
"Selamat sore Pak, Bu...tujuan kedatangan saya kemari adalah untuk menanyakan Sayuran hasil panen Bapak dan Ibu, kalau boleh, saya mau bantu jualkan di lapak saya, nanti Bapak kasih harga berapa, dan saya akan mencoba menyesuaikan dengan harga standart pasar induk disini"
"Wah, kebetulan kalau begitu, kita malah nggak usah repot-repot bawa ke Bongkaran lagi...kalau Nak Sani mau mengambil, nanti harganya tak kasih agak rendah, kan kami ndak kehilangan biaya Transport nya"
Keinginan Sani mendapat sambutan yang melegakan dari petani sayur di dusunnya.
Rata-rata, petani yang didatangi Sani adalah petani kelas menengah ke bawah, karena jika Petani besar, jelas Sani belum memiliki modal yang cukup.
"Aku harus mencari informasi Harga Sayur di Pasar Induk secara Update, supaya tidak sampai rugi, sepertinya pak Bandung adalah orang yang tepat, dia pasti tau informasi yang aku butuhkan"
Gumam Sani ketika sudah mendapatkan pasokan Sayur dari beberapa petani yang ia datangi.
Dini hari puku 02.15, Sani berdiri di depan rumahnya, menunggu pak Bandung lewat, dan tak lama kemudian...
"Pak Bandung"
Sani memanggil pak Bandung sambil melambaikan tangannya, sebagai tanda isyarat bahwa ia ingin pak Bandung berhenti.
"Eh Nak Sani, mau ke lapak lagi?"
"Tidak pak, cuma mau minta nomor handphonenya pak Bandung"
Lalu Sani pun menjelaskan tujuannya.
"Nanti kalau ada perlu, hubungi saja, jangan telfon ya Nak, belum tentu bapak Angkat, tapi kalau meninggalkan pesan, pasti nanti di balas"
"Emang kenapa pak?"
"Soalnya kalau sudah mulai bongkar muatan, terkadang gak pegang hp dalam jangka waktu yang lama, tapi kalau ada pesan kan masih bisa dibaca"
"Ouw begitu, baiklah pak, terima kasih banyak ya"
"Sama-sama nak Sani, bapak duluan ya..."
"Iya pak, hati-hati, semoga dapat rejeki banyak hari ini"
"Amiiin...makasih nak"
Sani mengangguk sambil tersenyum, dan pak Bandung pun berlalu.
Lalu Sani bergegas masuk rumah dan ingin segera tidur, karena akhir-akhir dia sudah kurang jam tidur pada malam hari.
Saat merebahkan dirinya di tempat dimana dia akan memejamkan matanya, pandangannya menerawang ke arah langit-langit rumah.
"Sepertinya aku akan kehilangan banyak jam tidur di malam hari, tapi tidak apalah, itu adalah konsekwensi dari pilihanku sendiri"
"Jika suatu saat aku mampu beli motor sendiri, aku ingin membonceng Ayu, dan jalan-jalan mengelilingi kota ini"
Sani bergumam sambil tersenyum, lalu memejamkan matanya untuk menuju alam mimpi.
"Ukiiii....!!!"
Farhan berteriak setelah melihat seseorang yang berjalan mirip dengan Uki.
"Wooyyy....."
Ternyata benar, itu adalah Uki.
"Lu kuliah disini juga Ki?"
"Iya Han, dan ternyata lu juga ya, gak nyangka bisa ketemu lagi"
"Ckckckck lumayanlah, kalau ada temen lama kan nggak terlalu canggung disini, ngopi dulu yuk"
"Wkwkwk ayok lah"
__ADS_1
Mereka berjalan menuju warung di sekitar kampusnya.
"Ki lu udah pernah ketemu Sani belum setelah lulus?"
"Ya udahlah, dia kan sahabat gw, biar udah nggak sekolah, kita tetep jalin komunikasi kok"
"Gitu ya, dia udah mulai dengan usahanya?"
"Belum, tapi sepertinya gak lama lagi deh, soalnya sudah hampir semuanya disiapkan matang-matang, mungkin masih nunggu tanaman sayurnya panen"
"Jadi dia nanam sayur sendiri Ki?"
"Sebagian sih iya, tapi katanya dia juga mengumpulkan beberapa hasil panen warga di lingkungannya, supaya dagangannya bertambah banyak"
"Dia bener-bener Jenius ya...."
