
"Rindra kemana lagi Pa, akhir-akhir ini dia sering keluar malam, dan yang kemarin, dia tidak pulang malam, tidak pulang pagi pula, tapi malah pulang siang hari, apa maksudnya ini?"
"Maaa...jangan mencecar pertanyaan ke Papa donk, gimana jawabnya..!!
Pak Jaya sedikit jengkel, karena justru dia yang diadili oleh Istrinya.
"Kemarin Mama mau tegur dia, tapi papa kan yang melarang, sekarang Papa mau berkilah lagi, Papa mau belain dia terus?"
"Ma, Rindra belum cukup dewasa dalam menghadapi semua masalahnya, mungkin dia sedang bersama temannya untuk menyelesaikan semua masalahnya"
"Masalah? Masalah apa yang dihadapi anak seperti Rindra? Dia seharusnya fokus kuliah saja, tidak perlua memikirkan hal lain yang tidak penting..!!"
Nada Bu Sulastri mulai meninggi.
"Ya itu maksud Papa, mungkin dia sedang menyelesaikan masalah kuliahnya"
"Halah...kalian Bapak dan Anak sama saja..!!"
"Nanti kalau Rindra sudah pulang, marahi dia..!!"
Pak Jaya sedikit membentak Istrinya.
"Jangan marah-marah ketika anaknya tidak ada, dan hanya diam ketika dia sudah pulang"
Bu Sulastri pun diam, dia tidak mau membuat suaminya lebih marah lagi.
"Papa di kantor sudah banyak kerjaan, jangan bikin Papa tambah stress di rumah ini"
Pak Jaya mengatatakan hal itu sambil pergi menuju kamar atas.
Bu Sulastri pun menjadi sedikit takut, jika suaminya sampai tidak krasan dirumah, itu bisa berbahaya, apalagi jika suaminya mencari kesenangan di luar rumah.
"Aku harus minta maaf"
Bu Sulastri segera menyusul suaminya ke kamar atas untuk meminta maaf.
Sesampainya di depan kamar tempat suaminya beristirahat, Bu Sulastri mengetuk pintunya..
"Tok Tok Tok..."
"Paaa....Mama minta maaf.."
Bu Sulastri langsung meminta maaf dari luar pintu, dia berharap suaminya membuka pintu kamar itu.
Tapi setelah cukup lama, tidak ada respon dari dalam kamar
"Tok Tok Tok..."
"Paaa...buka pintunya donk"
Setelah menunggu, belum juga ada jawaban
"Tok Tok Tok..."
"Paaa..Mama Minta maaf, buka pintunya..."
Setelah menunggu tak juga ada jawaban, akhirnya Bu Sulastri turun meninggalkan suaminya.
"Mungkin dia masih marah"
Bu Sulastri menggumam.
Dia berharap masalah itu bisa selesai dan tidak bertambah parah, dia takut jika masalah sepele itu membesar dan membuat rumah tangga mereka kacau.
Apalagi jika sampai pak Jaya mendapat kenyamanan dari orang lain, itu bisa mengancurkan semuanya.
Meskipun pak Jaya tidak pernah menunjukkan gelagat yang demikian, tapi apapun bisa terjadi jika seorang lelaki tidak mendapat kenyamanan di rumahnya.
Di dalam kamar itu pun pak Jaya menerawang jauh, matanya tidak mau terpejam.
Dia tidak memikirkan Istrinya, dia justru mengkhawatirkan Rindra.
"Bagaimana jika Rindra dalam masalah? Bagaimana jika orang tua Gadis itu benar-benar tidak terima"
"Haaah...anak itu, kenapa dia mencari masalah yang seperti ini..."
"Atau mungkin ini Karma dari perbuatanku saat aku masih muda dulu"
__ADS_1
Pak Jaya berusaha menenangkan dirinya, dia berharap Rindra menemukan solusi terbaik dari masalah ini.
"Semoga dia saat ini sedang memikirkan hal itu...Sani...mungkin dia adalah sahabat yang tepat, anak itu bisa diajak bicara serius"
Dia tidak bisa membayangkan jika anaknya babak belur karena dipukuli orang akibat dari kesalahannya.
"Semoga hal itu tidak akan terjadi, aku berusaha tidak membela orang yang bersalah, sekalipun itu anakku sendiri"
Akhirnya dia memejamkan matanya, berharap besok Rindra berada dalam keadaan yang lebih baik.
