
"Sebentar lagi Sani pasti nyampe sini"
Rindra berujar ditengah-tengah obrolan mereka.
"Gak nyangka ya, dia malah sukses duluan dibanding kita"
Farhan menimpali.
"Masih lebih sukses Rindra ini lah, calon Direktur"
Uki membantah
"Haaahaaahaa .." Mereka serentak terbahak.
"Bener lu Ki, Rindra yang paling sukses..ckckckck"
Tijar pun tak mau ketinggalan.
"Bangkeeee kalian semua ..ckckck"
Rindra pun terkekeh mendengar ocehan mereka.
Tak lama kemudian mereka melihat kedatangan Sani.
"Tuh dia datang, Boss Sayuran...ckckckck"
Uki menyeletuk.
"Hallo semua, wah..udah rame aja nih."
Sani menyapa teman-temannya.
"Gimana Han, udah pulih kan?"
Sani menanyakan kabar Farhan yang sudah lama tidak bertemu.
"Udah San, tapi belum 100%, cuma dipake jalan udah normal, udah nggak pake gaya pincang"
"Haahaahaa..."
Mereka semua tertawa mendengar jawaban Farhan.
"Tumben nih ngumpul rame-rame, adakah yang mau dibahas, atau ada yang punya Ide bisnis baru?"
Sani ngerocos sambil tersenyum.
"Lu jadi Boss Sayuran udah sukses, mau bikin bisnis lagi...!"
Rindra memprotes.
"Ya kali aja Ndra, gw kan juga pengen jadi orang kaya, kemana-mana naik mobil kek lu..ckckckkck"
"Haaahaaa...." mereka pun tertawa bersama, menikmati moment itu karena sudah lama tidak berkumpul.
"Usaha udah lancar ya San?"
Farhan bertanya kepada Sani.
"Yaaa ..udah lumayan Han, cukuplah kalau untuk makan sehari-hari Hhhh"
Jawab Sani sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kita aja masih pusing mikirin kuliah, lu udah menikmati hasil aja"
Uki merasa keadaan mereka seperti tidak adil.
"Ckckckck ya suatu saat kan lu bisa bekerja di tempat ya Elite"
Sani memotivasi.
"Ndra, lu dari tadi kelihatan ada beban gitu, kenapa?
Tijar bertanya karena lihat raut muka Rindra yang tidak seperti biasanya.
"Hehe ada masalah kecil, tapi nganggu banget" jawab Rindra.
"Cerita donk ke kita, siapa tau kita bisa bantu, bantu bikin lu
tambah pusing maksudnya..."
Seloroh Uki yang mulai memasuki Mode Lawaknya.
"Bangkeeee lu...ckckckck"
Rindra pun terkekeh mendengar kata-kata Uki.
"Dah lah, lu cerita aja ke kita, ada Sani, dia pasti punya solusi..hhhh" Farhan menimpali.
"Lhah...kenapa gw, lu lu pada kan juga bisa..!!" Sani memprotes.
"Iya bisaa ..bisa bikin tambah pusing itu tadi" Sahut Tijar.
"Dah lah Ndra, kalau bisa diceritain, kenapa harus dipendam sendiri." Farhan mencoba membujuk Rindra.
"Gw yang hajar kalau ada yang Bully..!!" Sani langsung memotong, karena Sani tau apa yang akan disampaikan Rindra.
"Kek nya bakal serius beneran nih." Uki menyahut.
"Gini, beberapa waktu lalu, gw tidurin seorang cewe, dari malem sampe siang, gw hajar itu cewe..".
Seketika mereka semua langsung terdiam, mereka tidak mengira jika topiknya seperti ini, kecuali Sani yang terlihat menahan senyumnya, karena sudah paham duduk perkaranya.
"Akibatnya, dia meminta pertanggungjawaban dari gw jika dia sampai hamil, tapi untungnya dia nggak sampai hamil, jadi gw cuma minta maaf ke dia.." Rindra menarik nafas sejenak.
"Dia pada akhirnya maafin gw, karena nggak bisa menuntut apapun dari, yaaa alesannya karena dia nggak hamil, jadi gw bisa bebas.."
"Terus, apa yang jadi masalah, kan udah selesai kalau seperti itu?" Tijar merasa penasaran.
"Masalahnya, dia seperti nyumpahin gw, dia bilang walaupun dia memaafkan, tapi gw harus tetap menanggung Hukum Karma akibat perbuatan gw itu, gw kan jadi pusing, dia maafin gw, tapi masih nyumpahin gw, gimana coba?"
