
Saat waktu menunjukkan jam 2 pagi, Sani pun mengajak mereka pulang, karena Uki sudah terlihat sangat ngantuk.
"Yuk pulang aja deh, mata lu udah kelihatan berat tuh"
"Haaaah...dari tadi udah menguap ratusan kali gw"
"Hhhhh...kamu itu masih muda, harusnya kuat begadang"
Pak Hambali mentertawai Uki.
"Biasanya sih juga kuat pak, entah kenapa malam ini terasa berat banget"
"Udah ah, yuk balik sekarang !!"
Sani mengajak mereka segera kembali ke rumah, dan mereka berdua pun mengiyakan ajakan Sani.
Sekitar 10menit perjalanan, mereka sampai di rumah Sani, setelah sampai rumah Sani, pak Hambali dan Uki pamit untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Sedangkan Sani segera masuk ke rumah tanpa menutup pintu, lalu malah keluar membawa sepedanya.
Setelah kembali menutup pintunya, Sani melihat jam tangannya menunjukkan waktu pukul 02.18.
"Sepertinya aku bisa tepat waktu"
Sani bergumam sendiri sambil bergegas menaiki sepedanya, namun saat hendak keluar dari halamannya, Sani melihat ada lampu kendaraan yang mendekat.
Sani memicingkan matanya supaya bisa dengan jelan mengetahui siapa yang datang.
"Nak Sani mau kemana? Jam segini koo keluar membawa sepeda?"
"Owh pak Bandung, ini nih pak, Sani mau melihat lapak Sani, katanya jam segini banyak pedagang keliling yang lewat di depan lapak saya"
"Memang bener Nak, sebentar lagi, sekitar jam 3 rame-ramenya, Nak Sani sudah mau buka sekarang?"
"Belum pak Bandung, Sani masih ingin lihat, seperti apa tingkat keramaiannya"
"Ow ya sudah, kalau begitu nebeng becak pak Bandung aja"
"Kalau Sani nebeng, pulangnya gimana pak? kan pak Bandung pulangnya agak sorean"
"Kalau gitu kamu bawa sepedamu naik ke becak sekalian"
"Bisa pak?"
"Ya bisa lah, ini masih kuat, kalau cuma bobot tubuh sama sepedamu saja masih tergolong ringan"
"OK lah, biar Sani gak terlalu capek juga hehe"
Sani bergegas mengangkat sepedanya ke atas becak pak Bandung, lalu segera berangkat menuju lapak Sani.
Pak Bandung adalah tukang becak yang bekerja di pasar induk, dia bekerja sebagai pengangkut Sayur yang sedang diperjual belikan.
Becak yang digunakan pak Bandung adalah becak yang sudah di modif, dimana becaknya bukan lagi becak tradisional, tapi diubah menggunakan mesin motor 2 tak.
Di pasar, pak Bandung bekerja di sebuah tempat yang terkenal dengan sebutan "BONGKARAN", maksudnya disana adalah tempat membongkar barang-barang grosirz terutama Sayuran.
"Itu yang di depan ya pak, itu lapak Sani"
"Owalah, disini..kok masih gelap Nak?"
"Hehe belum dipasangin lampu pak"
"Terima kasih banyak ya pak, atas tumpangannya"
Sani Berterima kasih setelah menurunkan sepedanya dari Becak pak Bandung.
"Iya, sama-sama Nak"
"Nak, kalau kamu berangkat kesini jam segini, aku bisa loh bantu bawain dagangan kamu, kan kita sejalan"
"Waduh, takutnya nanti malah ngrepotin pak Bandung"
"Ya tidak lah, kan memang sudah sejalan dengan jalur ke pasar"
__ADS_1
"Anu...biayanya berapa pak Bandung?"
"Kalau Nak Sani menaikkan dan menurunkan dagangannya sendiri, ndak usah bayar Nak"
"Waduh, gimana sih pak, aku kan gak enak..."
"Sudahlahz nggak apa-apa, kan bapak nggak angkat-angkat dagangan kamu, jadi bapak nggak keluar tenaga, nggak ada yang perlu dibayar"
"Baik, nanti Sani pertimbangkan pak"
"Ya udah, bapak lanjut dulu ya Nak"
"Iya, makasih banyak pak, hati-hati, semoga dapat rejeki melimpah hari ini"
"Amin, makasih do'anya nak Sani"
Pak Bandung lalu melanjutkan perjalanannya menuju pasar, sedang Sani berdiri di dekat lapaknya, tak lupa menyulut rokoknya untuk menemani kesendiriannya saat itu.
