
Setelah membayar tiket masuk, Sani lalu memarkirkan motornya, kemudian mereka mulai berjalan menyusuri pantai itu.
Ayu menggandeng lengan Sani, meskipun sempat kaget, pada akhirnya Sani hanya menurut saja dengan kemauan kekasihnya itu.
Mereka berjalan, berlarian, kejar-kejaran, hingga gendong-gendongan.
Sembari melepaskan rasa rindu, mereka menciptakan kebahagiaan untuk mereka nikmati berdua.
Hingga mereka tak merasakan sudah hampir 2 jam berjalan-jalan di pantai itu, Ayu pun merasa kelelahan dan mengajak Sani istirahat di sebuah tempat duduk yang ada disana.
Meskipun Sani sendiri belum merasa lelah, tapi dia menuruti keinginan Ayu, karena ia tau, fisik Ayu memang jauh dibawah Sani.
"Kamu capek juga mas?" Ayu bertanya.
"Enggak lah ..udah biasa latihan lebih berat dari ini." Jawab Sani percaya diri.
"Hmmm....mas suka nggak tempat ini?"
"Emmm....kalau boleh jujur sih, aku suka karena ada kamu disini"
"Uhuukk...." Ayu yang saat itu sedang minum, langsung tersedak mendengar jawaban Sani.
"Mas, dibalik sifat pendiammu, ternyata jago ngeGombal juga ya..ckckckck."
"Seorang yang pendiam, biasanya punya sifat yang disembunyikan, mungkin kamu juga.."
"Maksudnya?" Ayu kurang mengerti.
"Kamu kan juga tipe pendiam, mungkin ada sifat yang selama ini kamu sembunyikan juga, entah apa itu..."
"Emmm....apa ya...suatu saat kamu juga bakal tau." Ayu menjawab sambil tersenyum.
"Kenapa tersenyum?" Sani bingung dengan ekspresi Ayu.
"Enggak..hhhh" Ayu menjawab sambil menahan senyumnya.
"Hiiiih...." Sani menarik hidung pacarnya itu.
"Aduuuhh.....sakit tau, gimana sih.." Ayu protes ke Sani karena menarik hidungnya cukup keras.
"Heleh...gitu aja manja.."
"Dasar cowok.." Ayu terlihat cemberut.
Mereka pun menikmati makanan ringan yang mereka bawa sambil melihat deburan ombak di pantai itu.
"Mas...aku kok ngantuk yaa..." Ayu terlihat menguap.
"Kamu beneran capek ya, kok sampe ngantuk?" Sani keheranan melihat Ayu yang sudah 2 kali menguap.
"Nggak tau, kita istirahat yuukk..."
"Dimana, mana bisa tidur di tempat terbuka seperti ini?" Sani kaget dengan kemauan Ayu.
Kemudian Ayu menoleh ke belakang seperti mencari-cari sesuatu.
"Itu ada hotel, kita kesana aja yukk.."
__ADS_1
Sani menatap kekasihnya cukup lama, dia merasa ada yang aneh dengan Ayu.
"Sayang, ini nggak lucu, beneran.." Sani berusaha menolak ajakan Ayu.
"Kenapa, aku ngantuk, beneran ngantuk...gimana sih..!!"
Ayu terlihat jengkel dengan Sani.
"Kamu mau aku ketiduran di perjalanan nanti?"
Sani nggak habis pikir, bagaimana mungkin pacarnya itu mengajak ke Hotel.
Dia bingung, jika dituruti, bisa-bisa kebablasan, tapi jika tidak dituruti, bahaya juga nanti kalau sampai ketiduran di perjalanan.
"Ya udah, gini aja, bookingin 1 kamar, terus mas Sani tunggu aja disini, aku tidur sendirian..gimana..?"
"Ya nggak mau lah, masa disuruh sendirian disini, iya kalau tidurmu cuma 30 menit atau 1 jam, kalau sampai 2 jam lebih, plonga-plongo sendirian donk disini"
"Ya udah kalau gitu tidur aja sekalian, booking yang double bed"
"Yu, kok kamu kek udah pengalaman banget booking Hotel?"
"Ya iyalah, aku pernah berwisata bareng sekeluarga, nginep di Hotel, kan udah tau juga, curiga banget, dipikir sering masuk hotel gitu?" Ayu sedikit emosi dengan kata-kata Sani.
"Hehe...ya nggak gitu juga, aku kan cuma pengen tau.."
Sani nyengir karena malu dibentak Ayu.
"Udah sekarnga gimana? Mau nggak, aku beneran ngantuk nih..." Ayu semakin merengek.
"OK, aku turutin, tapi kamu harus janji, saling jaga diri"
"Iya iyaaa ..."
