
"Kalau aku pribadi sih menyarankan kamu ikut, setidaknya kamu sudah punya modal kemarin, sudah ada kepercayaan diri"
Pak Hambali mengehela nafas sejenak, lalu lanjut berkata,
"Kamu juga sudah paham kan porsi latihanmu, kalau sudah benar-benar paham, kamu tidak perlu kesini, latihan sendiri di rumah juga bisa kan?"
Sani tidak menjawab, hanya menerawang jauh ke depan.
"Lagipula waktunya tidak terlalu mepet kan, jadi masih ada waktu untuk latihan secara intens, Nanti tetap aku dampingi kok, jangan khawatir"
Ucap pak Hambali yang mengerti alasan keraguan Sani
"Baiklah, Sani memutuskan ikut..!!!"
"Yu, kamu bilang Sani mau kesini, kapan jadinya?"
"Mas Sani belum ngabari lagi Bu, nggak tau kapan jadinya"
"Ya tanyain donk, gak apa-apa kan cuma tanya"
"Ayu takut Bu"
"Takut kenapa?"
"Takut ganggu kerjaan dia, dan juga takut kalau dia tersinggung"
Ayu menjawab sambil tertunduk
"Ya sudah, kalau gitu tungguin saja sampai dia ngasih kabar lagi"
"Iya Bu".
Ayu mengakhiri
Sepulang dari rumah pak Hambali, Sani langsung ke kamar, dia hendak istirahat dan tidur.
Tapi tiba-tiba dia ingat bahwa dia belum pamitan sama Ayu, setelah ingat Ayu, dia baru sadar kalau dia punya janji dengan pacarnya itu bahwa dia akan datang ke rumahnya.
Sani langsung keluar kamar, dan hendak keluar rumah, saat membuka pintu depan...
"Mau kemana, kok buru-buru?"
"Ke rumah pakde Damar Bu, ada keperluan sebentar"
Lalu Sani langsung berlari keluar.
"Ada apa ya, kok seperti penting banget"
Ibu Sani bergumam sendiri melihat kelakuan anaknya.
"Wah, kebetulan pakde Damar nongkrong di teras hehe"
"Lhoh...Sani, ada apa, tumben kesini agak malem?"
"Ehh...gini pakde, sebelum Sani ngomong, Sani merokok dulu ya haahaahaa"
Celetuk Sani sambil memungut rokok pakdenya itu.
"Seeeeppppp....Fuuuuhhhh"
Sani mengembuskan Asap rokoknya.
"Pakde, kapan-kapan Sani boleh pinjam motornya ya?"
"Hmm...mau kemana San?"
"Anu..itu...hehe mau ke rumah pacar Sani hehe"
Sani menjawab sambil cengengesan.
"Owalah, iyaaa, bawa aja , ndak apa-apa"
"Makasih ya pakde"
"Iya, kamu mau kopi?, biar dibuatin budemu".
"Ya mau lah, barang gratis kok ditolak wkwkwkwk"
"Haaahaaahaaa"
Mereka berdua tertawa bersama mendengar jawaban Sani.
Setelah menikmati kopi buatan Budenya, Sani pun pamit pulang dari rumah pakde Damar.
Saat sampai rumah, Sani pun langsung menelpon Ayu,,
"Hallo dek, apa kabar?"
__ADS_1
"Kabar baik mas, mas Sani sendiri gimana?"
"Baik juga dek, Bapak Ibu sehat kan?"
"Sehat mas, emmm mas Sani jadi main ke rumah Ayu?"
"Rencana sih jadi dek, mungkin kalau gak besok, ya lusa"
Ayu merasa lega mendengar jawaban Sani, karena dia akan datang dalam waktu dekat.
"Syukur deh mas, tadi Ibu nanyain soalnya hehe"
"Nanyain apa dek?"
"Ya nanyain mas Sani, kapan jadinya main kesini..."
"Ouw, ya udah kalau gitu besok aku usahain bisa kesana, biar gak di nanti-nanti Ibu"
"Hehe Iya mas"
"Ya udah, sampai ketemu besok ya dek, cepetan bobok"
"Iya mas, mas Sani juga cepetan istirahat"
"Iya, met malem"
"Malem juga mas"
Sani pun mengakhiri obrolannya dengan Ayu dan menutup telponnya.
Pagi harinya, Sani dan pakde Damar melanjutkan pekerjaan mereka membangun lapak supaya cepat selesai.
Mereka ingin segera mempersiapkan lebih lanjut kebutuhan untuk berjualan Sani.
"Haaaaah, akhirnya selesai juga..huuuuuft"
Sani menghela nafas dan mengelap keringat di keningnya
"Iya pakde, ini udah bisa dipake menggelar banyak jenis Sayuran.
Sani bertolak pinggah sambil tersenyum melihat tempat dimana ia akan berjualan sudah selesai dibangun.
"Besok Sani akan memberi tahu warga sekitar, barangkali ada yang berkenan menitipkan sayuran mereka untuk dijul disini"
"Hmmm....kamu memang pinter ya, sudah ada rencana seperti itu, pakde aja belum sempat mikir sejauh itu"
"Hehe soalnya ini sudah Sani rencanain sejak lama, jadi udah matang, tinggal merealisasikan aja"
"Listriknya gimana San?"
