
Sampai di rumah, Rindra mengadukan perbuatan Sani kepada orang tuanya, berharap Ayah dan Ibunya membela dirinya.
Dengan menambahkan bumbu drama dalam ceritanya, Rindra berpura-pura merasa sakit di perutnya dan merengek-rengek di depan orang tuannya.
"Anak macam apa Sani itu, beraninya main kekerasan sama anak Mama"
Bu Sulastri berbicara geram sambil mengusap-usao kepala Rindra.
"Pa...papa suruh orang atau preman untuk pukuli anak kurang ajar itu, dia harus diberi pelajaran karena telah memukuli anak kita"
Pak Jaya Ahmad hanya diam tanpa Ekspresi, melipat tangannya di depan dada sambil menatapi istri dan anaknya itu.
"Papa kenapa diam saja, lihat Rindra dari tadi meringis kesakitan, kalau terjadi apa-apa dengan anak kita bagaimana?"
Bu Sulastri terlihat marah kepada suaminya.
"Rindra, ceritakan yang sebenar-benarnya, bagaimana awal mulanya sampai kamu dipukuli oleh anak bernama Sani itu..!!
Pak Jaya berbicara dengan nada serius kepada anaknya.
Lanjut pak Jaya berkata
"Ceritakan dan jangan sampai kamu bohong, atau ayah sendiri yang akan mencari tahu kebenarannya, lalu ayah akan memutuskan sikap Ayah selanjutnya"
Rindra sedikit gugup mendengar perintah Ayahnya, sepertinya ini tak seperti yang ia harapkan.
"Buu.."
Rindra menoleh ke arah Ibunya,
"Ceritakan Nak, supaya ayah membelamu dan mau memberi pelajaran kepada anak Miskin itu..!!"
"Jaga bicaramu Ma..!!!"
Pak Jaya membentak Istrinya
"Atas alasan apa kamu berani menyebut anak orang lain dengan panggilan Miskin? Apa dia pernah merepotkanmu, apa kamu pernah memberikan sesuatu kepadanya, hingga kamu dengan entengnya menyebut dia Miskin?"
Bu Sulastri seketika diam, dia tau apa yang akan terjadi kalau terus membanth suaminya.
"Cepat ceritakan Rindra..!!"
Pak Jaya membentak putranya sambil melotot
Dan akhirnya Rindra menceritakan rentetan kejadian mulai dari 3 hari yang lalu, hingga hari ini dia dipukuli oleh Sani.
Rindra bercerita sambil menunduk, tidak berani menatap Ayahnya, karena dia tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Mama dengar sendiri kan? Anak Manja ini yang mulai membuat masalah duluan, dan Mama memintaku untuk membela yang bersalah?"
Pak Jaya mulai menegur Istrinya
"Tapi biar bagaimanapun, dia anak kita Pa"
Bu Lastri merengek kepada suaminya
"Memangnya ada yang membantah kalau Rindra bukan anak kita?"
__ADS_1
Bu Lastri diam dan tidak menjawab
"Kalau kamu berani membuat masalah, maka kamu harus berani mempertanggungjawabkan perbuatanny itu Rindra..!!".
Pak Jaya mulai memarahi anaknya sendiri
"Kamu harus jadi laki-laki yang siap dengan setiap Konsekwensi perbuatanmu, jangan hanya menang sendiri".
"Kau bully anak orang sesukamu, lalu kau rusak barangnya, dan ketika dia membalas, kamu merasa dia yang bersalah?".
"Pria macam apa kau ini? Hah?".
Pak Jaya bicara sambil berdiri dan bertolak pinggang,tak ada satupun kata yang keluar dari mulut Rindra mau pun Ibunya.
"Masih untung kamu cuma dipukuli, tidak sampai dipatahkan tanganmu, kalau aku yang jadi Sani itu, mungkin kamu sudah babak belur hari ini".
"Sampai kapan kamu akan bersikap seperti anak Manja terus, kapan kamu akan dewasa, kapan kamu akan menjadi Pria yang tanggung jawab? Hah?".
"Apa kamu memang ingin mempermalukan orangtuamu sendiri hah?"
Rindra tertunduk, rasa marah dan kecewa berkecamuk dalam hatinya, dia ingin membantah Ayahnya, tapi tidak punya keberanian, karena pak Jaya adalah karakter yang Keras dan Tegas, jika Rindra membantah, sudah pasti dia malah ditampar oleh Ayahnya.
