Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Tenanglah


__ADS_3

Sesaat hp Farhan di nyalakan, langsung ada panggilan masuk.


Nama yang tertera di layar hp itu adalah "Ayah".


"San, ada panggilan masuk, dari Ayahnya Farhan"


Kemudian Sani meminta hp Farhan, dan menenangkan diri untuk menyampaikan keadaan yang terjadi tanpa mengagetkan orang tuanya.


"Hallo"


Sani menjawab panggilan itu


"Hallo, Farhan kamu dimana sekarang? Dari tadi dihubungin nggak aktif, Ibumu sudah khawatir dari tadi, cepetan pulang ya"


"Om, ini Sani temennya Farhan"


"S..Sani, lalu Farhan dimana??"


Ayah Farhan menjadi sedikit gugup dan emosional.


"Om, om keluar rumah dulu, biar nggak terdengar langsung, biar Sani jelasin pelan-pelan, dan nggak salah paham"


"OK OK, baik, tunggu sebentar"


Ayah Farhan melangkah keluar rumah


"Kemana pak, gimana keadaan Farhan"


"Sebentar Bu, disini sinyalnya sulit, bapak cari sinyal dulu"


Sani yang mendengar jawaban Ayah Farhan dari telpon itupun menjadi sedikit tersenyum.


"Hallo, nak Sani, ini bapak sudah diluar, cepat ceritakan keadaan yang sebenarnya"


"Om, Farhan kecelakaan tadi siang, sekarang dia di Rumah Sakit, dia tidak apa-apa Om, sekarang dia sedang tidur, hp nya saya bawa, karena Farhan sendiri yang berpesan supaya saya menjawab dan menjelaskan kalau ada keluarga yang menghubungi"


"Om jangan terlalu khawatir ya, dia baik-baik saja kok, dan Om tau sendiri bagaimana caranya menjelaskan ini semua kepada Ibu"


"Farhan...kecelakaan? Apa dia benar baik-baik saja Nak, kamu tidak bohong kan?"


Ayah Farhan mencoba memastikan..


"Dia baik-baik saja Om, sekarang dia tidur, mungkin dia kelelahan dan tadi memang dia sedikit syok"


"Baiklah, Om segera kesana, Om tau bagaimana cara mengatasi Ibu Farhan"


"Baik Om, sampai jumpa nanti"


"Nak...terima kasih banyak ya sudah menjaga Farhan disana"


"Sama-sama Om"


Kemudian ayah Farhan mengakhiri panggilannya.


Dan menjelaskan kepada Istrinya dengan kebohongan, agar Istrinya tidak terlalu kaget dengan keadaan yang sebenarnya.


Setelah itu mereka segera pergi menuju Rumah Sakit.




"Lu bohong?"



Sani menoleh pelan ke arah Uki yang mendadak bertanya seperti itu



"Ini yang terbaik..!!"



Sani menjawab singkat.


Dan tak lama kemudian, ada panggilan masuk di hp Sani, yang ternyata itu adalah Rindra..



"Hallo Ndra"



"Hallo, San, gw udah di parkiran, lu dimana?"



"Di samping ruang IGD Ndra"



"OK, gw tau tempat itu"



Rindra menutup telponnya dan segera menuju ke tempat yang dimaksud.



Saat panggilan berakhir, Sani melihat ada notifikasi pesan dari Ayu...



"Astaga..gimana keadaannya mas?"



Lalu Sani pun membalasnya, karena merasa keadaan sudah cukup kondusif, jadi dia punya waktu untuk chattingan dengan pacarnya itu



"Dia patah tulang kaki kiri dek, hanya itu yang berat, selain itu, semuanya aman"



"Astagaaaaa...kok bisa separah itu sih....mas Sani nggak pulang malam ini?"



"Mungkin benturannya keras, makanya bisa patah tulang, namanya juga Apes, nggak ada yang tau...nungguin keluarganya dateng, setelah itu Mas bisa pulang"



"Ayu ikut prihatin ya mas, emm nanti kalau pulang, nggak usah ngebut ya Sayang...dan kalau udah ngantuk banget, nggak usah dipaksain pulang, istirahat di sana dulu aja"


__ADS_1


Ayu berpesan kepada Sani karena khawatir terjadi apa-apa terhadap kekasihnya itu.



"Iya Sayang, tenang aja, semua udah kondusif kok, semua bakal baik-baik saja"



"Iya Mas, Ayu istirahat dulu ya Mas"



"Iya sayang, tidur yang nyenyak ya, mimpi indah, I Love U"



"Iya Sayang, I Love U too"



Balasan terkahir itu membuat mereka berdua tersenyum bahagia, karena cinta mereka memang sedang hangat-hangatnya.



Tak lama berselang, Rindra muncul dari kejauhan, mengetahui hal itu, Sani dan Uki segera berdiri menyambut Rindra



"San, gimana keadaan Farhan sekarang?"



