Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Apakah kau akan Pulang ???


__ADS_3

Zaiyu mencoba menghubungi Sani, chattingnya tidak masuk, telpon pun tidak berdering.


"Kemana sih dia?, Sejak pulang dari sini, sampai sekarang belum ngasih kabar apa-apa"


Kemudian dia menyusul Ibunya yang sedang memasak di dapur.


"Bu, kok mas Sani gak bisa dihubungi ya, sejak pulang dari sini, berarti sudah 3 hari, kok nggak berkabar apapun"


Ayu bercerita kepada Ibunya sambil memandangi layar handphonenya.


Bu Indri yang mengetahui kebenarannya, tidak ingin menceritakan yang sebenarnya.


Dia tidak tega melihat anaknya bersedih, sedang saat ini, dari mata Ayu sudah terpancar kekecewaannya yang mendalam.


"Mungkin dia masih sangat sibuk dengan persiapan usahanya"


Bu Indri mencoba menenangkan Ayu


"Tapi kok sampai 3 hari, apa terlalu berat ngasih kabar ke Ayu..!!"


Rasa kecewa dan Cemburu kini menghantui perasaan Ayu.


Bu Indri mendatangi Ayu dan memegangi pundaknya,


"Sabar ya, pacarmu itu tipe orang yang selalu berfikir dan mengerjakan apa yang ada di pikirannya, kamu nggak boleh mencemburui hal yang belum kamu ketahui dengan pasti"


"Iya Bu"


Ayu beranjak pergi dengan membawa kekecewaannya.


Disekolahpun Ayu terus memikirkan Sani,


"Ada apa sebenarnya, apa aku harus ke rumahnya, tapi itu tidak mungkin, aku tidak memiliki keberanian itu"


Ayu berguman sendiri.



Pukul 7 pagi, pak Hambali berangkat mencari Sani, tapi menyempatkan diri mampir ke rumah bu Nanik.



"Jika aku berhasil membawa Sani pulang, apakah ibu mau mendengarkan penjelasannya?"



"Iya pak, aku berjanji akan mendengarkan semua penjelasannya asalkan dia mau kembali ke rumah"



Bu Nanik menjawab serta memohon pada pak Hambali.



"Baiklah, janjimu akan kugunakan sebagai alat untuk memaksa Sani pulang"



Bu Nanik mengangguk pasrah dan berharap pak Hambali berhasil menemukan dan membawa Sani pulang.



"Baiklah, aku berangkat, do'akan yang terbaik..!!"



"Iya Pak"



Setelah menggeber motornya ke suatu arah, pak Hambali berhenti di bawah bukit.


Beliau melihat bukit, dan terlihat ada kepulan asap dari atas bukit.



"Kau pasti sudah merasakan kedatanganku"



Pak Hambali bergumam sambil melangkahkan kakinya menuju atas Bukit itu.



Setelah sampai ditatas bukit, pak Hambali berjalan menuju Gubuk di tengah bukit itu.



"Apa yang sebenarnya terjadi?"


Pak Galih membuka percakapan dengan Istrinya


"Belum ada informasi apapun tentang Sani?"


"Belum, belum ada informasi apapun"

__ADS_1


Pak Galih masih keheranan dengan keadaan ini.


"Dia anak baik, seperti Ayahnya, sangat baik, tapi kenapa sampai kabur dari rumah, aku benar-benar bingung dengan keadaan ini"


Pak Galih terduduk sambil memegangi kepalanya karena merasa buntu dalam memikirkan hal ini.


"Semoga segera ada kabar baik dari Sani"


Bu Indri berkata penuh Harap.



Pak Hambali melangkah dengan Yakin menuju Gubuk itu, setelah cukup dekat, dia melihat seseorang sedang duduk membelakanginya menghadap perapian.



Pak Hambali memperlambat langkahnya, sambil tersenyum dia terus mengamati orang itu.



"Aku tau, kau yang akan datang kesini, karena hanya kamu yang tau tempat ini"



Orang itu berbicara tanpa menoleh sedikitpun, seperti sudah tau bahwa ada sesorang yang mendekatinya.



"Kau bahkan sudah mengetahui keberadaanku tanpa menoleh sedikitpun"



Pak Hambali menanggapi sambil tersenyum.



"Singkong yang ku bakar sudah matang, kau mau?"



"Tentu saja, kita belum pernah makan bersama kan?"



Pak Hambali segera duduk di depan orang itu.



"Setelah kita makan singkong ini, berjanjilah kau mau pulang bersamaku"




"Apakah kau sudah meyakinkan Ibuku?"



"Kau meragukanku?"



