
"Mas, sekalian ya, mari masuk.."
"Dimana Istrimu dek?"
Wiwik bertanya kepada adik iparnya.
"Eee...mbak, mas, Aan demam, badannya panas sekali, Nanik sedang di kamar mengompresnya"
Lalu Wiwik setengah berlari segera menuju kamar mereka.
Dia segera duduk di samping Aan dan membelai kepalanya.
"Aduh Naaak, kamu kenapa Naak, badan kamu panas sekali.."
Nanik terus memandangi anaknya dengan perasaan yang tidak karuan.
Sedih, takut dan khawatir akan terjadi apa-apa pada anaknya.
"Mulainya kapan Nik?"
"Tadi sore mbak, sekitar jam 3..jam 1 dia berangkat tidur, saat bangun sudah menggigil, dan saat keningnya aku sentuh, sudah panas sekali"
Nanik sudah mulai menangis..
"Dia juga sudah tidak berbicara, hanya melenguh saja dari tadi.."
Mata Wiwik pun mulai berkaca-kaca, ia memandangi suaminya, berharap para lelaki itu melakukan suatu upaya untuk menolong Aan.
Damar pun menarik tangan Hartoyo menuju teras.
"Har, apa nggak sebaiknya kita bawa ke puskesmas saja?"
Hartoyo tidak menjawab, dia memandangi saudaranya itu dengan tatapan penuh arti.
"Pake uangku dulu nggak apa-apa Har"
"Mas, ini mungkin cuma demam biasa, nanti pasti mereda, mas jangan membuat mereka semakin khawatir"
Damar sadar, jika dia menawarkan membawa Aan ke Puskesmas, Wiwik dan Nanik sudah pasti akan semakin khawatir.
Mereka pun terus mengompres Aan berulang kali, sampai-sampai Damar dan Wiwik tidak dibuatkan minuman, karena mereka hanya terfokus dengan keadaan Aan.
Setelah jam 10 malam, tubuh Aan sedikit mereda, tidak sepanas tadi sore.
Nanik pun berdiri, meminta mbak Wiwik mengompres Aan, dan dia sendiri ingin membuatkan kopi untuk saudara iparnya itu.
"Kalau bikin kopi, 1 saja, aku nggak berani, ini sudah malam, mas Damar saja yang ngopi"
"Iya mbak..."
Nanik ke belakang, membuat 2 cangkir kopi, 1 untuk Damar, dan 1 untuk suaminya.
Dia baru ingat jika Hartoyo juga belum ngopi sejak pulang kerja.
Tak berselang lama, Nanik mengantar kopinya ke teras, Damar dan Hartoyo sedang duduk disana.
"Ini pak, Mas, diminum kopinya"
"Terima kasih ya Nik, maaf sudah ngrepotin kamu"
"Nggak apa-apa mas, cuma air aja"
"Kamu tenang ya Nik, Aan bakal sembuh kok, dia nggak apa-apa, jangan khawatir..."
"Iya mas, panasnya juga sudah sedikit mereda"
__ADS_1
"Aku ke dalam dulu ya mas, temani Aan"
"Iya Nik"
Nanik pun kembali ke kamar menemani Aan yang didampingi Wiwik.
"Har, apa aku tidur sini saja ya, temani kalian?"
"Nggak usah mas, nanti malah capek kamu"
"Nggak apa-apa ah...bentar.."
Damar masuk menuju kamar dimana Aan terbaring.
"Dek, kita tidur sini ya, temani mereka?"
Damar bertanya kepada Istrinya.
"Iya mas, nggak apa-apa"
Damar pun kembali ke depan menemui Hartoyo.
"Aku pulang sebentar ya Har, pintunya belum aku kunci tadi"
"Iya mas"
Hartoyo mulai terlihat lemah, dia tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
Dia takut terjadi apa-apa dengan Aan.
"Cepat sehat ya Nak, pulih seperti sebelumnya..."
Hartoyo berbicara sendiri sambil menutup muka dengan kedua tangannya.
Tak lama kemudian, Damar sudah kembali sambil membawa 1 selimut dan 1 sarung.
Kemudian dia kembali ke teras untuk menemani Hartoyo.
"Mas, kalau sampai besok pagi Aan belum reda panasnya, aku nggak ikut kerja ya, tolong sampaikan ke Mandornya"
Hartoyo meminta tolong kepada kakaknya.