Akhirnya mereka melangkah menuju Hotel yang dimaksud, Ayu terlihat beberapa kali menguap, Sani pun merasa kasihan.
Setelah memesan kamar, mereka pun segera pergi menuju kamar yang sudah di booking.
Sani memilih kamar yang ada di lantai 2, berharap bisa melihat pemandangan pantai dari atas.
Setelah masuk ke kamar, Sani pun mengunci kamar itu.
Ayu langsung melemparkan jaketnya, lalu merebahkan dirinya di salah satu ranjangnya sambil menguap keras.
"Lebar amat itu mulut, ditutupi kek kalau lagi nguap.." Protes Sani yang mendengar Ayu menguap keras.
"Hehe...maaf, terlanjur ngantuk" Ayu merespon protes Sani sambil nyengir.
Sani saat itu tidak langsung tidur, ia berdiri di dekat jendela, melihat keindahan laut dari sana.
Pikirannya juga mulai gelisah, dia takut tidak bisa mengendalikan dirinya.
Bagaimanapun, ketika 2 manusia berlainan jenis berada dalam 1 kamar, seringkali mereka lepas kendali.
"Aku manusia biasa, aku punya Nafsu, jika sudah tidak sanggup mengendalikan, bisa apa aku." Sani berbicara dalam hatinya, dia sedikit menyesali kejadian itu, tapi dia juga tidak mau terjadi sesuatu jika sampai Ayu tertidur di perjalanan.
"Mas nggak tidur?" Ayu melihat Sani berdiri di dekat jendela.
__ADS_1
"Aku nggak ngantuk, nanti jika merasa capek, aku akan rebahan di ranjang satunya" Sani menjawab tanpa menoleh ke arah Ayu sedikitpun.
"Kau bicara tanpa menoleh ke arahku? Kamu marah Mas?" Ayu sedikit kecewa dengan sikap Sani.
Sani tidak menjawab, dia hanya diam saja, dan malah melipatkan tangannya di depan dadanya.
"Masss...kok diem sih?" Ayu mulai jengkel.
Kemudian ia turun dari ranjangnya dan mendekati Sani.
Ayu memegang pundak Sani, kemudian membalikkan badannya.
"Masss..." Ayu kaget melihat Sani.
"Kenapa kamu Nangis?" Ayu melihat mata Sani berkaca-kaca, dan sebagian air matanya sudah merembes keluar.
"Kenapa maass...jawab donk..." Ayu bertanya sambil mengusap air mata kekasihnya itu.
Dia bingung, kenapa Sani menangis.
"Dengar, Ayah dan Ibu telah mempercayakan semuanya padaku, termasuk dirimu, jika di kamar ini terjadi sesuatu karena kita tidak sanggup menahan diri, bagaimana aku bisa disebut lelaki yang bertanggung-jawab"
Sani berbicara dengan suara parau karena menahan tangisnya.
Ayu tidak menjawab, dia langsung memeluk Sani.
Dia merasa bersalah, karena telah membuat Sani seperti ini, bagaimanapun, dia sendiri yang memaksa Sani untuk membooking kamar di hotel ini.
Sesaat kemudian, Ayu melepas pelukannya,
"Maafin aku ya Mas, aku yang memaksamu kesini, tapi kenyataannya, kamu yang membawa semua beban dan tanggung jawabnya.."
"Itu sudah pasti, Karena aku seorang lelaki, tidak mungkin aku membiarkan Tanggung Jawab itu jatuh kepadamu"
Ayu kembali memeluk Sani sambil membelai punggung Sani,
"Jika sampai terjadi sesuatu di kamar ini, itu bukan salahmu, itu salahku, dan aku tidak akan membiarkan kamu memukul sendiri tanggung jawab ini, aku juga akan bertanggung jawab"
Ayu mencoba menguatkan perasaan Sani yang saat itu telah dipenuhi rasa bersalah.
Sani pun memeluk erat kekasihnya itu.
"Aku cinta kamu mas..aku tidak ingin berpisah karena kesalahan yang dibuat ini.."
Sani melepaskan pelukannya, kemudian membelai Pipi Ayu,
"Aku juga sangat mencintaimu.."
Mereka saling menatap, perlahan mendekat..kemudian..
"Cuupp...."
Bibir mereka telah menyatu..saling memagut, lidah mereka pun saling melilit, sesaat kemudian Sani menghentikannya..
"Kamu tidak akan menyesali apapun yang terjadi nanti..?"
Sani bertanya kepada Ayu.
__ADS_1
"Asal denganmu, tidak ada yang perlu ku takutkan, apalagi aku sesali....!!"