
Mereka bertiga saling bertukar cerita.
Uki menceritakan apa saja yang sering ia alami di kampus.
Keadaan hidup yang mulai berubah seiring berjalannya waktu serta bertambahnya Usia.
Sani pun berbagi cerita seputar usahanya berjualan.
Mulai dari yang sepele hingga yang membanggakan.
Pak Hambali pun sempat menceritakan perjalanan hidupnya, dan sedikit mengulas kisah masa lalunya.
"Gw sih udah ada cewek yang gw minati, tapi kek nya dia cuek aja, atau mungkin masih menjaga perasaan, gw sendiri belum bener-bener niat mendekati, apalagi memacari.."
"Pacaran itu bisa menambah semangat lu Ki, semangat belajar, semangat kerja, sekaligus semangat Masturbasi juga"
"Haaahaaahaaa...."
Sani dan pak Hambali mentertawakan Uki.
"Anjiiiing lu... jangan-jangan lu sendiri yang sering ngelakuin hal itu San..."
"Ckckckck emang lu kenapa belum mau pacaran?"
"Gw kan beda sama lu San, lu cerdas, jenis..otak lu bisa mikir banyak hal secara bersamaan...Lha gw, mikir kuliah aja kadang ngeLag, apalagi kalau barengan mikirin betina, bisa stress gw"
"Lu meskipun nggak pinter, tp keputusan lu bijak juga ya Ki...ckckckkck"
"Bangkeee...lu mah udah enak, usaha mulai lancar, mana udah punya cewek yang perfect lagi.."
"Ya nggak semudah itu Ki, lu aja nggak ngerasain perjuangan gw di awal, beratnya berangkat pagi, nungguin pembeli, melayani pembeli yang rewel dan ribet, belum lagi kalau sama emak-emak yang hobby ya nawar hargaaaa melulu, kadang pusing juga pala gw..kadang malah Tensi ikutan naik..."
"Wkwkkwkwk....ternyata nggak gampang ya, aku kira udah enak sejak awal"
"Nggak ada orang yang langsung dapet enak Ki, kecuali Rindra.."
"Ckckck....orang tuanya udah kaya, jadi dia nggak perlu repot-repot berjuang dari NOL, tinggal meneruskan aja"
"Masa depan kalian masih panjang, umur kalian kan baru skitar 18, jadi langkah kalian untuk menentukan pilihan masih panjang, nggak usah terburu-buru"
Pak Hambali menasehati mereka berdua.
"Kalian juga harus siap, tidak semua keinginan itu bisa tercapai, tidak semua yang kita mau bisa terwujud, dan tidak semua yang telah kalian miliki bakal kekal menjadi milikmu selamanya "
"Yang pasti, kalian harus mempersiapkan diri, siap secara mental dan fisik, karena bakal ada banyak hal yang akan terjadi dalam kehidupan kalian nanti"
Pak Hambali berbicara cukup panjang kali ini.
"Iya pak, kita harus siap dengan segala keadaan"
Sani mengiyakan Nasehat pak Hambali.
"Pak, apa saya boleh bertanya sesuatu?
Uki tiba-tiba bertanya kepada pak Hambali.
__ADS_1
"Tentang apa?"
"Emm...ini agak privasi, kalau pak Hambali tidak berkenan menjawab, tidak perlu dijawab, dan pak Hambali jangan marah"
"Baiklah, apa itu?"
"Istri pak Hambali dimana pak? Kenapa pak Hambali menduda dalam waktu yang sangat panjang?"
"Kalau aku menceritakan semua, akan memakan waktu yang cukup lama nanti..."
"Ya nggak masalah kan, toh kita disini memang tujuannya untuk ngobrol, entah itu penting atau tidak"
Sani mencoba meyakinkan pak Hambali.
"Istriku meninggal, sejak umur pernikahan kami belum genap 4 bulan"
Pak Hambali mengatakan dengan perasaan sedih karena teringat mendiang Istrinya yang telah meninggalkannya berpuluh-puluh tahun yang lalu.
"Belum genap 4 bulan, bukankah itu masih pengantin baru? Kenapa kau tidak menikah lagi?"
Sani bertanya karena penasaran.
"Hatiku serasa hancur berkeping-keping, aku merasa seluruh cintaku sudah dibawa mati oleh istriku, hingga aku merasa kesulitan jatuh cinta lagi..."
"Separah itukah?"
Sani mencoba menyelidiki...
