
Setelah Hambali menyampaikan hal itu kepada Ayahnya, Ayahnya terlihat sangat bahagia.
"Sepertinya kamu akan kuliah secara Gratis"
"Do'akan aku menang ya Pak.."
"Itu sudah pasti, tanpa kamu minta pun pasti aku do'akan"
Ujar Ayahnya sambil tersenyum.
Hambali pun sangat senang dengan dukungan penuh dari ayahnya.
Hari berlalu, Event pertandingan itu pun telah tiba, Hambali yang sudah berjuang secara maksimal, mendapatkan Hasil yang sangat membanggakan.
Dia keluar sebagai Juara, saat keluar dari dalam GOR dimana ia bertanding, ia bertemu dengan 2 orang yang mendatanginya tempo hari, alangkah kagetnya, disana juga ada pelatihnya.
Hambali menyalami mereka bertiga.
"Pak, terima kasih banyak ya atas kesempatan ini"
"Berterima kasihlah kepada orang ini"
Jawab salah seorang dari mereka sambil menepuk pundak pelatih Hambali.
Hambali sedikit kurang mengerti dengan maksud orang itu.
"Pelatihmu ini yang menyarankan kami agar mendatangimu beberapa waktu lalu, jika tidak ada dia, mungkin kamu juga tidak disini sekarang, jadi berterima kasihlah kepadanya"
Hal itu seperti tamparan keras untuk Hambali, dia merasa sangat malu kepada pelatihnya, mengingat beberapa waktu lalu dia bersikap angkuh kepada pelatihnya.
Tapi kendati demikian, dia tetap bersikap ramah kepada pelatihnya,
"Terima kasih banyak ya mas.."
Dia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pelatihnya sambil mengulurkan tangannya.
"Selamat ya Li, kamu luar biasa"
Pelatih itu menyalami Hambali lalu menarik dan memeluk mantan anak didiknya itu.
Setelah moment itu, Hambali kembali ke rumah dan menyampaikan semuanya kepada Ayahnya.
Termasuk niatnya untuk kuliah, karena dia bisa kuliah secara gratis.
Hingga saat lulus SMA, Hambali melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.
Sembari kuliah, Hambali tetap aktif latihan sendiri di rumah.
Suatu Hari, ada event pertandingan antar mahasiswa seKaresidenan, Hambali pun ikut serta mewakili Kampusnya.
Dengan semangat yang kuat dan optimisme tinggi, Hambali maju dengan kepercayaan diri yang tinggi.
Namun saat final pertandingan, Hambali kalah dengan pendekar bernama Ahsani, setelah akhir penyerahan piala, akhirnya Hambali tau jika Ahsani adalah pendekar didikan pelatihnya yang dulu.
"Selamat ya mas.."
Hambali mengucapkan selamat atas kemenangan mantan timnya itu.
"Terima kasih ya Li, kamu tetap luar biasa, hanya belum beruntung saja hari ini"
Pelatih itu tetap menghargai Hambali.
Hambali kini benar-benar memetik buah dari kesombongan yang ia tanamkan sendiri.
Dia pulang dengan kekecewaannya, bukan kecewa karena kalah, tapi kecewa karena dia tidak bisa menahan Egonya sendiri.
"Kenapa kamu terlihat sedih?"
Ayahnya menyambut kedatangan Hambali.
"Aku kalah pak, cuma dapat juara 2"
"Itu sudah bagus kan, tidak semua yang kita inginkan selalu terwujud, tapi perjuanganmu itu luar biasa"
Ayahnya mencoba memotivasi anaknya.
Hambali tersenyum kepada Ayahnya, dia berusaha menyembunyikan rasa sakit di hatinya.
"Aku tadi bikin nasi goreng, apakah kau mau?"
Hambali langsung terlihat sumringah mendengar itu.
"Tentu saja, aku selalu suka nasi goreng buatanmu"
__ADS_1
"Baiklah, biar aku ambilkan, kau tunggu disini"
Kemudian ayahnya pergi menuju dapur.
Setelah menunggu, tiba-tiba..
"Praaaang...!!"
Hambali mendengar suara benda terjatuh, lalu dia segera berlari.
