Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Akal Bulus Sani


__ADS_3

"Jika kalian merasa lelah, istirahatlah, biar aku yang melayani mereka." Sani melihat orang tuanya yang merasa lelah dan ngantuk.


"Biar Ibu dan Budemu saja yang istirahat, suruh mereka tidur, kalau aku masih baik-baik saja." Pakde Damar menjawab.


"Yaah...sepertinya mereka berdua sangat lelah, jualan sejak dini hari, pulang dari sini harus memasak, siangnya masih mempersiapkan semuanya, pasti mereka kelelahan."


"Begitulah, meskipun terlihat ringan, tapi mereka jarang istirahat, jadi wajar kalau kelelahan."


"Tidurlah Bude, Ibu..biar kami yang bekerja." Sani memerintah Ibu dan Budenya untuk tidur di dalam kios.


"Baiklah kalau begitu, kami istirahat dulu." Bude Wiwik menata tempat untuk tidur mereka.


Sani kemudian melangkah dan berdiri di depan kiosnya, sebatang rokok sudah terjepit di antara jari tengah dan jari telunjuknya.


Tak lama kemudian, pakde Damar pun menyusul dan berdiri di sampingnya.


"Kemarin gimana San..?" Pakde Damar membuka obrolan dengan Sani.


"Apanya yang gimana pakde?" Sani kurang mengerti dengan pertanyaan pakdenya, dia balik bertanya sambil menghisap sebatang rokoknya.


"Menyenangkan nggak wisata ke Pantai?" Pakde Damar menjelaskan.


"Ow...hehe namanya anak muda pacaran pakde, lagi seneng-senengnya, mau ke pantai, mau ke gunung, atau cuma di rumah aja, kalau berduaan pasti rasanya menyenangkan."


Ujar Sani sambil tersenyum.


"Tapi.....kamu nggak melewati batas kan?" Selidik pakde Damar.


"Maksudnya..??!!" sebenarnya Sani paham dengan maksud pakde Damar, tapi ia hanya ingin memastikan saja, apakah pertanyaannya benar-benar mengarah kesana.


"San, pakde juga pernah muda, pakde juga pernah kesana dengan Gadis selain Budemu dulu, dan kami jauh melewati batasan kami...jadi, aku hanya takut jika kau melakukan kesalahan yang sama denganku.." Pakde Damar menjelaskan.


"Kenapa pakde sampai melewati batasan saat itu." Sani mencoba menggiring pertanyaan ke topik lain, agar dia tidak perlu menjawab pertanyaan yang ditujukan untuk dirinya.


"Yaaah....namanya anak muda San, kamu dipenuhi gairah yang tak terarah, serta rasa penasaran dengan hal itu, akhirnya kami pun terjerumus ke dalam lembah dosa itu"


Pakde Damar menceritakan masa lalunya.


"Lalu, kenapa malah Bude Wiwik yang dinikahi, bukan malah menikahi Gadis itu?" Sani tetap berusaha menjauhkan topik dari dirinya.


"Dia Gadis matre, beberapa hari setelah kejadian itu, dia kembali kesana dengan pria yang sangat kaya, dia kembali melakukan hal itu, dan segera memutuskan hubungan kami, meski pada akhirnya pria kaya itu juga tidak menikahinya, karena memang tujuannya hanya mempermainkan Gadis itu." Sesal pakde Damar.


"Jadi begitu, berarti itu bukan salah pakde kan? Dia yang memilih, bukan Pakde yang meninggalkan.."


"Ya bisa dibilang begitu, setelah dia ditinggal pria kaya itu, dia merengek meminta kembali pada Pakde, tapi pakde udah gak mau, mana mungkin memunguti sesuatu yang sudah menjadi sisa orang, apalagi dia sengaja berniat meninggalkan pakde sebelumnya.."


"Lalu, kemana dia pada akhirnya?"


"Pakde juga tidak tau, semenjak pakde menolaknya, pakde tak pernah bertemu dia lagi, bahkan mendengar kabarnya pun tidak."

__ADS_1


"Hmmh...dia pasti menyesali perbuatannya sendiri." Ungkap Sani sambil menahan senyumnya.


"Sepertinya begitu, dia pikir bisa mengatur apapun yang ia mau, dia pikir pria bisa di buat mainan sesukanya, sampai dia lupa, semua bisa berbalik padanya.." pakde Damar tersenyum penuh kemenangan.


