Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Aan Eko Hartoyo bag. 3


__ADS_3

"Naak, kamu kenapa Naaak..."


Nanik tiba-tiba menjerit, hingga mengagetkan semua yang ada disana.


Damar dan Hartoyo yang sedang tidur di depan pintu kamar pun langsung terbangun dan langsung menuju dalam kamar.


Nanik dan Wiwik menangis hiteris melihat keadaan Aan.


"Astaga, kenapa ini...."


Hartoyo pun menangis melihat keadaan Anaknya.


"Kita bawa ke Puskesmas sekarang Har..!!!"


Damar langsung berlari keluar menuju rumahnya untuk mengambil motor.


Saat itu tubuh Aan sangat panas hingga kejang-kejang, Hartoyo membungkus Aan dengan selimut lalu menggendongnya, untuk dibawa ke Puskesmas.


Semakin lama, kejangnya semakin parah, Hartoyo pun tidak kuasa menahan tangisannya.


"Naaak, tunggu sebentar ya Naak, kita ke Puskesmas sekarang".


Damar sudah sampai di depan rumah Hartoyo, lalu langsung berlari menuju ke dalam.


"Maasss ...Aan sudah pergi..."


Hartoyo berbicara tanpa melihat kakaknya, dan hanya menunduk sambil menangis.


Aan sudah di rebahkan kembali di atas kasurnya.


Wiwik dan Nanik menjerit-jerit, mereka tidak percaya dengan kenyataan ini.


Tangisnya pecah menggemparkan tetangga sekitar.


Damar hanya melotot ke arah, Aan dibaringkan.


Jantungnya seakan berhenti berdetak, dia seperti tidak sanggup menggerakkan anggota tubuhnya lagi.


Hartoyo pun rubuh, tubuhnya lemas, dia berusaha menahan tangisnya, tapi tidak mampu.


Apa yang terjadi di hadapannya adalah kenyataan, tapi dia seperti ingin mengingkari kenyataan itu.


"Naaak, kenapa kamu tinggalkan kamu semuaa...kenapa kamu tidak mau menunggu aku membawamu ke Puskesmas.."


Damar mengelus kepala keponakannya itu sambil menangis.


"Ini Salahmu Har, tadi malam sudah ingatkan untuk membawa ke Puskesmas, tapi kau menolak, sekarang ini yang terjadi..!!"


Tiba-tiba Damar marah kepada Hartoyo, dia seperti kerasukan setan, mendadak marah, dia melotot ke arah Hartoyo, matanya pun telah memerah.


Hartoyo sudah tidak peduli dengan bentakan kakaknya, dia merasa sudah hancur saat itu.


"Mas, sudah mas, sadar mas, jangan sampai amarah menguasai kamu.."


Wiwik mencoba menenangkan suaminya.


"Kalau saja Dia tidak menolak, seharusnya Aan masih bisa diselamatkan, semua ini gara-gara dia"


Damar berteriak sambil menunjuk Hartoyo yang sedang terduduk lemas di tengah pintu kamar.


"Maaaasss...!!!"


"Plaakk..."


Wiwik menampar suaminya, dia marah melihat kelakuan suaminya yang sudah di kuasai Emosi.


Seketika itu pula, Damar seperti tersadarkan kembali, dia langsung memeluk adik laki-lakinya itu.


"Har, maafkan Aku Har, aku gelap mata Har..."


Damar meminta maaf sambil menangis.


Sedangkan Hartoyo, dia seperti orang linglung, dia seperti kehilangan akal warasnya.


"Anakku, anakku masih hidup kan, Anakku tidak mati kan?"


Dia berbicara dengan pandangan kosong yang menerawang Jauh ke depan.


"Har, kamu harus kuat Har, kamu harus tegar Har..."


Damar mencoba menguatkan adiknya, lalu ia kembali memeluknya, dia tidak tega menatap wajah adiknya yang dipenuhi raut kesedihan itu.


Tak berapa lama, beberapa tetangga pun mulai berdatangan, ingin mengetahui apa yang terjadi.


