
Mereka pun kembali berpagutan dalam waktu yang cukup lama, hingga tanpa terasa, tangan Sani sudah mulai berkeliling dan menjamah tubuh Gadisnya itu.
"Asshhhhh...."
Hanya itu yang keluar dari mulut Ayu ketika beberapa daerah sensitifnya sudah terjamah oleh tangan Sani.
"Kau sengaja menyeretku kesini?" Sani mempertanyakan hal itu kepada Ayu.
"Maafin aku mas..aku hanya wanita biasa.." Ayu berbicara sambil berusaha mengangkat kaos Sani hingga lepas.
Saat kaosnya sudah lepas, mata Ayu benar-benar terbelalak melihat tubuh lelakinya itu.
"Inikah yang kau sembunyikan? Sifat liar yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan.."
Ayu menatap Sani,
"Apa kau menyesal jika melakukannya denganku?"
"Tidak, karena aku mencintaimu, tapi aku taku jika sampai kamu Hamil, itu bisa menghancurkan banyak Hal"
"Kita menikah..!! Selesai bukan".
Ayu berbicara sambil berusaha melepas ikatan sabuk Sani.
"Kau benar-benar ingin melakukannya?" Sani mulai bergetar karena rasa takut dan penasarannya sangat besar.
"Tidak, Tidak jika kau masih mampu menahannya.."
Ayu pun berhasil melepas ikatan sabuk Sani, lalu meloloskan celananya.
"Aku bisa menahannya, andai kau tidak memaksaku kesini."
Sani pun mulai melepaskan semua helaian yang melekat di tubuh Gadisnya, itu semuanya lolos dan tinggal pakaian dalamnya saja.
Sani dan Zaiyu, dua insan yang sebelumnya adalah pendiam dan pemalu, kin tengah kehilangan rasa malunya.
Sani berkali menelan ludah saat memandangi tubuh Gadis cantik itu.
Ayu pun sangat kagum dengan body pria yang saat ini tengah terbakar nafsunya itu.
"Ahhh....!!!" Ayu sedikit menjerit karena rasa sakit yang ditimbulkan oleh perbuatan kekasihnya.
Sani pun sejenak menghentikannya, lalu perlahan mulai menggerakkan pinggulnya.
"Maaf ya, aku telah menyakiti dan melukaimu, bahkan merusakmu.." Sani mengusap air mata Ayu yang menetes karena menahan rasa pedih.
"Aku masih setia menunggu, kapan rasa nikmat itu datang, ini tak seperti yang dikatakan orang-orang, ini jauh dari rasa nikmat.."
Ayu berbicara dengan suara yang sangat serak.
"Tahan sebentar, mungkin rasa sakit dan pedihnya akan segera hilang.."
Sani pun perlahan menggerakkan pinggulnya, gerakan yang sangat pelan.
__ADS_1
Rintihan dan ******* 2 Remaja yang tengah berpacu dalam nafsu itu memenuhi seluruh ruangan.
Mereka sudah lupa dengan pesan dari orang tuanya, yang ada dalam pikiran mereka saat ini hanyalah kenikmatan itu.
Hingga suatu moment, Sani menghentakkan keras disertai semburan benih cinta yang Hangat.
Ayu pun merasakan kehangatan, bahkan sedikit panas di dalam dirinya, diikuti suara erangan keras mereka berdua.
Sani merobohkan tubuhnya menindih kekasihnya itu, setelah nafasnya mulai teratur, Sani hendak melepaskan diri dari Ayu.
"Kau benar-benar tidak menyesal?" Sani kembali menanyakan hal itu.
Ayu pun menggelengkan kepalanya.
"Kau menyukainya?" Ayu bertanya sambil tersenyum nakal.
"Hmmh...aku tidak menyangka, Gadis pendiam sepertimu, saat liar dan nakal.." Sani merasa tidak percaya dengan sikap Ayu.
"Mas, aku liar dan nakal, itu hanya denganmu, tidak seperti mereka yang liar dengan semua lelaki.."
"Jika berani nakal dengan lelaki lain, kau pasti benar-benar kubunuh..." Sani mengancam Ayu.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, apa kau menyukai ini?"
"Jika tidak menyukainya, mana mungkin aku melewati batasanku.."
"Apa kau percaya bahwa aku Gadis baik-baik?"
"Apa aku pernah menganggapmu Gadis tidak baik? Kau Gadis yang baik, tapi itu dulu, karena saat ini, kau sudah bukan Gadis yang baik.." Ucap Sani sambil menahan senyumnya.
