Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Pertandingan dan Perpisahan


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian...


Akhirnya pesta perpisahan itu pun tiba.


Sebulan sebelumnya, Sani menembak Ayu, dan mereka sudah berpacaran.


Setelah sebelumnya menjalani Latihan fisik serta spiritual dari Pak Hambali, Sani pun mempersiapkan diri melakoni pertandingan Pencak Silat antar siswa itu.


Sebelum berangkat, Sani memohon Do'a Restu dari Ibunya, tak lupa pula berpamitan dengan Pakde Damar dan Bude Wiwik.


Pakde Damar memberikan uang saku 100ribu untuk bekal khusus Sani dalam menjalani pertandingannya.


Karena jadwal pertandingannya dari pagi hingga malam Hari.


Sani juga menyempatkan Video Call dengan Zaiyu, sekaligus meminta Do'a dari kedua orang tua Zaiyu.


Sani berangkat dengan pak Hambali, yang mana pak Hambali sendiri yang akan menjadi Official Team Sani.


Namun ditengah perjalanan, pak Hambali berhenti di depan pasar tradisional terdekat.


Lalu turun dari motornya


"Kamu tunggu disini sebentar ya San"


"Iya pak"


Sani mengiyakan meskipun tidak tahu apa yang akan dilakukan pak Hambali.


Setelah beberapa saat, pak Hambali keluar dan membawa bingkisan kecil yang dibungkus kantong plastik hitam.


Sani tidak menanyakan apa bingkisan itu saat pak Hambali mengajaknya melanjutkan perjalanan.


Namun tiba-tiba pak Hambali membelokkan motornya ke arah pemakaman Umum.


Sani yang sebenarnya belum mengerti hanya menurut saja.


Saat berhenti dan turun dari motor


"Kamu nyekar dulu ke makam Ayahmu, mendo'akan dia, barangkali ini bisa menjadi alasan kelancaran pertandinganmu Nanti"


Perintah pak Hambali.


Sani yang langsung paham dengan maksud Guru silatnya itu segera berjalan menuju makam ayahnya, dan melakukan ritual do'a untuk Ayahnya.


Setelah selesai, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke sekolahan.


~~


"Kamu grogi?"


Tanya pak Hambali ketika melihat Sani terlihat tidak tenang.


"Iya pak, ini pertandingan pertamaku, pikiranku kemana-mana"


Pak Hambali mendekati Sani sambil menyodorkan air mineral botol kecil,


"Minumlah sedikit, dan tarik nafas dalam-dalam, lalu hembuskan, lakukan 3x, itu bisa sedikit menenangkanmu"


Lalu Sani mengikuti arahan pak Hambali, dan dia merasa lebih tenang kali ini.


Sesuai jadwal Sani akan bertanding jam 10 pagi, jika menang, maka bertanding lagi jam 4 sore.


Jika mampu meraih kemenangan lagi, maka dia akan masuk Final dan pertandingan Finalnya dijadwalkan malam Hari pukul 21.00.


Saat melakoni pertandingan pertamanya, selain Uki, tak ada satu pun teman seangkatan Sani yang menyaksikan pertandingannya, karena semua memilih untuk menonton Pesta ini pada malam hari nanti di acara puncaknya.


Bahkan saat menjalani pertandingan kedua, teman seangkatan Sani belum ada yang datang.


Sani menang mudah di pertandingan pertama dan keduanya.


Itu artinya nanti malam Sani akan masuk Final, dan akan bertanding melawan Wakil dari SMA 3.


Rasa bahagia sekaligus groginya semakin besar saat itu.


"Tidurlah walau sebentar, itu bisa memulihkan tenagamu yang sudah terkuras"


Nasihat pak Hambali di dalam ruangan yang disediakan khusus untuk Atlet Pencak Silat.


Disana juga ada Uki yang selalu menemani Sani.


"Iya pak, Sani gak ngantuk"


"Tidurlah sekarang juga..!!"


Pak Hambali memerintah dengan tegas.


Lalu Sani pun menurut saja tanpa membantah lagi.



Saat malam tiba, hanya panggung hiburan yang paling ramai, dan panggung pencak Silat yang paling sepi.


Karena semua tidak tahu kalau ada wakil dari sekolahannya yang bertanding di Final malam itu.



Tapi semua berubah saat pembawa acara menyiarkan acara itu.