Setelah mereka tau bahwa Aan telah meninggal, mereka langsung memberi tahu semua tetangga sekitar guna mempersiapkan segala kebutuhan untuk acara pemakaman.

__ADS_1


Nanik sempat tidak sadarkan diri hampir selama 1 jam, dia belum mampu menerima kenyataan pahit ini.


Hartoyo pun dibantu berdiri oleh para tetangga, tubuhnya lemas seperti tak memiliki tulang.


Saat semua tetangga sudah berkumpul, dan peralatan untuk acara pemakaman sudah lengkap.


Mereka meminta Hartoyo untuk memangku puteranya dan segera dimandikan.


Dalam keadaan hancur, dia mencoba menguatkan diri, dia berusaha menjadi lelaki yang tegar.


Dia pun memangku anaknya untuk di mandikan.


"Aku ingin menolak takdir ini, tapi ini adalah Takdir Tuhan, ini pasti yang terbaik untukmu Nak"


Hartoyo berbicara sambil memangku anaknya yang kini tengah disirami oleh tetangga.


"Kalau kalian sanggup, kalian harus memandikannya, tapi jika tidak, jangan beranjak dari kamar ini"


Damar berbicara pada Nanik dan Wiwik yang masih menangis dalam kamar.


Wiwik pun langsung mengusap air matanya dan bangkit menuju tempat dimana Aan dimandikan.


Melihat hal itu, Nanik pun mencoba menguatkan dirinya, dia bangkit dan menyusul kakak iparnya itu.


Setelah jenazah Aan dimandikan, Damar memohon ijin untuk pergi.


"Har, aku pergi sebentar, aku harus titip pesan ini ke Mandor"


Hartoyo hanya mengangguk lemah, mengiyakan keinginan kakaknya.


Kemudian Damar segera pergi menuju rumah teman kerjanya.


Dia menitipkan pesan bahwa Anak Hartoyo telah meninggal, dan mereka berdua tidak masuk kerja hari ini.


Setelah pesan tersampaikan, Damar pun segera kembali ke rumah duka.


Setelah acara pemakaman selesai, Hartoyo berdiri terpaku di teras rumahnya.


Dia menatap jauh ke depan, pandangannya seperti kosong, pikirannya tidak karuan.


Dia masih belum mempercayai kenyataan yang menyedihkan ini.


"Haarrr...kamu harus kuat, aku tau ini menyakitkan, tapi ini Takdir, kita tidak bisa menolaknya"


Hartoyo sama sekali tidak merespon kata-kata saudaranya itu.


Dia tetap menatap ke depan dengan pandangan yang kosong.


Tak lama kemudian, seseorang dengan pakaian Rapi, menghentikan motornya tepat di rumah Hartoyo.


"Itu pak Mandor Har..."


Damar berbicara pelan.


"Selamat pagi Har, Mar..."


"Selamat pagi pak Mandor"


Damar menjawab sapaan mandornya itu.


Mereka pun saling bersalaman.


"Har, aku turut berduka cita ya, kamu harus sabar, kamu harus kuat"


"Terima kasih pak"


Hartoyo menjawab pelan.


"Silahkan masuk pak, maaf, gubuk saya rusuh..."


Hartoyo mempersilahkan Mandornya masuk ke rumah.


"Terima kasih Har"


Hartoyo pun mempersilahkan duduk.


"Sakit apa Har Anakmu?"


"Saya tidak tau pak, kemarin sepulang kerja, badannya panas sekali, namun saat tengah malam mereda, kami pun istirahat dan tidur"


Hartoyo menarik nafasnya dalam-dalam..


"Saat jam 3 pagi, istri saya menjerit-jerit, dan saya pun terbangun, saya melihat anak saya kejang-kejang, setelah saya sentuh, tubuhnya sangat panas, lebih panas dari sebelumnya".


Hartoyo kembali menarik nafasnya..

__ADS_1


"Saat kami berencana membawa ke Puskesmas, tiba-tiba anak saya mengejang sangat keras, setelah 3 kali kejang, tiba-tiba nafasnya berhenti..dan...dan dia..."


Hartoyo tidak sanggup melanjutkan ceritanya, dia kembali menangisi kepergian anaknya itu.


