Semua Demi Ibu

Semua Demi Ibu
Dia yang Terbaik


__ADS_3

"Kamu harus mendatanginya dan meminta Maaf kepada Gadis itu, sampai di benar-benar memaafkanmu, dan jika belum ada kata Maaf darinya, kau tidak boleh kembali".


"Hanya itu satu-satu solusi selain sebuah pernikahan, karena jika aku menjadi orang tua Gadis itu, aku akan memaksamu untuk menikah, karena jika tidak...kau bisa saja mengulangi kesalahan yang sama kepada orang lain"


Pak Hambali kembali menghisap rokoknya, lalu menghembuskan asapnya dan melanjutkan bicaranya.


"Sebenarnya kau bisa menikahinya, sekalipun kau tidak mencintainya hari ini, bisa jadi di masa depan kau akan sangat mencintainya"


"Dan itu berlaku untuk kalian berdua, tapi....jika memang kau tidak sanggup, maka satu-satunya hanya itu, meminta maaf"


"Dan jika dia memaafkan, jangan pernah mengulangi kesalahan itu lagi, jangan permalukan orang-orang didekatmu, termasuk aku, yang kau anggap sahabatmu"


Sani pun menimpali.


Rindra pun mengangguk tanda mengerti.


"Aku tidak tahu, apakah ini akan berjalan lancar atau tidak, tapi aku pasti akan berusaha"


"Dan memang seharusnya begitu, Sani adalah orang yang pantang menyerah, dan kau harus meniru sifat itu..aku bahkan sangat membanggakan dirinya sebagai muridku"


"Dia yang terbaik, bahkan jika dibandingkan muridku yang terdahulu"


"Benar pak, dia anak baik, aku pernah dipukul olehnya saat SMA, aku pikir itu tidak terlalu serius, karena jika dia memukulku sekuat tenaganya, sepertinya aku sudah terbaring di Rumah Sakit".


"Haaahaaahaa..."


Mereka pun tertawa bersama.


Waktu berlalu semakin malam, dan mereka berdua berpamitan dari rumah pak Hambali.


Sani harus memiliki waktu istirahat yang cukup, karena dini hari nanti dia sudah harus berangkat jualan.


Sedangkan Rindra, dia juga ingin istirahat, dia harus menenangkan pikirannya serta menyiapkan mentalnya untuk besok.


Karena dia berencana akan menemui Anita dan meminta maaf langsung esok hari.



Ayu merebahkan dirinya, sebenarnya dia sudah cukup mengantuk, tapi saat mencoba memejamkan matanya, dia tak kunjung tertidur.



Mungkin karena deg-degan membayangkan sebuah pernikahan.


Meskipun dia bahagia dengan hal itu, dia tetap tidak bisa menutupi kekhawatirannya tentang hal-hal di dalam rumah tangga.



Akibat rasa khawatir itu...



"Arrggghh.....kepalaku, kenapa lagi ini..."



Dia meringis menahan rasa sakit di kepalanya.


"Sakiiiitttt...."



Rasa sakitnya lebih parah dari sebelumnya, entah kenapa semakin hari, rasa sakit itu benar-benar semakin parah.



Setelah cukup lama menahan sakit di kepalanya, pelan-pelan dia mulai pulih.



Dia berfikir, seharusnya dia memeriksakan dirinya ke dokter.



"Rasa sakit semakin parah, ini tidak sewajarnya sakit kepal biasa..aku harus memeriksakan diri ke dokter"


Dia bergumam sendiri.



Dirinya tidak ingin ada kesalahan yang fatal akibat mengabaikan rasa sakit di kepalanya.

__ADS_1



"Baiklah, besok aku akan ke dokter, agar aku tau semuanya.."


Setelah berbicara sendiri, dia memejamkan matanya hingga tertidur.



Esoknya, Ayu pergi ke dokter sendirian, dia menceritakan semua yang dia alami kepada seorang dokter perempuan.



Setelah menjalani pemeriksaan yang cukup lama, akhirnya dia bisa pulang dengan membawa hasil pemeriksaan itu.



Saat sampai di rumah..



"Ayu...kamu kenapa Nak, kok kelihatan pucat?"


Bu Indri melihat wajah Ayu seperti orang sakit.



"Emm...nggak apa-apa Bu, mengkin Ayu kurang tidur, semalam Ayu tidurnya kemalaman".



Bu Indri mendampingi Ayu berjalan dan duduk di kursi ruang tamu.


"Kamu memikirkan pernikahan?"



Ayu mengangguk pelan..



"Kamu lupa dengan pesan Ayahmu? Tugas kamu sekarang adalah belajar dan menyelesaikan pendidikanmu dengan maksimal, kamu jangan dulu memikirkan yang terlalu jauh".




"Kamu harus tenangkan dirimu, jangan sampai terjadi apa-apa, apalagi kalau sampai nilaimu tidak bagus saat kelulusan, Ayahmu bisa kecewa nanti"



"Iya Bu, Ayu akan berusaha tetap fokus belajar"



Bu Indri memeluk Ayu..dan berusaha menenangkan perasaannya....


