Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Pak Haris


__ADS_3

"Selamat sore..."


Sani menyapa seseorang yang sedang menata sayuran di halaman rumah pak Haris.


"Selamat sore mas, cari siapa ya?"


Orang itu bertanya kepada Sani.


"Saya cari pak Haris, tadi pagi sudah janjian"


"Owh...masnya siapa namanya?"


"Saya Sani mas"


"Tunggu sebentar ya mas, saya panggilkan dulu"


"Baik mas"


Ternyata orang itu adalah Jono, buruh yang menata semua dagangan sayur milik pak Haris.


Beberapa menit kemudian, pak Haris keluar...


"Eh .dek Sani, mari masuk dek..."


Pak Haris mengajak Sani masuk ke rumahnya.


"Kenapa harus masuk pak, kan bisa disini saja, sambil memilih sayur"


Pak Haris tersenyum


"Kan kita belum membuat kesepakatan, kerjasamanya seperti apa, pembagiannya gimana, harus omongin dulu kan?"


"Oh iya juga ya pak..hehe"


Sani nyengir sambil berjalan masuk ke rumah pak Haris.


"Kenapa gw bodoh banget ya hari ini, konyol....apa karena kesenangan karena mau dapet banyak dagangan lagi ckckckck bodo amat ah"


Sani berbicara dalam hati menyalahkan dirinya sendiri.


"Silahkan duduk dek Sani"


"Terima kasih pak Haris"


"Jadi bagaimana, sistem kerja yang seperti apa yang dek Sani inginkan?"


"Eee...itu..anu..kalau saya biasanya membeli dari petani sedikit dibawah harga jual pasar pak, lalu saya jualnya setara harga jual pasar, kadang saya kurangi 100 atau 200perak, biar lebih laris"


Sani sedikit gugup ketika ditanya demikian oleh pak Haris.


"Hmmm....kalau sama saya ndak gitu dek..."


Pak Haris menghentikan kalimatnya..


"Lalu bagaimana pak?"


Sani bertanya karena sedikit penasaran.


"Dek Sani bawa dagangan dari rumah saya, berapapun yang dek Sani butuhkan, setelah itu jual dengan harga yang menurut dek Sani pantas, lalu hasilnya, dek Sani ambil keuntungannya, dan sisanya disetorkan ke saya"


Pak Haris menarik Nafas...


"Dan biar lebih mudah, di kios nanti, sayurnya jangan dicampur, biar gampang menghitungnya"


"Ouw...ini seperti sistem setor ya pak?


Sani mencoba mengkonfirmasi.


"Betul dek"

__ADS_1


"Waduh, kalau seperti itu saya ndak berani pak, gimana kalau sayurnya rusak, atau nggak laku, kan saya jadi nggak enak sama pak Haris"


"Ya kalau rusak tinggal dipotong aja setorannya, kan gampang, kalau nggak laku ya dikembalikan, mudah kan?


"Malah kalau dek Sani membeli duluan, kalau ada rusak atau nggak lakunya, kan dek Sani sendiri yang menanggung Resikonya, bukannya itu malah berat?"


"Iya juga ya"


Sani menjawab lirih kalimat pak Haris.


"Emm...tapi saya ambilnya ndak banyak kok pak, tergantung kekuatan sepeda saya ya, karena nggak enak kalau tiap hari pinjam motor pakde Damar"


"Owh...kalau soal itu kan terserah dek Sani, tapi intinya dek Sani sudah setuju, dengan sistem yang saya tawarkan?"


"Iya pak, saya setuju"


"Kalau begitu, ayo kita keluar, ngobrol sambil melihat dagangan saya"


Mereka pun bangkit dari tempat duduknya, lalu beranjak keluar dari dalam rumah.


"Ini, silahkan dilihat dan dipilih dek.."


Sani melihat kesana kemari, matanya terbelalak ketika melihat dengan teliti.


Semua sayur disini adalah jenis sayuran super, Sani pun mulai galau dengan hal ini.


"Pak, bukannya ini jenis sayura super, ini sepertinya bisa jadi masalah kalau saya bawa, sayur biasa yang dari petani bisa ndak laku kalau seperti ini..."


Sani benar-benar terlihat ragu-ragu...


"Haahaa...ini memang sayuran super dek, kalau di pasar harganya lebih mahal dari harga sayur biasa, semua pedagang juga sudah ngerti..."


Pak Haris menghentikan kalimatnya tanpa menjelaskan lebih rinci, dia ingin melihat respon Sani.


"Owh...jadi saya nanti jualnya juga lebih mahal dari sayur yang biasa gitu ya pak?


"Betuuulll dek Sani, itu langsung paham"


"Hehe...saya baru tau pak.."


"Dek Sani bisa ambil sayur ini dengan harga rendah,asalkan saya ndak rugi, dan menjual dengan harga yang layak, ingat, jangan menjual jauh dibawahnya harga pasar, itu bisa bikin masalah nantinya"


Sani pun mengangguk tanda mengerti.