Mandor itu pun menunggu Hartoyo tenang.


Setelah beberapa saat,


"Maaf ya pak, saya masih belum kuat menerima ini semua"


"Tidak masalah Har, sudah wajar jika orang tua menangisi anaknya, apalagi ini kematian, pasti itu menyakitkan bagimu"


"Kami minta maaf ya pak, harus bolos kerja hari ini"


Damar meminta maaf kepada Mandornya itu.


"Mar, akulah yang seharusnya meminta maaf, kedatanganku kesini, selain untuk ikut berbela sungkawa, juga ada keperluan penting"


"Keperluan penting?"


Damar dan Hartoyo saling pandang.


"Har, Mar, tadi jam 7.30, pemilik proyek yang sedang kita kerjakan datang untuk melihat proyeknya, dan saat dia berkeliling, dia mendapati ada 2 pekerja yang tidak masuk, dia pun bertanya padaku tentang hal itu"


Mandor itu menarik nafas...


"Aku pun menceritakan apa adanya tentang kalian yang hari ini tidak masuk, dan setelah mendengar penjelasannya, dia segera kembali ke mobilnya, lalu tak lama dia keluar dan kembali mendekatiku, dia menitipkan Amplop ini untuk kalian"


Mandor itu menyodorkan 2 amplop kepada Hartoyo dan Damar.


"Dia berpesan, bahwa kalian tidak boleh lagi kembali bekerja disana, dan uang ini sebagai pesangon kalian"


Damar dan Hartoyo merasa kecewa dengan kejadian ini, dimana saat mereka sedang sedih karena kehilangan anak mereka, mereka masih harus menerima kenyataan harus kehilangan pekerjaannya.


"Saya minta maaf ya pak, ini semua gara-gara saya"


"Kamu tidak bersalah Har, siapa yang bisa menolak kematian? Justru akulah yang bersalah, karena tidak bisa membela dan mempertahankan kalian".


Damar dan Hartoyo tertunduk lemas saat itu.


"Karena aku telah bersalah, aku ingin menebus kesalahanku dan memberikan solusi untuk kalian"


"Solusi? Solusi apa pak?"


Damar penasaran dengan Solusi yang ditawarkan Mandornya.


"Carilah seseorang yang bernama Galih, dia juga seorang Mandor, katakanlah bahwa aku yang memberi informasi, kalian bisa menawarkan jasa tenaga kalian kepadanya, dan dia juga orang baik"


Hartoyo dan Damar terlihat sumringah mendengar hal itu.


Dia tidak menyangka Mandornya begitu memperhatikan dan peduli dengan keadaan mereka.


"Ini alamat Galih"


Mandor itu menyerahkan sebuah kartu nama.


"Aku harus segera kembali, karena tugasku disini sudah aku tunaikan"


"Pak, terima kasih banyak ya, sudah membantu kami"


Hartoyo menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Mandornya.


"Sama-sama Har, kamu harus segera bangkit dari kesedihan ini, sekarang aku pamit dulu, dan ingat, 2 amplop itu jumlah isinya berbeda jadi jangan saling iri"


Mandor itu bicara sambil tersenyum, lalu segera pergi dari rumah Hartoyo.


Setelah Mandor itu pergi, Damar membuka amplop tersebut, isinya 750.000.


Dia cukup kaget dengan pesangon yang diberikan.


"Ini nominal yang besar untuk jenis pekerjaan semacam ini...Har, coba buka milikmu"


Lalu Hartoyo membuka amplopnya.


"1 juta mas, banyak sekali"


"Ternyata mereka semua orang baik, akan kau apakan uang itu Har?"


"Akan kugunakan untuk membeli sepeda, itu sangat berguna"


"Kita akan segera menemui orang yang bernama Galih itu, kita tidak boleh terlalu lama larut dalam kesedihan ini"


Hartoyo mengangguk, dia berusaha menguatkan Hati dan Jiwanya atas keadaan ini.


Karena dia sadar, masih ada Istri dan bayi yang masih dalam kandungan, yang harus ia penuhi tanggung jawabnya.

__ADS_1


__ADS_2