Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Welcome Back Farhan


__ADS_3

Setelah mendengarkan cerita pak Hambali yang begitu menyentuh, Sani dan Uki pun terbawa suasana.


Bahkan Sani pun menitikkan air matanya.


"Haaahaaa....sudahlah, jangan larut dalam kesedihan karena kisah yang ku ceritakan, semua sudah menjadi kenangan, itu adalah pelajaran dalam hidup..dan aku sudah bisa lepas dari beban itu.."


Pak Hambali berujar sambil tertawa karena melihat Sani dan Uki yang ikut-ikutan bersedih.


"Kematian itu pasti, tapi kadang efeknya menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.."


Uki berbicara dengan nada yang sok Bijak..


"Sama saja dengan Kelahiran kan?"


Sani menanggapi kata-kata Uki.


"Maksudmu?"


"Kematian dan Kelahiran adalah Mutlak urusan Tuhan, tapi efek dari kejadian itu sangatlah berlawanan, Kematian akan membawa dampak kesedihan, dan Kelahiran akan membuat bahagia"


Sani melanjutkan kalimatnya.


"Pada dasarnya, Kematian ataupun Kelahiran itu bukanlah Kesedihan ataupun Kebahagiaan, karena seperti yang kau bilang, itu Mutlak urusan Tuhan"


Pak Hambali melengkapi kalimat Sani.


"Yaa...tapi kebiasaan bersama, lalu kehilangan, akan membuat hati kita bergetar saat dipisahkan"


Sani kembali melanjutkan.


"Bangkeeeee nih orang-orang pada kesambet setan apa sih, pada sok bijak semua bahasanya"


Uki merasa jengkel karena topiknya serius.


"Haaahaa...bilang aja lu nggak nyampe mikirnya..ckckckck"


Sani terkekeh mengolok-olok Uki, yang diikuti senyum pak Hambali.


"Haaahaa...anjiiirr lu San, ini beneran mau disini sampe pagi?"


"Enggaklah, setengah 2 kita harus balik, gw tetep berangkat ke Kios nanti"


"OK deh...kita habisin dulu yang ada ini"


Mereka pun menikmati apa yang dibawa, hingga waktu menunjukkan pukul 01.25, Sani mengajak mereka pulang karena hendak berangkat ke Kios.




"Ndra, Nanti datang ke Kantor ya, bantu Papa ngurus beberapa berkas yang belum selesai"


Pak Jaya meminta Rindra, sekaligus mengenalkan beberapa Tugas yang nantinya akan ia kerjakan.



"Baik Pa, mungkin jam 1 Rindra sampai di Kantor"



"Yaaaa...selonggarmu aja lah, kalau memang jadwal kuliahmu padat, tidak perlu juga memaksa datang"



"Sepertinya tidak, biasanya jam 12 sudah selesai semua tugas kuliahku"



"Baiklah, Papa tunggu kamu di Kantor nanti.."



"OK..!!"



Setelah itu mereka berpisah, pak Jaya menuju kantornya, sedangkan Rindra menuju kampusnya.



Rindra terlihat tenang, meskipun hatinya masih saja merasakan beban akibat perbuatannya.


Dia masih memikirkan Anita, Gadis itu seakan menumpahkan Rindra, hal itu selalu menghantui pikiran Rindra beberapa hari ini.



"Apa aku harus menikahi Anita, agar bisa melepaskan beban ini...tapi aku tidak mencintainya, aku takut tetap tidak bisa mencintainya walaupun sudah menikahinya"



Rindra masih berada dalam kebimbangannya.


"Ah...sudahlah, aku ingin tenangkan fikiranku dulu.."



Dia mencoba melupakan sejenak kejadian itu, dan fokus dengan kuliahnya.


Mengingat dia harus mengganti Ayahnya memegang perusahaan itu nantinya.



Tiba-tiba hp nya berdering, setelah melihat..



"Farhan...tumben sekali...Hallo Han, ada apa?"


__ADS_1


"Hallo Ndra, ajakin gw nongkrong donk, udah bisa jalan bagus nih..ckckckck"



"Anjiiirrrr ...OK deh, ntar malem yak"



"OK...berdua apa sama yang lain?"



"Yang lain, siapa?"



"Ya Tijar sama Uki, atau sama Sani sekalian kalau bisa.."



"Kalau Tijar sama Uki sih OK, kalau Sani mungkin belum bisa, soalnya dia latihan."



"OK deh gw kabarin mereka"



"OK Gaasss...."



Rindra pun seperti mendapat udara segar.