"Haaaah....nggak terasa pertandingan Sani tinggal beberapa hari lagi.." Sani benar-benar telah memindahkan topiknya.


"Oh ya...nggak terasa ya, persiapan kamu sudah maksimal kan San?" dan pada akhirnya pakde Damar pun terbawa topik yang Sani bawa, hingga lupa dengan pertanyaan pertamanya.


"Sudah donk pakde, selama pak Hambali terus mendampingi, tidak perlu khawatir lagi." Sani mulai tersenyum karena berhasil mengalihkan topiknya.


"Kamu benar San, selama berada di bawah arahan pak Hambali, pakde Yakin, kamu bisa menjadi Juara nanti." Keoptimisan pakde Damar benar-benar telah membuatnya melupakan pertanyaan awalnya.


"Semoga saja, do'akan Sani ya pakde.."


"Tentu saja donk, pasti kami semua mendo'akanmu.."


Kemudian para pedagang siang mulai berdatangan untuk berbelanja.


Sani pun melayani mereka sambil tersenyum lebar.


Dan salah satu alasannya tersenyum adalah karena sudah berhasil menghindari pertanyaan pakdenya.


Setelah para pedagang selesai membeli apa saja yang mereka butuhkan, mereka semua segera pergi dan mulai keliling kampung.


Pakde Damar pun mulai membersihkan gerobaknya untuk dibawa pulang, karena hanya tinggal menunggu ibu-ibu perumahan datang.


"Hmmmh....untung saja akal bulusku berhasil, kalau tidak, bisa bahaya tadi, bohong dosa, jujur malu..ckckckk untung saja berhasil.." Sani berbicara dalam hati sambil senyam-senyum sendiri.




Setelah makan, dia mengambil secarik kertas, menulis sesuatu.


Seperti hendak mengungkapkan segala isi hatinya, Ayu menulis dengan ekspresi yang datar.



"Akan ku tulis semuanya, aku tidak ingin menyakiti kalian semua, akan ku jelaskan semua masalahnya melalui tulisanku, semoga semua mengerti tentang hal ini". Aku berbicara lirih, kemudian dia mulai menuliskan sesuatu.



Lama-kelamaan, ekspresinya berubah, yang semula biasa-biasa saja, kini matanya berkaca-kaca.


Entah apa yang ia tulis, tapi semakin lama, ia pun meneteskan air matanya.



Dia menarik nafas panjang dan sejenak memejamkan matanya, Tangannya mulai bergetar, seakan tak sanggup melanjutkan tulisannya.

__ADS_1



"Maafkan aku, semuanya, maafkan segala salahku, aku tidak bermaksud melukai perasaan kalian, aku hanya tidak ingin melihat kalian terluka dan terbebani karena diriku."



Kemudian ia melipat kertas yang berisi tulisan tangannya, lalu kembali mengeluarkan kertas kosong lagi, namun saat hendak menulis, dia menangis.



"Aku tidak sanggup lagi, Aku benar-benar tidak sanggup, aku tidak tega menulis ini untukmu.."


Air matanya mengalir deras, tangannya menggenggam erat pulpen yang ia pegang.



Dia terisak, meletakkan kepalanya di mejanya, matanya benar-benar telah banjir air mata.



Dan saat teman-temannya mulai memasuki kelas, ia segera mengusap bekas tangisannya.


Dia tidak ingin teman-temannya tau jika ia baru saja menangis.



Sampai jam pulang sekolah, Ayu masih terlihat bersedih.


Dia seperti kehilangan semangat, dia juga tak sempat menghubungi Sani.



"Apa aku harus menceritakan hal ini kepada mas Sani? Tapi aku tidak tega, aku tidak mau membuatnya sedih dan khawatir."



Dia masih berada dalam kebimbangan yang besar, satu sisi ia ingin membagi apa yang ia rasakan, tapi disisi lain, dia tidak ingin membuat Sani bersedih.



"Mungkin lebih baik aku tanggung sendiri rasa ini, aku tidak ingin merepotkan siapapun, Ayah, Ibu, Nissa ataupun mas Sani.."



Dia telah mengambil keputusan dengan menanggung sendiri beban yang sedang ia rasakan, tanpa harus berbagi dengan siapapun.



"Aku telah putuskan hal ini...!!!"

__ADS_1


Dengan mantab dia ambil pilihan ini.


__ADS_2