
Malam itu Sani tetap berangkat ke Kios, meskipun esoknya akan bepergian jauh, dia tetap ingin membantu orang tuanya.
Sampai di kios, setelah mempersiapkan, dia segera tidur agar tidak ngantuk saat perjalanan.
Semua orang tua Sani melihat tidurnya begitu lelap.
"Anak itu, seperti telah melepaskan segala beban beratnya." Pakde Damar yang melihat Sani langsung tertidur pulas.
"Roda kehidupan ini telah berputar, mungkin ini saatnya untuk kalian hidup dalam keadaan yang berkecukupan." Bude Wiwik menjawab kata-kata Suaminya.
Sedangkan Ibu Nanik hanya tersenyum bangga melihat Anaknya yang kini telah membuka harapan baru dalam kehidupan mereka.
Dulu yang serba kekurangan, kini mulai tertata, mereka bisa mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari.
Setelah melayani para pelanggannya, Pakde Damar melihat jamnya..
"Sudah stengah 6, bangunkan dia..!!"
"Apa dia berpesan seperti itu?" Bude Wiwik bertanya.
"Ya, tadi ia sempat berpesan kepadaku.."
Akhirnya Bu Nanik yang membangunkan Sani.
Sani pun segera bangun dan bergegas pulang.
"Ini gerobaknya Sani bawa pulang duluan ya?"
"Lhoh...jangan donk.." Pakde Damar melarangnya.
"Kenapa nggak boleh?" Sani kurang mengerti.
"Nanti, gerobak itu biar ditarik sama Budemu, sambil membonceng Ibumu, Nah ..pakde biar naik gerobak saja"
"Haaahaaa ...." Mereka pun tertawa bersamaan.
Lalu Sani segera pamit meninggalkan mereka.
Sampai di rumah, Sani segera mandi dan bersiap-siap.
Saat berpakaian, Sani menggunakan Parfum melebihi biasanya, jika biasanya hanya 2 kali semprotan, kali ini lebih dari 5 kali semprotan, namun tiba-tiba...
"Deg...!!"
Sani sedikit kaget.
"Saat ingin menemui Ayu, aku memakai parfum segini banyaknya, apakah suatu saat aku benar-benar akan menggunakan Skincare ketika akan bertemu dengan Ayu? Apakah yang dikatakan pak Haris akan menjadi kenyataan?"
Sani berbicara sendiri, dia sedikit kaget dengan kelakuannya sendiri, dia ingat dengan kata-kata pak Haris tempo Hari.
"Aaah...sudahlah, aku nggak mau jadi bec*ng..ckckck"
Dia terkekeh sendiri, setelah selesai dia segera mengirim pesan kepada Ayu.
"Sayang, aku berangkat sekarang..!!"
Ayu yang menerima pesan itu pun segera membalas.
"Iya sayang, hati-hati di jalan."
Namun Sani tidak sempat membaca pesan itu karena sudah dalam perjalanan.
Tak lupa, Sani kembali mampir ke Kios untuk berpamitan kepada semua orang tuanya.
"Bu, Sani berangkat ya.." Sani mencium tangan Ibunya.
__ADS_1
"Hati-hati ya, nggak usah ngebut." Bu Nanik berpesan kepada Anaknya.
"Iya Bu.."
"Pakde, Bude, Sani berangkat dulu ya.." Sani pun mencium tangan keduanya.
"Kalau merasa lelah atau ngantuk, berhenti dulu ya, istirahat sebentar, jangan dipaksa.
Sani mengangguk mengiyakan pesan Budenya.
"Kalau bawa anak orang, dijaga, jangan sampai terjadi sesuatu.."
"Siap Pakde.." Jawab Sani sambil menghormat, diikuti senyumnya.
Lalu ia pun berangkat, semua orang tuanya menatap Sani yang semakin menjauh, hingga tidak lagi terlihat.
Sedangkan Ayu yang sedari sudah siap, menunggu Sani di teras rumahnya, bak Putri yang menunggu jemputan Pangerannya, Ayu merasa deg-degan menanti kedatangan Sani.
Tak berselang lama, Sani pun sampai di rumah Ayu, dia memarkirkan motornya di halaman rumah Ayu.
"Motornya baru ya Mas?" Ayu kaget karena belum pernah melihat Sani menggunakan motor itu sebelumnya.
"Bukan, nanti aku ceritain." jawab Sani.
"Ya udah, masuk dulu mas.." Ayu mempersilahkan Sani masuk, lalu mempersilahkan duduk.
"Mau minum dulu?" Ayu menawarkan minuman.
Namun Sani menggelengkan kepalanya, kemudian menunjuk jam di tangannya.
Ayu pun mengerti, Sani ingin segera berangkat.
Dia pun tersenyum, kemudian memanggil kedua orang tuanya untuk menemui Sani.
"Sani, apa kabar?" Pak Galih menyalami Sani, diikuti Bu Indri dibelakangnya.
"Ibu, pakde dan Bude sehat juga kan?"
"Iya Yah, mereka semua sehat, bahkan akhir-akhir ini mereka sudah bisa full menggantikan Sani berjualan.
"Syukurlah.." Pak Galih mengangguk pelan, lalu melanjutkan bicaranya..