Rindra terlihat panik.



"Sekarang dia masih di IGD Ndra, kabarnya dia patah tulang kaki bagian kiri"



"Ya Tuhaaannn...bagaimana ini"



Rindra mengacak-acak rambutnya, dia benar-benar kebingungan saat ini.



"Lu tenang donk Ndra, bukan cuma Lu yang khawatir, kita semua juga khawatir, kebingungan lu bisa-bisa malah bikin masalah baru"



Uki mencoba menegur Rindra yang bersikap tidak tenang.



"Lu bener Ki, ehh orang tuanya sudah dikabari?"



"Udah, tadi gw yang bicara, Ayah dan Ibunya juga sedang dalam perjalanan kesini"



Sani menyahut pertanyaan Rindra




Rindra menunduk sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dia sedikit merasa lega mendengar penjelasan Sani.



Dari kejauhan, Sani melihat dua orang yang sedang berjalan cepat dan kelihatan bingung, tapi Sani hanya cuek saja, karena merasa tak mengenal mereka.



Saat dua orang itu melewati mereka, tiba-tiba...



"Om Maman...!"



Rindra memanggil mereka, ternyata mereka orang tua Farhan.



"Nak Rindra, dimana Farhan sekarang?"



Ayah Farhan segera mendekati mereka.



"Dia masih di IGD, mungkin sebentar lagi boleh keluar"



Ayah dan Ibu Farhan benar-benar tidak tenang saat itu, mereka sangat mengkhawatirkan keadaan Anaknya.



"Om, ini Sani teman Rindra dan Farhan, dan itu Uki"



Rindra memperkenalkan Uki dan Sani kepada orang tua Farhan.



"Oh Nak Sani, yang tadi bicara di telfon"



"Iya Om, dan ini Uki, yang dari tadi siang nungguin Farhan disini"



Sani menjawab sambil menjabat tangan Ayahnya Farhan.



"Terima kasih banyak ya nak Uki"

__ADS_1



Kemudian terdengar panggilan untuk keluarga pasien dengan Nama Farhan, Ayah Farhan pun segera mendatangi sumber suara tersebut, dan Sani menyuruh Rindra menemani Ayahnya Farhan.



Sedangkan Sani mencoba menenangkan Ibunya Farhan yang sedari tadi menitikkan air matanya.



"Ibu yang tenang ya, semua akan baik-baik saja kok"



Ibu Titin hanya mengangguk pelan, karena sebenarnya masih belum benar-benar tenang.



Setelah cukup lama menunggu, Ayah Farhan dan Rindra kembali mendekati mereka.



"Kita langsung menuju kamarnya..!!"



Tanpa basa-basi, Rindra mengajak mereka ke kamar dimana Farhan menjalani Rawat Inap.



Setelah sampai dikamar, Farhan menyambut mereka dengan senyuman, semua yang melihat merasa lega.


Seakan ada beban berat yang terlepas dari diri mereka.



"Kamu baik-baik saja kan Nak?"



Ibu Farhan mendekat dan memegangi Pipi Farhan



"Nggak papa Bu, cuma patah tulang kaki, Farha justru lebih khawatir dengan keadaan Ibu sendiri"



Farhan berkata demikian karena punya alasan yang sudah dimengerti oleh mereka semua.


Kemudian Farhan menoleh ke arah Uki dan Sani.



"Ki, San, gw udah aman sekarang, kalian pulanglah, pasti kalian capek banget"



"Iyalah capek, mana dari siang gw belum makan lagi"



"Hhhh..."



Mereka semua tersenyum mendengar jawaban Uki.



Kemudian Uki dan Sani pamit pulang, dan Rindra pun juga disuruh pulan oleh Ayahnya Farhan..



"Nak Rindra juga ikut pulang saja, biar kami yang temenin Farhan disini"



"Baik Om, kalau ada perlu, hubungi Rindra ya"



"Iya Nak, terima kasih ya"



Dan mereka bertiga keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju parkiran.



"Ndra, lu traktir gw makan donk, sumpah gw laper banget belum makan dari tadi siang"



"Wkwkwkwk Iya deh, gw traktir di warung depan noh, lu makan sepuasnya ckckckck"



"Nah gitu donk, yuk lah, Gasss"



"Lu ikut kan San?"



"Keknya enggak deh Ndra, gw masih kenyang"



"Yaelah, masak lu mau ninggalin gw duluan..??"



Uki memprotes Sani yang berniat pulang duluan



"Ya Udah deh, gw temenin, tp gw minum aja"



"Nah gitu donk"



Akhirnya mereka bertiga menyempatkan istirahat di warung depan Rumah Sakit, mereka sempat ngobrol panjang lebar, dan tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 01.13.

__ADS_1



Akhirnya mereka memutuskan pulang ke rumah mereka masing-masing.


__ADS_2