"Ya...karena Gadis itu adalah cinta pertamaku, itu adalah satu-satunya kejadian di dunia ini yang pernah membuatku lumpuh"
Saat masih menikmati masa-masa pengantin baru, dia harus menerima kenyataan bahwa istrinya pergi meninggalkan dia untuk selama-lamanya.
"Maafkan kami, kamu tidak bermaksud membuatmu mengingat kejadian yang menyakitkan itu"
Sani meminta maaf karena melihat pak Hambali menitikkan air mata.
Mengingat bahwa mereka kesana untuk mencari ketenangan, tapi justru kesedihan yang didapatkan pak Hambali.
"Hhh ...tidak masalah, terkadang bernostalgia dengan masa lalu itu perlu, kita tak bisa mengubah masa lalu, tapi kita punya kesempatan untuk membenahi masa depan kita"
"Apakah sekarang kau sudah bisa melepaskan masa lalumu?"
Sani mencoba mencari tau.
"Yaa ..aku sudah bener-benar melepasnya, tapi sayangnya, usiaku yang sekarang sudah tak lagi pantas melakukan pernikahan"
"Kenapa, jika ada orang yang mau menerima keadaanmu tanpa pengecualian, seharusnya itu bisa membawamu menuju pernikahan..."
"Tetapi belum tentu aku mau dengannya San, dan ketika aku tertarik dengan seseorang, belum tentu dia mau menerimaku..."
Sani terdiam, dia paham dengan maksud pak Hambali.
"Seperti kau yang sudah punya niat menikahi pacarmu, itu karena kau mencintainya, dan dia juga mencintaimu, dan kau tidak mungkin berkenan menikah dengan orang lain yang tidak kau cintai, ataupun memberi pernikahan kepada orang tidak menginginkanmu"
"Yaaa...aku benar-benar paham maksudmu, orang seusiamu, sudah tidak pantas jika berpetualang mencari cinta, itu kan yang kau maksud..?"
__ADS_1
"Benar, jika anak sepertimu mendekati beberapa Gadis untuk kau pilih, itu wajar-wajar saja, tapi orang seumuranku, sudah tidak layak dengan hal semacam itu"
"Lantas, apakah kau akan tetap menyendiri selamanya?"
"Aku juga tidak tau San, jika Tuhan mengirimkan jodoh lain untukku, pasti ada banyak cara aku dipertemukan dengan orang itu, meskipun aku sendiri tidak yakin dengan hal itu"
"Baiklah, sebaiknya kita lupakan sejenak jodohmu yang belum datang, kita nikmati saja kopi dan makanan yang kau bawa ini"
Ucap Sani sambil tersenyum..
"Gw juga udah ikutan tegang sejak tadi, gimana tidak, serius Mulu topiknya"
"Haaahaaahaa...Sani yang membawa topiknya jadi serius"
"Kalau nggak tegang, lu juga bakal makan paling banyak tadi...ckckckck"
"Bangkeee lu San.."
Mereka pun kembali tertawa menikmati suasana malam itu sambil berceloteh tentang apapun.
"Kalau aku punya istri, sepertinya sudah tidak bisa nongkrong disini bersama kalian lagi...hhhhh"
Pak Hambali tiba-tiba menyeletuk..
"Memangnya kenapa? Masa nongkrong aja nggak boleh?"
Sani bertanya kepada pak Hambali.
"Bukan tidak boleh, tapi aku sendiri yang tidak mau?"
"Memangnya kenapa pak, kok tidak mau nongkrong bareng kita lagi?"
Uki bertanya dengan polos..
"Ya mendingan aku ngelonin istriku daripada disini kedinginan"
Uki dan Sani saling pandang, lalu...
"Haaahaaahaaa...."
Mereka pun tertawa terbahak-bahak bersama.
Tidak menyangka jawaban pak Hambali begitu konyolnya.
"Pak, bolehkah kami mendengar cerita tentang masa lalumu, aku ingin tau tentang itu..."
Sani mencoba memancing pak Hambali.
"Hmmm....boleh saja, tapi aku takut kalian akan bosan atau mengantuk, karena ini akan sangat panjang.."
"Tidak masalah jika cerita itu panjang, jika Uki bosa atau mengantuk, aku akan lempar dia ke tengah sawah itu"
"Anjiiiing lu...!!"
Uki langsung protes.
__ADS_1
"Hhhhhh....baiklah, aku akan mulai cerita..."