
Dalam perjalanan pulang, Sani menikmati setiap kayuhan sepedanya, dia tersenyum hampir sepanjang jalan, karena perasaannya benar-benar bahagia.
"Lhoh, itu masnya yang jualan sayur ya?"
Sani menoleh ke suatu arah, ada 3 orang ibu-ibu yang berkumpul, dan salah satunya seperti sedang bertanya.
"Iya Bu.....ini saya yang tadi jualan Sayur.."
Ucap Sani sedikit berteriak sambil tersenyum.
"Astaga....dia masih muda, tapi semangatnya luar biasa ya"
Ibu yang tadi berteriak, merasa salut dengan perjuangan Sani.
"Mungkin dia memang bukan orang kaya, makanya dia bekerja keras, dia pasti berharap bisa merubah ekonominya"
Sahut ibu yang satunya
"Sepertinya iya, asal dia disiplin, jujur dan pantang menyerah, suatu sat dia juga bisa kaya dari hasil jualan Sayur"
Timpal ibu yang satunya lagi.
"Sayangnya aku nggak punya anak wanita, kalau ada, pasti aku jodohin"
Sesal ibu yang pertama tadi.
"Ya udah kamu jadiin simpenan aja, lumayan dapet berondong, ganteng pula"
"Haaaahaaaahaaaa...."
Mereka bertiga pun terbahak-bahak dengan obrolan mereka sendiri.
"Besok Farhan akan operasi, Papa jadi kan membayar biayanya?"
"Tentu saja"
Ucap papa Rindra sambil tersenyum
"Om Maman akan menjual motornya untuk biaya operasi, dan aku melarangnya, mereka mungkin akan kesulitan nantinya jika kehilangan kendaraan"
"Kamu memang anak baik, suatu saat, aku ingin kau berteman dekat dengan Sani, karena dia adalah ilmu yang berjalan"
Pak Jaya berbicara sambil menepuk pundak Anaknya
"Sebenarnya saat ini juga sudah lumayan dekat pa, hanya saja Rindra tidak ingin pekerjaannya terganggu"
Rindra menarik napas,
"Rindra dengar, dia memulai jualan hari ini"
"Oh ya..??? Aku baru tahu..."
"Jika suatu saat tanah itu benar-benar akan dibangun perumahan, Ayah janji, akan mencarikan tempat baru yang lebih bagus dan lebih ramai dari sebelumnya"
"Dan jika Rindra adalah anak yang baik, itu karena aku adalah Anakmu..."
Rindra tersenyum lalu memeluk Ayahnya.
"Rindra akan berusaha menjadi lebih baik dari Sani, atau setidaknya, Rindra setara dengan Sani, dan juga...."
Papanya mengerutkan kening saat Rindra menghentikan kalimatnya...
"Jika suatu saat Rindra benar-benar akan memimpin sebuah perusahaan, aku ingin orang seperti Sani menjadi bagian dari perusahaanku"
"Begitukah..??? Jika memang kau berfikir demikian, itu berarti....Kau memang Anakku !!! Karena aku juga sedang memikirkan hal yang sama"
Ayah dan Anak itupun tertawa bersama.
Tiba-tiba...
__ADS_1
"Kau sudah punya pacar..??"
Rindra menggelengkan kepalanya
"Kenapa..??? Biasanya kau tidak pernah sendiri ?"
"Heeheeh....Pa, otakku tidak sehebat Sani, yang bisa memikirkan banyak hal dalam waktu yang bersamaan, saat ini aku hanya mampu fokus satu hal saja, yaitu Kuliah"
"Dan pada akhirnya, Sani lagi yang kau jadikan tolak ukur?"
"Haahaa...Begitulah, dulu aku sangat membencinya, itu karena kecerdasannya, tapi saat ini dunia dan pikiranku telah terbalik, aku sangat menghormati dan menghargainya, itu juga karena kecerdasan serta semangatnya"
"Apakah itu juga menjadi salah satu alasanmu membatalkan niatmu...."
"Ya..!!"
Belum sempat pak Jaya menyelesaikan kalimatnya, Rindra sudah memotong pembicaraannya.
"Itu adalah salah satu alasanku..!!"
"Aaaaargh....sebenarnya apa ini, semakin hari, sakit kepalaku semakin sering terjadi, dan rasanya semakin sakit"
Ayu mengeluhkan sakit kepalanya yang kambuh saat masih berada di kelas, dia bahkan tidak jadi ke kantin saat itu.