"Paaaakk....pak kamu kenapa pak, Bangun pak..toloooong..toloooooong...."
Hambali melihat Ayahnya meringis sambil memegangi dada kirinya, dia panik lalu berteriak minta tolong.
Ketika tetangga sudah datang, Ayah Hambali sudah berhenti bernafas.
Orang-orang meyakini jika Ayahnya kena serangan Angin duduk.
Hal itu membuat Hambali hancur, dia menangis sejadi-jadinya, dia tidak percaya dengan apa yang ia alami.
Ia merasa telah kehilangan segalanya.
Setelah beberapa hari, Hambali menjual seluruh ternak milik ayahnya.
"Kenapa kau jual semua, kenapa tidak kau pelihara sendiri?"
Pembeli ternak itu bertanya kepada Hambali.
"Aku tidak sanggup, setiap hari kuliah, aku tidak memiliki waktu yang cukup untuk merumput"
"Semoga kau menjadi orang sukses ya Li"
Pembeli ternak itu menepuk pundak Hambali.
"Bahkan sekarang saja aku sudah Gagal dalam hidup ini"
"Sabarlah, ini takdir..."
Pembeli itu mencoba menguatkan Hambali.
Hambali kembali melanjutkan kuliahnya dengan perasaan yang masih rancu.
Pikirannya belum bisa terfokus dengan pendidikannya.
"Hei, bukankah kau yang mewakili kampus ini di pertandingan kemarin kan?"
"Hei ..kok melamun..."
"Eh iyaaa...eeeh, kau, apa yang kau katakan tadi?"
Gadis itu menahan senyumnya karena sikap Hambali yang lucu, kemudian dia mengulangi pertanyaannya.
"Hehe iya, tapi kalah.."
Hambali menjawab dengan tersipu.
"Tapi kan mendapat juara 2, itu luar biasa kan.."
"Kalau inginku sih bisa juara...Eh boleh kita berkenalan? Siapa namamu?"
Hambali mulai mengajak kenalan Gadis itu.
"Suhartini, kau Hambali kan? Kau cukup populer di kampus ini"
Jawab Gadis itu sambil tersenyum setelah menebak nama Hambali.
Hambali pun tersipu malu dengan sikap Gadis itu.
"Boleh aku minta nomor hape mu?"
Setelah bertukar nomor handphone, mereka pun berpisah.
Hambali seperti menemukan semangat baru dalam hidupnya.
Waktu berlalu, Hambali telah berpacaran dengan Suhartini, mereka menjalin hubungan dari awal Kuliah hingga menjelang wisuda.
"Apa kau sudah punya keinginan menikah?"
Suhartini bertanya kepada Hambali.
"Apakah kau benar-benar bisa menerima keadaanku yang seperti ini?"
"Jawab dulu pertanyaanku, jangan malah ganti bertanya.."
__ADS_1
Hambali terdiam, dia bingung apa yang harus dia katakan..
"Pernikahan, tentu saja aku sudah sangat menginginkannya, setelah lama aku hidup dalam kesendirian, aku selalu menginginkan teman hidup.."
Hambali mengutarakan perasaannya kepada Suhartini, dia melepaskan beban berat yang selama ini ia pendam sendiri.
"Aku bersedia menikah denganmu"
Suhartini langsung mengatakan kemauannya sambil menggenggam tangan Hambali.
Setelah lulus kuliah, Hambali bekerja menjadi petugas Kereta Api, hingga ia diharuskan pindah dari kotanya.
Pada suatu malam, ia menemui keluarga Suhartini dan menyampaikan segala keinginannya.
"Kalau begitu, carilah tempat tinggal baru, jika kau sudah bekerja, kau akan langsung ku nikahkan dengan anakku.."
Hambali akhirnya menjual semua aset yang ditinggalkan orang tuanya, dia berpindah ke kota yang akan ia tinggali.
Setelah semua beres, Hambali membangun sebuah rumah kecil di pinggiran kota tempat ia bekerja.
Setelah 3 bulan, ia pun menikah dengan Suhartini.
Dan langsung memboyongnya ke rumah barunya.