Lalu tiba-tiba pak Jaya duduk di samping anaknya, sambil memegang pundaknya
"Rindra, kamu anak papa satu-satunya, kamulah yang akan mewarisi semua yang papa miliki saat ini, kamu harus bersikap Jantan dan bertanggung jawab".
Pak Jaya berbicara dengan nada rendah kepada Rindra, dan Rindra pun tersentuh hatinya hingga menangis sesenggukan.
"Jadilah pria yang memiliki jiwa kesatria nak, kalau kamu melakukan kesalahan, kamu harus berani mengakui, dan harus berani meminta Maaf"
"Kalau kamu tidak bisa meyakinkan papa, bagaimana papa tega melepaskan segala yang papa miliki ini kepadamu nanti?".
Rindra masih tertunduk, dan mulai menyadari kalimat Papanya.
"Selesaikan sendiri urusan dan masalah yang kau buat, selama kau masih mampu, kau tidak perlu mengeluh kepada orang tuamu"
Ucap pak Jaya sambil berdiri dari kursi,
"Kecuali masalah itu memang sudah diluar batas dan kemampuanmu, ayah tidak akan membantu atau mencampuri urusanmu".
"Papa mau istirahat, sebaiknya kamu juga masuk ke kamarmu sekarang"
Rindra bangkit dibantu ibunya, namun tetap menunduk dan tidak berani menatap ayahnya sedikitpun, lalu berjalan menuju kamarnya.
"Kenapa Papa malah memarahinya?".
"Apa Mama tega kalau suatu saat perusahaan kita dipegang oleh anak yang tidak memiliki tanggung jawab bahkan kepada dirinya sendiri?"
Bu Lastri diam dan tidak menjawab, karena dia merasa apa yang dikatakan suaminya itu ada benarnya.
Sementara itu, Sani menceritakan apa yang telah dia lakukan hari ini pada pak Hambali, dan pak Hambali malah tersenyum
"Tidak apa-apa kan, cuma tendangan dan pukulan ringan saja, tidak sampai membunuhnya"
__ADS_1
"Tapi Sani takut masalah ini menjadi panjang nantinya"
"Ya itu resiko dari perbuatanmu kan, kamu tetap harus bertanggung jawab"
"Hmmhh"
Cuma itu jawaban Sani
"Aku sudah bilang kemarin, dendam itu merusak, dan sekarang pikiranmu sedang was-was karena rasa takutmu sendiri, dan itu semua adalah akibat dari rasa dendammu"
Sani terdiam dan melihat ke ke atas tanpa merespon kalimat pak Hambali.
"Sudah sore, sebaiknya kau pulang dulu, nanti ibumu khawatir, latihan pernapasannya ditunda dulu, sampai keadaanmu tenang kembali"
Sani mengangguk lalu berpamitan pulang.
"Di, besok lu gak usah mampir ke rumah ya, gw bawa motor sendiri aja"
Farhan menyampaikan keinginannya kepada Odi
"Lhah..kenapa?"
"Aku gak mau terlibat lebih jauh, kalau kejadian tadi sampai berbuntut panjang, aku gak mau medapat masalah pada akhirnya"
Odi mengerti apa yang disampaikan Farhan, karena sebenarnya Farhan adalah anak pendiam.
"Besok kalau Rindra tanyain gw kemana, bilang aja kalau gw takut sama Sani, gw gak peduli dengan jawaban Rindra..!!"
Lanjut Farhan yang secara terus terang ingin menjauhi genk nya itu.
"Gw hargain Lu Han, mungkin yang kita lakukan selama ini emang salah"
"Sebentar lagi kita lulus, semoga saat kelulusan nanti, kita tidak meninggalkan masalah apapun, termasuk perasaan dendam"
"Lu bener Han, gw setuju, sebentar lagi kita lulus, seharusnya kita juga bersikap lebih dewasa"
"Thanks ya Di, lu dah ngerti, gw harap Rindra juga bisa berubah dan sadar atas segala kelakuannya selama ini"
"Kalaupun tidak sekarang, semoga nanti bisa bener-bener sadar dengan sendirinya"
Lanjut Farhan mengakhiri pembicaraan mereka.
__ADS_1