"Apa ini Vertigo? Atau sakit kepala biasa? Tapi jika sakit kepala biasa, kenapa sering terjadi...?"
Ayu menahan rasa sakit di kepalanya sambil berbicara sendiri..
"Assssh...benar-benar sakit"
"Apakh aku punya penyakit berat..?"
"Deg...!!!"
"Aaaaargh....kenapa semakin sakiittt"
Dan rasa kekhawatiran Ayu justru menambah sensasi sakit yang luar biasa di kepalanya.
Saat itu di kelas tidak ada siapapun selain Ayu, karena saat itu jam istirahat.
Ayu hanya berharap, saat sudah masuk, sakitnya sudah mereda, dan dia mencoba tenang.
Perlahan, rasa sakit itu pun berangsur-angsur mereda dan kemudian hilang.
Ayu kemudian mengusap air matanya, saat menahan sakit kepala tadi, dia memang sempat menangis.
Lalu dia melihat hp nya, tidak ada satupun pesan yang masuk dari Sani.
"Kok belum membalas? Kemana dia? Atau sepi kah jualan pertamanya?"
Ayu langsung membuang rasa khawatirnya dan mencoba berfikir lebih positif, karena dia tak ingin sakit kepalanya kambuh.
Tapi tiba-tiba...
"Kling"
Sebuah pesan masuk, dan terlihat di notifikasi bahwa itu pesan dari Sani.
Sani yang baru saja sampai rumah langsung Mandi, lalu bikin kopi sendiri, karena saat itu ibunya sedang bekerja diluar.
Saat duduk di teras, Sani membuka hp nya,
"Astaga...pesan dari Ayu, sudah 2 jam yang lalu...kok aku nggak tau ya..."
Lalu Sani segera membuka pesan itu.
"Pagi Sayang, gimana jualan pertamanya? Lancar?"
Sani pun tersenyum, panggilan Sayang dari Ayu itu layaknya obat penghilang rasa lelah.
__ADS_1
"Siang Sayang, hehe maaf baru bales, nggak lihat ada pesan dari kami"
"Lancar..lancar banget jualan pertama ini, Mas banyak bertemu orang-orang baik yang mau membantu mempromosikan dagangan Mas secara Gratis"
Ayu pun yang mendapat balasan dari pacarnya itu langsung membuka, dan tersenyum ketika membacanya
"Syukur deh...sudah makan..?"
"Sudah Sayang, kamu bawa bekal nggak ke sekolah?"
"Iya, bawa kok, tadi disiapin sama Bundaku hehe"
"Iya, cepetan dimakan ya..."
"Iya Mas, bentar lagi....Emmm...Mas, aku boleh ngomong sesuatu..?"
"Boleh kok, apa?"
"Emmm...aku kangen...hihihihi"
"Wkwkwk baru juga kemarin lusa ketemu, masa udah kangen lagi?"
"Emang nggak boleh? Emang Mas nggak kangen sama Ayu? Ya udah deh, nggak usah ngobrol"
Ayu merajuk layaknya wanita pada umumnya.
"Yeeeee...ngambek, ya bolehlah, bahaya juga kalau nggak kangen...wkwkwk"
"Terus, Mas nggak kangen sama aku..?"
"Emmm...gimana ya....???"
"Dah ah...Males Males Maleeeeesss, dah, jangan bales lagi, udah males, udah nggak Mood"
"Wkwkwk gitu amat sih,, ya udah deh, Mas juga kangen kok, siapa sih yang gak kangen sama bidadari mungil ini"
Sani memberi emot Kiss di akhir pesannya.
"Hehe gitu kek dari tadi, gak bikin jengkel"
Ayu pun membalas emot Kiss dari Sani.
"Ya udah, sekarang makan dulu ya, dimakan bekalnya, Mas mau istirahat sebentar"
"Iya Mas, baik-baik ya Sayangku, I Love You"
"I Love you too"
Mereka benar-benar dalam masa indahnya jatuh cinta khas anak remaja, yang manja, lebay, ngambekan dan yang sering kangen bahkan baru ketemu sekalipun.
Dan saat menjelang Sore, Sani kembali mengambil barang dagangan dari tetangga guna dikumpulkan dan di siapkan, untuk dijual besok pagi.
__ADS_1
Karena sejak hari itu, dia sudah memulai Rutinitas baru dalam hidupnya.