"Tidak, kau tidak pernah gagal dalam Hal ini"



"Dan perkembangan spiritualmu itu membanggakanku"



"Heh...kita pulang nanti sorez aku masih ingin menikmati ketenangan disini untuk sesaat"



"Baiklah, aku akan menemanimu"



Setelah menunggu hingga matahari condong ke Barat, pak Hambali mengajak Sani turun untuk pulang menuju Ibunya.



"Ceklek"


Pintu itu perlahan terbuka, mata Ibu Nanik terbelalak dan langsung menitikkan air matanya, dan langsung berlari menghamburkan diri ke pelukan anaknya.


"Maafkan Ibu Nak, Maafkan Ibu, Ibu kelewatan"


Ibu Sani menangis di pelukan anaknya.


"Ibu tidak bersalah Bu, Sani yang harusnya minta maaf, karena tidak bisa menyampaikan sesuatu dengan benar"


Sani pun memeluk erat Ibunya.


"Kamu baik-baik saja kan Nak?"

__ADS_1


Bu Naik melepas pelukan lalu membelai kedua pipi Sani.


"Sani baik-baik saja Bu"


Sesaat kemudian pakde Damar dan Bude Wiwik juga telah sampai disana.


"Sekarang jelaskan sejelas-jelasnya, apa yang ingin kau katakan tempo Hari"


Perintah pak Hambali kepada Sani.


Lalu Sani mendudukan Ibunya di kursi ruang tamu, dan mulai menceritakan tentang kebenaran yang dia ketahui.


Setelah hampir satu jam, Ibunya memahami apa yang dikatakan Sani, dia kembali menangis dan meminta maaf atas kemarahannya kepada Sani.


Sesaat kemudian...


"Selamat sore"


Semua menoleh ke arah pintu, dan Sani sangat kaget dengan siapa yang datang.


Dia melongo hingga mulutnya terbuka karena keterkejutannya itu.


"Selamat datang pak Galih, silahkan duduk"


Pakde Damar mempersilahkan pak Galih yang datang bersama Istri dan seorang anaknya.


"Terima kasih pakde Damar"


"Apa kabar Bu Hartoyo?"


Pak Galih menyalami Ibu Sani sambil menanyakan kabarnya.


Ibu Sani tidak menjawab, tapi malah menangis tersedu karena teringat dengan kesalahannya selama ini.


Setelah melewati percakapan panjang, mereka saling minta Maaf, dan berniat melupakan segala hal di masa Lalu.


Saat Hari menjelang Gelap, pak Galih berpamitan kepada Bu Nanik dan semua yang disana.


"Bu Hartoyo, mendiang Suamimu memiliki anak yang akan membanggakan orang tuanya nanti, saya berharap benar-benar memilikinya sebagai menantu yang membanggakan"


"Sani juga sangat beruntung, mendapatkan Gadis yang cantik bak Bidadari"


Ucap Ibu Sani sambil memandangi Ayu.


Ayu pun tersipu malu mendengar pujian Ibunya Sani.


"Tidak, tapi anakku lah yang sangat beruntung mendapatkan Sani"


Dan akhirnya mereka mengantarkan keluarga pak Galih sampai ke luar pintu.


Saat akan memasuki mobilnya, pak Galih menoleh


"Sani, sering-sering apel ke rumah pacarmu ya"


Ucapnya seraya tersenyum lebar


"Ayaaahhh...apa-apaan sih"


Ayu memprotesnya


"Iya pak"


Jawab Sani seraya tertawa


"Mulai sekarang, kamu harus memanggilnya Ayah juga"


Timpal Bu Indri sambil tertawa


"Haahaahaa"


Mereka semua tertawa secara bersamaan.


Ayu yang sudah masuk mobil merasa malu sekaligus bahagia dengan keadaan ini.


Bersamaan itu, pak Hambali juga berpamitan pulang.


"Terima kasih ya pak, sudah membawa Saniku pulang"


Ucap pakde Damar kepada pak Hambali


"Dia juga sudah seperti anakku sendiri, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika tidak berhasil membawanya pulang"


Ucap pak Hambali, seraya melangkahkan kakinya keluar dari kediaman Sani.


Lalu pakde Damar dan Bude Wiwik pun pulang ke rumah mereka.


Dalam perjalan pulang, tiba-tiba Bu Indri nyeletuk ke arah suaminya


"Sebentar lagi akan bertambah satu anak yang akan memanggilmu Ayah"


"Dan akan bertambah pula seorang anak yang akan memanggilmu Ibu"


Pak Galih menimpali.


"Haaahaaahaaa"

__ADS_1


Mereka berdua tertawa bersamaan.


Sedangkan Ayu membuang pandangannya ke arah luar jendela Mobil sambil tersenyum lebar, dan berharap bahwa ini adalah kenyataan, bukan hanya sekedar mimpi.


__ADS_2