"Emmh....tidak perlu takut atau khawatir, semua akan berjalan lancar, akan baik-baik saja"



"Hmmmh..."


Ayu menghela nafasnya lalu tersenyum di pelukan Ibunya.



"Hallo, kamu dimana? Aku ingin bertemu sekarang juga..!!"


Rindra mencoba menghubungi Anita.


"Untuk apalagi hah? Belum puas kah kau merusakku sampai seperti ini? Atau kau masih ingin melihatku lebih hancur lagi?"


"Tidak..itu tidak akan kuulangi, katakan saja, bisakah kita bertemu sekarang?"


"Maaf, aku tidak punya waktu untuk meladeni b@jingan seperti dirimu, apalagi jika harus kau paksa melayani nafsu binat@ngmu itu..!!"


"Sudah kubilang, aku tidak menginginkan hal itu, tapi jika memang kau menolak, aku tidak memaksa, Tapi..."


"Tapi apa hah?"


"Tapi jangan pernah menyesali hari ini..!!"

__ADS_1


Rindra sedikit mengancam Anita.


Anita pun menjadi berfikir, apa yang akan dilakukan Rindra, hingga ia memaksa bertemu.


Dia pun menjadi bimbang, dia takut jika tidak menemuinya, akan terjadi sesuatu nantinya.


"Baiklah, jika memang kau menolak, berarti itu bukan salahku, sampai Jumpa, Nona Anita..!!"


"Tunggu..!!!! Baiklah, aku akan menemuimu...katakan, dimana kita akan bertemu".


Rindra kemudian menyebutkan sebuah tempat dimana dia akan bertemu.


"Baiklah, aku kesana sekarang, dan kau..kau harus sudah sampai disana sebelum aku datang, karena aku tidak akan menunggu"


"Baiklah, aku akan menuju kesana sekarang juga ..!!"


Rindra pun langsung tancap gas menuju lokasi yang dimaksud.


Dia sedikit gugup, dan sebenarnya dia pun kebingungan..


"Bagaimana nanti aku akan memulai, dan bagaimana aku akan menyatakan permintaan maafku..."


"Aaahhh ....bodo amat, ini demi kebaikanku sendiri, aku harus bisa...!!!"


Sambil berjalan, Rindra menyalakan musik dalam mobilnya, dia berharap bisa lebih rileks setelah mendengarkan lagu-lagu yang ia sukai.


Setelah 15 menit perjalanan, akhirnya Rindra sampai di kafe yang dituju, dia sampai duluan karena Anita belum nampak ada disana.


Dia memesan minuman terlebih dahulu sambil menunggu kedatangan Anita, dia juga memesan beberapa camilan makanan ringan.


Setelah menunggu sekitar 10 menit, Anita terlihat datang, Rindra berdiri untuk menyambutnya, lalu menjulurkan tangannya..


"Apa kabar?"


Anita hanya menatapnya saja, dia ragu-ragu menjabat tangan Rindra.


Tetapi karena tidak ingin dianggap arogan, akhirnya dia menjabat tangan Rindra.


"Kau akan tau kabarku nanti setelah aku menceritakannya".


"Baiklah, silahkan duduk"


Setelah mempersilahkan duduk, Rindra memanggil pelayan disana.


Setelah pelayan itu mendekat, Rindra mengode ke arah Anita, lalu pelayan itu pun memberikan buku menu kepada Anita.


Anita melihat pesanan Rindra..


"Kenapa aku disodori menu makanan, sedang kau sendiri tidak memesan makanan?"


"Aku menunggumu, aku akan pesan makanan setelah kau memesannya"


Rindr menjawab dengan tenang.


Anita merasa sedikit kaget, kenapa b*jingan seperti Rindra mau menghargai dirinya.


Akhirnya Anita memesan 1 menu makanan dan 1 minuman, lalu pelayan itu memberikan buku menu kepada Rindra, dan ia pun memesan 1 menu makanan.


Setelah pelayan itu pergi,


"Katakan apa maumu..!!"


Anita berbicara dengan tatapan penuh kebencian kepada Rindra.


"Karena aku tidak punya banyak waktu untukmu..!!"


"Bersabarlah sebentar, tunggu makananmu sampai, kita akan bicara setelah makan"


"Katakan sekarang, atau aku yang pulang sekarang juga..!!"


Anita sedikit mengancam Rindra.


"Jika aku berbicara sekarang, kau akan kehilangan nafsu makanmu, jadi bersabarlah sebentar saja"


Anita terdiam, dia berfikir jika kalimat Rindra benar, jika dia emosi saat Rindra berbicara nanti, maka dia jelas tidak akan mengambil apapun yang ada di depannya, entah itu makanan ataupun minumannya.


Sesaat kemudian, makanan yang mereka pesan pun datang..


"Silahkan dimakan, kita akan bicara setelah selesai makan"


Rindra mempersilahkan Anita untuk menikmati menu yang dipesan.

__ADS_1


Tetapi Anita tidak menanggapi kalimat Rindra, tanpa menatap ke arah Rindra sedikitpun, Anita langsung menikmati makanan itu.


__ADS_2