"Jelas donk, sahabat gw itu, senggol donk Bosss ckckckck"
"\*\*\*\*\*\* lu Ki, lha terus, kalau sahabat lu cerdas, kenapa lu nya biasa aja"
"Kepala kita aja beda, apalagi isinya"
Mereka ngakak barengan mendengar jawaban Uki yang terakhir, dan lanjut menikmati kopi mereka.
"Ndra, besok kalau kamu nggak masuk kuliah, dateng ke kantor papa ya !!"
"Hah...mau Ngapain Pa?"
"Ya biar kamu tau sistem di dalam kantor Papa, kalau sudaj tau kan tinggal memahami sambil jalan"
"Waduh...Rindra kan malu sama Karyawan Papa, lain waktu aja deh"
"Halah...kamu ini masih SMA dulu sok jadi jagoan, masuk Kantor aja malu, jago macam apa kau ini"
"Hihihihi ya itu kan dulu pa, waktu Rindra masih labil"
Rindra menjawab sambil cengengesan
"Pokoknya harus datang..!!! Soalnya....."
Pak Jaya berbicara sambil menunduk memasang sepatu di kakinya
"Suatu saat, kau yang akan jadi Bossnya"
Ujar pak Jaya sambil tersenyum dan berjalan keluar rumah menuju mobilnya yang terparkir di samping rumah.
"Aku bahkan belum bermimpi memimpin sebuah perusahaan, apalagi sebesar milik Papa"
Rindra bicara pelan, lalu bersiap-siap berangkat ke Kampus.
"Mas, belum ada rencana main kesini lagi?"
__ADS_1
Ayu yang saat itu merasa kangen, memberanikan diri chat demikian kepada Sani.
"Kenapa dek? Kangen?"
Sani membalas disertai emoji menutup mulut.
"Hehe mungkin iya...."
Ayu pun membalas dengan emoji tersenyum disertai rona merah di pipi.
"Sabar dulu ya, ini masih agak sibuk mempersiapkan jualan, kalau udah beres semua, gampang lah"
"Iya mas, semangat ya, semoga lancar & sukses"
"Aamiin, makasih ya sayang.."
Ayu pun sedikit kaget dengan panggilan "sayang" itu, tapi dia segera menyadari bahwa Sani adalah pacarnya, jadi wajar saja jika dia memanggil Ayu demikian, dan Ayu pun berinisiatif membalas ucapan Sani.
"Sama-sama Sayang..."
Mereka berdua benar-benar sedang dimabuk rasa cinta yang meluap-luap, maklum keduanya baru pertama kali pacaran, jadi mereka benar-benar menumpahkan kasih sayangnya pada satu orang.
Terlebih lagi, mereka bukanlah pribadi yang suka gonta ganti pasangan, jadi mereka hanya fokus pada 1 hatj yang dituju saja.
"Nissa, kenapa kamu senyum-sendiri?"
Bu Indri melihat Nissa yang senyam-senyum sambil memandangi handphonenya
"Eh...anu...enggak Bu, itu..anu..temen Nissa udah nemuin jawaban dari soal yang paling sulit"
Nissa menjawab dengan gugup ketika kepergok senyum-senyum sendiri
Lalu Bu Indri pun mendekati Nissa, lalu memegang pipi Nissa...
"Kamu jatuh cinta?"
Nissa tidak menjawab, hanya tersenyum sambil menundukkan kepalanya
Lalu Bu Indri pun memeluk anaknya itu...
"Tidak apa-apa kalau kamu jatuh cinta, Ayu juga sudah berpacaran dengan lelaki yang baik, Ibu harap kamu juga bisa memilih laki-laki yang sama baiknya dengan Sani"
"Bu, mas Sani itu 5 banding 1, mencari yang seperti dia tidak gampang, Ibu tau sendiri kan kualitas mas Sani?"
"Iya, Ibu tau, kalaupun tidak bisa seperti Sani, setidaknya mendekati"
"Nissa belum pacaran Bu, hanya sekedar naksir saja, dan orang yang ku taksir sepertinya cuek-cuek aja"
Nissa mengungkapkan sedikit rasa kecewanya kepada Ibunya.
"Sabar ya...Ayu dulu juga naksir duluan sama Sani, kalau memang berjodoh, akan ada banyak cara untuk menyatukan kalian"
"Beruntungnya kak Ayu, dapet lelaki seperti mas Sani"
"Heheh"
__ADS_1
Bu Indri tersenyum seraya memeluk Nissa, dan berharap anak-anaknya mendapatkan yang terbaik.