Sani kemudian menarik Ayu hingga wajah mereka kembali berdekatan.
"Hei Gadis jalaang, kau lah yang pertama membawa ku kesini"
"Ckckckck...Tapi kau menyukainya bukan.."
Ayu cekikikan
Hingga sore Hari, mereka melakukan perbuatan itu hingga beberapa kali, sampai mereka benar-benar merasa lelah dan tertidur.
Saat terbangun, mereka melihat jam sudah menunjukkan pukul 14.50, Sani pun mengajak Ayu mandi dan segera bergegas.
Mereka langsung check out, dan segera kembali menuju rumah.
"Aku tidak tahu, bagaimana jika orang tuamu mengetahui hal ini, pasti mereka akan menghajar ku habis-habisan"
"Tidak mungkin, aku akan membelamu, dan mengusulkan sebuah pernikahan..ckckckck"
Mereka pun tertawa sepanjang perjalanan pulang, Hingga sampai di rumah Ayu, pak Galih dan Bu Indri menyambut mereka dengan penuh senyuman.
Dan akhirnya Sani pun kembali menuju rumahnya untuk segera beristirahat, karena dia merasakan seluruh tubuhnya pegal.
Sampai di rumah, Sani segera istirahat.
__ADS_1
Dia merasa lelah, lebih lelah dari latihannya.
"Apa yang telah aku lakukan hari ini....."
Terbesit penyesalan dalam hatinya.
Gadis yang seharusnya ia jaga, justru ia rusak demi menuruti Hawa Nafsunya.
Meski begitu, Sani tak sepenuhnya bersalah, jika bukan Ayu yang memulainya, dia tidak mungkin melewati batasnya.
"Sepertinya aku tidak sanggup menjalani latihan hari ini, aku benar-benar..."
Sani merebahkan dirinya di tempat tidurnya, dia menatap ke atas, menerawang jauh, kemudian senyumnya mengembang..
"Aku menyesali semua ini, tapi jujur, aku sangat bahagia, aku sangat menikmati moment tadi.."
Sani berputar memeluk gulingnya, dia membayangkan jika Guling itu adalah Ayu..
"Lelaki mana yang tidak menyukai Gadis seperti Ayu, dia cantik, baik, dan perhatian..aku benar-benar beruntung memiliki dia.."
Sani benar-benar seperti orang kurang waras, ia tersenyum sendiri sejak merebahkan tubuhnya di kamar itu.
"Aku sudah mendapatkan semuanya dari Ayu, bahkan kesucian dan kehormatannya, dengan begini, seharusnya dia sudah tidak punya alasan untuk meninggalkanku, dan satu-satunya pilihan adalah menjadi pilihanku"
Ia pun berfantasi, membayangkan dia menikahi Ayu dan menjalani kehidupan yang bahagia.
Tiba-tiba...
"Ting...."
Hapenya berbunyi, ada sebuah pesan masuk.
"Sayang, udah sampai rumah kan? kok nggak ngasih kabar sih..!!"
Ternyata pesan itu dari Ayu, Gadis yang beberapa saat lalu ia bawa mengarungi samudera kenikmatan dengan perahu yang bernama Cinta.
"Hehe maaf sayang, aku langsung rebahan aja tadi, badanku rasanya capek banget" Sani membalas sembari tersenyum.
"Ya udah, istirahat ya, nggak usah latihan dulu, aku mau belajar sebentar"
"Emangnya kamu nggak capek apa? Kok masih sempat belajar?"
"Hei anak muda, bagaimana aku tidak capek, tubuhku seperti di lolosi semua, kau tindih, kau hentak, dan kau bolak-balikan sesukamu, nggak patah aja masih untung lo aku.."
"Ckckckck....Ya Maaf, namanya ada kesempatan, kalau nggak di pake kan sayang.." Sani mengirim pesan yang disertai emoji menjulurkan lidah.
"Dasar lelaki, emang apaan, bilangnya di pake segala..!!"
"Hehe...Iya iyaaa...maaf, ya udah aku istirahat dulu ya..ngantuk banget"
"Iya, tidur nyenyak ya sayang, I Love U..."
"I Love U too..."
__ADS_1
Mereka pun mengakhiri percakapan dengan ucapan Cinta khas mereka, Sani langsung Tidur, sedangkan Ayu menyempatkan belajar sebentar, hingga akhirnya ia pun merebahkan dirinya menuju alam mimpi.