"Buu...."
Ayu menunjukkan chattingnya dengan Sani beberapa hari yang lalu, dia hanya menunjukkan tulisan dimana Sani mengajak Ayu menikah setelah lulus SMA, dan tidak menampilkan percapakan lain.
Bu Indri tersenyum, lalu bertanya kepada Ayu..
"Kamu siap?"
"Nggak tau Bu, kalau memikirkan hal ini, Ayu jadi deg-degan Bu, ada rasa khawatir, takut dan ragu-ragu...tapi ada juga rasa bahagia disini"
"Apa yang kamu takutkan?"
Bu Indri mengerutkan keningnya..
"Ayu khawatir, karena Ayu merasa belum cukup dewasa dalam hal ini, dan Ayu takut, jika tinggal dirumah mas Sani, Ayu akan sulit beradaptasi dan melakukan kesalahan, bagaimana jika mertua Ayu galak"
"Naaak....kamu tidak perlu memikirkan hal semacam itu, pertama, kedewasaan itu dilatih bersamaan waktu yang berjalan, kedua, Ibunya Sani adalah orang yang lembut dan baik, bahkan kamu lebih mirip dengan Bu Nanik daripada Ibu sendiri"
"Lagi pula, Sani adalah orang yang baik, bertanggungjawab dan juga dewasa, dia yang akan membantumu serta memimpinmu menjalani kehidupan rumah tangga kalian nantinya"
"Jadi Ibu merestui ini semua?"
"Tentu saja, bahkan Ayah juga sangat merestui..!!"
Tiba-tiba pak Galih menyahut dari belakang mereka.
"Ayah.."
"Jika itu adalah pilihan Sani, dan kamu menyanggupinya, maka itulah yang terbaik untuk kalian"
Pak Galih melanjutkan.
"Sani adalah pilihan yang tepat, Ibu yakin kamu adalah Gadis yang baik...Gadis yang baik, sangat pantas dimiliki oleh lelaki yang baik pula"
"Tapi ingat, saat ini tugas kamu adalah menyelesaikan sekolahmu dulu, selesaikan dengan nilai maksimal"
Pak Galih menyemangati Anak Gadisnya itu.
__ADS_1
"Kemana adikmu?"
Bu Indri menanyakan keberadaan anak Bungsunya.
"Dia sudah tidur Bu"
"Aku berharap suatu saat Nissa juga bisa menemukan lelaki yang seperti Sani, karena dia masih perlu bimbingan dalam banyak Hal"
Pak Galih menimpali.
"Kalau begitu Ayu tidur dulu ya Bu, Yah.."
Pak Galih dan Bu Indri mengangguk tersenyum ke arah anaknya yang beranjak pergi meninggalkan mereka.
"Hartoyo, aku tidak menyangka bahwa kita akan menjadi Besan.."
Pak Galih berbicara seakan-akan sedang berada bersama Ayah Sani.
"Apa kau benar-benar sudah tega jika Ayu menikah?"
"Asal suaminya adalah Sani, aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun, Sani pasti akan memenuhi segala tanggung jawabnya".
"Sebenarnya aku juga berfikir demikian, Anak itu benar-benar lain daripada yang lain"
"Yaaah....dia benar-benar jiplakan dari Hartoyo, seperti itulah sifat Ayahnya dulu, tenang, sabar, disiplin dan bertanggungjawab dalam setiap hal yang ia lakukan".
"Bukankah itu bagus ketika Ayahnya bersahabat baik, mereka menjodohkan Anak-anaknya"
"Ya, memang begitu...Emmm apa kamu tidak ingin membuatkan adik untuk Nissa?"
Pak Galih menggoda Bu Indri.
"Sepertinya tidak, aku merasa sudah cukup memiliki 2 anak yang sama cantiknya"
Bu Indri menjawab seakan tidak peduli dengan kode yang dilontarkan pak Galih.
"Kalau begitu, tidak usah dijadikan adik saja"
Pak Galih langsung berdiri sambil menggendong Istrinya.
"Apa-apaan ini, kalau anak-anak tau, bisa malu-maluin Yah"
"Halah mereka tidak akan tahu, lagipula andai mereka tahu, bukan hal aneh jika seorang suami menggendong istrinya".
__ADS_1
Bu Indri pun tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di dada suaminya, mereka menuju kamar untuk menunaikan Hajat mereka sebagai suami Istri.