Mereka semua terdiam, bingung mau jawab apa, masalah yang dihadapi Rindra belum pernah di lakukan oleh mereka.
Jangankan memberi solusi, berfikir saja seperti tidak sampai.
"Kok diem semua..!!" Rindra mencoba mencari jawaban dari mereka.
"Jujur ya, gw sendiri nggak nyampe mikir kesitu, gw kira masalah lu yang ringan-ringan aja." Tijar merasa buntu.
"Kalian gimana, Ki, Han?" Rindra mencari jawaban dari Uki dan Farhan.
Farhan hanya menggelengkan kepala, sedangkan Uki,
"Masalah yang lu adepin sekarang, adalah masalah yang bahkan gw pun belum sempat membayangkannya"
__ADS_1
"Menurut lu, gw harus gimana San?" Rindra bertanya pada Sani, diikuti oleh ketiga temannya yang memandangi Sani secara bersamaan.
Sani dari tadi hanya diam, sedikit menunduk dan melipat tangannya di depan Dada.
"Hmmhhhh .... sebenernya gw jg belum nyampe mikir ke arah sini sih" Sani menjawab pertanyaan Rindra.
"Lu juga nggak punya solusi?" Rindra mencoba memaksa Sani untuk menjawabnya.
"Solusi....masalahnya, lu nggak cinta sama tu cewek, itu yang agak sulit." Sani menegaskan.
"Jadi Lu..!!" Farhan tidak melanjutkan kata-katanya, dan semua temannya memandang tajam ke arah Rindra.
"Satu-satunya cara, menurut gw" Sani mencoba menengahi.
"Lu harus tetep berteman sama dia, dia maafin lu, tapi sekaligus nyumpahin, itu artinya dia tidak rela menerima kenyataan bahwa lu bisa bebas dari masalah ini..."
"Tapi jika lu tetep berteman baik, suatu hari, akan ada 2 kemungkinan yang terjadi.."
"2 kemungkinan, apa yang lu maksud?" Selidik Rindra.
"Kemungkinan pertama, lu bakalan jatuh cinta sama dia, karena kebiasaan lu Deket dan baikan sama dia, dan kemungkinan kedua, dia bakal maafin lu secara ikhlas, karena kebiasaan juga"
Sani menegaskan maksud dari perkataannya.
Rindra terlihat lesu, dia seperti tidak bisa menerima solusi dari Sani.
"Itu hanya saran Ndra, bukan perintah, lu mau ngelakuin ataupun tidak, semua kembali pada keputusan lu sendiri".
"Kalau gw sih setuju sama Sani." Farhan mencoba menguatkan Solusi dari Sani.
"Sepertinya emang itu keputusan terbaik." Tijar pun ikut berkomentar.
"Itu bisa dikatakan sebagai pertanggungjawaban lu Ndra, dan Bukti kalau Lu bukan cowo Brengs*k..!!" Uki pun menekankan usulan Sani.
"Jadi menurut kalian, gw harus berteman sama dia?"
"Ya..!!" Farhan, Uki dan Tijar menjawab dengan tegas, sedangkan Sani,
"Tidak Ndra, Tidak harus, sudah gw bilang, itu hanya saran, bukan perintah, jadi keputusan tetep di tangan lu sendiri, mau berteman, atau memilih menjauh."
Mereka semua terdiam, usulan Sani memang lebih baik dibanding yang lainnya.
"Setiap perbuatan, selalu ada ganjaran Ndra, ada sebab, ada akibat, dan lu telah melakukan sebuah "Sebab", jadi lu harus siap menerima apa yang di sebut "Akibat"...!!!"
Sani semakin menegaskan.
"Sepertinya usulan lu sangat layak gw pertimbangkan San".
Ucap Rindra.
Kemudian mereka pun mengganti topik obrolan mereka dengan hal yang lebih ringan dan menyenangkan.
Mereka tidak ingin Rindra semakin terbebani oleh masalahnya.
Hingga waktu menunjukkan pukul 22.15, merekam pun sepakat untuk kembali dan pulang ke rumah masing-masing.
Dalam perjalanan Pulangnya, Rindra selalu mengingat kata-kata Sani,
"Lu emang bener San, cuma ini satu-satunya hal yang bisa lakuin..!"
Rindra pun mencoba menerima keadaan dengan menekan Ego dan sifat Arogannya.
__ADS_1