"Sani punya aki kecil pakde, cukuplah untuk menyalakan satu lampu kecil, toh rencananya kita jualan dari jam 6 pagi, jadi sudah tidak terlalu gelap, tidak terlalu butuh energi listrik"
"Kok jam 6, kamu nggak tahu, kalau jalan ini sudah rame sejak jam 3 pagi, banyak loh pedagang keliling yang lewat sini, mereka sepertinya juga butuh dagangan sayur seperti daganganmu"
"Iya pakde, Sani tau kalau daerah sini sudah rame sejak jam 3 pagi, tapi kan Sani tetap harus menyiapkan makanan sapi-sapinya pakde, jadi Sani berangkat setelah tugas di rumah selesai"
"Kalau itu gampang, pakde sendiri bisa kok ngatasi"
Pakde Damar menghela nafas lalu melanjutkan..
"Kalau kamu buka lebih pagi, itu bisa menambah peluang kamu untuk mendapatkan hasil jualan yang lebih baik"
"Ya udah deh pakde, nanti Sani pikirkan lagi, sekerang kita balik saja, ini mau Sani kunci dulu semua pintunya"
"Ayo deh"
Pungkas pakde Damar
Saat sampai rumah, Sani istirahat di teras rumah, duduk di kursi panjang yang terbuat dari bambu.
Saat itu ibunya datang dengan membawa secangkir kopi dan menyuguhkan untuk Sani, lalu duduk di samping Sani.
__ADS_1
"Makasih ya Bu"
Ibunya hanya membalasnya dengan senyuman penuh kasih sayang kepada anaknya
"Sudah selesai kah pekerjaanmu, kok tumben agak siang pulangnya?"
"Sudah Bu, sudah beres semua, jadi nggak terlalu sore pulangnya"
Tiba-tiba Sani merebahkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di pangkuan Ibunya.
Ibu Nanik merasa hangat dengan keadaan itu, dimana Sani yang beberapa waktu lalu masih kecil belum bisa ditinggal kerja, sekarang sudah menata sendiri pekerjaan yang akan di jalaninya.
"Waktu begitu cepat, kamu sudah dewasa Anakku, bahkan kamu sudah punya rencana yang matang untuk membangun masa depan kita"
Ibunya berbicara sambil membelai rambut Sani dan terlihat air matanya mengalir.
Sani yang melihat ibunya menangis bukan karena kesedihan, membiarkan saja Ibunya menitikkan air matanya.
"Bu, ceritakan padaku, orang seperti apa Ayahku itu...."
Ibunya tersentak kaget dengan permintaan Sani, tapi dia berpikir tidak ada salahnya juga mengisahkan Ayahnya sendiri.
"Saat kau berkaca di cermin, dan melihat wajah yang di cermin itu, itulah wajah Ayahmu"
Ibunya bercerita dengn tatapan yang jauh ke depan
"Kesabarannya, Kedisiplinannya, Semangat dan Optimisnya, semua ada padamu"
Air mata Bu Nanik pun tiada henti mengiringi cerita yang dia sampaikan
"Dulu Ayahmu bekerja sebagai pemecah batu di sebuah proyek, namun bayaran Ayahmu hanya setengah dari upah yang seharusnya dia terima"
Ibu Sani menghela napas...
"Dia hanya mendapatkan 30ribu saja, padahal seharusnya dia menerima 60ribu, saat ibu tanya, dia selalu bilang "Cuma itu yang bapak dapat", jadi Ibu berpikir bahwa Mandornya lah yang telah mengambil Hak upah Ayahmu"
"Kami tidak punya tabungan sepeserpun saat itu, karena hasil kerja Ayahmu hanya cukup untuk makan sehari itu"
"Hingga pada suatu hari..."
"Jari-jari kaki ayahmu Hancur dihantam palu yang ia gunakan untuk memecah batu, 3 jarinya benar-benar Hancur, hanya tinggal jari jempol dan kelingking yang masih utuh"
Ibunya mengusap air matanya sebelum melanjutkan cerita,
"Setelah beberapa hari dirawat secara tradisional di rumah, Ayahmu menghembuskan nafas terakhirnya"
Sani pun terbawa suasana dan ikut menangis mendengar cerita ibunya...
"Malam sebelum ayahmu meninggal, dia Demam sangat tinggi, dan dia mengeluhkan rasa sakit di seluruh tubunhya, saat itu Ibu hanya bisa menangis, sedangkan yang merawat Ayahmu adalah Pakde dan Budemu"
"Lalu sekitar jam 3 pagi, Ayahmu pergi meninggalkan kita semua"
Ibunya sudah tidak sanggup menahan tangisnya yang semakin terisak,
"Sabar ya Bu"
Sani mencoba menenangkan Ibunya,
"Kematian Ayahmu sudah aku Ikhlaskan, tapi kebencianku terhadap Mandor yang telah memakan Hak Upah Ayahmu, tidak bisa aku hilangkan, bahkan sampai saat ini"
"Galih, nama Mandor itu adalah Galih..!!!"
Ibu Sani berbicara dengan nada rendah namun penuh emosi dan kebencian, serta mengepalkan tangannya kuat-kuat, Sani yang kaget dengan cara bicara Ibunya, langsung terbangun...
"Bu, kematian tetaplah kematian, itu adalah ketetapan, tidak ada alasan menolak, ataupun menhindari kematian..."
Sani berbicara sambil memegangi pundak Ibunya,,
"Ibu tidak boleh memelihara dendam dan kebencian itu, itu hanya akan merusak ketenangan Ibu sendiri"
Lalu Sani memeluk Ibunya, dan Bu Nanik pun melepaskan semua tangisnya di pelukan manusia yang paling ia cintai saat ini.
Setelah semua mereda, Sani meminta maaf pada ibunya karena telah mengingatkan Ibunya akan kenangan pahit di masa lalunya itu.
Ibunya pun memaklumi bahwa Sani sudah sepantasnya tau tentang Ayahnya itu.
__ADS_1
Sani menghabiskan Kopinya lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.