"Sepertinya bakal sedikit fresh nih kepala..."


Dia pun melanjutkan aktifitasnya dengan Full senyuman.


"Coba hubungin Sani ah..."



Dia mencoba menghubungi Sani, tapi tidak ada respon, setelah berulang menelepon, tetap tidak ada jawaban.


"Mungkin tidur nih anak.."



Rindra pun meninggalkan pesan untuk Sani.


"San, nanti malem Farhan nongkrong, kalau lu longgar, ikut ya, kalau nggak bisa bareng, lu nyusul, ntar gw share loc"



Begitulah pesan Rindra.



Baru setelah bangun, Sani melihat ada bekas panggilan masuk, dan beberapa pesan yang belum terbaca, salah satunya dari Rindra.



Setelah membaca, Sani tersenyum, lalu membalasnya.


"OK deh, ntar share loc aja, gw nyusul, sore masih harus latihan, jadwal tandingnya udah tinggal beberapa hari lagi."



Setelah itu Sani kembali menjalankan aktifitasnya, mengambil dagangan dari warga sekitar, lalu terkahir di rumah pak Haris.



Ditemani pakde Damar, Sani memilih sayuran yang biasa ia bawa setiap harinya.



Rindra yang membaca pesan balasan Sani pun terlihat senang, ia merasa Sani adalah satu-satunya teman yang bisa diajak bicara serius, bahkan dengan topiknya yang mendalam.



Setelah mampir di Kantor Ayahnya dan membantu sedikit perkerjaannya, Rindra dan Ayahnya pulang bersama mengemudikan mobil sendiri-sendiri.



Setelah sampai rumah..


"Nanti Rindra mau keluar, Farhan ngajak nongkrong."



"Farhan, dia sudah sembuh?"


Ibunya bertanya.



"Katanya sudah, meskipun belum pulih 100%, tapi dia sudah bisa jalan dengan normal katanya."



"Rencana mau kemana?"


Pak Jaya bertanya.



"Paling juga kafe Deket sini aja, soalnya Sani mau ikut, tapi dia nyusul, soalnya sorenya masih menjalani latihan"

__ADS_1



Mendengar nama Sani, pak Jaya terlihat lega, dia Yakin Rindra takkan berani berbuat aneh-aneh jika ada Sani.



Entah mengapa, pak Jaya sangat menyukai sosok anak muda Seperti Sani, selain semangat bekerja keras, Sani adalah sosok yang sangat bertanggung jawab, jadi pak Jaya tidak perlu khawatir jika Anaknya bersama Sani.



"Hallo, Han, semua udah kumpul?"



"Udah Ndra, nih Uki sama Tijar ada dirumah"


Farhan menjawab dari seberang.



"OK, tunggu disitu, gw kesitu, kita berangkat bareng aja"



"Siaaapp Booosss..."



Rindra langsung berangkat menuju rumah Farhan, sedangkan Farhan, Uki dan Tijar menunggu di teras rumah mereka.



Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya sebuah mobil menepi di depan rumah Farhan.



"Hallooo gaaeeesss...Welcome back Farhan..ckckckck"



"Anjiirrr...kek gw baru bertapa aja"



"Lhah...emang lu kan baru bertapa Han, taunya cuma dirumah mulu."


Uki merespon kata-kata Farhan.



"Bangkeee Lu Ki.."



"Haaahaaa.."


Mereka pun tertawa bersama.



"Yuk lah, langsung gaas aja"


Rindra mengajak mereka berangkat.



Farhan, Uki dan Tijar pun masuk ke dalam mobil Rindra, lalu mereka berangkat bersama.



"Sani ntar nyusul, dia masih latihan katanya.."


Rindra membuka percakapan.



"Kita rencananya kemana Ndra?"


Uki bertanya.


Kemudian Rindra menyebutkan nama salah satu kafe di tengah kota, dia mengatakan bahwa tidak ingin ke kafe yang terlalu jauh, karena kasihan Sani jika harus menyusul ke tempat yang Jauh.



"Wah ..jadi tambah rame nih kalau ada Sani"


Ujar Farhan.



"Ya kan tambah Asyik kalau rame-rame"


Uki menimpali.



"Udah lama gw nggak ketemu Sani, keknya udah sukses dia.."


Tijar menyahut percapakan mereka.



"Pastinya, kita mah cuma modal dari orang tua"


Rindra membalas kata-kata Tijar.



"Haaahaa..."

__ADS_1


Merekapun larut dalam tawa karena sudah lama tak kumpul bersama.


__ADS_2