"Aku tidak menyangka, kita akan menikah, dan kau langsung memberiku rumah baru..."
Suhartini merasa bahagia dengan keadaan ini, meskipun rumah yang ia tinggali sangat sederhana.
"Tapi ini belum terlalu bagus, do'akan aku ya, semoga pekerjaanku bagus, dan bisa membangun rumah yang lebih layak lagi"
"Tentu saja, sudah menjadi kewajiban Istri untuk selalu mendukung suaminya"
Ujar Suhartini sambil tersenyum.
Mereka menjalani kehidupan sebagai pengantin baru di rumah sederhana mereka.
Setelah sebulan menjalani biduk rumah tangga, mereka mendengar kabar bahwa kedua orang tua Suhartini mengalami kecelakaan hingga merenggut nyawa keduanya.
Hal itu menjadi pukulan yang menyakitkan untuk Hambali dan Suhartini.
"Kenapa Engkau timpakan ini kepadaku Tuhan, kenapa Engkau jatuhkan aku dalam kesedihan yang berkepanjangan seperti ini..."
Hambali menangisi keadaan itu.
Seuhartini pun tak henti-hentinya menangisi kedua orang tuanya, dia tidak menyangka akan kehilangan keluarganya secepat itu.
Dan setelah semua berlalu, Hambali dan Suhartini kembali ke Rumah mereka.
"Kita harus menjalani kehidupan dengan beban hati yang sangat berat mulai saat ini.."
"Asalkan bersamamu, aku yakin akan mampu melewati kerasnya hidup ini..."
Suhartini merasa optimis dengan cintanya.
Mereka pun menjalani kehidupan sederhananya berdua.
Suka duka mereka berbagi bersama, sampai pada suatu Hari, cobaan berat kembali menimpa Hambali.
Suhartini meninggal dalam keadaan tubuhnya membiru, setelah sebelumnya dia mengeluh kakinya sakit, dia pikir hanya luka biasa.
Setelah meninggal, Hambali baru menyadari jika istrinya digigit ular berbisa.
Sebab siang harinya Suhartini mencari beberapa sayuran di kebun samping rumahnya.
Tapi semua sudah terlambat, Suhartini lebih dulu meninggalkan dirinya.
"Tuhan, kenapa tidak sekalian kau ambil nyawa ini, kenapa hanya orang-orang yang kucintai, semuanya...semuanya kau renggut, bahkan tak satupun kau sisakan dari mereka..."
Hari-hari berikutnya Hambali sudah malas menjalani kehidupan, dia tidak masuk ke kantor hingga berminggu-minggu, sampai akhirnya dia mendapat surat pemecatan.
Tapi dia tidak peduli lagi, dia benar-benar sudah putus asa, sampai suatu hari ia hendak bunuh diri, tapi dia ingat pesan yang pernah diucapkan Ayahnya, bahwa kerasnya ujian dan cobaan Hidup, adalah pendidikan yang sebenarnya.
Dia pun mulai bergaul, menemui orang-orang yang hidupnya penuh semangat.
"Aku harus bangkit, harus tetap melanjutkan Hidup, mungkin aku memang sudah tak berguna, aku orang yang Gagal, tapi aku berharap suatu saat bisa menjadi orang yang berguna".
Dia pun menggarap pekarangan samping rumahnya yang tak terlalu luas untuk bertahan hidup.
"Tuhan, aku tidak mengharapkan jodoh lagi dalam hidupku ini, tapi aku berharap bertemu dengan orang mau mengakui keberadaanku"
Hingga akhirnya dia bertemu dengan orang-orang seperti Dio dan Sani.
Yang menjadikan seluruh kekuatan Hambali, semangat hidupnya pun sudah ia bulatkan.
__ADS_1
Meskipun ia menjalani kehidupan ini sendirian, tapi ia tetap semangat menjalaninya, karena orang-orang seperti Dio dan Sani sangat menghargainya.
Hingga saat ini, Hambali begitu menyayangi Sani seperti anaknya sendiri, karena sifat Sani yang pantang menyerang, membawa Energi dan Semangat yang luar biasa kepada Hambali.