak siapa yang kau tiduri? Papa sudah pernah menasehatimu tentang hal ini sebelumnya, tapi kau seperti tidak peduli..!!!"



Rindra tetap menunduk, dia tidak berani menatap Papanya sedikitpun.



"Mungkin benar kata pepatah ,Jika buah Jatuh tak Jauh dari Pohonnya, kau dan Aku adalah contohnya, Tapi..."


Pak Jaya menghentikan kalimatnya sambil menarik nafas..

__ADS_1



"Apa kau tidak berfikir sedikitpun bagaimana jika nanti kau punya anak perempuan, dan diperlakukan demikian oleh lelaki yang tidak bertanggungjawab...!!!!"



Nada pak Jaya semakin meninggi dan suaranya pun semakin keras.



"Bayangkan hal itu terjadi, bukankah kau akan membunuh lelaki itu, dan sekarang..!!! Bagaimana jika orang tua Gadis itu tau bahwa kau telah merusak anaknya, lalu orang tua itu mencari dan membunuhmu..!!!"



"Apa kau tidak memikirkan bagaimana Ibumu akan menangis jika kau benar-benar mati..!!"



Rindra sudah menangis mendengar bentakan dari Papanya, dia sudah tidak sanggup menjawab apapun, bahkan dia sudah kehilangan keberanian untuk sekedar menatap Papanya.



"Aku memaklumi, jika kau bersikap bejat, itu mungkin menurun dari sifatku, itulah alasan kenapa aku selalu menasehatimu tentang hal ini, aku tidak ingin kau menjadi seperti aku di masa mudaku"



Pak Jaya kembali duduk.


"Apa gunanya kau membanggakan bersahabat dengan Sani, sedangkan kelakuanmu masih berseberangan dia sifatnya?"



Pak Jaya menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya agak keras...



"Sekarang keluarlah, benahi pikiranmu, benahi juga kelakuanmu, Papa tidak ingin terjadi sesuatu padamu gara-gara hal semacam ini"



Rindra pun bangkit dan berjalan menuju pintu dalam keadaan tetap tertunduk.


Dia benar-benar sudah kehilangan keberaniannya di dalam ruangan itu.



Setelah dia keluar, dia berniat nongkrong di tempat yang bisa menenangkan pikirannya saat ini, dia melajukan mobilnya ke suatu arah.



Pikirannya benar-benar sangat kacau, dia menyadari bahwa dia bersalah.


Dia seperti dibutakan oleh kesombongannya sendiri, kesombongan yang dilandasi kekayaan harta benda, yang mana harta benda itu adalah milik orang tuanya.



"Apa aku harus menikahi Anita? Tapi aku sama sekali tidak mencintainya...lagi pula, dia mengejarku karena Harta, juga bukan karena cinta"


Dia bicara sendiri dalam mobilnya.



"Aaarrrgghhh....gobl0k banget sih gw, harusnya orang seperti Anita tidak perlu aku ladenin, harusnya aku cuek sejak awal..!!"


Rindra merasa menyesal dengan apa yang telah terjadi dan apa yang telah ia lakukan.



Dia berusaha tetap tenang, karena saat ini dia sedang menyetir, dia takut jika kehilangan konsentrasi bisa berakibat Fatal Juga.



Akhirnya dia sampai di suatu kafe di dekat pantai itu.


Dia berharap, kencangnya angin dan kerasnya suara deburan ombak mampu menenangkan pikirannya.



Lalu...



"Sebaiknya gw temuin dia malam ini juga, mungkin itu lebih baik, dan bisa menjadi jalan keluar"


__ADS_1


Dia berbicara sendiri sambil manggut-manggut.


Dan dia masih menikmati minuman serta rokoknya di kafe dekat pantai itu hingga hari menjelang petang.


__ADS_2