Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Andai Bukan Sani


__ADS_3

"Sayang, besok aku akan mulai bertanding, do'ain ya..😊


Mulai malam ini, pak Hambali akan menyita Hp ku, dia ingin aku Fokus bertanding, kita baru bisa chattingan hari Minggu setelah Final nanti, kamu jaga diri ya, jangan lupa belajar."


Sani mengirim pesan kepada Zaiyu, setelah pesan itu terkirim, Sani melihat Ayu sudah membuka pesan itu.


Saat Sani kembali membaca pesannya,


"Kenapa aku berpesan seolah-olah aku bakal pergi jauh ya, kan cuma 3 hari, kan nggak selamanya."


Sani berbicara sendiri dalam hatinya, dia sendiri bingung, kenapa menulis pesan seperti itu.


Dalam kebingungannya, tiba-tiba...


"Ting ...."


Sebuah notifikasi pesan masuk ke hp nya, dan itu adalah balasan dari Ayu.


"Iya sayang, semangat ya..bertanding dengan maksimal, apapun hasilnya nanti, harus tetap di syukuri. Jangan senang kalau menang, lalu bersedih jika kalah...Apapun yang akan terjadi, harus diterima dengan ikhlas dan lapang Dada."


Sani membaca pesan itu sambil tersenyum.


Dia merasakan kehangatan dari kekasihnya itu.


Kehangatan dari kasih sayangnya, kehangatan sangat menatap senyumnya, bahkan kehangatan saat Sani merengkuh dan merenggut Tubuh Ayu.


"Makasih banyak ya Sayang, Mas mau segera tidur, besok jadwal tandingnya pagi. I Love U...😘😘🥰🥰"


Begitulah balasan Sani, dia menunggu Ayu membalas pesan itu, namun setelah 5menit, tidak ada pesan masuk.


Sani pun memutuskan untuk tidur, dan saat ia tertidur pak Hambali mengambil dan menyimpan hp Sani.


Saat pak Hambali mengambilnya, ada notifikasi pesan masuk.


Dia pun tak sengaja membaca pesan itu dari jendela notifikasi.


Tatapan pak Hambali mendadak menjadi tajam, dia melotot ke arah hp Sani, dia seperti tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Apa artinya semua ini, apakah ini jawaban dari firasatku..?"


Nafasnya tiba-tiba memburu, ada emosi yang ia tahan dalam dadanya.


Kemudian ia menatap ke arah Sani berbaring.


Sesaat kemudian, Air matanya keluar..


"Sani...."


Begitulah kata-kata terakhir pak Hambali sebelum ia memasukkan hp Sani ke dalam tas miliknya.


Air matanya deras mengalir, entah apa yang membuat ia menangis, tapi sepertinya dia sudah mendapatkan Jawaban dari Firasat buruknya.


Pak Hambali sendiri baru bisa tidur saat jam sudah menunjukkan pukul 02.13.


Ada beban berat yang ia tahan, beban yang hanya ia sendiri yang tahu.




"Mas Sani sudah 2 hari nggak ada, kemana pak?"


Salah seorang pelanggannya menanyakan keberadaan Sani, dimana 2 hari ini ia tidak datang ke kios.



"Sani sedang bertanding mas, di Kejuaraan Provinsi."


Pakde Damar menajawab



"Bertanding? Bertanding apa pak?" Pelanggan itu tak mengerti dengan jawaban pakde Damar.



"Sani itu atlet pencak silat, sekarang dia sedang mengikuti Kejuaraan di tingkat Provinsi, dia akan bertanding sampai hari Minggu jika menang terus."

__ADS_1


Pakde Damar pun menjelaskan secara detail kepada pelanggannya itu.



"Owalah....jadi mas Sani itu pendekar to, pantas saja badannya kekar dan berisi, kalau orang seperti mas Sani ya pasti Juara lah, dilihat dari caranya jalan, sudah kelihatan aura Juaranya."



"Hehe Do'akan ya mas, Do'akan Sani bisa jadi Juara."


Pakde Damar, Bu Nanik dan Bude Wiwik pun tersenyum mendengar pernyataan pelanggan itu.



"Woooh....ya jelas donk pak."



Mereka pun kembali melanjutkan aktifitas jual beli, meskipun Sani sudah 2 hari tidak datang, tapi orang tuanya sudah mampu melayani semua pelanggannya.



"Mas Sani hebat ya pak, bisa membuka lapangan usaha untuk keluarganya sendiri."


