Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Hasutan


__ADS_3

"San, pertandingannya dilakukan selama 3 hari, kita berangkat Kamis sore, jadwal pertandingannya adalah Jum'at, Sabtu..dan Minggunya adalah Final di semua kelas"


"Berat badanmu masuk kategori kelas menengah, jadi Finalnya dijadwalkan sekitar pukul 11 siang, kita bisa pulang lebih cepat"


"Persiapkan dirimu, karena mulai Kamis malam, aku akan menyita Hp mu untuk sementara, aku ingin kau fokus dengan pertandinganmu, aku tidak ingin fikiranmu terganggu..!!"


Pak Hambali mengirimkan pesan kepada Sani.


Sani pun telah membaca dan memahami maksud dari Pak Hambali.


"Aku siap, aku akan patuhi arahanmu, ini pertandingan terakhirku, aku ingin mendapatkan yang Terbaik."


Begitulah balasan Sani kepada Pak Hambali.


Pak Hambali pun merasa puas dengan jawaban Sani, ia merasa kali ini Sani akan kembali mendapatkan Hasil yang terbaik.


Sore hari, saat ia mengambil sayur di rumah pak Haris, Sani berpamitan, sekaligus meminta tambahan do'a untuk pertandingannya.


"Kapan berangkat dek Sani?" Pak Haris menanyakan perihal keberangkatan Sani.


"Rencananya Kamis Sore pak, dan Pertandingannya di mulai pada Jum'at pagi, jika terus mendapat kemenangan, Sani akan bertanding di Final pada hari Minggu" Sani menjelaskan sedetail mungkin kepada pak Haris.


"Yaaah ...saya do'akan semoga dek Sani meraih hasil yang maksimal, dan semoga tidak terjadi apapun yang tidak diinginkan."


"Aamiin...terima kasih pak Haris."


"Sama-sama, Ayok ngopi dulu, beberapa hari belakangan kita jarang ngopi bareng"


"Hehe, iya pak."


Setelah menikmati kopi bersama-sama, dan semua kebutuhan Sani sudah disiapkan, maka ia segera pamit dari rumah pak Haris untuk melanjutkan persiapan jualan Dini Hari nanti.



"Hooyy, denger-denger Sani mau bertanding ya?"


Tijar menanyakan hal itu kepada teman-temannya yang saat itu sedang melakukan Video Call bersama Rindra, Farhan dan Uki.



"Iya, katanya berangkat Kamis, dan mulai tanding Jum'at pagi."


Uki menjelaskan.



"Nggak ada yang pengen nonton langsung nih?" Tijar kembali bertanya.



"Ada donk, gw mau nonton langsung." Rindra langsung menjawab pertanyaan Tijar.



"Nah, gimana kalau kita nebeng Rindra aja?" Tijar mengajak teman-temannya yang lain.



"Lha terus kuliah kita gimana?" Uki langsung memotong.



"Nah, gw baru mau jawab gitu." Farhan menimpali.



"Ckckck ya gw cuma pengen doank, tapi nggak berani bolos kuliah.." Rindra terkekeh mendengar teman-temannya.


__ADS_1


"Bangkeeee ..gw kira beneran mau berangkat kesana." Tijar mengumpat ke Rindra.



"Eh tapi finalnya hari Minggu loh, kita mungkin masih bisa nonton..!!" Usul Uki



"Nah, itu dia..gimana Ndra?" Tijar kembali mengkonfirmasi Rindra.



"Boleh deh, kita berangkatnya malam Minggu aja, atau Sabtu sore, biar sempat jalan-jalan di ibukota..ckckckc" Rindra kembali terkekeh dengan idenya sendiri.



"Lhah....Sabtu gw nggak bisa pulang cepet, jadwal pulang agak sorean." Farhan memprotes.



"Ya kalau begitu kita harus nunggu Farhan dulu donk Ndra, masa ditinggal, kasihan kan kalau sampai dia lari dari rumah ke Ibukota, bisa patah lagi tuh kaki." seloroh Uki.



"Bangkeee lu anjiiiing." Umpat Farhan.



"Haaahaa..." Mereka pun tertawa bersamaan.



"Ya udah, berangkat malam Minggu bisa sepakat semua kan?" Rindra mencoba memastikan.




"Tenang aja, soal hotel, nanti gw atasin sendiri.." Rindra tidak ingin membebankan apapun kepada teman-temannya.



"Enggak lah, gw ikut nyumbang, ya meskipun dikit." Uki tidak ingin memberatkan Rindra.



"Ya udah, gini aja, gw yang bayarin hotelnya, kalian bertiga patungan buat biaya makan kita, gimana?" Rindra mengajukan Usulan.



"Naah ....ini gw sangat setuju." Tijar langsung merespon.



"Kalau gw siap aja deh.." Farhan menimpali.



