
Ketika waktu menunjukkan pukul 18.30, Sani bersiap-siap berangkat ke rumah pacarnya, dia berdandan rapi lalu menggunakan Parfum,
"Mau kemana?, Tumben kamu sangat rapi..."
"Hehe Bu, Sani mau ke rumah Ayu, pacar Sani yang tempo hari kuceritakan pada Ibu"
Ibunya tersenyum, entah kenapa dia merasa malu melihat anak lelakinya yang sudah jatuh cinta pada seorang gadis..
"Kamu benar-benar sudah dewasa Nak"
Ibunya berkata sambil membelai pipi Sani,
"Bu, do'akan hubungan kami ya Bu, Ayu anak baik, dia pantas menjadi mantu Ibu"
"Haaahaa lha wong kamu kerja aja belum, kok sudah mikirn mantunya Ibu"
Ibunya tertawa mendengar ucapan Sani
"Hehe iya sih, tapi berharap yang terbaik kan boleh"
"Iya, boleh saja..hati-hati ya Nak, Ibu selalu mendo'akan yang terbaik untukmu, dan untuk keluarga kita nanti"
"Terima kasih ya Bu, Sani berangkat dulu"
Sani berpamitan sambil mencium tangan Ibunya
"Sepeda kamu mana San?"
"Hehe Sani pinjam motornya pakde Damar Bu"
Ucap Sani tersenyum sambil berjalan menuju rumah pakdenya.
Ibunya hanya memandang penuh harap kepada putranya ini.
"Keponakanku ternyata Ganteng juga ya"
Ungkap Bude Wiwik sambil tersenyum melihat Sani yang berdandan rapi.
"Namanya lelaki, ya pasti Ganteng, kalau wanita ya Cantik"
Bantah pakde Damar.
Sani hanya cengengesan saja mendengar mereka berdua.
"Nih, buat pegangan..!!"
Pakde Damar menyodorkan uang 100ribu kepada Sani
"Buat apa pakde, Sani kan masih punya uang?"
"Sudahlah, terima saja, nggak baik menolak rejeki"
Sahut Bude Wiwik.
"Hehe Makasih ya Pakde"
Sani menerima uang pemberian pakdenya itu lalu pamit berangkat ke rumah Ayu.
"Tok tok tok"
"Selamat malam"
Ayu yang mendengar suara itu,
"Itu mas Sani..!!"
Langsung berdiri dan berlari menuju pintu.
Ayah dan Ibunya saling tatap dan tersenyum.
"Ceklek"
Pintu itu dibuka oleh Ayu, diluar pintu berdiri seorang lelaki yang Gagah, Tampan dan Berwibawa dimata Ayu,
Dan disambut oleh bidadari yang telah berhasil menggetarkan perasaan Sani selama ini.
"Masuk mas"
"Eh iya dek"
Sani melangkah ke dalam rumah itu, dan detik itu juga, tiba-tiba dia merasa grogi dan khawatir akan ditanyai macam-macam oleh orang tua Ayu.
"Silahkan duduk mas"
Ayu mempersilahkan Sani, Sani hanya tersenyum lalu segera duduk di kursi ruang tamu itu.
"Aku buatin minum dulu ya"
__ADS_1
Sani hanya mengangguk sambil tersenyum tanda mengiyakan.
Setelah beberapa saat, Ayu kembali membawa secangkir kopi yang disuguhkan untuk Sani.
"Silahkan diminum mas"
"Ogah dek, ini masih panas"
Sani menjawabnya dengan kelakar sekenanya
Ayu pun tersenyum dengan guyonan Sani.
Lalu Ayu duduk di Kursi yang berseberangan dengan Sani.
"Dek, kok duduk disitu, disini donk"
Protes Sani sambil menepuk-nepuk bagian kursi di sebelahnya.
"Hiiih ogah, kan malu mas"
Ayu memprotes menahan rasa malunya.
"Lhah, sama pacar sendiri kok malu, kamu gak kangen?"
Sani mulai menggoda
"Malu sama bapak ibu, bukan sama mas Sani"
"Ayolah dek, kan aku kangen banget"
Sani merengek seperti anak kecil
Dan Ayu sendiri sebenarnya juga sangat ingin duduk di sebelah Sani, bukan hanya hari ini, tapi sejak dulu sekali, saat Zaiyu mulai tertarik dengan Sani.
Dan akhirnya Ayu pun berdiri dan benar-benar berpindah di samping Sani.
"Mas, kok aku deg-degan ya, padahal ini dirumahku sendiri"
"Hehe apalagi aku dek, sepertinya ini keringat dingin sudah mulai keluar"
Sani berbicara sambil menempelkan punggung tangannya ke tangan pacarnya itu.