Celetuk salah satu pelanggan yang lain.



"Yaaaah....begitulah pak, Sani itu seperti anugerah untuk kami semua."


Pakde Damar menunjukkan kebanggaannya kepada Sani.



"Untuk kami juga Lo pak, sekarang belanja sayur disini lebih murah daripada di pasar Induk, kami pun jadi bisa mengambil keuntungan yang lebih besar, Ekonomi kami pun juga ikut berubah karena usaha yang mas Sani dirikan ini."


Sahut pelanggan yang lain.



"Iya, bener itu, kita yang biasanya cuma membawa beberapa ikat sayur, sekarang bisa membawa 3x lipat dari sebelumnya, otomatis penghasilan kami pun juga bertambah."



"Oalah...pantesan sekarang rokokmu ada merk-nya, dulu kan cuma lintingan sendiri."


Ejek Pedagang Lainnya.



"Haaahaa...."


Semua yang disana langsung tertawa mendengar ejekan itu, hingga semua selesai memilih sayur, mereka pun pergi satu per satu dengan membawa banyak sayuran dari kios Sani.



Mereka mengakui, jika keberadaan kios Sani sudah mempengaruhi pendapatan dan keadaan Ekonomi mereka.


Sekarang mereka mendapatkan penghasilan yang lebih baik dari pada sebelumnya.



"Semakin hari, semakin bertambah pelanggan disini, barang bawaan kita pun juga semakin banyak.."


Pakde Damar mengajak istri dan iparnya mengobrol.



"Keponakanmu memang luar biasa mas, keberadaanya seperti malaikat yang selalu melindungi dan menjagaku dalam keadaan apapun."


Bu Nanik menyatakan kebanggaannya kepada Sani.



"Itu juga karena didikanmu, kalau kamu tidak mendidiknya secara baik-baik, mana mungkin dia bisa sehebat sekarang."


Bude Wiwik pun memuji adik iparnya itu.

__ADS_1



"Yang Pasti, saat aku melihat Sani dengan segala Sifatnya, aku seperti melihat Hartoyo saat masih muda, sama persis."


Pakde Damar pun menimpali mereka berdua.



"Mungkin Sani anak kandungnya Hartoyo mas."


Bu Nanik menjawab dengan logat humornya.



"Haaahaaa...."


Mereka pun tertawa bersama mendengar jawaban konyol dari Bu Nanik.



"Kalau lelah, kalian tidur saja, biar aku yang mengatasi semua tugas ini."


Pakde Damar menyuruh Istri dan Iparnya untuk istirahat.



"Jangan mas, nanti kecapekan."


Bu Nanik menolak dengan Halus.



"Halah...capek apanya, wong cuma berdiri, merokok, terima uang, sudah beres., Ayo kita tidur saja."


Bude Wiwik mengajak Bu Nanik untuk tidur.



Pakde Damar terkekeh mendengar jawaban Istrinya.


"Ckckckck....kalian tidur saja, nanti kalau aku ngantuk, kita gantian."



"Baiklah kalau begitu."


Bu Nanik pun akhirnya menata tempat tidurnya dengan Bude Wiwik.



Mereka tidur di lantai kios, dan hanya beralaskan tikar.


Namun sekerang mereka memasang sekat dan membatasi dengan kain, agar tidak terlihat oleh para pembeli.



Pakde Damar pun berdiri di depan kios, menyulut sebatang rokok dan menikmati kopi yang dibawa dari Rumah.



"Andai bukan Sani keponakanku, mungkin hari-hariku akan terus-terusan merumput saja."


Pakde Damar berbicara pelan, dia benar-benar bersyukur atas keadaan ini.



Sani membuka lapangan pekerjaan untuk keluarganya, dan Hasilnya pun dibagi rata.


Walaupun Sani tidak ikut ke kios, mereka tetap membagi Hasilnya menjadi 4 bagian sama rata.



Sekarang keuntungan mereka per hari bisa mencapai 600 ribu, jika dibagi 4, makan masing-masing mendapat bagian 150 ribu, dan itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Biaya kehidupan di desa relatif mudah, tidak semua bahan makanan harus beli.


__ADS_1


Pakde Damar pun akhirnya menjual semua Sapinya, dan menanami sawahnya dengan Sayuran.


Dia ingin ikut mengembangkan usaha Sani, sekaligus bisa menikmati hasilnya bersama-sama.


__ADS_2