"Yang kita tunggu malam ini, pertandingan Final Kejuaraan Pencak Silat antar Pelajar, yang akan menampilkan wakil dari tuan Rumah SMA Negeri 1"



Saat kalimat itu diucapkan, semua teman seangkatan Sani menoleh ke arah suara itu, mereka bertanya-tanya, siapakah gerangan wakil itu?



Karena sebelumnya tidak ada informasi apapun yang tersebar kalau SMA 1 memiliki wakil di pertandingan pencak silat ini.



"Melawan wakil dari SMA Negeri 3"



Hampir semua orang mulai berduyun-duyun ke arah panggug pencak silat itu.



"Dari sudut merah, mewakili Tuan rumah SMA Negeri 1, SANI DWI HARTOYO"



Semua orang langsung berlari sambil bertepuk tangan dan seakan tidak percaya kalau Sani mengikuti pertandingan ini dan masuk Final.



Mereka pun melihat Sani maju ke arena dan melakukan penghormatan.

__ADS_1



"Dan dari sudut Biru, mewakili SMA Negeri 3, WAWAN PRAYOGA"



Juga diiringi tepuk tangan yang tak kalah meriah, karena memliki banyak pendukung.


Karena dia sudah sering mengikuti pertandingan antar siswa dan langganan jadi Juara.



"Sani ikut pertandingan pencak silat dan masuk Final?, Gw bener-bener gak nyangka"


Ungkap Rindra yang masih belum percaya dengan apa yang ia lihat.



"Gw sendiri sempat syok mendengarnya"


Timpal Odi



"Jadi selama ini...."


Rindra tak melanjutkan kata-katanya



"Kalau Sani mau, kita udah dihabisin Sani dari dulu"


Sahut Farhan menegaskan.



~~



"Mulai..!!"



Teriakan Wasit yang memimpin pertandingan antara Sani dan Wawan.


Ronde pertama dimulai, Wawan terlihat mendominasi, karena Mental dia jauh lebih unggul dibanding Sani.



Karena kurang percaya diri, akhirnya Sani dijatuhkan di Ronde Pertama.


Seketika Sani down, pikirannya gak karu-karuan, serangannya pun tidak jelas.



Namun, pada saat jeda Ronde pertama, pak Hambali menasehati Sani.



"Tenangkan Pikiranmu, bertandinglah dengan bebas, betandinglah tanpa Beban"



Sani hanya mengangguk



"Ini pertandingan pertamamu, kamu masuk Final saja sudah luar biasa, kalau kalah, ya gak masalah, aku sudah bangga padamu, apalagi kalau kamu mampu mendapat kemenangan"



Sani memejamkan mata sejenak, dan menarik nafas panjang seperti yang diajarkan pak Hambali tadi pagi.


Dan dia sedikit merasa lebih tenang.



Saat Ronde kedua akan di mulai, Sani menoleh ke arah penonton, dan tidak sengaja melihat Zaiyu disana.


Menyadari Sani menatapnya, Zaiyu memberi kode dengan mengangkat serta mengepalkan tangannya, yang berarti memberi Semangat kepada Sani.



Dan saat Ronde kedua, Sani lebih tenang, karena sebelumnya Wawan mendominasi, dia berinisiatif menyerang duluan, tapi Sani dengan sigap mengantisipasi serangan Wawan, dan ketika Sani melihat celah,,



"Buuukkkk"



Tendangan Sani masuk menembus pertahanan Wawan, dan mengenai dadanya dengan Keras hingga Wawan jatuh.



Semua penonton dari SMA 1 bersorak dan bergemuruh melihat Sani unggul di Ronde kedua.



Saat pertandingan dilanjutkan, Wawan sedikit emosi karena telah dijatuhkan, ketika melihat kesempatan, Wawan melancarkan tendangan keras kearah Dada Sani.



Tapi Sani dengan sigap menghindar sambil menangkap kaki Wawan, dengan gerakan cepat, Sani menyeret kaki Wawan, lalu melemparkannya ke arah samping hingga Wawan jatuh berguling.



Dan kembali gemuruh penonton dari SMA 1 terasa menggetarkan panggung pencak silat itu.



Saat pertandingan akan dilanjutkan kembali..



"Sani Sani Sani Sani Sani..!!"



Penonton dari SMA 1 meneriakkan nama Sani tanda dukungan mereka, hingga Sani pun merasa lebih tenang dan percaya diri.