"Iya Har, besok tak sampaikan, tapi semoga saja Aan sembuh, biar nggak jadi beban pikiran, aku sendiri juga nggak bisa fokus kerja kalau Aan belum sembuh, mungkin aku juga ikut bolos kerja"
"Jangan mas, Mas kerja saja, biar aku sama Nanik yang ngurusin Aan, lagian ada mbak Wiwik, jadi Mas Damar bisa tetap kerja".
"Tapi tetap saja aku khawatir Har, Anakmu itu Anakku juga, kalau ada apa-apa, aku pasti ikut merasa sedih".
Saat Hartoyo hendak menyeruput kopinya, Damar mentahannya...
"Har, kamu sudah makan semenjak pulang kerja?"
"Belum mas, aku sudah nggak punya nafsu makan"
"Aku tau kamu khawatir Har, tapi jangan mengabaikan kesehatanmu sendiri, kalau kamu minum kopi dalam keadaan perut kosong, itu membahayakan lambungmu"
"Tapi aku bener-bener sudah Ndak ada nafsu makan Mas"
"Har, Aan sedang sakit, belum sembuh sampai saat ini, kalau kamu ikutan sakit karena masalah sepele begini, bukannya malah repot nantinya?"
Hartoyo terdiam, apa yang dikatakan kakanya itu ada benarnya, dia harus menjaga kesehatannya.
"Udahlah, kamu makan dulu, sedikit juga nggak apa-apa, yang penting perut terisi, biar aman kalau kamu minum kopi"
"Baiklah, mas tunggu bentar ya, atau mau ikutan makan?x
__ADS_1
"Tadi aku sudah makan sebelum kesini, sudah kamu makan sendiri aja"
"Bentar ya..."
Hartoyo menuju dapur untuk mengisi kekosongan perutnya, sedangkan Damar mulai melinting tembakau yang ada di meja teras itu.
Setelah beberapa saat, Hartoyo kembali ke teras.
Dia langsung menyeruput kopinya, lalu melinting tembakau dengan ukuran yang cukup besar.
"Kamu mau bakar rumah atau gimana ckckck..."
Damar terkekeh melihat ukuran rokok lintingan adiknya.
"Hihi...Biar kenyang, siapa tau bisa mendengarkan pikiranku saat ini"
"Kalau Aan belum sembuh, besok pagi-pagi sekali aku mau ke proyek, mau titip pesan buat mandornya kalau kita nggak masuk kerja"
"Kalau kita dipecat bagaiman mas?"
Damar menghisap rokoknya, lalu menghembuskan asapnya..
"Kerja di tempat lain pasti ada Har...nggak usah terlalu khawatir"
"Orang yang nggak sekolah seperti aku, sulit mendapat pekerjaan mas"
"Tapi kamu punya kemampuan, asalkan mau berusaha pasti mendapat bagian, rejeki tidak akan tertukar kok"
Hartoyo menghisap rokoknya, dia membenarkan kata-kata kakaknya itu, tapi dia tetap realistis, walaupun punya kemampuan, dia hanya bisa bekerja untuk 1 bidang saja.
Berbeda dengan kakaknya yang sudah menjadi tukang, lebih luas wilayahnya.
Tapi dia tidak pernah berkecil hati, dia akan tetap berjuang, apapun pekerjaannya, demi mencukupi kebutuhan keluarganya, dia akan tetap lakukan.
Sampai tengah malam, mereka masih duduk di teras.
Udara dingin pun mulai berhembus menerpa tubuh mereka.
"Mas, kita masuk aja yuk, sudah dingin disini".
"Ayok, kuat tengok keadaan Aan"
Mereka pun masuk ke dalam rumah, dan menutup pintu depan.
Damar langsung menuju kamar tempat Aan dirawat.
"Sudah menurun panasnya?"
Dia bertanya kepada istrinya.
"Sudah agak mendingan, tapi belum benar-benar reda".
"Semoga lekas pulih kembali, kalian yang sabar, kalau sudah lelah, tidurlah disamping Aan".
Nanik dan Wiwik pun mengangguk.
Hartoyo yang memandang mereka dari pintu kamar pun berusaha tetap tenang, meskipun pikirannya sudah mulai kacau.
"Kita istirahat di sini saja Har"
Damar mengajak Hartoyo tidur di depan pintu kamar"
"Iya mas, aku ambil tikar dulu"
Hartoyo pun menggelar tikar dan menyiapkan 2 bantal untuk tidur mereka malam ini.
__ADS_1
Mereka kemudian merebahakan diri, dan mencoba memejamkan mata.
Mereka berharap besok Aan sudah pulih kembali.