"Gw juga masuk kalau gini." Uki pun tak kalah rame dibanding temannya.



Mereka pun mengakhiri obrolan dengan kesepakatan Berangkat malam Minggu menuju Ibu kota Provinsi, untuk menyaksikan secara langsung pertandingan Sani.



"Ayu, apa kamu sedang sibuk?, Ibu mau bicara sebentar saja.."


Bu Indri memanggil Ayu.

__ADS_1


"Iya, sebentar Bu, Ayu selesaikan tugas dulu." Ayu menjawab sambil mengerjakan tugas dari sekolah.


"Baik, Ibu tunggu di ruang tamu ya.." Jawab Bu Indri sembari melangkah menuju ruang tamu.


Sedangkan Ayu tidak menjawab, tapi dia mendengar apa yang ibunya katakan.


Setelah mengerjakan semua tugasnya, Ayu bergegas menuju ruang tamu untuk menemui Ibunya.


"Ada apa Bu?" Ayu mendekat dan duduk di samping Ibunya.


"Ibu mau tanya sesuatu, tapi kamu harus jujur ya."


Bu Indri berusaha menekan Ayu agar mau berkata secara terus terang.


"Memangnya ada apa Bu, kelihatan serius sekali?"


Ayu kurang mengerti dengan maksud ibunya.


"Janji dulu, kamu akan jawab jujur kan?"


Bu Indri kembali memaksa Ayu.


"Ya, Ayu akan jawab jujur, selama ini, Ayu tidak pernah berbohong kepada Ibu." Ayu pun mengiyakan permintaan Ibunya.


"Nak, kemarin saat kamu pantai dengan Sani, kamu hanya berwisata kan? kamu tidak ngapa-ngapain kan?"


"Ngapa-ngapain, maksud Ibu apa sih, Ayu nggak ngerti?" Ayu yang saat itu belum memahami kalimat Ibunya.


"Yu, tempat itu terkenal sebagai tempat anak-anak muda menjalin kemesraan di dalam hotelnya, karena tarif hotel yang murah, banyak pasangan yang bukan suami istri masuk kesana. Kamu dan Sani, tidak melakukan hal itu kan?"


Bagai petir menyambar, Ayu seketika terdiam mendengar pertanyaan Ibunya.


"Bu, sebelum Ayu menjawab, bolehkan Ayu bertanya sesuatu kepada Ibu?" Ayu berusah memutar topik agar tidak perlu menjawab pertanyaan Ibu.


"Apa Nak?" Bu Indri menanggapi permintaan Ayu.


"Darimana Ibu tau, kalau tempat itu sering digunakan untuk hal seperti itu? Dan dari mana tau kalau tarif hotel disana murah? sampai Ibu tega mempertanyakan hal yang mengerikan itu kepada Ayu..!!" Ayu berusaha menekan balik Ibunya.


"Siapa yang menghasut Ibu? Siapa yang mempengaruhi Ibu sampai-sampai Ini tidak lagi memiliki kepercayaan terhadap Aku maupun mas Sani?"


"Siapa Bu, jawablah." Ayu benar-benar menekan balik Ibunya.


"Ee...anu..itu, Ibu hanya memperkirakan saja Nak, ibu tidak bermaksud menuduh, ibu hanya bertanya."


"Memperkirakan? Hanya bertanya? Sejak kapan Bu, hanya dengan perkiraan, Ibu tega mengajukan pertanyaan yang benar-benar melukai perasaan Ayu? Sejak kapan Bu?"


Kini keadaan berbalik, Bu Indri lah yang di serang oleh Ayu.


"Ibu hanya bertanya Nak, Ibu tidak bermaksud melukai perasaanmu...Ayu maafin Ibu Nak, Ibu tidak bermaksud melukaimu.."


Seketika Ayu berdiri dengan pandangan penuh emosi kepada Ibunya.


"Ibu benar-benar sudah keterlaluan, Ibu lebih percaya dengan hasutan orang lain daripada Ayu."


Lalu Ayu pun pergi meninggalkan Ibunya, ia pergi ke kamarnya sambil menangis.


Dia sendiri bingung dengan tangisnya, apakah ia benar-benar menangis, atau hanya pura-pura, dia sendiri bingung.


Tapi yang pasti, dia sudah selamat karena tidak perlu menjawab pertanyaan dari ibunya.


Ada Emosi yang meledak dalam Dadanya, tapi ada rasa lega di dalam hatinya, karena ia tak perlu berkata Jujur kepada Ibunya.


"Siapa yang sudah menghasut Ibu, Siapa dia..?"


Ayu bertanya-tanya dalam hatinya.


Pikirannya kemana-mana, hingga mendadak sakit kepalanya kambuh, hingga ia menahan rasa sakitnya cukup lama.


Dan setelah beberapa menit, sakit kepalanya mereda, dan ia pun segera pergi menuju alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2