Karena Wawan yang telah dikuasai Emosi, serangan yang dilakukan pun menjadi tidak terarah dan sangat mudah di antisipasi, hingga pada suatu moment



"Buukk Buukk Bukkk"

__ADS_1



Pukulan Sani 3x beruntun masuk menerobos pertahanan Wawan dan telak mengenai dada Wawan hingga ia jatuh karena kehilangan keseimbangan.



Saat Wawan mencoba bangkit, tiba-tiba kain putih berkelebat jatuh disampingnya tanda menyerah.



"Hooooooeeeeeeyyyy"


Sani pun berteriak kegirangan dan berlari mengelilingi panggung itu sambil menangis.



Dia sendiri hampir tidak percaya dengan kemenangan ini.


Seluruh penonton dari SMA 1 pun berteriak kegirangan, ini bukan kemenangan Sani saja, ini juga kemenangan mereka, karena Sani membawa nama baik Sekolahnya.



Tidak hanya murid dari SMA 1, para Guru bahkan Kepala Sekolah pun ikut menyaksikan pertandingan itu dan bertepuk tangan untuk Sani.



Dan juga sepasang mata yang menangis di samping panggung saat itu adalah Zaiyu, dia sangat bahagia karena pacarnya mendapatkan Kemenangan di pertandingan Final ini.



Sani yang berlari mengelilingi panggung, langsung berlari menuju pak Hambali, menjabat sekaligus mencium tangannya, lalu memeluk Guru Silatnya itu dalam keadaan masih menangis bahagia.



Setelah melepas pelukan pak Hambali, Sani mendatangi Uki, lalu memeluknya, dia Sahabat yang selalu mendukung Sani dalam keadaan apapun.



Saat Sani kembali mendekati pak Hambali, seluruh tim Lawannya datang mendekat.



"Selamat ya Sani, kamu bertanding dengan bagus, tendangan dan pukulan kamu luar biasa, kamu pantas menjadi Juara"


Ucap pelatih Wawan yang bernama Dio



"Terima kasih banyak mas"


Balas Sani sambil menjabat tangan Dio.



"Kamu mempunyai Guru yang Hebat Sani, bahkan aku sudah memprediksi hasil dari pertandingan ini, dan prediksiku tidak meleset"



Sani tersenyum sambil menoleh ke arah pak Hambali.



"Aku dulu juga murid pak Hambali, jadi bisa dibilang, kau adalah adik seperguruanku"


Lanjut Dio



"Hah..jadi?"


Belum sempat Sani menyelesaikan kalimatnya



"Ya, dia adalah saudara seperguruanmu"


Pak Hambali menimpali.



Lalu Sani pun memeluk mas Dio.



Kemudian Wawan mengulurkan tangannya kepada Sani sambil memberi ucapan selamat



"Bagaimana mungkin aku bisa menang melawan Pendekar yang seharusnya menjadi Guruku"


Ucap Wawan sambil tersenyum



"Tapi kau berhasil menjatuhkanku tadi"


Balas Sani



"Haaahaaahaa"


Mereka semua tertawa bersama, lalu berjalan beriringan menuju podium untuk menerima Hadiah dan Pialanya.



Sani berlari menuju panggung sambil membawa Pialanya, dia mencari Ayu untuk diajak Foto bersama.


Tapi dia tak kunjung menemukannya, akhirnya Sani mencoba menelponnya, sesaat kemudian, Sani mendengar dering telfon di sekitarnya.


Ternyata Ayu sudah dibelakangnya.


Dia menatap Sani sambil tersenyum manis.


Reflek, Sani langsung mendekat lalu memeluk Ayu, Ayu pun kaget dengan keadaan itu, tapi tidak berani melepaskan pelukan Sani.


"Cieeeeeeeeeeee"


Terdengar teriakan dari teman-teman Sani dan Ayu yang melihat mereka berpelukan.


Sani lalu melepaskan pelukannya sambil tersipu malu.


Lalu mengajak Ayu selfie membawa Pialanya.


Sesaat kemudian, Ayu pamit kepada Sani, dia berkata bahwa Ayah, Ibu dan Adiknya sudah menunggu.


Sani merasa bahagia dengan keadaan ini, dia tidak menyangka Ayu mengajak keluarganya menyaksikan pertandingannya malam ini.


Hingga di penghujung malam, mereka berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2