"Astaga, kok seperti habis pegang Es mas..!!"
Ayu kaget dengan dengan tangan Sani yang sangat dingin itu.
"Nggak tau juga, padahal tadi aku sudah siapin mental loh, sampai sini ternyata grogi juga"
"Ternyata pendekar mentalnya juga bisa ciut ya"
Ledek Ayu yang melihat Sani belum bisa menguasai dirinya
"Ini padahal belum berhadapan dengan bapak Ibumu loh"
"Ckckckck, udah tenang aja, tenangin diri dulu, mereka gak akan kesini kalau aku belum memanggil"
Sani menghela nafas panjang untuk menenangkan diri.
Ayu mencoba mencairkan suasana dan memulai obrolan kecil dengan Sani.
"Sudah dek, tadi siang sudah selesai semua...dek do'ain usahaku nanti lancar ya"
Sani reflek menarik dan menggenggam tangan Ayu, Ayu yang sempat kaget itu pun segera menyadari keadaan ini.
"Iya mas, Ayu selalu mendo'akan yang terbaik untuk mas Sani"
Jawab Ayu sambil mengusap-usap punggung tangan Sani dan berusaha menenangkan Sani.
"Makasih ya dek"
Ayu merespons dengan mengangguk dan memberi senyuman hangat kepada Sani.
"Sudah siap ketemu Bapak Ibu?"
Sani langsung menarik nafas panjang, langsung menghembuskan perlahan
"OK deh, siap"
"Paaakk, Buuu"
Ayu memanggil orang tuanya
Ibunya keluar duluan, disusul Ayahnya dibelakangnya, Ibu Indri langsung memberikan senyuman kepada Sani,
Sani segera berdiri untuk menyambut orang tua Ayu.
Tapi tiba-tiba...
"Kamu..!!! Kk..amu...kamu adalah....."
Ayah Ayu mendadak kaget dan mematung di tempat dia berdiri, Bu Indri yang hendak mengulurkan tangannya pada Sani menjadi berhenti dan menatap heran kearaha suaminya.
Mendadak suasana menjadi sangat tegang, Sani, Ayu dan Ibunya kebingungan melihat sikap Ayahnya Ayu.
"Papa, ada apa?"
Ibu Ayu mencoba mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Oh tidak ...astagaaaa, apa yang sudah aku pikirkan"
Ucap Ayah Ayu sambil mengusap mukannya dengan kedua tangannya.
Dan seketika suasan kembali mencair.
"Saya Indri, Ibunya Ayu"
"Sani Bu"
Mereka berjabat tangan sambil mengenalkan diri,
"Saya Galih, Ayahnya Ayu"
__ADS_1
"Deg..!!!"
Waktu seakan berhenti, pikiran Sani melayang entah kemana, Sani dan pak Galih berjabat tangah dalam waktu yang cukup lama, tatapan Sani pun sedikit menajam ke arah pak Galih, nama itu adalah nama yang membuat Ibunya menangis sekaligus marah tadi sore.
"Eh..Sani pak, Maaf"
Sani berusaha menjaga sikap dan menguasai keadaan.
Dia berpikir, mungkin Galih yang dimaksud ibunya bukanlah orang yang saat ini dihadapannya.
Ayu dan Ibunya sudah sangat curiga dengan keadaan ini, Ayu mungkin bisa menahannya, tapi tidak dengan Bu Indri.
"Sebenarnya ada apa dengan kalian, sejak pertama kalian bertemu, seperti ada yang mengagetkan kalian?"
Sani menunduk merasa malu dan tidak enak kepada Ibu Indri, sedang Pak Galih tidak menjawab pertanyaan istrinya, tapi malah bertanya kepada Sani dengan sorot mata yang Tajam.
"Siapa nama Ayahmu nak Sani?"
Mereka bertiga kaget bukan main mendengar pertanyaan ini, bagaimana tidak, Ayahnya Ayu menanyakan nama seseorang yang telah meninggal di masa lalu.
"A..ayah saya sudah meninggal lama sekali pak, kenapa bapak menanyakannya?"
"Jawab saja pertanyaanku..!!"
Ayu yang melihat keadaan ini mencoba menenangkan Ayahnya,
"Ayah, ada apa?"
Tapi Ayahnya tidak menanggapinya.
"Ayahku...bernama...Ahmad Hartoyo"
Pak Galih langsung menangis mendengar jawaban Sani, Ayu dan Ibunya semakin bingung dengan keadaan ini.
Tapi Sani, Sani sudah sangat mengerti dengan keadaan ini, Sani bisa mengambil kesimpulan, jika orang ini kaget mendengar nama Ayahnya, berarti dia punya hubungan dengan Ayah Sani, dan mungkin orang inilah yang sangat di benci Ibunya.