"San, kamu akan pergi jauh, Ayah cuma pesan, supaya kalian berhati-hati, jangan sampai terjadi apa-apa"
"Jujur saja, Ibumu ini tidak tega jika kalian bepergian terlalu jauh, tapi Ayah meyakinkan, bahwa semua akan baik-baik saja, jadi Ayah titipkan Ayu padamu, Ayah percayakan Ayu kepadamu sepenuhnya, jaga dia, jangan terjadi sesuatu kepadanya, termasuk dirimu, jangan sampai terjadi sesuatu denganmu, atau Ayah akan marah nanti."
"Iya Yah, Sani janji akan menjaga Ayu."
"Jika merasa lelah, istirahat ya Nak, jangan dipaksa." Bu Indri berpesan kepada Sani, pesan yang sama dengan Budenya.
"Iya Bu"
Lalu Ayu keluar dari ruang tengah dan duduk di samping Sani.
"Yuukk..." Ayu pun mengajak Sani berangkat.
Sani mengangguk lalu berdiri.
"Yah, Bu, Sani berangkat ya, Ayu saya bawa hari ini, Sani Janji semua akan baik-baik saja"
"Kami percayakan semuanya padamu Nak." Bu Indri menyatakan kepercayaannya kepada Sani.
Kemudian keduanya pun segera pergi menuju tempat yang sudah direncanakan.
Sani sadar jika tempatnya lumayan jauh, maka Sani membawa motor agak kencang.
__ADS_1
"Maasss...nggak usah ngebut juga, pelan-pelan juga sampai."
Ayu mencoba mengingatkan kekasihnya untuk tidak terlalu ngebut.
"Tapi kan lama dek, tempatnya jauh.." Sani mencoba meyakinkan Ayu.
"Yang penting bisa sampai dengan selamat mas, Jangan lupain pesan Ayah dan Ibu" Ayu tetap memprotes.
Akhirnya Sani pun mengalah, mengurangi laju motornya.
"Nanti selisihnya juga nggak sampai 1 jam." Ayu menekankan kemauannya.
"Iya iyaaa....cerewet banget sih.." Sani sedikit jengkel.
"Bilang apa tadi? coba ulangi?" Ayu bertanya dengan nada tegas dan meninggi.
"Hehe...enggak enggak sayang, maaf...hihihi" Sani segera meminta maaf sebelum makhluk yang bernama Wanita itu marah kepadanya.
"Baru juga pacaran beberapa bulan, udah berani nyebut-nyebut cerewet, atau mau balik pulang ?!!!" Ayu tetap menggunakan nada Tinggi.
"Eh jangan doooonk, Maafkan aku ya Tuan Putri, Nona Zaiyu yang cantik..ckckckc" Sani mulai menggombal sambil mengendarai motornya.
"Hiiihhh ..." Ayu mencubit punggung Sani karena sedikit jengkel.
"Aduuuhh....ckckckk" Sani mengaduh sambil terkekeh.
Lalu Ayu pun melingkarkan tangannya ke pinggang Sani.
Mereka pun menikmati perjalanan itu.
Melewati tengah kota, masuk ke pedesaan, melewati persawahan, mereka melihat banyak keindahan yang di lalui saat perjalanan itu.
Cinta mereka sedang memasuki masa Mekar, gelayut manja Ayu, dibalas dengan gombalan Sani, seakan dunia hanya milik mereka berdua. (Yang lain ngontrak kaleee wkwkwkwk)
"Dek, mampir ke Pom Bensin ya, mas isi dulu.."
"OK sayang...hihihi" Ayu merasa agak malu jika memanggil Sani dengan sebutan sayang ketika orangnya sedang bersamanya.
Tapi Sani terlihat biasa saja, tidak ingin membuat kekasihnya itu semakin malu.
"Di depan ada Minimarket, mampir sebentar ya?" Sani mengajak Ayu mampir ke minimarket di sebelah POM Bensin itu.
"Iya, emangnya mau beli apa Mas?" Ayu bertanya karena dia sendiri tidak berniat membeli apapun.
"Beli minuman Energi, sekalian istirahat, ngrokok 1 batang aja buat ngilangin ngantuk nih"
"Owh...OK deh.."
Saat sampai di Minimarket, Sani langsung masuk dan membeli sebotol minuman Energi, meminumnya lalu dia menyalakan sebatang rokok.
"Kamu nggak pengen beli makanan ringan, ditempat wisata biasanya mahal loh" Sani mengingatkan.
"Oh iya, sekalian beli disini aja deh" Ayu segera masuk dan memilih beberapa makanan ringan disana.
Setelah habis sebatang rokok, Sani mengajak pacarnya untuk melanjutkan sisa perjalanannya.
"Kira-kira berapa lama lagi dek?" Sani bertanya kepada Ayu.
"Sebentar, aku lihat Google Maps dulu" Ayu membuka hp nya, lalu melihat lokasi yang dituju.
"Emmm...kurangnya sekitar 26 km mas, atau skitar 30 menit."
"OK, nggak terlalu jauh berarti.."
Lalu Ayu pun kembali melingkarkan tangannya di pinggang Sani, menikmati segala yang ia alami saat ini.
__ADS_1
Hingga setelah cukup lama melewati perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di tempat yang mereka tuju.