Saat jam sudah menunjukkan pukul 03.05, jalanan berangsur ramai dan sebagian besar yang lewat adalah pedagang keliling yang membawa 'Obrok' tempat menaruh barang dagangan mereka.
"Sepertinya memang bagus kalau aku buka jam segini, pedagang yang melintasi jalan ini sangat banyak, mereka bisa jadi pelanggan yang bagus"
Sani berbicara sendiri, dan setelah hampir 1jam disana, Sani bergegas meninggalkan lapaknya dan kembali ke rumah.
"OK, sudah aku putuskan, aku mengambil Kesempatan ini..!!"
Sani mengayuh sepeda sambil memotivasi dirinya sendiri, pikirannya penuh semangat dan ambisi yang besar.
Dan tujuannya tidak lain adalah ingin membantu Ibunya segera lepas dari status ekonomi yang dari dulu hanya pas-pasan saja.
"Woy...gimana kabar kalian? Pada diem semua nih, gak ada yang kasih kabar"
Rindra berteriak kegirangan setelah beberapa bulan tak bertemu dengan temannya semasa SMA itu.
"Gw tinggal di pelosok sekarang, bantuin Kakek Nenek gw berkebun wkwkwkwk"
Odi menceritakan keadaanya sekarang.
"Lu nggak kuliah?"
Tijar kaget dengan kabar sahabatny ini.
"Enggak Jar, ortu gw nggak mampu biayain kuliah, akhirnya gw disuruh ikut Kakek gw di kampung Halaman Bokap gw"
"Kabarnya, Sani juga nggak kuliah, dan malah milih jualan Sayur juga"
"Sani jualan Sayur..???"
Odi dan Tijar terkejut dan bertanya bersamaan.
__ADS_1
"Iya, dia nggak kuliah, tapi dia udah milih usaha yang mau dia jalanin, mekipun nggak kuliah, tapi idenya keren menurut gw"
Rindra menimpali
"Tapi sayang loh, kan dia anak Jenius"
Odi menyayangkan keadaan Sani.
"Lu tau sendiri kan keadaan ekonomi keluarganya Sani"
Farhan memberi jawaban kepada Odi.
"Iya juga sih"
Dan setelah ngobrol cukup lama, akhirnya mereka berempat mengakhiri pembicaraan mereka.
"Jangan lupa saling kasih kabar, kalau ada yang sukses duluan, jangan lupa bantu sahabatnya yang masih kesulitan"
Rindra memberikan pesan kepada teman-temannya.
"Paling juga lu yang sukses duluan, sekarang aja udah hampir jadi Direktur"
"Haahaahaaa"
Farhan menimpali Rindra, diikuti gelak tawa mereka bersamaan.
"Wan, Sani memiliki kecepatan dan ketepatan yang sangat bagus, kalau mau menang, kamu harus melampaui itu semua"
Mas Dio memberikan pengarahan kepada Wawan
"Sani adalah lawan yang paling merepotkan yang pernah ku lawan, tapi aku sangat menghormati lawan seperti itu"
"Benar, menghormati lawan yang telah mengalahkan kita adalah sikap pendekar yang sesungguhnya, itulah yang diajarkan pak Hambali kepadaku dulu"
Mas Dio menghela nafas sejenak
"Dan aku yakin, Sani telah mendapatkan pelajaran yang sama, yang mana kau juga telah kuajari tentang itu"
"Sepertinya apa yang aku katakan saat kalah melawan Sani dulu sangat tepat, dimana dia lebih pantas menjadi Guruku daripada lawanku"
Wawan berucap sambil tersenyum.
"Jika nanti kalian bertemu lagi dalam sebuah pertandingan, kau seharusnya tidak memilik beban apapun, karena jika kau menang, itu adalah hal yang luar biasa, dan jika kau kalah, itu adalah kewajaran, karena sebenarnya kalian berada di level yang berbeda"
Pungkas mas Dio.
Sani dan Wawan tengah mempersiapkan diri untuk pertandingan yang akan datang, mereka sama-sama ingin mendapatkan Hasil yang maksimal.
__ADS_1
Terlebih lagi Sani, dia berfikir, setelah ini dia tidak ingin mengikuti pertandingan lagi, karena dia ingin fokus dengan pekerjaannya.