Ditengah tangisnya, Sani memberanikan diri bertanya
"Bapak kenal dengan ayah saya?"
Pak Galih menarik napas, mencoba menguasai diri dan keadaan,
"Sangat kenal, dia seperti saudaraku sendiri"
Disini Ayu dan Ibunya mulai mengerti, alasan kenapa sikap pak Galih yang terlihat aneh saat pertama kali melihat Sani.
Justru Sani yang mulai bingung, jika dia menganggap Ayahnya seperti saudara, kenapa Ibunya sangat membencinya.
"Pak, saya mohon, tolong ceritakan kepadaku semua yang anda tau tentang Ayahku, saya mohon"
Kedatangan Sani yang semula bertujuan mengapeli pacarnya itu, sepertinya sudah berubah topik karena keadaan yang tidak terduga ini.
"Ini akan menjadi cerita panjang, tapi jika kau menginginkannya, akan aku ceritakan"
"Aku akan mendengarkan dengan sungguh-sunguh"
Sani menanggapi dengan sedikit serius.
"Aku dan Ayahmu berteman sejak kecil, kami berpisah karena aku melanjutkan sekolah, sedang ayahmu tidak"
"Satu hal pasti saat ini adalah, wajah, hidung dan matamu itu sama persis seperti ayahmu, jika kau ingin melihat Ayahmu, lihatlah dirimu di cermin"
"Ini sama seperti yang diucapkan Ibu sore tadi"
Sani berbicara dalam hatinya
"Setelah berpisah dalam waktu yang cukup lama, akhirnya kami bertemu lagi, saat itu aku sudah menangani sebuah proyek, dan salah satu pekerja itu adalah Ayahmu".
Pak Galih menarik napas dalam-dalam
"Saat itu hubungan kami menjadi dekat kembali karena kami memiliki hubungan emosional sejak kecil, terlebih lagi, Ayahmu sangat mahir dengan keahliannya memecah Batu, itu membuatku memberikan perhatian lebih kepada Ayahmu"
"Saat itu, Upah yang seharusnya dia terima adalah 60ribu, tapi aku memberikan 70ribu kepada Ayahmu, karena aku ingin membantu Ekonomi Ayahmu"
Sani yang mendengar cerita itu dengan sungguh-sungguh, mulai berpikir, ada perbedaan informasi disini, tapi pemikirannya dia simpan sendiri, karena ingin mendengarkan cerita ini lebih detail.
"Tapi Ayahmu memiliki pemikiran yang sulit kuterima, dia tidak mau menerima semua upahnya, dia hanya mengambil 30ribu dari upah yang kuberikan"
Pak Galih mulai terisak dengan ceritanya sendiri,
"Dia bilang, 40ribu dari upah yang kuberikan itu harus diberikan kepada orang-orang jompo yang tidak memiliki keluarga ataupun saudara, mereka sangat membutuhkan bantuan dari kita"
Dan tangis pak Galih pun semakin terdengar keras,
"Dia hanya hidup dengan uang 30ribu/hari, dan dia sendiri yang bilang bahwa dia tidak memiliki tabungan sepeserpun, hingga peristiwa naas itu terjadi, dan...dan..terjadilah...."
Pak Galih sudah tidak mampu melanjutkan ceritanya, Ayu dan Bu Indri terbawa suasana dan ikut menangis, tapi tidak dengan Sani, Sani tetap tenan dan berusaha tegar mendengar cerita itu.
Dalam hati Sani, tidak mungkin orang ini berbohong, berarti ada kesalahpahaman dari Ibunya, dan dia harus meluruskannya nanti.
Untuk beberapa saat, semua terhanyut dalam keadaan sedih itu, kemudian Sani berinisiatif mencairkan suasana itu
"Pak, terima kasih banyak ya, sudah menceritakan secara detail tentang Ayah saya, saya menjadi tau banyak tentang beliau"
Pak Galih mengangguk sambil mengusap air matanya.
"Nak, apakah kamu sudah benar-benar memantapkan pilihanmu kepada Ayu?"
Tiba-tiba Bu Indri memberikan pertanyaan yang cukup mengagetkan Sani dan Ayu, mereka pun saling pandang.
"A..a...anu..."
Belum sempat Sani menjawab. . . .
"Kalau kalian sudah saling mencintai, Bapak dan Ibu pasti merestui kalian"
Ucap pak Galih sambil tersenyum dan terlihat lega dalam hal ini.
Mereka semua tersenyum, terlebih Ayu dan Sani, mereka merasa sangat bahagia saat ini.
Tak Terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, Sani pun pamit pulang, setelah diantar sampai pagar depan, Sani melaju menuju rumahnya dengan perasaan yang sangat Bahagia.
__ADS_1