"Kalau cuma selisih 100 atau 200 perak sih, saya kira masih wajar, masih amanlah dek"


"Hehe iya pak"


"Jadi kapan dek Sani, mulai ambil dagangan ini?, Kalau mau, sekarang pun juga boleh"


"Boleh deh pak, saya mencoba bawa sedikit dulu, sepeda saya juga nggak kuat kalau bawa terlalu banyak"


"Owh iya ya...ada yang lupa, sini dek, saya kasih tau sesuatu"


Pak Haris berjalan menuju sebuah ruangan di samping rumahnya, dan Sani pun mengikutinya dari belakang.


"Dek Sani, saya ada motor bekas, motor ini suatu saat bisa dek Sani pakai..emmm... sebagai Inventaris gampangnya, asalkan dek Sani bisa memenuhi syaratnya".


"Inventaris? Syarat? Syaratnya apa pak? Jujur saya masih kurang paham dengan maksud pak Haris"


"Begini, kalau hari ini dek Sani ambil dagangan dari tempat saya, sampai seminggu kedepan dek Sani bisa menjual sayuran yang jumlahnya sesuai dengan yang saya targetkan, maka dek Sani akan saya kasih Inventaris motor itu"


Sani diam dan terlihat berpikir, mencoba memahami kalimat pak Haris.


Kemudian pak Haris melanjutkan...


"Meskipun ini bukan motor baru, tapi ini masih bagus kok dek, jangankan untuk mengangkut sayur, untuk membonceng pacar dek Sani saja masih layak"


"Haaahaaahaa...."

__ADS_1


Merekapun tertawa bersamaan...


Sani lalu terdiam, lalu membatin..


"Motor ini emang lebih bagus dibanding motornya pakde, sepertinya ini bagus untuk kedepannya"


"Memang targetnya berapa pak?"


Sani bertanya kepada pak Haris.


Lalu pak Haris pun menjelaskan panjang lebar soal target yang dia inginkan dari Sani, dan setelah Sani benar-benar memahami, dia menyetujui segala persyaratan dari pak Haris.


Setelah itu Sani memilih sayur yang akan dia bawa dalam jumlah yang cukup banyak, setelah cukup lama memilih, Sani pun berpamitan pulang.


"Ini sudah cukup kan pak?"


"Sudah dek, kalau bisa setabil selama seminggu ke depan, motor itu bisa dek Sani bawa"


Ucap pak Haris sambil tersenyum.


"Semoga saja pak,hehe..kalau begitu saya pamit pulang ya pak, saya tunggu dirumah"


"Iya dek, hati-hati ya, semoga jualannya semakin laris, dan usahanya semakin lancar".


"Aamiin....terima kasih banyak pak...mari..."


Sani berpamitan dan pergi tanpa membawa apapun.


Pak Haris pun merespon dengan anggukan sambil tersenyum.


Ternyata Jono yang nanti akan mengantarkan sayur pilihan Sani ke rumahnya, dan Sani tinggal menunggu dirumah saja.


Setelah menunggu sekitar 30 menit, akhirnya Jono sampai di rumah Sani.


Sani pun membantu menurunkan sayuran yang dibawa Jono, pakde Damar yang juga ikut menunggu pun turut membantu.


Setelah diturunkan, Jono langsung pamit karena masih banyak tugas dari pak Haris.


Tak lupa Sani mengucapkan terima kasih kepada Jono.


Lalu Sani dan Ibunya segera menata sayurnya digerobaknya, pakde dan Budenya pun juga membantu sampai selesai.


"Pakde nggak nyangka, usahamu berkembang begitu pesat"


"Hehe iya pak, Sani sendiri juga seperti nggak percaya"


"Hati-hati ya dalam mengelola keuangan, jangan sampai salah kaprah, keseleo dalam keuangan itu berbahaya sekali"


Bude Wiwik mengingatkan Sani.


"Iya Bude"


Sani sangat mengerti maksud budenya itu.


"Kalau kamu sudah punya keinginan menikah, kamu harus rajin menabung mulai dari sekarang, soalnya Ibu nggak bisa bantu kalau urusan finansial"


"Hehe iya Bu, tenang saja, Sani bakal bekerja keras dan rajin menabung buat bekal nikah"


Kemudian Sani menyandarkan badannya ke dinding bambu rumahnya sambil menarik nafas panjang.


"Lagian, Ayu anak baik kok, dia pasti pengertian sama calon suaminya"


Sani berbicara sambil menahan senyumnya.


"Uhuukk uhukkk...eheemm....kok tiba-tiba batuk ya aku"


Pakde Damar menggoda Sani denga pura-pura batuk.


"Haaahaaahaa....."

__ADS_1


Dan mereka pun tertawa mendengar omongan pakde Damar.


__ADS_2